Dari Hadramaut ke Moloku Kie Raha: Jejak Rihlah Hadramaut ke Moloku Kie Raha: Jejak Rihlah Dakwah Dr.Al-Munshib Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Adam Assegaf Dr.Al-Munshib Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Adam Assegaf di Ternate
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
- visibility 180
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kunjungan Al-Habib Dr. Abdurrahman bin Muhammad Adam Assagaf, menjalani rihlah dakwah di Kota Ternate. Foto Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TERNATE – Ulama sekaligus akademisi asal Seiwun, Hadramaut, Yaman, Al-Habib Dr. Abdurrahman bin Muhammad Adam Assagaf, menjalani rihlah dakwah di Kota Ternate selama lima hari, 2–6 Oktober 2026. Di sela rangkaian majelis ilmu itu, ia menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan IAIN Ternate pada Senin (5/10/2026).
Kunjungan/ Rihlah Dakwah ini terselenggara atas kerja sama Majelis Al Khoir Wal Barokah dan DPC Rabithah Alawiyah Cabang Ternate. Al-Habib Abdurrahman tiba di Bandara Sultan Baabullah Ternate pada Jumat (2/10) pukul 07.00 WIT dan dijadwalkan kembali dari bandara yang sama pada Rabu (7/10).
Dari Masjid hingga Kedaton
Agenda dibuka dengan salat Jumat di Masjid Muttaqin. Seusai magrib, Habib menghadiri khataman Al-Qur’an di Masjid Al-Ansor. Pada Sabtu (3/10), sejak pukul 08.00 WIT, ia berziarah ke pemakaman dan Kedaton Kesultanan Ternate, lalu mengisi taklim di Masjid Muttaqin.
Pada Ahad (4/10) pukul 10.00 WIT, Beliau bersama jemaah Kota Ternate berkumpul di Masjid Al-Munawar untuk melaksanakan salat istisqa, yakni shalat memohon turunnya hujan. Pukul 14.00 WIT, Habib memimpin pengajian ummahat di Majelis Al Khoir Wal Barokah.
Hikmah dari Sasa: Ilmu Harus Diamalkan
Senin (5/10) menjadi hari terpadat. Pagi hari, Habib mengisi majelis ilmu di Pondok Pesantren Alkhairaat Sasa. Penerjemah dalam majelis itu adalah Mudir Ma’had Alkhairaat Sasa, Al-Habib Abdurrahman bin Kamil Assagaf.
Dalam tausiahnya, Habib menegaskan bahwa ilmu baru bermanfaat bila diamalkan. Ia merujuk Surah Fathir ayat 28, bahwa yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah para ulama. Menurutnya, ilmu yang benar melahirkan rasa takut dan ketakwaan, bukan sekadar hafalan di kepala.
Habib memuji para santri yang hadir membawa buku dan mencatat. Mencatat, katanya, menggerakkan pendengaran, penglihatan, tangan, dan pikiran sekaligus, sehingga membantu fokus dan memperkuat ingatan. Catatan menjadi pengingat ketika hafalan mulai pudar. Ia mengajak santri membiasakan diri untuk mendengar, memahami, lalu mencatat.
Menulis, lanjutnya, juga bisa menjadi metode pendidikan. Sanksi berupa tugas menulis bagi santri yang bersalah dinilai lebih bermanfaat, sebab santri belajar dan mengingat, bukan sekadar dihukum.
Habib mengaku telah berkecimpung di dunia pendidikan sekitar 35 tahun dan hingga kini masih mengajar di masjid, perguruan tinggi, majelis, seminar, serta lembaga pendidikan lain. Tugas pendidik, ujarnya, adalah menyebarkan ilmu dengan cara yang benar dan sesuai kebutuhan penuntut ilmu, berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, serta disampaikan dengan tutur yang baik dan bijaksana.
Ia juga menekankan dakwah yang wasathiyah atau moderat, yakni tidak berlebihan ke kanan maupun ke kiri. Dalam menjelaskan ilmu, umat belajar dari para ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Abu Hanifah.
Di hadapan santri, Habib menyemangati mereka mempelajari bahasa Arab. Banyak ulama besar bukan berasal dari bangsa Arab, di antaranya Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetapi menguasainya berkat kesungguhan. Ia mencontohkan Syekh Ali Ahmad yang menimba ilmu lalu menetap dan mengajar di Mesir, dikenal pula sebagai penyair dan sastrawan. Bahasa Arab, pesannya, sama sekali tidak sulit bila dipelajari dengan sungguh-sungguh, karena ia adalah bahasa Al-Qur’an dan ilmu Islam.
Kerja Sama dengan IAIN Ternate
Pukul 14.00 WIT, Al-Habib bertolak ke IAIN Ternate untuk penandatanganan MoU. Kerja sama perguruan tinggi dengan lembaga keilmuan luar negeri lazimnya mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Rincian ruang lingkup dan masa berlaku mengikuti dokumen resmi yang ditandatangani kedua pihak. Malam harinya, seusai Isya, beliau kembali mengisi dakwah di Majelis Al Khoir Wal Barokah.
Latar belakang Al-Habib membuat kerja sama ini relevan bagi dunia akademik. Beliau kelahiran 16 Juli 1953 itu meraih gelar Ph.D. Administrasi Bisnis dari Florida University of Science, Amerika Serikat, pada Desember 2021, melalui Arab Academy for Science and Development di Kairo. Ia pernah memimpin Departemen Studi Islam di Higher Institute for Teacher Training and Preparation (1994–2006), dan kini tercatat sebagai anggota International Association of Universities serta Arab Academics Union. Ia pernah menerima Sharjah Award for Voluntary Work (2012) dan Arab Creativity Award (2014).
Menutup Rangkaian Dakwah
Di sela-sela rangkaian dakwah, Al-Habib juga bersilaturahim dengan Pengurus DPC Rabithah Alawiyah Kota Ternate serta para sesepuh Baalwi Kota Ternate dan Walikota Ternate. Silaturahim ini mempererat ukhuwah dan tali persaudaraan di antara para tokoh dan jamaah yang selama ini menjaga kegiatan dakwah di Ternate.Pada Selasa (6/10), Habib berkeliling Kota Ternate sejak pukul 08.00 WIT. Seusai magrib, ia mengisi taklim di Masjid Nurusshobah, Falajawa 1, yang menutup rangkaian Rihlah dakwahnya sebelum meninggalkan Ternate.
Kunjungan ini memperlihatkan eratnya hubungan keilmuan antara Hadramaut dan Maluku Utara. Dakwah di masjid dan pesantren berjalan beriringan dengan kerja sama kelembagaan di bidang pendidikan tinggi. Jemaah dan sivitas akademika berharap kunjungan ini membawa manfaat jangka panjang bagi pengembangan keilmuan Islam di Ternate.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar