FGD Tomaba Perkuat Kolaborasi Ekonomi Biru Hijau
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 80
- comment 0 komentar
- print Cetak

Focus Group Discussion (FGD) TOMABA yang berlangsung pada Senin (7/9/2026) di Hotel Greenland, Tobelo. Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TOBELO, Linidaily.id Upaya memperkuat konektivitas ekonomi di Maluku Utara melalui kerjasama antar-daerah semakin matang. Tiga kabupaten strategis, yakni Halmahera Utara, Halmahera Timur, dan Pulau Morotai, menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan model kolaborasi berbasis ekonomi biru dan hijau.
Acara yang berlangsung pada Senin (7/9/2026) di Hotel Greenland, Tobelo, ini menjadi langkah konkret dalam menginisiasi sentra pertumbuhan ekonomi terintegrasi. Inisiatif ini digagas oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara di bawah kepemimpinan Bupati Dr. Piet Hein Babua, M.Si dan Wakil Bupati Dr. Kasman Hi Ahmad, S.Ag, M.Pd.
Mengatasi Keterbatasan Melalui Sinergi Regional
Latar belakang kerjasama ini berangkat dari karakteristik ekoregion Maluku Utara yang bervariasi namun belum dikelola secara optimal. Selama ini, pengelolaan sumber daya alam (SDA), baik yang dapat diperbarui maupun terbarukan, masih menghadapi sejumlah keterbatasan faktor penentu.
Untuk mengatasi hal tersebut, kerjasama antar-daerah dipandang sebagai solusi strategis. Dengan mengoptimalkan keunggulan komparatif masing-masing wilayah, daerah pemasok bahan baku dapat terhubung langsung dengan pusat industri dan logistik perkotaan. Pendekatan ini bertujuan mempercepat pemerataan ekonomi melalui proses hilirisasi industri (Industrial Downstream Process) dan memanfaatkan efek limpahan (spillover effect) antar-wilayah.
Tomaba: Jawaban Ketahanan Pangan Daerah
Wakil Bupati Halmahera Utara, dalam sambutannya, menekankan bahwa kerjasama tiga daerah yang dijuluki “Tomaba” (Tobelo, Morotai, dan Maba) ini bukan sekadar formalitas administratif. Menurutnya, ini adalah ruang kerjasama yang saling menguntungkan dan menjadi kunci jawaban atas tantangan ketahanan pangan daerah.
“Ekonomi biru dan hijau menjadi landasan utama karena sejalan dengan potensi maritim dan agraris yang kita miliki,” ujarnya.
Masukan Ahli untuk Rumusan Kebijakan
Untuk memastikan rumusan kerjasama yang komprehensif, FGD ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten dari kalangan akademisi dan praktisi. Mereka antara lain Jubhar Mangimbulude, Ph.D dari Universitas Halmahera; Staf Ahli Bappeda Halut, Dr. Herman Oesman; Sosiolog dan Akademisi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Dr. Agus Salim Bujang, M.Si; Antropolog IAIN Ternate, Asghar Saleh; serta berbagai praktisi lainnya.
Diskusi ini diharapkan menghasilkan peta jalan (roadmap) kerjasama yang jelas, khususnya dalam membangun infrastruktur konektivitas dan kolaborasi lintas wilayah yang efektif. Dengan adanya sinergi antara Halmahera Utara, Halmahera Timur, dan Morotai, diharapkan potensi sumber daya alam Maluku Utara dapat diubah menjadi nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar