Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Dialog Publik: Perempuan dan Krisis Ekologis Kepulauan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 80
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Krisis ekologis di wilayah kepulauan kini tidak lagi sekadar dipahami sebagai isu kerusakan lingkungan, melainkan telah menjadi tantangan serius yang berdampak langsung pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Di tengah situasi ini, perspektif perempuan dinilai sangat penting untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu malam, 23 Mei 2026, bertempat di Pandopo Bukit Pelangi, Kota Ternate. Acara diawali dengan peluncuran ARCHIPELAGIC WOMEN INSTITUTE (AWI), sebuah wadah bagi perempuan kepulauan. Dialog publik ini mengusung tema “Bacarita tentang Kepulauan, Krisis Ekologis, dan Kebijakan Politik: Mengapa Negara Gagal Membaca Pengalaman Perempuan?”.

Dalam diskusi tersebut, panitia menghadirkan sejumlah narasumber dan penanggap yang kompeten di bidangnya, antara lain Ketua Komisi I DPRD Provinsi Maluku Utara, Nazlatan Ukhra Kasuba; Sekretaris Bappeda Provinsi Maluku Utara, Dr. Iksan, S.SE., M.Si.; Akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Dr. Rahmat Abdul Fatah, S.Sos., M.Si.; Direktur AWI, Asterlita Raha, S.Pd.; serta sepuluh narasumber perempuan hebat lainnya yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara.

Dalam pemaparannya, Nazlatan Ukhra Kasuba menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam proses pengambilan keputusan politik, terutama dalam merespons tantangan ekologis di daerah kepulauan seperti Maluku Utara. Usai sesi diskusi, dalam wawancara dengan media, ia menyampaikan bahwa hasil pertemuan ini harus segera ditindaklanjuti.

“Hasil diskusi bersama perempuan-perempuan hebat di Maluku Utara ini harus segera kami tindaklanjuti. Kami juga perlu mengevaluasi bagaimana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) saat ini sudah berpihak pada isu-isu perempuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski penyusunan anggaran tahun ini telah selesai, harapannya pada perencanaan tahun 2027 nanti, pihaknya dan AWI dapat terlibat lebih awal.

“Anggaran tahun ini sudah selesai, namun untuk tahun 2027 mendatang, semoga dalam perencanaan penganggaran kami—termasuk saya sendiri sebagai wakil rakyat perempuan di DPRD—bisa memerhatikan masukan-masukan yang disampaikan AWI. Ternyata, apa yang disampaikan AWI ini juga banyak saya temukan di lapangan saat masa reses. Masalah utama yang sering dikeluhkan masyarakat selain tanggul, jalan usaha tani, adalah ketersediaan air bersih yang sangat mendesak,” ungkap Nazlatan.

Sementara itu, Direktur AWI, Asterlita Raha, menyoroti masalah kesesuaian kebijakan pembangunan dengan karakteristik wilayah. Menurutnya, pembangunan infrastruktur di Maluku Utara masih terasa netral jender dan berbasis konsep wilayah daratan (kontinental). Padahal, secara topografi daerah ini adalah wilayah kepulauan.

“Sayangnya, kebijakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) maupun anggaran APBD belum sepenuhnya mempertimbangkan karakteristik wilayah kepulauan. Kehadiran AWI adalah untuk mengingatkan kembali dan mengintegrasikan bahwa akar budaya dan kebutuhan kami masyarakat kepulauan, khususnya perempuan, harus diperhatikan,” jelas Asterlita.

Terkait langkah ke depan, Asterlita menjelaskan bahwa dalam tiga bulan ke depan, AWI berencana melakukan kajian mendalam terhadap dokumen RPJMD di setiap kabupaten/kota. Selain itu, AWI juga akan menyusun instrumen khusus untuk menganalisis dan mengawal kebijakan, mulai dari proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) hingga tahap pelaksanaan anggaran. Tujuannya, memastikan dokumen perencanaan daerah benar-benar berbasis kepulauan dan mempertimbangkan isu kesetaraan jender, serta kebutuhan kelompok rentan lain seperti penyandang disabilitas.

Asterlita juga berharap pemerintah daerah mulai mengembangkan cara pandang sendiri dan tidak sekadar mengikuti arah kebijakan pusat di Jakarta, karena perbedaan karakter budaya dan wilayah membuat pola pembangunan tidak bisa disamakan begitu saja.

