Amnesia
- account_circle Syarifuddin Usman
- calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
- visibility 78
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Ternate kembali diguncang dengan penipuan Investasi. Setelah Karapoto, muncul Zahra Berkah yang baru meletup.
Namun yang paling mengagetkan bukan jumlah uang yang hilang, melainkan satu hal: seolah-olah warga Ternate melupakan pelajaran pahit masa lalu. Inilah amnesia yang sesungguhnya — amnesia kolektif.
Karapoto, Luka yang Belum Sembuh
Siapa yang tak ingat Karapoto? Pada 2018, PT Karapoto Fintech menggegerkan Maluku Utara. Uang masyarakat yang terserap ditaksir mencapai Rp2 triliun, melibatkan sekitar 1.468 orang — termasuk ASN, TNI, dan Polri. Direkturnya, Ardiansyah, divonis 14 tahun penjara pada September 2020.
Namun kisah tak berakhir di pengadilan. Mantan direktur yang juga terlibat, FPH alias Fitri, yang telah bebas bersyarat, kembali menghimpun dana melalui nama baru: PT Pendanaan Gotong Royong. Modusnya sama: keuntungan 100% dalam 30–35 hari. Satu korban menyetor hingga Rp1,3 miliar, yang lain Rp1,4 miliar.
Luar biasa! orang yang pernah dihukum karena penipuan serupa justru kembali dipercaya. Luka belum kering, luka itu dibuka kembali oleh tangan yang sama.
Zahra Berkah, Sejarah Mengulang Dirinya
Bulan September 2026, giliran Zahra Berkah. Pemiliknya, Sahriyani (SAHM), ditahan polisi setelah dicegat ratusan korban di Pelabuhan Feri Sofifi. Kerugian diperkirakan puluhan miliar rupiah.
Yang memilukan, Sahriyani berani berkata terbuka dalam video yang beredar — “Kalau tidak setor modal baru, saya masuk penjara, uang kalian hangus.” Dan ironisnya, sebagian orang justru terpikir untuk menyetor lagi. Padahal OJK Maluku Utara telah memanggilnya untuk klarifikasi, namun ia mangkir sehingga kasus dilimpahkan ke aparat penegak hukum.
Amnesia, Mengapa Kita Selalu Lupa?
Amnesia di sini bukan gangguan medis, melainkan kegagalan kolektif untuk belajar dari pengalaman sendiri. Ada tiga alasan mengapa hal ini terus berulang.
Pertama, keakraban menggantikan kehati-hatian. Di Ternate, tawaran investasi datang dari tetangga, saudara, teman dekat. “Dia orang yang kita kenal,” pikir kita. Padahal OJK telah memperingatkan: jangan percaya hanya karena rekomendasi orang terdekat. Kepercayaan sosial justru menjadi jebakan paling efektif.
Kedua, logika digantikan harapan. Janji untung 25–35% per bulan mustahil di dunia bisnis nyata. Namun korban berkata: “Tetangga saya sudah cair.” Bukti pembayaran awal adalah umpan — uang anggota baru membayar anggota lama. Ini skema Ponzi yang sudah dipelajari sejak Karapoto runtuh. Namun harapan mengalahkan logika.
Ketiga, pelupa terhadap wajah yang sama. Mantan terpidana kembali beroperasi, dan kembali diterima. Ini bukan sekadar kepercayaan — ini lupa. Lupa bahwa orang yang sama pernah melakukan hal yang sama dan merusak hidup banyak keluarga.
Amnesia ini bukan sekadar kesalahan individu. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan juga turut bertanggung jawab — mengapa literasi keuangan belum menembus ke lapisan paling bawah? Mengapa setiap kasus baru hanya direspons setelah uang hilang, bukan sejak tawaran muncul?
Satgas PASTI OJK sudah mengimbau berkali-kali: cek legalitas di sipasti.ojk.go.id, jangan tergiur untung pasti. Namun imbauan saja tak cukup. Butuh gerakan bersama — dari tokoh agama, pemangku adat, hingga pemimpin daerah — agar warga sadar: keuntungan tak wajar = penipuan.
Karapoto mengajarkan kita, skema tak berkelanjutan pasti runtuh. Zahra Berkah mengingatkan kita, pelaku tak akan berubah hanya karena nama usaha diganti. Dan amnesia kita — itulah yang paling berbahaya.
Kita boleh memaafkan. Tapi kita tak boleh melupakan. Karena saat kita lupa, kita tidak hanya kehilangan uang — kita kehilangan kemampuan melindungi diri sendiri, keluarga, dan masa depan kota ini.
Dan masyarakat kita, memang mengalami Amnesia stadium akhir.
Sangat bahagia ditipu berulang-ulang.
- Penulis: Syarifuddin Usman

Saat ini belum ada komentar