Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Catatan Refleksi HUT ke-23 Halmahera Timur: Antara Identitas Budaya, Hiburan, dan Realitas Pembangunan

  • account_circle Sulfan Kiye
  • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
  • visibility 243
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Halmahera Timur memunculkan beragam pandangan kritis terkait arah kebijakan dan identitas daerah. Dari sisi kebudayaan, marwah dan jati diri Halmahera Timur dirasakan semakin memudar. Sepanjang sejarahnya, daerah ini dikenal sebagai wilayah para Kapita (pemimpin/leluhur) yang hidup di atas falsafah: ngaku re rasai, budi re bahasa, sopan re hormat, serta memiliki karakter yang malu dan takut berbuat kesalahan. Nilai-nilai inilah yang selama ini menjadi benteng dan ciri khas masyarakat Halmahera Timur.

Namun, penyelenggaraan perayaan yang lebih menonjolkan kehadiran artis hiburan justru dinilai telah menggugurkan nilai-nilai luhur tersebut. Seharusnya, momen penting ini diisi dengan penampilan budaya lokal asli seperti Lalayon, Cakalale, Kabata, serta berbagai tradisi yang sarat nilai ketuhanan. Budaya-budaya ini berfungsi membentuk moral dan karakter masyarakat. Apa yang dilakukan Pemerintah Daerah Halmahera Timur saat ini justru dianggap keliru dan berpotensi mendatangkan dampak buruk, karena falsafah hidup leluhur tidak lagi dijadikan landasan.

Transisi kebudayaan yang terjadi saat ini menjadi kontroversi besar. Pertunjukan dan gaya yang ditampilkan lebih condong pada budaya asing atau barat, yang justru dikhawatirkan meruntuhkan moral dan merusak regenerasi generasi muda. Hal ini sangat bertentangan dengan identitas asli Halmahera Timur sebagai Negeri Tane, Negeri Zikir ire Salawat—daerah yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan dan kearifan lokal.

Di usia yang ke-23 ini, Halmahera Timur seharusnya mulai menghidupkan kembali sejarah panjang dan budaya yang telah mengakar kuat. Leluhur dan para Kapita memiliki sejarah besar: Halmahera Timur adalah wilayah yang tidak pernah dijajah, melainkan pernah menjadi kekuatan yang mampu melawan dan mengusir bangsa Portugis serta Spanyol, sekaligus menjadi pendukung setia Sultan Nuku dalam mempertahankan kedaulatan. Semangat perjuangan inilah yang seharusnya menjadi materi utama pentas seni dan perayaan, untuk mengenang jasa para leluhur yang berperan besar dalam membebaskan Maluku Utara dari penjajah.

Alih-alih mengangkat sejarah kebanggaan tersebut, kebijakan yang diambil justru dianggap mematikan semangat darah para leluhur. Terlebih lagi, kehadiran artis yang dipandang memiliki catatan moral dan nilai budaya yang kurang baik, dinilai telah menjatuhkan martabat daerah. Cara mengenang pejuang, Kapita, tokoh pemekaran, dan pendiri daerah menjadi tidak tepat sasaran, karena seharusnya yang ditampilkan adalah sosok dan nilai kepemimpinan yang mencerminkan karakter asli masyarakat Halmahera Timur.

Selain persoalan budaya, perayaan ini juga dilihat dari kacamata sosiologis sebagai upaya pengalihan isu. Euforia pesta rakyat dinilai telah memanipulasi pandangan masyarakat dan menutup mata dari realitas kerusakan lingkungan yang nyata terjadi di beberapa kecamatan, khususnya di Kecamatan Maba dan Maba Tengah.

Lebih jauh lagi, ini dianggap sebagai strategi untuk menutupi kegagalan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan pembangunan ekonomi dan ekologi. Dalam prinsip pembangunan, seharusnya ada pertimbangan yang setara antara kemajuan ekonomi dan kelestarian alam. Namun, yang terjadi saat ini adalah pembangunan ekonomi didorong terus sementara aspek lingkungan disampingkan. Padahal, di sektor ekonomi pun terlihat ketimpangan dan ketidakadilan, salah satunya adalah nasib guru honorer yang belum menerima gaji hingga tertunda lebih dari 5 bulan—hal ini adalah bukti nyata kegagalan pelayanan dasar pemerintah daerah.

Sudah saatnya kita bersikap jujur dalam membangun Halmahera Timur. Wilayah ini terdiri dari 10 kecamatan dan 102 desa, yang semuanya berhak mendapatkan perhatian penuh. Namun realitasnya, pembangunan infrastruktur yang memadai hanya terpusat di ibu kota kabupaten saja. Di luar wilayah itu, kerusakan lingkungan dan keterbelakangan masih terlihat jelas. Jika demikian, apa yang dimaksud dengan pencapaian pembangunan yang sering diklaim pemerintah?