“Jika ada kebijakan atau acuan dari Jakarta, kita harus mulai menerjemahkannya ke dalam ‘bahasa lokal’ agar sesuai dan bisa diterapkan dengan baik di Maluku Utara. Contohnya, penerapan sistem digitalisasi yang standarnya mengikuti Jakarta justru membuat daerah yang belum memiliki akses memadai menjadi bingung. Hal serupa juga terjadi pada kebijakan dari tingkat nasional yang turun ke daerah, sering kali belum menyentuh kebutuhan nyata masyarakat kepulauan,” pungkasnya.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ternate dan Paradoks Rempah: Ketika Pemilik Cerita Kehilangan Suaranya

    Ternate dan Paradoks Rempah: Ketika Pemilik Cerita Kehilangan Suaranya

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • 1Komentar

    Ada sesuatu yang janggal ketika sebuah negara kecil tanpa satu pohon cengkeh pun mampu mengemas sejarah rempah menjadi daya tarik wisata berkelas dunia, sementara kota yang melahirkan rempah itu justru terdiam dalam kesunyian naratif. Singapura membangun Spice Garden di Fort Canning Park, menyajikan gastro-tourism beraroma rempah dalam setiap sudut kotanya, dan dengan lihai menenun sejarah […]

  • Kapolda Maluku Utara, Brigjen Pol. Arif Budiman. Foto: Wikipedia

    Usai Serah Terima Jabatan, Kapolda Arif “Janji” Tuntaskan Konflik Patani Barat

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • 0Komentar

    Lapangan Catur Prasetya Polda Maluku Utara Sabtu (23/5/2026), sedikit berbeda dari biasanya. Rupanya sedang berlangsung Welcome and Farewell Parade pergantian Kapolda Maluku Utara dari Irjen Pol. Waris Agono kepada Brigjen Pol. Arif Budiman. Pergantian pucuk pimpinan POLDA Maluku Utara tersebut ditandai penyerahan Pataka “Fodudara Ngon Moi-Moi”, simbol kehormatan dan tongkat estafet kepemimpinan dalam tubuh POLDA […]

  • Peringkat Paling Bahagia dan Taat Beragama : Tapi Banyak yang Belum Merasakan Kesejahteraan, Bahkan Ada yang Mau Akhiri Hidup

    Peringkat Paling Bahagia dan Taat Beragama : Tapi Banyak yang Belum Merasakan Kesejahteraan, Bahkan Ada yang Mau Akhiri Hidup

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • 0Komentar

    Maluku Utara mencatat capaian luar biasa yang jarang dimiliki provinsi lain: selama lima tahun berturut-turut 2021–2025, Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menempatkan Maluku Utara sebagai Provinsi Paling Bahagia di Indonesia. Pada 2025, skor Indeks Kebahagiaan mencapai 76,34, jauh di atas rata-rata nasional 71,49. Pengukuran ini mencakup tiga dimensi: kepuasan hidup, perasaan positif, dan makna […]

  • Skor Integritas ‘Merah’, KPK Beri Ultimatum 3 Bulan untuk Pemprov & DPRD Malut

    Skor Integritas ‘Merah’, KPK Beri Ultimatum 3 Bulan untuk Pemprov & DPRD Malut

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE Linidaily.id – Suasana tegang menyelimuti Kediaman Dinas Wakil Gubernur Maluku Utara, Kamis (11/6). Selama sembilan jam, mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIT, rapat koordinasi antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara berlangsung tertutup rapat. Personel Satpol PP berjaga ketat di pintu masuk, melarang akses bagi staf eselon III-IV maupun wartawan. […]

  • Tim Gabungan Gelar Penggeledahan di Cafe de’CLAN Signature, Dokumen dan Barang Bukti Diamankan Terkait Dugaan Korupsi Besar

    Tim Gabungan Gelar Penggeledahan di Cafe de’CLAN Signature, Dokumen dan Barang Bukti Diamankan Terkait Dugaan Korupsi Besar

    • calendar_month Kamis, 9 Jul 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA – Linidaily.id Kegiatan penggeledahan besar-besaran dilakukan oleh tim gabungan Komando Tugas Penindakan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya di lokasi usaha Cafe de’CLAN Signature, yang beralamat di Jalan Cipete Raya Nomor 63, RT 06/RW 04, Kelurahan Cipete Selatan, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Operasi tersebut berlangsung selama […]

  • Ternate Mengering di Bawah Bayang-Bayang El Niño: Jangan Tunggu Krisis Air

    Ternate Mengering di Bawah Bayang-Bayang El Niño: Jangan Tunggu Krisis Air

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • 0Komentar

    Hampir sebulan tanpa hujan, siang yang terasa menyengat, dan angin kencang yang bertiup berjam-jam mulai menjadi pengalaman sehari-hari warga Ternate. Situasi ini tidak layak dibaca sebagai panas musiman biasa. Pada pertengahan Agustus 2026, Indonesia memang sedang menghadapi El Niño yang kuat. BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 pada Dasarian I Agustus […]

expand_less