Krisis identitas, peran mahasiswa maluku utara di era tekologi: antara ilusi dan keyataan?
- account_circle Muamar Kadafi M. Halil
- calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
- visibility 174
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Perkembangan teknologi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak Revolusi Industri 1.0 yang dimulai di Inggris pada abad ke-18 dengan ditemukannya mesin uap hinga hari ini telah capai pada revolusi industri 4.0, kehidupan masyarakat mengalami perubahan yang sangat besar. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi dalam bidang ekonomi, tetapi juga merambah ke bidang politik, sosial, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Perkembangan teknologi yang terus berlangsung hingga saat ini telah membawa manusia memasuki era digital, di mana telepon pintar dan berbagai platform digital menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.tetapi yang ironisnya mahasiswa yang di kenal oleh masyarakat sebagai kaum intelektual itu telah terbawa perasaan oleh perkembagan yang terjadi,hari ini.hingga mulailah satu persatu lupa dengan identitas atau perannya sebagai penopang bagi masyarakat.
Perubahan tersebut tentu bukan sesuatu yang harus ditolak. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya serta membuka berbagai peluang baru. Namun, persoalan muncul ketika masyarakat tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara kritis. Teknologi yang seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup justru dapat memengaruhi pola pikir, kebiasaan, perilaku, bahkan identitas seseorang apabila digunakan tanpa kesadaran dan kontrol.
Dalam konteks kebudayaan, Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kebudayaan memiliki berbagai unsur yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Kebudayaan tidak hanya berbicara tentang tradisi atau kesenian, tetapi juga mencakup pengetahuan, sistem sosial, bahasa, mata pencaharian, teknologi, serta sistem kepercayaan. Oleh karena itu, perkembangan peradaban semestinya berjalan seiring dengan kemampuan masyarakat untuk memahami dan mempertahankan nilai-nilai kebudayaannya.
Persoalan inilah yang perlu menjadi perhatian dan kajian husus bagi mahasiswa Maluku Utara agar membatasi hal hal yang sudah terjadi,sebab jika kita melihat dinamika kampus saat ini budayah literasi itu sudah mulai punah secara perlahan,dan yang menjadi satu peyesalan di saat budayah literasi menurun itu budaya hedonis semakin meningkat.disini yang menjadi satu ketakutan besar marwa kampus yang sebagai arenah peradaban telah berubah menjadi arena bergaya.
Jika dilihat secara letak geografis, maluku utara Sebagai wilayah kepulauan yang memiliki keragaman budaya, bahasa, tradisi, dan sejarah, Maluku Utara memiliki kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakatnya. Akan tetapi, derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi telah membawa perubahan terhadap cara masyarakat berpikir dan menjalani kehidupan. Tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal budaya populer dari luar daripada budaya daerahnya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan penting: apakah generasi muda Maluku Utara, khususnya mahasiswa, masih mampu mempertahankan identitas kebudayaannya di tengah perkembangan zaman?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kita berbicara mengenai mahasiswa sebagai agent of change. Mahasiswa bukan hanya kelompok terdidik yang berada di lingkungan kampus, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk membaca persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Mahasiswa seharusnya mampu menjadi penghubung antara perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Namun, realitas hari ini menunjukkan adanya tantangan terhadap peran tersebut. Sebagian mahasiswa justru lebih banyak menjadi konsumen teknologi daripada menjadikannya sebagai sarana untuk menciptakan perubahan. Media sosial, misalnya, sering kali digunakan hanya untuk hiburan dan mengikuti tren, sementara potensi teknologi untuk pendidikan, penelitian, pengembangan ekonomi lokal, dokumentasi budaya, dan penyebaran pengetahuan belum dimanfaatkan secara maksimal.
Di sinilah dapat terlihat adanya persoalan identitas mahasiswa sebagai agent of change. Krisis identitas bukan berarti mahasiswa telah kehilangan seluruh nilai kebudayaannya, tetapi lebih kepada adanya jarak antara identitas ideal sebagai kaum intelektual dengan praktik kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dituntut menjadi agen perubahan, tetapi pada saat yang sama mereka juga menghadapi arus budaya global yang sangat kuat.
Oleh karena itu, mahasiswa Maluku Utara perlu membangun kemampuan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan kebudayaan sendiri. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan sebagai alat untuk memperkuat kebudayaan. Mahasiswa dapat memanfaatkan media digital untuk mendokumentasikan bahasa daerah, memperkenalkan tradisi, mengangkat sejarah lokal, mempromosikan produk masyarakat, serta menyuarakan berbagai persoalan sosial yang terjadi di Maluku Utara.
Dengan demikian, tantangan terbesar mahasiswa Maluku Utara bukanlah memilih antara teknologi atau kebudayaan, melainkan bagaimana mempertemukan keduanya. Kemajuan teknologi harus diikuti dengan penguatan sumber daya manusia, kesadaran budaya, dan kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa harus mampu menjadi generasi yang terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak kehilangan akar identitasnya.
Menjadi agent of change bukan sekadar slogan yang melekat pada mahasiswa. Ia merupakan tanggung jawab yang membutuhkan pengetahuan, keberanian, kepedulian, dan kesadaran terhadap realitas sosial. Mahasiswa Maluku Utara harus mampu membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak harus menghapus kebudayaan. Justru dengan pengetahuan dan teknologi, kebudayaan Maluku Utara dapat diperkenalkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, kemajuan suatu daerah bukan hanya diukur dari seberapa cepat masyarakatnya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga dari seberapa mampu masyarakat tersebut menjaga identitas,integritas dan kebudayaannya di tengah perubahan zaman.
- Penulis: Muamar Kadafi M. Halil

Saat ini belum ada komentar