BERJUMPA IBU DI PENANG YANG RAMAI
- account_circle Taufiq F. Pasiak
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 100
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pagi ini aku memilih meja nomor 4 di _Tanjong Ria Coffee_, Lokasinya selemparan batu dari _Hotel Loop_; di Lebuh Leith, George Town.
Mejaku letaknya di sisi kanan pintu masuk jika dilihat dari arah kasir.
Tidak ada alasan khusus memilih meja ini. Dari sana aku bisa melihat orang keluar-masuk, meja pemesanan di depan, deretan kursi rotan, lantai terakota, dan dinding hijau tua yang membuat kedai ini terasa hangat meskipun tampilannya cukup modern.
Aku memesan _Tanjong Ria’s Big Breakfast Platter_ (Chicken) seharga RM29,20.
Isinya: chicken sausage, smoked ham, telur, toast, hash brown, jamur, tomat, sayuran, dan butter.
Kopi akan menyusul.
Pagi yang biasa.
Aku hanya ingin sarapan. Tak kurang tak lebih.
Rupanya, seperti yang kerap kualami, perjalanan memang sering menyembunyikan cerita di tempat yang tidak kita cari.
Di salah satu dinding kafe terdapat panel besar yang semula saya anggap sekadar dekorasi. Di bagian atasnya tergambar sebuah toko kelontong sederhana bertuliskan _Tanjong Ria Trading_, berdampingan dengan gambar Tanjong Ria Coffee yang lebih modern. Di tengahnya ada seorang perempuan dan seorang lelaki memegang secangkir kopi.
Saya mendekat, dan mendapati kisah dan cerita: “_Tanjong Ria Coffee: From Tanjong Ria Trading — A Dream Rebrewed Since 1990._”
Rupanya rumah kopi tempat saya duduk ini menyimpan sebuah perjalanan keluarga.
Dan menariknya, cerita itu tidak dimulai dari Penang. Bahkan tidak dimulai dari kopi.
Kisah yang mereka tuliskan sendiri di dinding membawa saya ke Sabah pada tahun 1990. Di sebuah kawasan perumahan yang tenang, sebuah toko kelontong kecil membuka pintunya untuk pertama kali.
Namanya Tanjong Ria Trading. Tidak ada lampu gemerlap atau etalase mewah. Rak-raknya dipenuhi barang kebutuhan sehari-hari: roti, susu, biskuit, beras, makanan kaleng, dan berbagai keperluan rumah tangga. Pagi hari orang berhenti sebelum bekerja.
Sore hari anak-anak datang dengan uang receh di tangan. Menjelang malam, tetangga mampir membeli barang yang terlupa dibawa pulang.
Sebuah toko kecil melakukan fungsi paling sederhana dalam kehidupan kota: menyediakan apa yang dibutuhkan orang.
Pikiranku terpesona Ada bagian kecil dalam cerita keluarga itu yang membuat aku berhenti lebih lama.
Toko tersebut adalah kebanggaan sang ayah. Namun di balik meja, sang ibu banyak melayani orang yang datang.
Hari demi hari ia memperhatikan sesuatu yang mungkin tidak tercatat dalam pembukuan toko.
Orang datang memang untuk membeli barang, tetapi beberapa dari mereka tinggal sedikit lebih lama. Ada yang berbicara. Ada yang bertukar kabar. Ada yang mungkin sekadar ingin melihat wajah yang dikenalnya sebelum kembali ke rumah.
Sang ibu lalu menyimpan sebuah impian: bagaimana jika suatu hari tempat ini bukan hanya menjadi tempat orang membeli sesuatu, tetapi tempat mereka dapat duduk, berbicara, dan saling terhubung?
Alu suka membayangkan adegan itu. Bukan karena dramatis, justru karena sangat biasa.
Seorang ibu berdiri di balik meja sebuah toko kelontong dan setiap hari melihat manusia datang dan pergi.
Mungkin tanpa teori apa pun, ia menangkap sesuatu yang mendasar tentang kehidupan kita: _manusia membutuhkan barang untuk menjalani hidup, tetapi manusia juga membutuhkan manusia lain agar hidup terasa memiliki tempat._
Sang ibu mungkin tidak pernah menyebutnya _social infrastructure._ Ia mungkin juga tidak berbicara tentang _belonging, social connectedness,_ atau _community building._
Istilah-istilah itu datang dari dunia akademik jauh setelah manusia mempraktikkannya selama ribuan tahun.
Yang ia lakukan jauh lebih sederhana: _memberi alasan bagi orang untuk berhenti, menyediakan ruang bagi mereka untuk berbicara, lalu membiarkan percakapan terjadi._
Tidak ada program. Tidak ada desain sosial yang rumit. Hanya toko, beberapa barang, orang-orang yang datang, dan keramahan yang membuat seseorang tidak merasa harus segera pergi.
_Manusia datang karena membutuhkan barang. Tetapi kadang mereka kembali karena membutuhkan manusia._
*******
Tahun-tahun berlalu. Anak-anak tumbuh. Dunia berubah. Model perdagangan berubah.
Toko kelontong kecil tidak lagi hidup dalam dunia yang sama dengan ketika pertama kali pintunya dibuka pada 1990.
Namun menurut cerita yang dipajang di dinding Tanjong Ria, salah seorang anak kemudian membuat keputusan penting.
Bukan menutup toko dan mengakhiri kisahnya, melainkan melanjutkan apa yang pernah diimpikan ibunya.
Bentuknya berubah. Rak-rak barang menjadi meja. Transaksi perlahan memberi tempat kepada percakapan.
Mesin kopi masuk. Tanjong Ria Trading menemukan kehidupan lain sebagai Tanjong Ria Coffee.
Kisah ini membawaku menemukan bagian paling romantis dari cerita ini.
Anak itu ternyata tidak sekadar mewarisi usaha. Ia mewarisi ingatan tentang cara ibunya memperlakukan sebuah tempat.
Kita sering keliru memahami warisan. Kita mengira sesuatu baru dapat disebut warisan apabila bentuk lamanya dipertahankan.
Rumah harus tetap rumah. Toko harus tetap toko. Resep tidak boleh berubah.
Padahal ada warisan yang jauh lebih dalam daripada bentuk: nilai yang membuat sesuatu dahulu layak dipertahankan.
Rak Tanjong Ria boleh hilang. Barang-barang kelontong boleh berganti menjadi mesin espresso.
Sabah boleh berganti menjadi George Town. Tetapi satu hal dipertahankan: orang tetap diberi tempat untuk berhenti.
******
Kopiku masih hangat. Sebagian telur sudah kumakan, hash brown tinggal separuh, sosis masih tersisa.
Seorang pelanggan masuk dan berdiri di depan layar menu. Tidak lama kemudian datang orang lain. Ada yang memesan, mengambil makanan, kemudian duduk.
Adegan yang sama mungkin terjadi ratusan kali sehari dan tidak seorang pun menganggapnya istimewa.
Padahal, kalau dipikir-pikir, kedai kopi adalah salah satu ruang paling aneh yang diciptakan manusia modern.
Kita membayar secangkir minuman, tetapi yang kita beli sebenarnya sering kali adalah hak untuk tinggal sebentar.
Di rumah, kita mempunyai ruang pribadi. Di kantor kita mempunyai ruang kerja. Tetapi kedai kopi berada di antara keduanya. Ia bukan rumah, tetapi kita boleh duduk cukup lama. Ia bukan kantor, tetapi banyak gagasan lahir di sana.
Kita dapat datang bersama sahabat, kekasih, kolega, bahkan seseorang yang baru pertama kali kita kenal.
Kita juga boleh datang sendirian. Tidak ada yang mempertanyakan mengapa seseorang duduk satu jam di depan secangkir kopi yang sudah lama dingin.
Kopi memberi legitimasi kepada jeda.
Meja kemudian melakukan sisanya.
Di atas meja orang membuka laptop, tetapi juga membuka cerita. Orang merencanakan bisnis, menyampaikan kabar buruk, memperbaiki persahabatan, menunggu seseorang, jatuh cinta, berdebat, atau hanya diam bersama.
Banyak perjumpaan penting dalam hidup mungkin tidak pernah tercatat karena berlangsung di tempat sesederhana ini.
Tidak ada prasasti yang mengatakan dua orang pernah membuat keputusan besar di meja sudut sebuah kedai kopi.
Karena setelah mereka pergi, meja dibersihkan. Cangkir diangkat. Orang berikutnya duduk. Tidak ada jejak fisik apa apa lagi, bahkan untuk aku yang sengaja duduk lama di situ.
Namun, ada sesuatu yang mungkin sudah berubah dalam kehidupan mereka yang berjumpa dan bertapak, bahkan untuk mereka yang diam.
