Kasman Hi Ahmad: Pejabat yang Menulis dan Berpikir
- account_circle Syarifuddin Usman
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 364
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di tengah hiruk-pikuk dunia birokrasi dan politik di Maluku Utara, di mana banyak pejabat lebih sibuk mengejar pencitraan dan kekuasaan, sosok Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd. tampak berdiri sendiri dengan jejak yang berbeda. Sebagai Wakil Bupati Halmahera Utara, ia bukan hanya sibuk mengurusi administrasi pemerintahan atau hadir di seremonial belaka — ia menjadikan pikiran, renungan, dan gagasannya sebagai warisan yang dibukukan. Dan hal ini menjadikannya sosok yang sangat langka di kalangan pemimpin daerah kita.
Kelangkaannya bukan lahir begitu saja, melainkan berakar dari perjalanan panjang yang ditempuhnya puluhan tahun silam. Sebelum memasuki panggung pemerintahan, dunia pemikiran dan pergerakan sudah menjadi napas hidupnya sejak masa muda. Terasah lewat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), ia pernah menjabat Sekretaris Umum PC IMM Muhammadiyah Malut (1991–1995) lalu Ketua Umum periode 1993–1995 — masa-masa yang membentuknya menjadi pemikir kritis sekaligus organisator yang kokoh. Jejak pengabdiannya pun merambah ke tingkat wilayah: Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah (2001–2005) dan Sekretaris Umum MUI Maluku Utara pada periode yang sama. Ia juga menjadi Sekretaris Tim Pendiri Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), lalu mengabdi sebagai Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan, Pelaksana Tugas Pembantu Rektor I, sekaligus staf pengajar — membuktikan kesetiaannya pada dunia pendidikan sejak awal berdirinya lembaga tersebut.
Puncak pengabdiannya di dunia akademis tercatat saat dipercaya menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara periode 2009–2013. Sepanjang perjalanan itu, ia tak pernah berhenti menuangkan gagasan ke dalam tulisan yang terangkum dalam berbagai karya baik sebagai kontributor, penulis maupun editor. Tercatat beberapa karyanya antara lain,
- Damai Yang Terkoyak, Catatan Kelam dari Bumi Halmahera (Editor bersama Herman Oesman, 2000)
- Kontributor buku Otonomi Daerah Maluku Utara (Penerbit Lintas, 2000)
- Dakwah dan Pencerahan Bangsa, Sebuah Agenda, Editor bersama Herman Oesman (UMMU Press, 2003)
- Agama, Kemanusiaan, Budaya Toleransi (Editor bersama M. Tahir Abdullah, Kanwil Depag Malut, 2003)
- Membaca Realitas Pendidikan (UMMU Press, 2021)
Kini sebagai Wakil Bupati, ia melanjutkan tradisi menulis yang sudah puluhan tahun ia jalani. Dalam masa jabatannya telah lahir tiga buku berturut-turut: Maluku Utara dalam Dimensi Sosial dan Spiritual pada Era Disrupsi, Pendidikan Sebagai Strategi Kebudayaan, dan yang terbaru Sekolah, Rumah Pendidikan. Setiap karyanya bukan sekadar tulisan, melainkan catatan perjalanan batin dan pemikiran mendalam tentang identitas, pendidikan, dan masa depan daerah — lahir dari pengalaman langsung di lapangan yang dipadukan dengan penguasaan ilmu yang ia tempuh secara utuh dari jenjang S1 hingga S3.
Belum banyak pejabat yang berani meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk merangkai gagasan menjadi karya tulis yang utuh dan diterbitkan. Padahal jabatan sering kali dijadikan alasan untuk berhenti belajar atau berhenti menulis. Namun Kasman justru sebaliknya: semakin ia memegang amanah, semakin dalam ia merenungkan persoalan daerah, lalu menuangkannya ke dalam lembaran buku.
Kelangkaannya bukan hanya karena ia rajin menulis, melainkan karena ia menyadari bahwa kekuasaan itu sementara, namun pemikiran yang tertulis akan abadi. Banyak pejabat meninggalkan jabatan tanpa jejak pemikiran yang tertinggal, namun Kasman memastikan bahwa gagasan tentang bagaimana membangun manusia dan daerah ini tetap bisa dibaca, dikaji, dan diteruskan oleh siapa pun, kapan pun. Ia membuktikan bahwa seorang pemimpin tidak harus berhenti menjadi pemikir — justru di tengah kesibukan mengabdi, menulis adalah cara lain memimpin: memimpin dengan memberi arah dan wawasan.
Di masa depan, ketika jabatan sudah berganti tangan, bangunan fisik mungkin akan tua, namun gagasan yang tertuang dalam buku-bukunya akan tetap hidup. Itulah warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar proyek pembangunan sesaat. Sosok Kasman Hi. Ahmad mengingatkan kita: pemimpin yang baik adalah yang mampu meninggalkan jejak bukan hanya di tanah, tetapi juga di dalam pikiran dan peradaban masyarakatnya. Dan itulah mengapa ia pantas disebut sebagai pejabat yang langka — ia memimpin dengan hati, bekerja dengan tangan, dan meninggalkan jejak yang abadi dengan pena.
- Penulis: Syarifuddin Usman

Saat ini belum ada komentar