Tobo-Tobo Safar: Menjadi Kenangan
- account_circle Jandi Farid
- calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
- visibility 150
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Maluku Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.
Keberagaman tersebut dapat dilihat dari banyaknya suku, agama, adat istiadat, serta bahasa yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Meskipun memiliki perbedaan dalam bahasa dan kebudayaan, masyarakat Maluku Utara tetap memiliki ikatan persaudaraan yang kuat.
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Melayu Ternate atau yang sering disebut bahasa pasar menjadi salah satu alat komunikasi yang mampu mempertemukan masyarakat dari latar belakang yang berbeda. Keadaan ini menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menciptakan jarak, melainkan dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Salah satu suku yang memiliki kekayaan budaya tersebut adalah suku Makian. Suku Makian mempunyai karakteristik bahasa yang khas, yang secara umum dikenal dengan dua kelompok bahasa, yaitu Makian Dalam dan Makian Luar. Bahasa tersebut bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Makian.
Selain bahasa, masyarakat Makian memiliki berbagai tradisi dan kesenian yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, salah satunya adalah tarian Togal.
Namun, berbicara mengenai kebudayaan masyarakat Makian tidak cukup hanya dengan melihat bahasa dan keseniannya. Ada berbagai tradisi yang memiliki makna sosial dan emosional yang sangat kuat bagi masyarakatnya.
Salah satunya terdapat di Desa Malapat, sebuah desa yang terletak di bagian barat Pulau Makian. Di tengah kehidupan masyarakat Desa Malapat, terdapat sebuah tradisi yang bagi penulis memiliki keunikan tersendiri, yaitu Tobo-Tobo Safar, atau yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai Mandi-Mandi Safar.
Bagi masyarakat Desa Malapat, Tobo-Tobo Safar bukan sekadar kegiatan mandi-mandi yang dilakukan pada bulan Safar. Tradisi tersebut memiliki pesan yang jauh lebih dalam. Tobo-Tobo Safar menjadi sebuah momentum yang menandai ungkapan “Malapat Pangge Pulang”—Malapat memanggil untuk pulang. Ungkapan tersebut seolah menjadi panggilan batin bagi seluruh basudara yang berada di perantauan agar kembali ke kampung halaman ketika tiba waktunya pelaksanaan Tobo-Tobo Safar, dan malamnya mereka membuat pesta togal.
Menurut penulis, di sinilah letak keistimewaan tradisi tersebut. Tobo-Tobo Safar tidak hanya dapat dipandang sebagai ritual budaya, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang menjaga hubungan antara masyarakat dengan kampung halamannya. Orang-orang Malapat yang berada jauh dari desa, dimana pun tempat tinggal dan aktivitas mereka, tetap diingatkan bahwa mereka memiliki akar, keluarga, serta tanah asal yang tidak boleh dilupakan.
Dalam perspektif teori identitas sosial, identitas seseorang tidak hanya terbentuk dari dirinya sebagai individu, tetapi juga dari keanggotaannya dalam kelompok sosial tertentu. Identitas sebagai orang Malapat, misalnya, dapat terus dipelihara melalui simbol, bahasa, adat, dan kegiatan bersama. Tobo-Tobo Safar menjadi salah satu simbol yang memperkuat rasa memiliki tersebut. Ketika masyarakat yang berada di perantauan kembali ke Malapat, mereka bukan hanya melakukan perjalanan secara fisik, tetapi juga melakukan perjalanan kembali kepada identitas dan ikatan sosialnya.
Tradisi ini juga dapat dipahami melalui pemikiran Maurice Halbwachs mengenai memori kolektif. Menurutnya, gagasan memori kolektif, ingatan terhadap masa lalu tidak hanya disimpan oleh individu, tetapi juga dipelihara oleh kelompok masyarakat melalui berbagai praktik sosial. Sebuah tradisi dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengingat pengalaman, nilai, hubungan kekerabatan, dan sejarah yang mereka miliki bersama.
Dalam konteks Tobo-Tobo Safar, tradisi tersebut menjadi semacam ruang untuk menghidupkan kembali kenangan tentang kampung halaman dan mempertemukan kembali orang-orang yang mungkin selama ini terpisah oleh jarak.
Dengan demikian, “Malapat Pangge Pulang” bukan sekadar sebuah ungkapan. Ia dapat dilihat sebagai bentuk memori kolektif masyarakat Malapat. Panggilan untuk pulang mengandung pesan bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, hubungan dengan kampung halaman tetap memiliki tempat dalam kehidupannya. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa modernisasi dan kehidupan di perantauan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hubungan dengan akar budayanya.
Selain teori identitas sosial dan memori kolektif, Tobo-Tobo Safar juga dapat dipahami melalui pendekatan fungsionalisme dalam antropologi, terutama gagasan bahwa kebudayaan memiliki fungsi dalam menjaga keteraturan dan kohesi sosial masyarakat. Sebuah tradisi tidak selalu hadir tanpa alasan.
Didalamnya terdapat nilai dan fungsi sosial yang membantu mempertahankan hubungan antar anggota masyarakat. Tobo-Tobo Safar, memiliki fungsi untuk mempertemukan keluarga, mempererat persaudaraan, menjaga komunikasi antarkerabat, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan masyarakat Malapat.
Tradisi tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman. Saat ini, masyarakat semakin mudah berpindah tempat untuk bekerja, bersekolah, maupun mencari kehidupan yang lebih baik. Banyak anak muda meninggalkan kampung halaman dan menetap di daerah lain. Kondisi tersebut merupakan bagian dari perkembangan kehidupan modern, tetapi di sisi lain dapat menciptakan jarak antara generasi muda dengan kebudayaan asalnya.
Dalam keadaan seperti itu, Tobo-Tobo Safar dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga agar hubungan tersebut tidak terputus. Ketika masyarakat kembali ke kampung halaman, mereka tidak hanya berkumpul bersama keluarga, tetapi juga menyaksikan dan mengalami kembali tradisi yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur mereka. Pengalaman tersebut kemudian dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk mengenal siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal.
Menurut penulis, inilah yang membuat Tobo-Tobo Safar layak dipandang sebagai sebuah warisan budaya yang memiliki nilai lebih dari sekadar ritual tahunan. Di dalamnya terdapat nilai persaudaraan, kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta kecintaan terhadap kampung halaman. Tradisi ini mengajarkan bahwa kampung halaman bukan hanya sebuah tempat geografis, melainkan juga ruang tempat identitas, kenangan, dan hubungan kekeluargaan dibangun.
Namun, sebuah tradisi akan menghadapi tantangan apabila generasi muda tidak lagi merasa memiliki hubungan emosional dengannya. Karena itu, pelestarian Tobo-Tobo Safar tidak cukup hanya dengan mempertahankan pelaksanaannya setiap tahun. Yang lebih penting adalah memahami dan menjelaskan makna di balik tradisi tersebut kepada generasi muda. Mereka perlu mengetahui mengapa masyarakat dahulu menciptakan dan mempertahankan tradisi tersebut serta nilai apa yang masih relevan bagi kehidupan masyarakat sekarang.
Pelestarian budaya juga tidak berarti bahwa sebuah tradisi harus berhenti pada bentuk masa lalu. Tradisi dapat terus berkembang mengikuti zaman selama nilai dasarnya tetap dijaga.
Teknologi dan media sosial, dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan Tobo-Tobo Safar, menceritakan sejarahnya, serta memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, generasi muda yang berada di luar Malapat pun tetap dapat mengenal dan merasakan keterhubungan dengan tradisi tersebut.
Pada akhirnya, Tobo-Tobo Safar adalah tentang pulang. Pulang bukan hanya berarti kembali secara fisik ke Desa Malapat, tetapi juga kembali mengingat keluarga, persaudaraan, identitas, dan kebudayaan yang membentuk diri seseorang. “Malapat Pangge Pulang” menjadi sebuah pesan sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam: sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada kampung halaman yang memanggilnya untuk kembali.
Bagi penulis, Tobo-Tobo Safar bukan hanya tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Malapat, tetapi merupakan sebuah kenangan yang hidup. Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghubungkan mereka yang berada di kampung dengan mereka yang berada di perantauan, dan menghubungkan generasi tua dengan generasi muda. Selama masyarakat masih menjadikan tradisi tersebut sebagai bagian dari kehidupan bersama, selama itu pula suara “Malapat Pangge Pulang” akan tetap terdengar.
Sebab pada akhirnya, manusia boleh pergi sejauh apa pun, tetapi identitas dan kenangan tentang tanah kelahiran akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Dan bagi masyarakat Malapat, Tobo-Tobo Safar menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa pulang tidak pernah kehilangan maknanya.
- Penulis: Jandi Farid

Saat ini belum ada komentar