Merawat Ingatan Kolektif: BEM FIB UNKHAIR Bersama UKM LEKSAS FIB Gelar Refleksi September Hitam di Landmark Ternate
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- visibility 83
- comment 0 komentar
- print Cetak

BEM FIB UNKHAIR bersama UKM Lembaga Kesenian dan Sastra (LEKSAS) FIB UNKHAIR menggelar BERSASTRA — MENOLAK LUPA di Landmark Ternate. Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TERNATE, linidaily.id – 12 September 2026 — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (BEM FIB UNKHAIR) bersama UKM Lembaga Kesenian dan Sastra (LEKSAS) FIB UNKHAIR menggelar BERSASTRA — MENOLAK LUPA di Landmark Ternate, Sabtu (12/9).
Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi dalam momentum September Hitam untuk merawat ingatan kolektif terhadap berbagai peristiwa kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.
Refleksi tidak hanya disampaikan melalui orasi, tetapi juga melalui instrumen seni, seperti pembacaan puisi, penyampaian pesan reflektif, dan berbagai bentuk ekspresi lainnya. Seni digunakan sebagai medium untuk menghadirkan kembali ingatan tentang korban sekaligus membuka percakapan mengenai kekerasan, kemanusiaan, dan persoalan keadilan.
Ketua BEM FIB UNKHAIR, M. Tamhier Tamrin, mengatakan bahwa September Hitam perlu ditempatkan sebagai momentum untuk membaca kembali sejarah secara kritis, bukan sekadar sebagai agenda mengenang peristiwa masa lalu.
“Menolak lupa bukan sekadar mengingat bahwa sebuah peristiwa pernah terjadi. Kita perlu mengingat korban, membaca konteks peristiwanya, dan mempertanyakan persoalan keadilan yang masih menyertainya. Menjaga ingatan adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan,” ujar Tamhier.
Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab intelektual untuk memastikan berbagai persoalan kemanusiaan tetap menjadi bagian dari percakapan publik. Karena itu, penggunaan sastra dan seni dalam aksi tersebut menjadi salah satu cara untuk menyampaikan kritik sekaligus membangun kesadaran melalui pendekatan kebudayaan.
Sementara itu, Ketua Umum UKM LEKSAS FIB UNKHAIR, M. Ilham Almadani, mengatakan bahwa seni memiliki posisi strategis dalam menyampaikan pesan sosial.
“Seni tidak hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Melalui puisi dan ekspresi seni, kita dapat menyampaikan ingatan, keresahan, dan sikap terhadap persoalan kemanusiaan dengan cara yang lebih reflektif,” kata Almadani.
Kolaborasi BEM FIB UNKHAIR dan LEKSAS membawa refleksi tersebut ke ruang publik Landmark Ternate. Persoalan sejarah, kekerasan, dan kemanusiaan tidak hanya ditempatkan sebagai diskusi akademik, tetapi juga dihadirkan melalui bahasa seni agar dapat menjadi bagian dari percakapan masyarakat.
Melalui BERSASTRA — MENOLAK LUPA, BEM FIB UNKHAIR bersama LEKSAS menegaskan bahwa merawat ingatan bukan sekadar melihat kembali masa lalu. Ingatan menjadi penting untuk memastikan pengalaman korban tidak hilang dari sejarah dan pertanyaan mengenai keadilan tetap hidup dalam kesadaran publik.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar