Melawan dengan Buku: Tulisan sebagai Bentuk Perlawanan yang Paling Bertahan
- account_circle Syarifuddin Usman
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- visibility 93
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
11 sampai 12 September 2026 Festival Buku mulai dihelat dengan diawali dengan acara pembukaan. Diiniasiasi oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia ICMI ORWIL Maluku Utara, Komunitas Pencinta Buku, Jakofi Pustaka dan LP3ES menghadirkan sejumlah agenda; Diskusi Buku, Greet and Meet bersama, Trik and Tips menulis esai, kelas menulis puisi dan laporan investigasi, dan beragam lainnya menunjukkan Ivent ini serius sebagai forum pembelajaran dalam dunia kepenulisan.
Memang, tulisan bukan sekadar rangkaian huruf yang tersusun rapi di atas kertas atau layar. Ia adalah senjata yang tidak menumpahkan darah, namun mampu meruntuhkan tembok kebohongan yang berdiri selama puluhan tahun. Buku bukan sekadar benda yang tertutup sampul — ia adalah benteng tempat kebenaran berlindung, sekaligus jembatan yang menghubungkan perjuangan masa lalu dengan kesadaran masa kini.
Perlawanan yang Tidak Mati
Sepanjang sejarah, kekuasaan yang sewenang-wenang selalu merasa takut bukan pada suara kerusuhan di jalanan, melainkan pada gagasan yang tertulis dan dibaca. Ketika penindas membakar buku, mereka sebenarnya sedang mengakui bahwa kata-kata jauh lebih berbahaya daripada senjata api. Seperti yang dikatakan penulis dan sejarawan Inggris George Orwell dalam karyanya 1984: “Siapa yang mengendalikan masa lalu, mengendalikan masa depan; siapa yang mengendalikan masa kini, mengendalikan masa lalu.”
Tulisan adalah cara menjaga agar masa lalu tidak dicuri oleh mereka yang berkuasa, sehingga masa depan tidak dirampas dari tangan rakyat.
Di Indonesia sendiri, perlawanan melalui tulisan telah menjadi napas perjuangan sejak masa pergerakan nasional. Pramoedya Ananta Toer, yang dijebak tanpa pengadilan di Pulau Buru selama 14 tahun, dilarang menulis — namun ia tetap menulis di atas kertas-kertas sisa, di atas daun, di atas ingatan. Karyanya yang dibaca jutaan orang hari ini membuktikan kekuasaan bisa mengurung tubuh, tetapi tidak bisa mengurung pikiran.
Dalam pengantar karya Bumi Manusia, Pramoedya menegaskan bahwa tulisan adalah warisan yang tidak bisa dirampas oleh siapapun: “Setiap orang berhak berpendapat, dan menyampaikan pendapatnya itu, asal saja tidak merugikan orang lain.”
Hal yang sama juga terjadi pada Buya Hamka. Dia pernah ditangkap dan dikurung di penjara selama 2 tahun 4 bulan (Januari 1964 hingga Mei 1966) pada masa pemerintahan Presiden Soekarno (era Demokrasi Terpimpin) saat bulan Ramadhan.
Hamka difitnah melakukan gerakan subversif dan mengadakan rapat gelap di Tangerang. Berencana menggulingkan pemerintahan dan membunuh Presiden Soekarno serta Menteri Agama Saifuddin Zuhri.Tuduhan itu tidak pernah terbukti dalam persidangan terbuka.
Selama dalam sel tahanan, Buya Hamka justru berhasil menyelesaikan Magnum opus yang paling monumental, yaitu Tafsir Al-Azhar (30 Juz). Penjara yang semula menjadi tempat mengurung fisiknya, berubah menjadi ruang isolasi ibadah dan literasi yang berkah. Beliau dibebaskan pada Mei 1966 setelah rezim Orde Lama mulai runtuh.
Mengapa Buku Lebih Kuat daripada Benturan Fisik?
Ada perbedaan mendasar antara perlawanan yang berteriak di jalanan dan perlawanan yang dibukukan, yakni
Ketahanan: Batu yang dilemparkan akan pecah, api yang dinyalakan akan padam. Namun sebuah kalimat yang benar dapat hidup ratusan tahun, dibaca oleh generasi yang belum lahir. Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche menulis: “Yang ditulis dengan darah, akan dibaca dengan hati.” Buku yang lahir dari keprihatinan dan kebenaran tidak mudah rusak oleh waktu.
Kesadaran: Kerusuhan bisa melahirkan kemarahan, tetapi tulisan melahirkan pemahaman. Seperti yang dikemukakan oleh tokoh pencerahan Raden Adjeng Kartini: “Buku adalah guru yang tidak bersuara, ia tidak pernah menolak muridnya.” Perubahan sejati tidak terjadi ketika penguasa jatuh, melainkan ketika kesadaran rakyat bangkit — dan kesadaran itu tumbuh dari bacaan.
Keterhubungan: Buku mengajarkan kita bahwa ketidakadilan yang terjadi di depan mata kita bukan hal yang sendirian. Ia menghubungkan penderitaan kita dengan penderitaan orang lain, menjadikan perjuangan bukan sekadar amarah pribadi melainkan kesadaran bersama.
Perlawanan yang Terus Berlanjut
Di tanah Maluku Utara dan wilayah serupa, di mana kekayaan alam diambil habis namun kemakmuran tidak sampai ke rakyat, di mana indeks kebahagiaan dan kesalehan diumumkan sementara kemiskinan masih nyata — di sinilah peran tulisan menjadi sangat mendesak.
Ketika kebenaran sengaja dibiarkan tidak lengkap, buku menjadi tempat melengkapinya. Ketika fakta sengaja ditutupi, catatan tertulis menjadi saksi yang tidak bisa dibungkam.
Filsuf Prancis Albert Camus pernah menulis dalam Pemberontak: “Perlawanan adalah upaya manusia untuk memastikan bahwa bagian dari dirinya tidak tunduk pada kekuasaan yang berusaha merampasnya.”
Buku adalah bentuk perlawanan yang paling murni. Kita tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, melainkan dengan kebenaran. Kita tidak memadamkan cahaya lawan, melainkan menyalakan pelita sendiri agar orang lain dapat melihat jalan mereka.
Mereka yang menulis mungkin tidak selalu tampil di berita utama atau diarak sebagai pahlawan. Namun di masa ketika nama-nama pejabat dan kekuasaan sudah dilupakan, kalimat-kalimat yang tertulis akan tetap berdiri, berbicara, dan mengajak orang-orang di masa depan untuk melawan ketidakadilan.
Melawan dengan buku bukan berarti lemah — justru sebaliknya. Ia adalah perlawanan yang paling sublim dan paling mustahil untuk dikalahkan. Sebab seperti yang dikatakan penulis Uruguay Eduardo Galeano: “Buku adalah pertemuan dua kesepian yang saling berpelukan.”
Dan dari jutaan pertemuan itu, lahirlah kesadaran yang tidak bisa dihancurkan oleh kekuasaan apapun.
- Penulis: Syarifuddin Usman

Saat ini belum ada komentar