BEM FIB UNKHAIR Gelar Discuss Session, Buka Ruang Refleksi Arah BEM UNKHAIR dan Masa Depan Ormawa
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
- visibility 110
- comment 0 komentar
- print Cetak

Discuss Session bertajuk “Refleksi Arah BEM UNKHAIR dan Masa Depan Ormawa" di Ruang Auditorium FIB UNKHAIR. Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TERNATE,- Linidaily.id. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (BEM FIB UNKHAIR) menggelar Discuss Session bertajuk “Refleksi Arah BEM UNKHAIR dan Masa Depan Ormawa”, Jumat (9/10/2026), di Ruang Auditorium FIB UNKHAIR. Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIT ini menjadi ruang diskusi untuk membicarakan dinamika kemahasiswaan di Universitas Khairun, termasuk berbagai keresahan dan kekecewaan mahasiswa terhadap BEM UNKHAIR.
Pembahasan tidak hanya menyentuh persoalan program kerja, tetapi juga mempertanyakan fungsi representasi, respons terhadap persoalan mahasiswa, komunikasi kelembagaan, serta arah gerakan BEM UNKHAIR dalam menjalankan mandatnya.
Forum menghadirkan Mustadin Togubu, selaku Plt. Ketua BEM UNKHAIR, dan Hj. Jamal H. Arsyad, S.H., M.H., selaku Wakil Rektor III Universitas Khairun. Keduanya memberikan pandangan mengenai kondisi gerakan mahasiswa dan dinamika kelembagaan yang berkembang di lingkungan kampus.
Kritik terhadap BEM UNKHAIR disampaikan dalam suasana dialog yang terbuka. Sejumlah keresahan mahasiswa menjadi bagian dari pembahasan, terutama mengenai sejauh mana lembaga mahasiswa mampu hadir, mendengar, dan merespons persoalan yang dihadapi mahasiswa.
Ketua BEM FIB UNKHAIR, Muhammad Tamhier, mengatakan bahwa forum tersebut dibuat untuk memberikan ruang bagi mahasiswa membicarakan kondisi gerakan mahasiswa secara lebih terbuka.
“Discuss Session ini berangkat dari keresahan yang memang ada di kalangan mahasiswa. Ada kekecewaan terhadap BEM UNKHAIR dan itu perlu dibicarakan. Bagi saya, kritik terhadap lembaga bukan persoalan untuk menjatuhkan, tetapi bagian dari kontrol mahasiswa. Setiap lembaga mahasiswa punya mandat dan mandat itu harus terus diuji melalui kritik serta aspirasi mahasiswa,” ujar Tamhier.
Ia menilai keberadaan BEM tidak cukup diukur dari banyaknya agenda yang terlaksana.“Yang penting adalah sejauh mana lembaga hadir ketika mahasiswa menghadapi persoalan. Apakah suara mahasiswa didengar, apakah ada respons, dan apakah ada keberanian untuk mengambil sikap terhadap persoalan yang menyangkut kepentingan mahasiswa. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang menurut saya perlu dibicarakan,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Kajian Strategis dan Advokasi BEM FIB UNKHAIR, M. Fikri Hamka, menilai keresahan mahasiswa terhadap BEM UNKHAIR perlu ditempatkan sebagai bahan evaluasi kelembagaan.
“Kekecewaan mahasiswa terhadap BEM UNKHAIR tidak muncul begitu saja. Ada dinamika yang melatarbelakanginya. Karena itu, perlu ada ruang untuk membicarakan persoalan tersebut secara terbuka. BEM sebagai lembaga representasi mahasiswa memiliki fungsi yang harus dijalankan, terutama dalam membaca persoalan dan memperjuangkan kepentingan mahasiswa,” ungkap Fikri.
Menurutnya, gerakan mahasiswa membutuhkan kerja yang lebih substansial.
“BEM tidak hanya bicara tentang kegiatan. Ada kerja kajian, advokasi, pengawalan isu, dan keberanian menyampaikan kepentingan mahasiswa. Kalau fungsi-fungsi itu tidak berjalan dengan baik, wajar jika mahasiswa kemudian mempertanyakan arah lembaganya,” jelasnya.
Diskusi kemudian berkembang pada persoalan masa depan organisasi mahasiswa di Universitas Khairun. Perubahan dinamika mahasiswa, persoalan internal kampus, pola komunikasi antarlembaga, hingga kebutuhan membangun gerakan yang lebih kritis menjadi bagian dari pembahasan.
BEM FIB UNKHAIR mendorong agar lembaga kemahasiswaan tidak berhenti pada rutinitas kegiatan. Organisasi mahasiswa perlu memiliki kepekaan membaca persoalan, membangun kajian, membuka ruang dialog, serta mengambil peran ketika kepentingan mahasiswa berhadapan dengan berbagai persoalan kampus.
Discuss Session ini juga menjadi bagian dari upaya BEM FIB UNKHAIR membangun tradisi diskusi yang terbuka di lingkungan mahasiswa. Kritik, perbedaan pandangan, dan evaluasi terhadap lembaga kemahasiswaan dinilai penting untuk menjaga agar gerakan mahasiswa tetap hidup dan memiliki arah yang jelas.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar