Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

Messi, Talent Scouting, dan Partai Politik

  • account_circle M. Rusdy Namsa
  • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
  • visibility 117
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banyak wacana yang berkembang jika Lionel Messi mencalonkan diri sebagai Presiden Argentina maka pasti terpilih, penulis termasuk yang percaya wacana atau tesis ini. Mengapa ? karena dalam politik popularitas dan populisme melampaui segalanya. Disclaimer, penulis bukanlah pendukung Argentina, secara pribadi, juga bukan fans Lionel Messi. Terlepas dari kontroversi di laga Mesir VS Argentina pada 7 Juli 2026 yang banyak diperbincangkan terkait keputusan wasit dan VAR, kemudian berlanjut ke laga melawan Swis hingga di semifinal mengalahkan Inggris dan lolos ke partai final ; saya harus mengatakan bahwa Messi menjadi sosok kunci dalam setiap kemenangan Argentina, pada laga melawan Mesir misalnya, satu assist cantik yang di berikan dan 1 tendangan manis yang berbuah gol membuat Argentina menyamakan kedudukan dua sama dengan Mesir hal ini tentu mengembalikan mental semua pemain lebih kuat bahkan supporter, melahirkan harapan yang semakin besar sehingga Argentina terus menggempur serangan. Tidak berlebihan jika penulis mengatakan Messi seperti Magis. Kita harus berani mengakui fakta, realitas dan kebenaran ini. Umpan Lionel Messi bukan pemain yang mencari dan mengejar bola tapi bola yang mencari dan mengejar pemain inilah yang dirasakan Lotaro Martinez ketika sundulannya berbuah gol hasil dari umpan manja dari Messi.

Banyak orang mungkin tidak mengakui keindahan gaya permainan Lionel Messi, hal ini tentu keliru, ilustrasinya sama seperti kita mengakui kebenaran secara objektif bahwa 1+1=2 semua orang di dunia ini tidak akan menolak fakta ini, maka sama halnya secara objektif keindahan, skill dan gaya permainan Lionel Messi memang indah dan magis, walaupun secara pribadi banyak hal yang berseberangan dengan pandangan hidup penulis seperti Messi di duga kuat terafiliasi dengan Israel sehingga kita tidak akan menemukan satu pernyataan dari Messi yang mendukung Palestina, atau karakternya yang sering memprovokasi pemain bahkan wasit dan lain sebagainya.

Tapi itu tidak lantas membuat kita tidak objektif dan jujur dalam mengakui keindahan, kehebatan Lionel Messi dalam mengolah si kulit bundar bayangkan saja waktu 78 menit di babak kedua melawan Mesir Messi masih tetap tenang bahkan masih berjalan membaca setiap gerak dan permainan Mesir, kemudian di laga semifinal melawan Inggris waktu sudah 80 menit lebih tapi mental dan psikis Messi memperlihatkan ketenangan yang luar biasa ini menunjukan kelas dan mental seorang Messi. Tulisan ini mencoba melihat proses pencarian bakat sepak bola dari Akademi Barcelona di Spanyol yang kemudian menemukan Lionel Messi dengan menganalisa dan mengaitkan proses rekrutmen politik di Indonesia yang mungkin dapat dijadikan solusi partai politik dalam mencari dan menemukan figur politik yang terinspirasi dari seorang Lionel Messi.

Partai Politik dan Akademi Sepak Bola memiliki kemiripan, secara normatif jika partai politik adalah mesin penghasil pemimpin berkualitas maka akademi sepak bola adalah mesin penghasil pemain berkualitas namun ketika tugas dan fungsi utama ini disalah gunakan atau terdapat penyimpangan maka dapat dipastikan kedua mesin tersebut akan gagal dalam melahirkan pemimpin atau pemain yang hebat. Sebagai contoh, Lionel Messi yang ditemukan talent scout Akademi Sepak Bola Barcelona di Argentina kemudian di bawa ke Spanyol, semasa kecilnya Lionel Messi lahir dari keluarga yang sederhana bahkan miskin di Rosario, Argentina. Ayahnya adalah seorang pekerja di pabrik dan ibunya seorang asisten rumah tangga paruh waktu dengan kondisi yang terbatas mereka tetap mendukung Messi.

