Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Warga Moti Meninggal, HMI Soroti Buruknya Layanan Kesehatan

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TERNATE, Linidaily.id. Meninggalnya seorang warga Pulau Moti setelah menunggu proses rujukan menggunakan ambulans laut mendapat sorotan dari Direktur Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) HMI Cabang Ternate, Safril Ismail.

Safril menilai peristiwa tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan teknis semata. Menurutnya, kejadian ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat kepulauan yang harus segera dijelaskan dan dievaluasi oleh Pemerintah Kota Ternate.

“Ini bukan lagi sekadar soal ambulans terlambat. Ini soal nyawa manusia. Kalau seorang warga harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan rujukan sampai akhirnya meninggal, maka pemerintah harus menjelaskan di mana sistem itu gagal,” tegas Safril.

Ia mempertanyakan efektivitas sistem pelayanan kesehatan yang selama ini telah disiapkan Pemerintah Kota Ternate untuk masyarakat kepulauan.

Menurut Safril, pemerintah tidak cukup hanya menunjukkan bahwa ambulans laut tersedia atau sistem rujukan telah dibuat. Ukuran keberhasilan pelayanan publik adalah ketika sistem tersebut benar-benar bekerja saat masyarakat berada dalam kondisi darurat.

“Jangan hanya sibuk menunjukkan bahwa ambulans laut ada dan prosedur rujukan sudah dibuat. Pertanyaannya, ketika warga Moti membutuhkan pertolongan, apakah sistem itu benar-benar bekerja?” ujarnya.

Safril menilai Pemerintah Kota Ternate harus berani mengevaluasi pelayanan dari hulu hingga hilir. Mulai dari pelayanan di puskesmas, proses penetapan rujukan, komunikasi antarfasilitas kesehatan, kesiapan armada, hingga waktu respons dan perjalanan menuju rumah sakit rujukan.

“Kalau prosedurnya ada tetapi responsnya lambat, berarti ada masalah dalam implementasi. Kalau armadanya ada tetapi tidak siap ketika dibutuhkan, berarti ada masalah dalam manajemen. Jangan semua persoalan kemudian ditutup dengan alasan geografis,” katanya.

Menurutnya, pemerintah sebenarnya sudah mengetahui karakter Kota Ternate sebagai daerah kepulauan. Karena itu, persoalan jarak dan transportasi seharusnya sudah menjadi bagian dari desain pelayanan kesehatan.

“Laut bukan alasan yang baru diketahui pemerintah hari ini. Pemerintah tahu Moti itu pulau. Justru karena itu sistem pelayanan harus dibuat lebih siap. Jangan masyarakat yang kemudian menanggung kelemahan sistem tersebut,” tegas Safril.

Safril juga meminta kasus ini tidak berhenti pada pernyataan belasungkawa. Menurutnya, masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

“Kami tidak ingin kasus ini berhenti pada belasungkawa. Keluarga korban dan masyarakat berhak mendapatkan penjelasan. Kalau ada keterlambatan, jelaskan penyebabnya. Kalau ada kesalahan dalam sistem, akui dan perbaiki,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat kepulauan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Jarak geografis tidak boleh membuat warga Moti menerima standar pelayanan yang lebih rendah dibandingkan masyarakat yang berada di pusat Kota Ternate.

“Warga Moti bukan warga kelas dua. Mereka bagian dari Kota Ternate dan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pertolongan ketika berada dalam kondisi darurat,” katanya.

HMI Tuntut Pemda Buka Penjelasan

Atas peristiwa tersebut, LKMI HMI Cabang Ternate mendesak Pemerintah Kota Ternate untuk segera mengambil langkah konkret.

Pertama, meminta Pemerintah Kota Ternate dan Dinas Kesehatan angkat bicara secara terbuka mengenai kronologi meninggalnya warga Moti, termasuk waktu pasien dinyatakan membutuhkan rujukan, waktu permintaan ambulans dilakukan, proses koordinasi, hingga alasan terjadinya keterlambatan.

Kedua, meminta Pemkot Ternate melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem rujukan kesehatan wilayah kepulauan, bukan hanya mengevaluasi keberadaan ambulans laut, tetapi juga mekanisme koordinasi, waktu respons, kesiapan petugas, dan kesiapan armada.

Ketiga, meminta pemerintah memastikan ambulans laut dalam kondisi benar-benar siaga dan memiliki mekanisme respons cepat, terutama untuk wilayah Moti, Hiri, dan Batang Dua.

Keempat, meminta Pemkot Ternate membuka standar atau target waktu respons pelayanan ambulans laut kepada publik, sehingga masyarakat dapat mengetahui standar pelayanan yang seharusnya mereka terima dan pemerintah dapat dimintai pertanggungjawaban apabila standar tersebut tidak terpenuhi.

Kelima, meminta adanya mekanisme pengawasan dan evaluasi berkala terhadap pelayanan kesehatan kepulauan, agar persoalan yang sama tidak kembali terjadi dan evaluasi tidak baru dilakukan setelah jatuhnya korban.

