Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

MENGENAL ORANG PAPUA

  • account_circle Mokhsen Sirfefa
  • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
  • visibility 80
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Satu lagi buku tentang Papua yang kali ini diterbitkan oleh penerbit bonafit IRCiSod, Yogyakarta, Juli 2026.
Buku ini pertama kali terbit tahun 1853. George Windsor Earl yang meniliti Papua sejak tahun 1845 berfokus pada etnografi. Karya tulisnya tentang jenis-jenis ras itu ditulis pada tahun 1845, didorong dan diedit oleh James Richardson Logan dan diterbitkan dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia.

Yang paling terkenal adalah artikel di JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, berjudul “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malayo-Polynesian Nations” — di artikel tahun 1850 itulah ia mengusulkan istilah “Indunesians/Malayunesians.”

Karya antropologinya yang berpengaruh adalah The Native Races of the Indian Archipelago: Papuans, yang sedang anda baca resumenya ini. Menariknya, penelitian ini disusun dari catatan pengunjung lain, hasil wawancara dengan Owen Stanley dan Dumont d’Urville, karena kontak atau eksplorasi langsung oleh Earl sendiri tidak tercatat dan sepertinya tidak pernah sama sekali.

Untuk diketahui bahwa buku ini lebih banyak menjelaskan apa yang dilihat George Windsor Earl di kawasan pantai utara New Guinea, tepatnya di kawasan adat Doberai dan Bomberai, sehingga apa yang diulasnya belum atau tidak mencakup keseluruhan Tanah Papua.

Ia banyak mendapat informasi dari catatan Kapten Thomas Forrest, seorang perwira Inggris yang diutus oleh perusahaan Hindia Timur (East India Company/EIC) yang berpusat di New Delhi untuk menjajaki pulau New Guinea dalam misi eksplorasi rempah-rempah. Ekspedisi Forrest (1775) Ia mencatat seluruh rincian perjalanannya dalam buku berjudul A Voyage to New Guinea, and the Moluccas, from Balambangan: Including an Account of Magindano, Sooloo, and Other Islands. Buku catatan perjalanan yang legendaris ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1779.

Ekspedisi Forrest diikuti ekspedisi John Hayes juga dari EIC. Hayes bahkan mendirikan pos Inggris di Doreh¹ yang dinamakan New Albion (1793).

Earl juga mengutip catatan perwira kapal Belanda, Letnan Bruijn Kops dengan kapal perang jenis sekunar Circe di bawah pimpinan Kapten Brutel de la Riviere serta sejumlah kecil kora-kora Tidore yang secara berkala melayari New Guinea. Oleh sebab itu, uraian tentang pesisir selatan, pesisir barat daya, pesisir utara New Guinea didasarkan pada catatan-catatan Letnan Bruijn dalam Natuurkundige Tijdscrift voor Nederlandsch-Indië tahun 1851, majalah ilmiah yang disunting oleh Baron Melville van Carnbee, yang juga dikenal sebagai penyumbang penting bagi etnografi Kepulauan Hindia. Dalam ekspedisi ini, Tuan Bruijn Kops dibantu seorang dokter bedah C.F.A. Schneider, yang sumbangannya diakui dengan penuh penghargaan oleh sang perwira.(82)

Ekpedisi ini mengungkapkan semenanjung barat laut New Guinea konon berpenduduk cukup padat di bagian pedalaman, tapi pesisirnya tampak kosong, kecuali di beberapa titik sudah ada pangkalan niaga kecil.

“Port Dori (Doreh — pen), yang terletak di dekat ujung timur laut wilayah ini, sejak dahulu kala merupakan pelabuhan dagang utama. Walau penduduk setempat tidak dapat dijadikan sebagai tipe yang mewakili seluruh orang Papua, keadaan mereka di masa kini sangatlah tepat untuk memperlihatkan dampak pergaulan dengan bangsa-bangsa yang lebih beradab.” (83)

Disini Bruijn Kops membandingkan tingkat keadaban penduduk asli belum lebih baik dengan penduduk di kawasan lain di luar New Guinea. Hal ini didasarkan pada pengamatannya selama bertugas di New Guinea.

“Beberapa pengembara yang berwibawa pernah menduga bahwa orang Dori merupakan ras campuran, tetapi orang-orang yang membaca secara seksama narasi Tuan Buijn Kops akan menemukan alasan-alasan yang mendukung pendapat sebaliknya.” (83)

“Orang-orang berdarah campuran dapat dijumpai di dalam jumlah besa di setiap pulau berpenghuni di Laut Maluku, tetapi sangat jarang di New Guinea sendiri. Keadaan ini mudah dijelaskan oleh keadaan bahwa selama berabad-abad, budak-budak Papua, yang berjumlah ratusan bahkan ribuan setiap tahun, dikirim dari New Guinea ke arah barat; sementara hampir tak ada contoh yang dapat dikemukakan mengenai seseorang dari “ras coklat” yang menjadi penduduk, bahkan untuk sementara waktu, di New Guinea di luar musim perdagangan, kecuali dalam hal para pendakwah Islam, yang kadang-kadang menetap disana selama bertahun-tahun.” (83-4)

Bruijn menggambarkan bahwa tidak ada “orang luar” yang bersedia menetap lama-lama di New Guinea — selain para penyebar Islam — bahkan menjadi penduduk disana. Ini juga dipengaruhi dengan mindset kolonial yang menilai semua penduduk asli wilayah jajahan uncivilized.