Visi akademi sepak bola scout Barcelona di Argentina benar-benar mencari bakat pemain hebat maka walaupun Messi bukan berasal dari keluarga kaya raya dan secara fisik Lionel Messi di kategorikan sebagai pemain yang kecil dan pendek sehingga harus berusaha secara medis untuk menaikan tinggi badan, Lionel Messi dengan bakat yang dimiliki tetap direkrut oleh Agen dan Akademi Sepak Bola Barcelona untuk di bawa ke Spanyol dan resmi bergabung bersama Tim junior Barcelona pada tahun 2000.

Lain ceritanya jika waktu itu para Agent dan tim dari Barcelona hanya memikirkan uang memperkaya diri atau karena kedekatan keluarga maka Messi mungkin tidak ditemukan hingga saat ini dan masyarakat dunia tidak akan pernah melihat keindahan permainan sepak bola seorang Messi. Inilah krisis yang saat ini dihadapi oleh partai politik di Indonesia ; terjebak oleh pragmatisme materialisme sehingga sangat sulit menemukan dan melahirkan pemimpim berkualitas, ini sebuah realitas yang saat ini di hadapi partai politik mulai dari tingkat pusat hingga ke daerah kabupaten/kota alhasil output yang di hasilkan adalah pemimpin berwatak feodal yang tak melayani rakyat, masyarakat menjadi melarat di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah.

Dalam sebuah pidato politik ketua umum partai Nasdem Surya Paloh menyebutkan “money is power” yang artinya uang adalah kekuasaan atau kekuatan, hal ini beliau gambarkan pada realitas politik di Indonesia saat ini yang sangat transaksional siapa yang punya uang dia yang berkuasa. Kendati tak punya kapasitas dan tak bermoral para koruptor bisa mencalonkan diri berulang-ulang. Sekilas pandangan ini masuk akal dan faktanya memang seperti itu namun apakah benar politik selalu tersandera dengan biaya yang terlampau mahal? sehingga sangat sulit politisi yang tidak mempunyai modal besar untuk terpilih kendati berkualitas dan mumpuni.

Tulisan ini berusaha mengungkapkan bahwa masih terdapat cara untuk dapat merubah politik yang transaksional sehingga memberikan harapan bagi para politisi, aktivis yang berkualitas untuk melayani rakyat dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Tidak bisa di nafikan bahwa segala sesuatu memang memerlukan uang dan para calon memang harus siap berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan baik di bidang sepak bola maupun di bidang politik.

Namun yang menjadi masalah adalah ongkos politik yang terlampau mahal yang tidak bisa di jangkau oleh para calon sehingga partai politik dan para kandidat kontestasi pemilu nekat melakukan transaksi atau barter pragmatis dengan para pengusaha yang mempunyai modal sehingga para politisi ini tersandera dengan kepentingan para pengusaha yang ketika telah menjabat para pengusaha ini yang tadinya menggelontorkan ongkos politik akan mendapatkan manfaat balik, inilah wujud dari patron politik baik dalam bentuk proyek atau jabatan titipan cikal bakal dari oligarki dimana hanya orang-orang tertentu yang dapat mengontrol kekuasaan akibatnya para pemimpin berfikir untuk mengembalikan modal yang keluar saat kampanye baik untuk pribadi maupun oligarki.

Oligarki berasal dari bahasa Yunani, “oligarkhes”, yang berarti sedikit yang memerintah. Konsep tentang oligarki, salah satu yang paling populer yaitu gagasan filsuf Plato teorinya menyebutkan bahwa oligarki merupakan bentuk pemerosotan dari pemerintahan aristokrasi, pemerintahan yang dipimpin cerdik pandai, menjadi di pimpin segolongan kecil yang memerintah demi kepentingan golongan itu sendiri. Oligarki dapat berkelindan dengan politisi, pengusaha maupun militer. Virus oligarki ini telah masuk ke dalam tubuh partai politik.

Anggota Dewan Pembina Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai, oligarki tumbuh subur dalam sistem demokrasi tanah air, khususnya dalam gelaran Pemilu dan Pilkada. Hal ini di sebabkan oleh empat hal; mulai dari tata kelola partai politik yang belum demokratis, regulasi, penegakan hukum lemah, dan kesadaran masyarakat lemah. Realitas memperlihatkan bahwa di Indonesia dalam partai politik pengambilan keputusan masih di tentukan oleh segelintir orang saja. Partai Politik belum mampu memberikan pendidikan politik pada masyarakat agar terhindar dari money politics justru menjadi pelaku politik uang padahal jika di lihat dari beberapa fungsi partai politik memiliki fungsi yang sangat strategis.

Saat ini partai politik di Indonesia memiliki citra buruk dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai mesin yang melahirkan pemimpin yang bermartabat, padahal jika kita telisik fungsi partai politik maka semestinya memiliki sistem yang kokoh dalam mencetak pemimpin, setidaknya ada lima fungsi Partai Politik yang di kemukakan Yusa Djuyandi dalam bukunya Pengantar Ilmu Politik (2017) di jelaskan ada lima fungsi partai politik dalam negara demokrasi, yaitu:

  • Sebagai alat pendidikan politik artinya partai politik mempunyai tanggung jawab untuk sosialisasi atau mentransmisikan budaya politik dalam rangka pembentukan mental masyarakat sadar akan politik sebagai warga negara.
  • Sarana rekrutmen politik; Sebagai sarana rekrutmen politik, partai politik harus mampu menjadi mesin kaderisasi untuk melahirkan pemimpin baik di kancah daerah hingga nasional di dalam internal parpol harus memiliki sistem pemilihan atau seleksi yang berkualitas.
  • Sarana partisipasi politik artinya parpol dapat memberikan ruang kepada masyarakat untuk terlibat dalam mempengaruhi kebijakan pemerintahan maupun suksesi kepemimpinan sehingga partai politik menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi politik.
  • Sarana komunikasi politik Yusa menjelaskan bahwa parpol harus mampu menjadi jembatan arus informasi dari pemerintah ke masyarakat. Tidak hanya itu parpol memiliki fungsi untuk merumuskan pesan dan aspirasi rakyat kepada pemerintah.
  • Sarana pengatur konflik maksudnya partai politik harus mampu meminimalisasi konflik yang terjadi sehingga dapat membuat dan menciptakan pemerintahan yang efektif dengan cara cara yang positif.

Dari kelima fungsi di atas partai politik di Indonesia belum mampu menjalankan secara optimal alhasil masyarakat sulit menaruh harapan pada partai politik apalagi jika di dalam tubuh partai politik masih berlaku tradisi mahar politik maka orang-orang yang mempunyai kualitas akan sulit di temukan oleh partai politik padahal terbentuknya partai politik sesungguhnya memiliki nilai yang luhur ketika pertama kali di bentuk di Eropa barat partai politik menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah bahkan partai politik sangat sulit di pisahkan dari rakyat. Untuk lebih memberikan kita wawasan pengertian partai politik berikut beberapa pengertian partai politik yang di kemukakan oleh para ahli:

  • Miriam Budiardjo menyebutkan bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya memiliki orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini Ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional, untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka.
  • Sigmund Neuman Dalam Modern Political Parties mengemukakan definisi : a political party is the articulate organization of society’s active political agents, those who are concerned with the control of government power and who compete for popular support with another group or groups holding divergent views. (Partai politik adalah organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lainyang mempunyai pandangan yang berbeda).