Karena itu aku mulai memahami mengapa impian seorang ibu di toko kecil di Sabah tiga puluh enam tahun lalu terasa begitu masuk akal pagi ini.
Ia sebenarnya sedang membayangkan perubahan yang sangat sederhana tetapi mendasar: _dari tempat orang mengambil sesuatu menjadi tempat orang memberikan sesuatu._
Di toko, orang mengambil barang dan memberikan uang.
Dalam perjumpaan, pertukarannya jauh lebih rumit.
Kita memberikan waktu. Perhatian. Cerita. Tawa. Kadang-kadang kesunyian.
Kita mendengarkan pengalaman orang lain dan tanpa sadar membawa pulang sebagian kecil dari dunianya.
Tidak ada struk untuk transaksi seperti itu. Tetapi mungkin justru pertukaran semacam itulah yang paling lama tinggal dalam ingatan.
Lokasi Tanjong Ria sekarang membuat cerita itu terasa semakin menarik. Ia berada di Lebuh Leith, bagian dari George Town yang sejarahnya sendiri dibentuk oleh kedatangan dan perjumpaan manusia.
Kota pelabuhan ini selama berabad-abad menerima orang dari berbagai tempat. Melayu, Tionghoa, India, Arab, Eropa, dan komunitas-komunitas lain datang dengan bahasa, agama, makanan, keterampilan, serta ingatan masing-masing.
Mereka tidak selalu hidup tanpa gesekan. Dari pertemuan panjang itulah lahir George Town yang kita lihat hari ini—kota yang identitasnya justru sulit dijelaskan dengan satu identitas tunggal.
Mungkin karena itu Tanjong Ria terasa menemukan rumah yang tepat di Penang.
*****
Aku duduk kembali dan memandang kopi yang tinggal sedikit. Tetiba saya membayangkan jarak perjalanan sebuah gagasan.
Pada 1990, seorang ibu berdiri di belakang meja toko kecil di Sabah dan mempunyai impian agar orang dapat duduk, berbicara, dan saling terhubung.
Tiga puluh enam tahun kemudian, seorang lelaki dari Jakarta, yang sedang gelisah menunggu kapan penerbangannya ke Jakarta akan dipastikan, duduk di meja nomor empat sebuah rumah kopi di George Town, membaca ceritanya.
Kami tidak pernah bertemu.
Ia mungkin tidak pernah membayangkan aku akan ada di sini setelah 2 malam menunggu kepastian pesawat.
Aku pun tidak mengetahui keberadaannya sampai pagi ini.
Tetapi gagasannya sampai kepada saya.
Ada romantisme yang sulit dijelaskan di sana. Kehidupan seseorang ternyata dapat menyentuh kehidupan orang lain tanpa keduanya pernah saling mengenal.
Sebuah keramahan kecil dapat diwariskan.
Sebuah kebiasaan menyediakan tempat bagi orang lain dapat melintasi generasi.
Bahkan sebuah meja kosong dapat membawa pesan dari masa lalu.
Sarapanku akhirnya habis. Orang masih keluar-masuk. Kasir tetap menerima pesanan. Cangkir-cangkir terus berpindah dari dapur ke meja dan kembali lagi. Tanjong Ria menjalani pagi sebagaimana sebuah kedai kopi seharusnya menjalani pagi.
Aku datang hanya untuk sarapan.
Amazing, pagi ini seorang ibu dari sebuah toko kecil di Sabah mengajarkan sesuatu kepadaku: _mungkin salah satu kemewahan terbesar dalam kehidupan modern bukanlah memiliki semakin banyak tempat untuk pergi, melainkan masih mempunyai tempat untuk berhenti._
Tempat di mana waktu boleh berjalan sedikit lebih lambat.
Tempat di mana orang asing dapat duduk berdekatan.
Tempat di mana sebuah percakapan memperoleh kesempatan untuk dimulai.
Tiga puluh enam tahun lalu, barangkali impian itu belum mempunyai nama yang rumit. Dan mungkin memang tidak memerlukannya.
Cukup sebuah toko.
Kemudian secangkir kopi.
Dan akhirnya—
sebuah meja untuk berjumpa.
Tanjong Ria Coffee
_Lebuh Leith, George Town, Penang_
8 September 2026, 09.00 AM.
- Penulis: Taufiq F. Pasiak

Saat ini belum ada komentar