Perempuan, Vape, Dan Ilusi Emansipasi: Ketika Kesetaraan Dimanipulasi Oleh Sistem Kapitalisme
- account_circle M. Ilham Almadani
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 39
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sudut kafe dan area perkotaan hari ini, fenomena perempuan yang memegang rokok batangan atau mengembuskan asap pekat dari vape (rokok elektrik) bukan lagi hal yang asing. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari Kementerian Kesehatan RI mencatat temuan bahwa proporsi perempuan yang mengonsumsi rokok elektrik menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat. Berdasarkan data pada kelompok perempuan usia muda dari (15—29) berstatus mahasiswi atau pekerja muda, berpendidikan menengah atas, dan berdomisili di wilayah perkotaan (urban). Namun, ada sebuah paradoks sosial yang tidak pernah selesai di meja tongkrongan: mengapa laki-laki yang merokok dianggap biasa, sementara perempuan yang melakukan hal serupa langsung dihujani tatapan sinis dan label negatif? Mengapa rokok selalu dilekatkan pada gender tertentu?
Akar dari pelabelan ini tidak tumbuh secara alami, melainkan dirawat oleh sejarah panjang kapitalisme. Melalui branding kapitalisme selama beberapa dekade, iklan secara masif menghegemoni sebuah komoditas (rokok) dengan citra sebagai ciri khas pria sejati; ketangguhan, kejantanan, keberanian, dan kebebasan. Upaya industri yang terstruktur ini berhasil menancapkan rokok ke dalam alam bawah sadar kolektif sebagai simbol kejantanan sekaligus gerbang menuju pendewasaan pria. Konsekuensinya, ruang publik memaklumi kepulan asap yang keluar dari mulut laki-laki sebagai validasi dari maskulinitas mereka.
Namun di lain hal, ketika yang menggunakan rokok ialah perempuan, mereka dilabeli perempuan tak bermoral, pergaulan yang tidak sehat, perempuan kotor, dan sebagainya. Dalam sistem patriarki perempuan selalu dituntut sebagai sosok yang suci, patuh, dan ayu, yang dalam patriarki jika mereka lepas dari dalam sipil keterikatan itu bahwa mereka telah melanggar kodrat feminitas. Tubuh dan perilaku perempuan di ruang publik tidak pernah menjadi milik mereka sendiri, melainkan selalu berada dalam pengawal moral masyarakat yang bias gender.
Jika mengacu pada sejarah perkembangan masuknya patriarki dan kapitalisme, pada abad ke-19 di masa kolonial, penjajah membawa konsep patriarki yang membagi realitas menjadi dua ruang. Pertama, ruang publik yang maskulin di mana lelaki mempunyai otoritas penuh terhadap realitas sosial dan akses ekonomi. Kedua, ruang domestik yang feminin yang mendomestifikasi perempuan ke ranah privatisasi sebagai pengurus rumah tangga yang suci. Karena merokok adalah aktivitas yang lahir di ruang publik, maka tindakan perempuan merokok hari ini adalah bentuk pembangkangan terhadap batas-batas konstruksi patriarki.
Sebetulnya, kita tidak boleh melihat kesetaraan lewat konsumsi sebuah komoditas karena itu sangat berlainan. Namun, kapitalisme sengaja memanfaatkan pembagian ruang tersebut untuk memolarisasi sebagian perempuan menjadi konsumtif karena “tak ingin kalah saing oleh lelaki” demi memajukan produk pasar. Di sinilah kapitalisme patriarkal bekerja menjinakkan perempuan lewat komodifikasi identitas pria. Mereka mengeksploitasi hasrat perempuan untuk tampil berdaya dengan cara menjual candu yang dikemas sebagai simbol kebebasan semu.
Industri rokok sekarang pun telah beralih ke vape atau pod sebagai komoditas baru untuk mengkonstruksi kaum perempuan. Apalagi bentuk eksploitasi lewat varian rasa yang begitu manis dan dingin diperuntukkan bagi konsumen remaja dan perempuan muda, agar terlarut pada kecanduan tanpa hambatan bau kretek yang begitu menyengat. Dan kapitalisme juga menjadikan influencer (pemengaruh) sebagai alat mempromosikan produk dengan menciptakan ilusi bahwa vape adalah pelengkap gaya hidup yang aman dan bebas stigma.
Pada akhirnya, tatapan sinis terhadap perempuan merokok bukanlah wujud kepedulian sejati atas kesehatan publik, melainkan bentuk kecemasan patriarki yang ketakutan kehilangan kontrol atas otoritas tubuh perempuan. Namun di sisi lain, perempuan juga harus jeli melihat bahwa merokok atau mengisap vape demi terlihat “setara” atau “berdaya” di meja tongkrongan hanyalah ilusi emansipasi yang ditawarkan oleh pasar. Kesetaraan sejati bagi perempuan tidak akan pernah ditemukan dalam silinder tembakau atau gawai nikotin, melainkan pada kedaulatan penuh atas tubuh dan pikiran yang merdeka. Entah itu baik dari kungkungan moralitas patriarki maupun jerat konsumerisme kapitalisme.
- Penulis: M. Ilham Almadani

Saat ini belum ada komentar