Dari kedua pakar di atas menunjukan bahwa partai politik mempunyai nilai-nilai luhur yang di anut untuk kemudian di perjuangkan hingga mendapatkan kepercayaan publik dan memegang kekuasaan.

Kebutuhan Talent Scouting dalam Partai Politik

Di dalam sepak bola baik itu di klub maupun di setiap akademi yang telah mempunyai kualitas yang baik mereka pasti mempunyai yang namanya team scouting atau dalam Bahasa Indonesia di kenal dengan tim pencari bakat mereka yang terhimpun di dalam tim ini sangat objektif dan terbebas dari konflik kepentingan, benar-benar talent scout murni mencari bakat-bakat pemain yang di butuhkan akademi maupun klub sehingga hasil yang di terima sangat berkualitas dan teruji karena tidak asal-asalan apalagi hanya karena memiliki modal uang atau kedekatan keluarga bisa kolaps jika klub melakukan hal itu sangat sulit membohongi talent scout karena benar-benar kualitas yang di cari bukan materi karena jika kualitas yang di cari maka materi akan ikut dengan sendirinya berbeda dengan partai politik di Indonesia yang di kejar materi dulu, siapa yang punya modal uang untuk partai bisa hidup operasional maka kualitas pun tak dapat dan kembali berputar pada lingkaran setan uang dan kekuasaan inilah pentingnya talent scout yang objektif.

Scout dalam satu klub memang tak hanya satu dua orang, bahkan bisa mencapai puluhan yang di kepalai oleh seorang kepala (chief scout). Orang ini nantinya menerima laporan yang akurat dari scout-scout bawahannya mengenai perkembangan seorang pemain. Pemain di pantau bukan hanya pada satu dua kali pertandingan namun melalui proses yang panjang dan standar kriteria-kriteria yang di butuhkan manajemen klub. Sebagai contoh Gwyn Williams pernah berbagi cerita tentang kehidupannya sebagai scout raksasa inggris, Chelsea, Selama 28 tahun. Menurutnya, ia akan menjelajahi seluruh dunia untuk mencari pemain muda bertalenta untuk direkrut tim muda Chelsea. “ Saya akan menghabiskan setiap malam dalam setiap minggu untuk menyaksikan pertandingan dengan berbagai level,” ujarnya pada BBC pada 2013.

Di Eropa talent scout sangat di butuhkan karena untuk regenarasi pemain dan untuk memenuhi kebutuhan klub yang membutuhkan pemain yang sesuai dengan karakter tim. Di dalam partai politik belum mempunyai tim scouting yang benar-benar turun ke akar rumput untuk menemukan bibit-bibit muda pemimpin masa depan, selama ini partai politik hanya mengandalkan elektabilitas yang di expose oleh media-media mainstream yang sangat sulit objektif karena dekat dengan konflik kepentingan hampir semua media di Indonesia di belakangnya terdapat tokoh politik yang pragmatis yang memiliki saham besar pada media tersebut tidak menjadi masalah sebenarnya partai politik mengendalikan media namun yang menjadi masalah serius adalah pengendalian media hanya mengambil good side dari partai pemegang saham dan menghantam lawan politik seringkali tidak objektif namun di bungkus sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak menyadari.

Partai politik di Indonesia belum mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas kalaupun ada di beberapa daerah yang mempunyai pemimpin berkualitas maka sebagian besar berada di luar partai politik, mereka yang di pinang atau di lamar partai politik bukan melalui proses yang terbentuk di dalam kaderisasi partai politik, tokoh-tokoh ini telah terbentuk pada organisasi-organisasi lain yang di panen oleh partai politik sehingga mesin pencetak politisi yang berkualitas mandek bahkan tak mempunyai skema yang jelas dan pasti seperti halnya dalam dunia sepak bola tim scout yang memang melihat dari awal bibit pemain bukan hanya memanen hasil yang telah terbentuk. Memang ada yang mengambil setelah terbentuk karena memang benar-benar berkualitas, berbeda dengan parpol mengambil yang berkualitas namun sistemnya di sertai mahar politik.

