Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Toilet

  • account_circle Syarifuddin Usman
  • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
  • visibility 92
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Beberapa hari terakhir, warga Kota Ternate dikejutkan dengan fakta memprihatinkan yang diungkap para siswa sendiri. Di sebuah sekolah yang menampung ratusan pelajar, toilet yang tersedia nyaris tak layak pakai. Hanya satu unit toilet yang berfungsi, itupun dalam kondisi kotor, berbau tak sedap, dan tanpa perawatan memadai. Ratusan siswa harus bergantian, menahan kebutuhan fisiologis hanya karena fasilitas paling dasar ini diabaikan.

Ironisnya, kondisi seperti ini tak hanya terjadi di lingkungan pendidikan (termasuk Kampus) Di hampir seluruh kantor pemerintahan — baik tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Maluku Utara — fasilitas sanitasi ini seolah menjadi urusan yang paling ditunda, paling diabaikan, dan paling tidak diprioritaskan. Padahal, toilet bukan sekadar tempat buang air. Ia adalah cermin peradaban, ukuran kepedulian terhadap martabat manusia, serta indikator nyata tata kelola yang beradab.

Standar yang Ada, Namun Terlupakan

Negara sesungguhnya telah menetapkan aturan yang sangat jelas. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 048/H/KU/2023 tentang Petunjuk Teknis Standar Sarana Prasarana, ditegaskan bahwa toilet harus tersedia memadai, terpisah jenis kelamin, bersih, dilengkapi air bersih, dan jumlahnya disesuaikan dengan jumlah warga sekolah . Untuk jenjang SMP dan SMA, standar minimalnya adalah 1 unit toilet untuk setiap 40 siswa laki-laki dan 1 unit untuk setiap 30 siswa perempuan . Artinya, sekolah dengan ratusan siswa semestinya memiliki puluhan unit toilet, bukan satu atau dua yang rusak.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 14 ayat (1) pun menegaskan bahwa setiap orang berhak atas lingkungan yang sehat, aman, dan higienis. Ini termasuk akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak . Di lingkungan kerja pemerintahan, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja secara tegas mewajibkan penyediaan toilet yang higienis, cukup jumlahnya, dan terawat baik bagi seluruh pegawai maupun pengunjung.

Namun di Ternate — dan hampir di seluruh Maluku Utara — peraturan-peraturan ini seolah hanya tertulis di atas kertas. Banyak ditemukan kloset tersumbat dibiarkan, lampu mati berbulan-bulan, dan fasilitas rusak tanpa perbaikan, padahal anggaran Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang dikelola sekolah tersebut mencapai miliaran rupiah.

Dampak yang Diabaikan

Konsekuensi dari pengabaian ini bukan sekadar tak nyaman. Toilet yang tidak layak adalah sarana penularan penyakit. Diare, infeksi saluran kemih, hingga gangguan kulit dapat menyebar cepat di lingkungan sekolah dan kantor yang sanitasi buruk . Bagi siswi perempuan, akses toilet yang memadai bahkan berkaitan langsung dengan kehadiran di sekolah saat masa haid. Kurangnya fasilitas yang layak terbukti menurunkan partisipasi perempuan dalam pendidikan maupun dunia kerja.

Di lingkungan pemerintahan, toilet yang kotor dan rusak berbicara lebih jujur daripada pidato manapun. Ketika masyarakat datang mengurus haknya ke kantor bupati, dinas, atau kecamatan, dan mereka tidak menemukan satu pun toilet yang layak, kepercayaan terhadap pemerintahan ikut terkikis. Fasilitas dasar yang diabaikan mencerminkan kepemimpinan yang tidak peduli — jika urusan paling kecil dan paling mendesak ini diabaikan, bagaimana rakyat bisa percaya urusan besar akan ditangani dengan baik?

Toilet Sebagai Cermin Martabat

Pembangunan sering diukur dari gedung tinggi, jalan lebar, atau anggaran besar. Namun pembangunan sejati diukur dari bagaimana masyarakat diperlakukan dalam kebutuhan paling dasarnya. Toilet bukan kemewahan — ia adalah hak asasi manusia yang diakui dunia, termasuk dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-6: menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih serta sanitasi yang layak bagi semua orang.

Sudah saatnya para pemimpin di Maluku Utara mengubah cara pandang: perbaikan toilet bukan urusan sepele, bukan pekerjaan yang dikerjakan sambil lalu. Ia adalah investasi kesehatan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan syarat mutlak pelayanan publik yang beradab. Jika anggaran miliaran rupiah dapat dicairkan untuk perjalanan dinas, rapat, dan kegiatan seremonial, mengapa dana untuk menjaga kebersihan dan kelayakan toilet selalu terlupakan?

Kita bisa memulaimya dari yang paling sederhana: pastikan setiap sekolah punya toilet cukup, bersih, berair setiap hari. Pastikan setiap kantor pemerintahan layak digunakan oleh siapa saja yang datang. Karena sebuah daerah yang membanggakan diri beradab, tidak akan membiarkan warganya menahan hajat hidup hanya karena fasilitas paling dasar tak diperhatikan.

Masih untung kita terbantu dengan fasilitas Toilet dari gerai minimarket yang tersebar sehingga bisa numpang buang hajat.

Toilet yang layak bukan tanda kemewahan — ia adalah bukti bahwa kita benar-benar beradab.

  • Penulis: Syarifuddin Usman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pencabutan Status 3T Pulau Taliabu: Prestasi Administratif atau Tantangan Baru?

    Pencabutan Status 3T Pulau Taliabu: Prestasi Administratif atau Tantangan Baru?

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • 0Komentar

    Pencabutan status daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) terhadap Kabupaten Pulau Taliabu tentu menjadi kabar yang menggembirakan. Bagi pemerintah, keputusan tersebut dapat dimaknai sebagai bukti bahwa pembangunan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan sehingga daerah ini dinilai tidak lagi memenuhi kriteria sebagai daerah tertinggal. Namun, pertanyaan yang patut diajukan adalah: apakah perubahan status tersebut benar-benar […]

  • Dua Perempuan Hilang Beruntun dalam Kurun Waktu Satu Minggu

    Dua Perempuan Hilang Beruntun dalam Kurun Waktu Satu Minggu

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • 0Komentar

    LINIDAILY.ID – Suasana waspada dan keprihatinan kini menyelimuti masyarakat Kabupaten Halmahera Utara, khususnya wilayah Kota Tobelo. Pasalnya, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, dua laporan kehilangan warga perempuan masuk ke meja kepolisian, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan dan ketertiban umum di daerah tersebut. Polres Halmahera Utara mencatat dua laporan resmi orang hilang dengan identitas dan […]

  • Kantor DPRD Provinsi Maluku Utara, Foto: Istimewa

    Pengamat Hukum; Penetapan Tersangka Dugaan Korupsi Tunjangan DPRD Jangan Cuma Janji

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • 0Komentar

    Pengamat Hukum yang juga Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Abdul Aziz Hakim mengingatkan Janji Kejati dalam mengumumkan para tersangka dugaan korupsi tnjangan DPRD jangan Cuma janji. Karena menurutnya, sampai sekarang janji tersebut tidak berwujud. “Menurut saya, sebagaimana pernyataan pihak Kejati Malut bahwa dalam kasus ini bukti-buktinya sudah cukup, walaupun masih menunggu hasil BPK. Jika […]

  • Ketika Angka Berbicara: Maluku Utara dan Luka Lama Pendidikan yang Belum Sembuh

    Ketika Angka Berbicara: Maluku Utara dan Luka Lama Pendidikan yang Belum Sembuh

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • 0Komentar

    Saya tidak tahu persis seperti apa rasanya menjadi seorang guru di sebuah pulau kecil di Maluku Utara yang menyeberang laut setiap pagi, mengajar dengan kapur yang hampir habis, lalu pulang dengan gaji yang jauh dari kata cukup. Tapi saya tahu satu hal: ketika data TKA 2026 keluar dan nama Maluku Utara terpampang di baris paling […]

  • Ternate Mengering di Bawah Bayang-Bayang El Niño: Jangan Tunggu Krisis Air

    Ternate Mengering di Bawah Bayang-Bayang El Niño: Jangan Tunggu Krisis Air

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • 0Komentar

    Hampir sebulan tanpa hujan, siang yang terasa menyengat, dan angin kencang yang bertiup berjam-jam mulai menjadi pengalaman sehari-hari warga Ternate. Situasi ini tidak layak dibaca sebagai panas musiman biasa. Pada pertengahan Agustus 2026, Indonesia memang sedang menghadapi El Niño yang kuat. BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 pada Dasarian I Agustus […]

  • Globalisasi: Arah Kemajuan  kehancuran?

    Globalisasi: Arah Kemajuan kehancuran?

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • 0Komentar

    Di era kemajuan teknologi dan informasi saat ini sangat membantu serta mempermudahkan manusia dalam banyak hal. tentunya tidak bisa dipungkiri, segala aktivitas manusia, baik yang berhubungan dengan dunia pekerjaan, pendidikan, kesehatan, serta ekonomi, juga merupakan bagian dari hasil kemajuan teknologi itu sendiri. Tidak berhenti di sini saja, dengan pesatnya kemajuan teknologi hari ini memberikan dampak […]

expand_less