Tantangan ke depan bagi Pemerintah Halmahera Timur adalah mengembalikan esensi dan ruh jati diri daerah. Kembali mengimani falsafah hidup leluhur sangat diperlukan guna membentuk sumber daya manusia yang tangguh dan berkarakter. Kita perlu menyadari bahwa dasar dari segala peradaban adalah adab dan budi pekerti. Dalam pembangunan, pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya alam harus berjalan beriringan, dengan adab dan moral sebagai fondasi utamanya.

  • Penulis: Sulfan Kiye

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mantan Kadis Perindag Malut & Anak Buah Tersangka Korupsi

    Mantan Kadis Perindag Malut & Anak Buah Tersangka Korupsi

    • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Linidaily.id, Kejaksaan Tinggi Maluku Utara resmi menetapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi di lingkungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Malut. Mereka adalah mantan Kepala Dinas Perindag, Yudhitya Wahab, serta Kepala Bidang Perdagangan sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen, Muhammad Abdul Djafar. Penetapan ini diumumkan Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Malut, Mhateo Matulessy, […]

  • Kantor DPRD Provinsi Maluku Utara, Foto: Istimewa

    Pengamat Hukum; Penetapan Tersangka Dugaan Korupsi Tunjangan DPRD Jangan Cuma Janji

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • 0Komentar

    Pengamat Hukum yang juga Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Abdul Aziz Hakim mengingatkan Janji Kejati dalam mengumumkan para tersangka dugaan korupsi tnjangan DPRD jangan Cuma janji. Karena menurutnya, sampai sekarang janji tersebut tidak berwujud. “Menurut saya, sebagaimana pernyataan pihak Kejati Malut bahwa dalam kasus ini bukti-buktinya sudah cukup, walaupun masih menunggu hasil BPK. Jika […]

  • Menristekdikti Respons Keluhan 143 Ribu: Hentikan Beban Administratif Dosen 20 JP

    Menristekdikti Respons Keluhan 143 Ribu: Hentikan Beban Administratif Dosen 20 JP

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Kabar melegakan datang bagi para dosen penerima Sertifikat Pendidik (Serdos) di seluruh Indonesia. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, resmi mengumumkan penghentian sementara kewajiban pemenuhan 20 Jam Pelajaran (JP) kegiatan pengembangan diri. Keputusan ini diambil setelah pemerintah menilai beban tersebut terlalu berat bagi sekitar 143 ribu dosen penerima tunjangan […]

  • Festival Buku Malut 2026: Terbuka Umum & Penghargaan Tokoh

    Festival Buku Malut 2026: Terbuka Umum & Penghargaan Tokoh

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Linidaily.id. Festival Buku Maluku Utara 2026 yang digelar pada Jumat–Sabtu, 11–12 September 2026 terbuka secara bebas untuk seluruh lapisan masyarakat: pelajar, mahasiswa, pegiat literasi, maupun masyarakat umum. Seluruh peserta dapat mengikuti beragam kegiatan mulai dari pelatihan kelas menulis, diskusi buku, pertemuan penulis, hingga pertunjukan seni tanpa batasan. Ajang ini bukan hanya pameran karya, […]

  • Belajar dari NTB: Skema BLUD Jadi Kunci Keberlanjutan Pembiayaan Kawasan Konservasi Perairan

    Belajar dari NTB: Skema BLUD Jadi Kunci Keberlanjutan Pembiayaan Kawasan Konservasi Perairan

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, linidaily.id Tim studi banding pengelolaan perikanan berkelanjutan dari Maluku Utara pulang membawa satu pelajaran penting dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB): keberlanjutan pembiayaan pengelolaan kawasan konservasi perairan tidak bisa terus bergantung pada anggaran pemerintah semata. Dalam kunjungan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, rombongan mempelajari langsung praktik Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) […]

  • Nurlaela Syarif Pertanyakan Duit PJU Warga Ternate

    Nurlaela Syarif Pertanyakan Duit PJU Warga Ternate

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • 0Komentar

    Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ternate, Nurlaela Syarif Pertanyakan duit Penerangan Jalan Umum (PJU) ke Pemerintah Kota Ternate. Pertanyaan itu ditulis melalui status akun FB nya; Kemana Larinya Duit PJU Warga Ternate? Rakyat Bayar Tiap Bulan, Jalanan tetap Gelap Gulita. Anggota Dewan Kota Ternate yang dikenal kritis ini juga menulis, Setiap kali kita […]

expand_less