Partai politik di Indonesia memiliki masalah yang sangat kompleks Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menilai ada tiga hal yang menjadi masalah utama partai politik di Indonesia. Salah satu masalah tersebut adalah transparansi partai politik yang dinilainya masih beroperasi seperti black box atau kotak hitam. Publik, menurut Djayadi, tak tahu kegiatan dan apa saja hal yang sudah dilakukan partai politik. Lemahnya kesadaran masyarakat dan jarak yang di buat partai politik membuat masyarakat semakin acuh dengan partai politik Djayadi mengatakan, salah satu indikator lemahnya hubungan antara partai politik dengan masyarakat adalah rendahnya tingkat identifikasi partai (party id) yakni 12 persen pada Januari 2021 berdasarkan survei LSI. “Itu artinya, partai-partai yang ada sekarang tidak mampu menarik masyarakat untuk mengidentifikasikan dirinya dengan partai-partai tersebut, hampir 90 persen masyarakat merasa tidak ada kaitan dengan partai,”

Masyarakat sangat jarang bahkan tidak pernah mendapatkan pendidikan politik yang berkualitas dari partai politik, Faktanya partai politik sebagai lembaga yang korup terkonfirmasi dari beberapa hasil survey. Dalam sebuah survey Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang Pemetaan Kondisi Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan yang dipublikasikan pada tahun 2018, Parpol menyandang predikat sebagai institusi demokrasi dengan persepsi terburuk dihadapan masyarakat. Kenyataan tersebut menjadi semakin parah mengingat Parpol adalah embrio dari para legislator atau wakil rakyat. Akibatnya, tidak berbeda dengan parpol, DPR juga selalu menduduki peringkat terburuk dalam beberapa hasil survey.

Hal tersebut semakin dikuatkan dengan adanya fenomena ketua parpol yang ditangkap Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Sejak 2013 sampai 2019, sudah 5 pimpinan parpol yang ditangkap KPK karena persoalan korupsi seperti tahun 2013, ketua Partai PKS Lutfi Hasan Ishaaq dengan kasus Kuota impor daging sapi. Di tahun yang sama pula Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum dengan kasus Proyek Hambalang, tahun 2014 Ketua PPP Suryadharma Ali kasus Dana haji, tahun 2017 Keyua Partai Golkar Setyo Novanto Kasus e-KTP dan 2019 ketua Partai PPP Romahurmuziy dengan kasus jual beli jabatan Kemenag. Data ini belum ditambah dengan kader-kader partai yang masuk bui akibat kasus serupa.Semua data dan fakta ini memperlihatkan bahwa mesin partai tidak berjalan dalam sistem yang sehat, semua masih di hantui dengan politik transaksional baik dalam rekrutmen politik maupun implementasi kebijakan.

Euforia sepak bola saat ini jika bisa di transformasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentu sangat dahsyat, bahkan Che Guevara pernah mengatakan bahwa sepak bola adalah alat revolusi, jika warga Indonesia menyadari hal ini dan mendesak bahkan mengawal semua partai politik untuk bisa melahirkan pemimpin yang mempunyai kualitas yang tinggi maka sudah pasti semua kebijakan yang mempunyai nilai keadilan dan kesejahteraan akan bisa di rasakan. Harapan kita semua, partai politik di Indonesia dapat mengadopsi pola rekrutmen dalam akademi sepok bola sehingga di masa depan Indonesia akan melahirkan pemimpin dan negarawan yang mempunyai kualitas dan kelas yang sama seperti Lionel Messi di dunia sepak bola, mustahil bukan berarti tidak mungkin.

  • Penulis: M. Rusdy Namsa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less