“Kami meminta Pemkot Ternate jangan defensif terhadap kritik. Anggap kasus ini sebagai alarm. Pemerintah harus menjelaskan, mengevaluasi, dan memperbaiki. Jangan sampai setelah kasus ini reda, semuanya kembali seperti biasa dan masyarakat kembali menunggu ketika keadaan darurat datang,” tegas Safril.

Ia menambahkan, pemerintah harus membuktikan bahwa sistem pelayanan kesehatan kepulauan bukan sekadar program di atas kertas.

“Kami ingin melihat pemerintah hadir dalam bentuk sistem yang bekerja. Karena bagi masyarakat yang sedang membutuhkan pertolongan, yang dibutuhkan bukan janji, bukan seremoni, dan bukan sekadar laporan keberhasilan. Yang dibutuhkan adalah pertolongan yang datang tepat waktu,” pungkas Safril.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerakan Pemuda Marhaenis Malut Aksi di KPK: Sekda Haltim Diduga Terlibat Tambang Nikel Ilegal, Ada Bukti Rekaman dan Foto Transaksi

    Gerakan Pemuda Marhaenis Malut Aksi di KPK: Sekda Haltim Diduga Terlibat Tambang Nikel Ilegal, Ada Bukti Rekaman dan Foto Transaksi

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA, Linidaily id, Gerakan Pemuda Marhaenis Provinsi Maluku Utara (GPM Malut) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Jalan Persada Kuningan, Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Senin, 3 Agustus 2026. Berlangsung pukul 12.35 hingga 12.55 WIB, aksi yang dipimpin Sartono Halek dengan membawa spanduk, poster, serta alat pengeras suara […]

  • SCRIBERE

    SCRIBERE

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • 0Komentar

    Catatan untuk Pelaksanaan Cendekia Basic Writing II ICMI Ada kata dalam bahasa Latin yang sederhana tetapi memiliki daya gugah yang luar biasa, scribere. Artinya menulis. Kata ini mungkin terdengar tua, bahkan asing bagi sebagian orang. Tetapi gagasan yang dikandungnya justru sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Di tengah masyarakat yang semakin ramai berbicara, semakin […]

  • LKBHMI Cabang Ternate Datangi Penyidik Sat Reskrim Polres Ternate, Tindak Lanjut Dugaan Delik Pemalsuan Surat

    LKBHMI Cabang Ternate Datangi Penyidik Sat Reskrim Polres Ternate, Tindak Lanjut Dugaan Delik Pemalsuan Surat

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Pengurus Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Cabang Ternate kembali mengambil langkah hukum dengan mendatangi penyidik Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Ternate pada Minggu, 21 Juni 2026, dalam rangka menindaklanjuti laporan polisi terkait dugaan tindak pidana pemalsuan surat yang diduga melibatkan Saudara Ismail A. Maniputy dan Saudara Baslan Aliasin. Laporan polisi […]

  • Kekerasan Seksual; Luka Dalam Diam

    Kekerasan Seksual; Luka Dalam Diam

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • 0Komentar

    Kekerasan seksual merupakan salah satu persoalan sosial yang paling mengkhawatirkan di Indonesia saat ini. Kejahatan ini tidak hanya merampas hak, martabat, dan rasa aman korban, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam serta berdampak pada kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Di Provinsi Maluku Utara, fenomena kekerasan seksual menunjukkan tren yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah, […]

  • DIALOG TERBUKA FPPPMU SOAL DUGAAN MONOPOLI PROYEK DAERAH DITUNDA, DIJADWALKAN ULANG

    DIALOG TERBUKA FPPPMU SOAL DUGAAN MONOPOLI PROYEK DAERAH DITUNDA, DIJADWALKAN ULANG

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Linidaily.id. Kegiatan Dialog Terbuka bertajuk “Dugaan Monopoli Proyek Daerah oleh Kerabat Gubernur: Antara Konflik Kepentingan, Transparansi, dan Keadilan Publik” yang semula dijadwalkan berlangsung Sabtu, 27 Juni 2026 pukul 20.00 WIT di Land Mark Ternate, resmi ditunda dan akan dijadwalkan ulang. Penundaan ini diputuskan oleh panitia pelaksana yakni Forum Pejuang Pemekaran Provinsi Maluku Utara […]

  • Melawan dengan Buku: Tulisan sebagai Bentuk Perlawanan yang Paling Bertahan

    Melawan dengan Buku: Tulisan sebagai Bentuk Perlawanan yang Paling Bertahan

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • 0Komentar

    11 sampai 12 September 2026 Festival Buku mulai dihelat dengan diawali dengan acara pembukaan. Diiniasiasi oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia ICMI ORWIL Maluku Utara, Komunitas Pencinta Buku, Jakofi Pustaka dan LP3ES menghadirkan sejumlah agenda; Diskusi Buku, Greet and Meet bersama, Trik and Tips menulis esai, kelas menulis puisi dan laporan investigasi, dan beragam lainnya menunjukkan […]

expand_less