Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Belajar dari NTB: Kemandirian Pokmaswas Petrando dan Kekuatan Jejaring Forum Jadi Kunci Pengawasan Laut Berkelanjutan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
  • visibility 294
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TERNATE, linidaily.id Satu lagi pembelajaran dibawa pulang tim studi banding pengelolaan perikanan berkelanjutan Maluku Utara dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB): bagaimana kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) bisa mandiri secara ekonomi sekaligus terhubung dalam jejaring yang kuat. Kunjungan kali ini menyasar Forum Pokmaswas NTB dan salah satu kelompok binaannya, Pokmaswas Petrando, yang mengawasi kawasan perairan Gili Petagan, Gili Bidara, dan Gili Kondo yaitu kawasan yang dikenal luas sebagai Gili Lampu membentang hingga Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Sulat-Lawang di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur.

Forum Pokmaswas NTB sendiri baru terbentuk 7 Juni 2024 dan dilantik sehari setelahnya oleh Penjabat Gubernur NTB. Namun dalam waktu singkat, forum ini telah menaungi tidak kurang dari 79 Pokmaswas aktif yang tersebar di seluruh wilayah NTB, lengkap dengan koordinator wilayah di setiap kabupaten/kota. Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 58 Tahun 2020, forum ini menjalankan lima tugas pokok Pokmaswas: pengawasan, pencegahan, pelaporan, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, dan konservasi ekosistem laut. Selain itu, forum berperan sebagai simpul koordinasi antar-Pokmaswas, wadah pertukaran informasi soal modus illegal fishing dan aturan baru, saluran advokasi ke pemerintah daerah dan DPRD, sekaligus penghubung ke jejaring NGO, akademisi, dan sektor swasta.

Salah satu kekuatan Forum Pokmaswas NTB yang menonjol adalah kemampuannya menjalin kemitraan dengan sektor swasta secara setara, bukan sekadar sebagai penerima bantuan. Perusahaan seperti PT. Sun Cable dan PT. Amman Mineral tercatat menjadi sponsor Jambore Pokmaswas NTB 2024 dan 2025, sementara hotel, restoran, dan dive center di kawasan wisata bahari menjalin kerja sama CSR, kemitraan paket ekowisata, hingga pengawasan bersama terhadap kapal asing atau nelayan ilegal. Forum ini bahkan punya semboyan tegas soal posisi tawarnya: “Pokmaswas tidak meminta-minta, Pokmaswas menjual jasa konservasi yaitu keamanan, keindahan, dan cerita,” sehingga posisinya adalah mitra, bukan objek CSR semata.

Kemandirian serupa juga tergambar jelas pada Pokmaswas Petrando, yang telah berdiri sejak 1 Maret 2016 di Dusun Purwakarya, Desa Padak Guar. Selain menjalankan tugas inti pemantauan dan pengawasan di perairan Selat Alas serta kawasan konservasi TWP Gili Sulat-Lawang, kelompok ini mengelola unit usaha sendiri berupa penyewaan alat snorkeling, perlengkapan diving, dan tenda camping bagi wisatawan. Sumber pendanaan kelompok pun beragam: swadaya anggota, donatur, dan keuntungan unit usaha wisata tersebut dan bukan semata mengandalkan bantuan pemerintah.

Dibandingkan dengan kondisi di Maluku Utara, yang saat ini memiliki puluhan kelompok Pokmaswas tersebar di berbagai kabupaten/kota namun umumnya masih bekerja secara mandiri tanpa payung forum tingkat provinsi, model NTB menawarkan sejumlah pelajaran berharga. Dari sini, ada beberapa rekomendasi yang layak dipertimbangkan bagi pengelolaan perikanan berkelanjutan berbasis Pokmaswas di Maluku Utara.

Pertama, mendorong pembentukan Forum Pokmaswas tingkat provinsi Maluku Utara yang menaungi seluruh kelompok Pokmaswas di berbagai kabupaten/kota, lengkap dengan koordinator wilayah, sehingga program kerja antar-kelompok tidak berjalan sendiri-sendiri dan tumpang tindih. Kedua, mendorong setiap Pokmaswas mengembangkan unit usaha ekowisata bahari atau jasa penunjang wisata sebagai sumber pendanaan mandiri, mencontoh model Petrando, alih-alih hanya bergantung pada bantuan hibah pemerintah maupun donor.

Ketiga, membangun kemitraan setara dengan sektor swasta yaitu perusahaan tambang, perhotelan, maupun pelaku usaha wisata dalam bentuk CSR, sponsorship kegiatan, atau dukungan logistik dan pelatihan, dengan memposisikan Pokmaswas sebagai mitra strategis, bukan penerima bantuan pasif. Keempat, memperkuat sistem administrasi kelompok secara seragam, mencakup kepengurusan yang dipilih demokratis, pencatatan logbook kegiatan, pelaporan hasil pengawasan secara berkala ke DKP dan aparat penegak hukum, hingga kewajiban dokumentasi setiap kegiatan. Kelima, rutin melaksanakan kegiatan silaturahmi antar-Pokmaswas serta studi tur dan studi banding ke kelompok yang sudah lebih maju, sebagaimana yang dilakukan Forum Pokmaswas NTB sendiri, sebagai sarana peningkatan kapasitas berkelanjutan.

Tulisan ini merupakan tulisan ketiga sekaligus penutup dari rangkaian tiga tulisan hasil studi banding pengelolaan perikanan berkelanjutan ke NTB, setelah sebelumnya mengangkat pembelajaran skema BLUD kawasan konservasi serta kelembagaan forum ilmiah dan komite pengelola bersama perikanan. (MAS)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tersangka Penipuan Umrah Rp2,5 Miliar Diringkus

    Tersangka Penipuan Umrah Rp2,5 Miliar Diringkus

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • 0Komentar

    Ternate — Linidaily.id Satuan Reserse Kriminal Umum Polda Maluku Utara berhasil menangkap Asnawi Ibrahim, tersangka utama dugaan penipuan yang mengatasnamakan penyelenggaraan ibadah umrah melalui PT Beterevel Indonesia Perkasa. Penangkapan dilakukan tim Subdit III Jatanras di bawah pimpinan AKP Zulkifli Mahmud bersama IPDA Samsul Majid di Denpasar, Bali, pada Senin 24 Agustus 2026. Kabid Humas Polda […]

  • BERJUMPA IBU DI PENANG YANG RAMAI

    BERJUMPA IBU DI PENANG YANG RAMAI

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • 0Komentar

    Pagi ini aku memilih meja nomor 4 di _Tanjong Ria Coffee_, Lokasinya selemparan batu dari _Hotel Loop_; di Lebuh Leith, George Town. Mejaku letaknya di sisi kanan pintu masuk jika dilihat dari arah kasir. Tidak ada alasan khusus memilih meja ini. Dari sana aku bisa melihat orang keluar-masuk, meja pemesanan di depan, deretan kursi rotan, […]

  • 40 JUTA  HARI INI , TAPI MEMATIKAN DINAMIKA KONFERCAP YANG AKAN DATANG

    40 JUTA HARI INI , TAPI MEMATIKAN DINAMIKA KONFERCAP YANG AKAN DATANG

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • 0Komentar

    Jangan salahkan kader yang memukul. Dia bukan pelaku utama. Dia hanya aktor terakhir yang meledak di atas panggung yang sudah lama disiram bensin oleh orang lain. Dia hanya korban dari forum pelantikan yang sudah kehilangan adab, dari senior yang hobi mengadu domba, dari provokator yang memulai duluan dengan lisan dan manuver curang. Yang harus disalahkan […]

  • Perempuan, Vape, Dan Ilusi Emansipasi: Ketika Kesetaraan Dimanipulasi Oleh Sistem Kapitalisme

    Perempuan, Vape, Dan Ilusi Emansipasi: Ketika Kesetaraan Dimanipulasi Oleh Sistem Kapitalisme

    • calendar_month 17 jam yang lalu
    • 0Komentar

    Di sudut kafe dan area perkotaan hari ini, fenomena perempuan yang memegang rokok batangan atau mengembuskan asap pekat dari vape (rokok elektrik) bukan lagi hal yang asing. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari Kementerian Kesehatan RI mencatat temuan bahwa proporsi perempuan yang mengonsumsi rokok elektrik menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat. Berdasarkan data pada kelompok perempuan usia […]

  • Malut United Pindah Home Base dan Berganti Nama Jateng United

    Malut United Pindah Home Base dan Berganti Nama Jateng United

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • 0Komentar

    SEMARANG, Linidaily.id – Kabar mengejutkan datang dari Malut United FC yang secara resmi mengubah identitas dan domisili untuk menghadapi musim kompetisi 2026–2027. Melalui surat resmi nomor 25/MMS-MUtd/VI/2026 tertanggal 17 Juni 2026, badan hukum PT Malut Maju Sejahtera memberitahukan kepada PSSI bahwa klub yang jadi kebanggaan pencinta Bola Maluku Utara kini berganti nama menjadi Jateng United […]

  • Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Jadi Tersangka Korupsi

    Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Jadi Tersangka Korupsi

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id-Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara akhirnya resmi menetapkan mantan Bupati Pulau Taliabu dua periode, Aliong Mus, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan proyek strategis daerah, yaitu Istana Daerah (Isda). Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2023 tersebut memiliki nilai mencapai Rp17,5 miliar. Penetapan status tersangka ini dilakukan setelah […]

expand_less