Menurut Bruijn Kops, penduduk Papua terdiri atas Papuër dan Alfuren. Yang pertama mendiami pesisir sedangkan yang kedua (Alifuru) mendiami pedalaman. “Papuër dari Dori termasuk dalam kasta Myfory, yang berasal dari pulau bernama Myfory (disebut Long Island pada peta-peta Inggris), terletak sekitar 10 mil (40 mil Inggris), di sebelah timur Dori.”² (84) Beberapa kutipan Earl di bawah ini berasal dari Buijn Kops.

“Pada umumnya mereka bertubuh kecil (klein van gestalte), kebanyakan setinggi lima setengah kaki. Kecuali orang bungkuk (een gebochleden), kami tidsk melihat orang cacat, ataupun orang yang sangat gemuk atau sangat kurus. Warna kulit mereka cokelat tua, pada sebagian cenderung kehitaman. Saya melihat disini dua anak albino (dari ibu yang sama) dengan kulit putih kekuningan, dengan beberapa bercak coklat di punggung, berambut keritinh putih, dan bermata biru atau hijau.” (85)

“Penduduk umumnya mendeeita penyakit kulit; pada sebagian orang, kulit tampak seolah-olah tertutup sisik (iktiosis).³ Rambut mereka keriting rapat. Sebagian memiliki ujung rambut kemerahan, yang saya kira, pastilah disebabkan oleh kekeringan akibat panas yang sangat terik. Mereka biasanya membiarkan rambut tumbuh sepanjang mungkin, sehingga kalau dilihat dari kejauhan, kepala hampir dua kali ukuran sebenarnya. Pada umumnya, mereka tidak banyak merawat rambut, sehingga tampak kusut dan memberi kesan liar. Namun, ada pula beberapa orang yang rambut mereka, baik karena dirapikan maupun secara alami, tampak halus dan raya seolah-olah telah dipangkas. Kaum lelaki menyelipkan sisir di rambut mereka, terbuat dari sebatang bambu, yang salah satu ujungnya dibelah menjasi 3 atau empat ruas panjang serupa garpu, sementara ujung lainnya diruncingkan dan biasanya diukir. Sisir ini disematkan miring pada rambut, dan di bagian atasnya diikatkan sehelai kain katun berwarna, yang menggelepek serupa bendera kecil.” (85)

“Janggut para lelaki mereka keriting kuat tetapi pendek. Saya percaya bulu jangggut kadang-kadang dicabut. Sebagian besar orang Papua memiliki dahi tinggi namun sempit (een hoog, doch smal voordhoofd), mata besar berwarna cokelat tua atau hitam; hidung datar dan lebar; mulut besar dengan bibir tebal, serta gigi yang baik. Namun banyak pula yang berhidung semput dan melengkung (gebogen), serta berbibir tipis, yang memberi wajah mereka kesan Eropa. Mereka melubangi telinga dan memasukan ke dalamnya perhiasan atau cerutu tembakau yang digulung dengan daun pandan, gang sangat mereka gemari. Air muka orang-orang Papuërs tampak suram dan dogol; kebanyakan dari mereka sangat jelek; hanya sedikit yang memiliki raut wajah teratur dan penampilan ceria.” (85-6)

Earl mengungkapkan ciri-ciri wajah Eropa dan Kaukasia ada di antara orang Papua. Kekhasan yang sama dapat dijumpai di Tanimbar dan kepulauan Serwati (?) yang ada di sebelah timurnya. (86)

Earl juga meneliti warna kulit orang Papua yang menurutnya tidak semua hitam, tapi juga kecoklatan. Sementara busana mereka dari saluer, atau celana pendek seperti yang digunakan orang Melayu, dan kabaya, atau baju linggar berbahan kain katun. Para kepala suku memakai cawat kulit kayu pohon murbai kertas yang dipukul-pukul hingga pipih serupa kain kulit kayu sama dengan penduduk di Polinesia. Kaum perempuan memakai rok pendek berbahan katun biru atau celana pendek longgar. Telinga dilubangi tapi sekat hidung tidak pernah dirusak seperti di pedalaman. (87)

Mereka tidak membuat tonjolan pada daging lengan dan tubuh dengan sayatan seperti pada penduduk pesisir selatan dan pesisir barat daya. Praktik tersebut diganti dengan kebiasaan Polinesia merajah. Rajah digarap para gadis dengan menggunakan tulang ikan yang tajam dan jelaga (tinta tato).

Di buku ini Earl mengurai mata pencaharian, makanan dan kenikmaatan, penyakit yang sering diderita seperti infeksi saluran oernafasan, disentri, demam ringan, kaki gajah dan pelbagai penyakit kulit lainnya. Penyakit cacar dan raja singa tidak dikenal disini kata Bruijn.

Earl mengulas permukiman dan perlengkapan rumah tangga, kerajinan tangan dan pertanian, senjata dan perkakas, pelayaran dan perdagangan serta watak dan perangai. Untuk ini Earl mengulas panjang. Tetapi ia memulai dengan kalimat yang bersahaja :

“Adalah kenyataan yang ganjil bahwa setiap kali manusia berperadaban menjalin hubungan persahabatan dengan orang-orang liar, rasa jijik yang pada awalnya timbul ketika melihat sepintas keadaan masyarakat yang demikian bertentangan dengan ukuran kepatutan yang dianutnya, lambat laun menghilang setelah mengenal mereka lebih dekat. Dan, ia pun belajar memandang pelanggaran-pelanggaran remeh mereka sebagaimana ia memandang kenakalan anak-anak — sementara kebaikan hati dan sifat-sifat alami mereka yang baik dilihat sebagai sisi positif.” (97)

Lanjut Earl :

“Perincian ini perlu dikemukakan guna menjelaskan asalmmjasal pernyataan-pernyataan yang sangat menguntungkan mengenai watak dan perangai orang Papua…”

Kapten Forrest maupun Tuan Bruijn sangat berhati-hati dengan aspek ini, sehingga selama beberapa lama mereka di New Guinea, tanpa ada perselisihan dengan penduduk setempat.

Sebaliknya kata Earl, dan ini yang perlu dicatat. “…orang-orang yang berhubungan dengan orang-orang Papua dalam keadaan bernusuhan menjadi demikian terkesan oleh sifat serangan mereka yang liar, beringas, penuh tipu daya, dan seolah-olah seperti binatang buas, sehingga sulit percaya bahwa orang-orang Papua tersebut memiliki perasaan yang sama dengan bangsa-bangsa yang lebih beradab.” (97)

Earl mendokumentasikan Papua dan Negrito di seluruh pulau-pulau barat, seperti Misool, Seram, Goram dan Gebe, mengusulkan zona ras Papua yang luas yang membentang dari Kepulauan Andaman hingga Tasmania. Ia mencatat budaya material dan adat istiadat, merinci segala hal mulai dari konstruksi rumah hingga tradisi seperti sunat dan dinamika antar pulau.

Buku ini juga memuat bab khusus tentang penduduk asli Pulau Melville dan Port Essington (Semenanjung Cobourg) di Australia Utara, yang menampilkan perbandingan antropometri antara penduduk asli Australia Utara dan penduduk Papua Nugini.

Earl lebih awal datang di Papua (Doreh) sebelum kehadiran dua misionaris Kristen Ottow dan Geissler di Mansinam. Ia menggambarkan adat istiadat (sosial dan keagamaan) orang Doreh. Misalnya di dalam perkawinan, kepala suku menikahi perempuan dari kasta yang lebih rendah tanpa pembatasan, semau mereka, dengan membayar mas kawin yang lazim, yakni sepuluh orang budak atau barang dagangan senilai budak-budak tersebut.

Budak merupakan ukuran nilai di seluruh bagian barat New Guinea, sebagaimana senapan menjadi ukuran nilai di Timor dan pulau-pulau sekitarnya. Dengan demikian, apabila harga suatu barang disebut sekian “budak”, yang dimaksud adalah nilai seorang budak dalam wujud kain katun biru atau kain katun merah, atau barang-barang perdagangan lainnya, yang semuanya memiliki perbandingan nilai yang tetap. Karena itu, satuan ini, seperti “poundsterling”, adalah ukuran nilai imajiner. (102-3)

Sebagaimana umumnya orang “liar”, penduduk Doreh sangat percaya takhyaul dan hampir selalu membawa jimat berupa potongan kayu berukir, serpihan tulang, kuarsa atau benda-benda kecil lainnya, yang dilekati nilai imajiner. Mereka yang telah terpengaruh oleh Islam, menggantinya dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditulis pada secarik kertas yang diberikan kepada mereka oleh para pemuka agama yang berasal dari Seram dan Tidore. (103)

Seperti halnya Kamma yang datang kemudian, Earl menyatakan orang Papua Doreh pada umumnya masih menganut kepercayaan asli dan menyembah berhala “Karwar”, yakni patung kayu yang dipahat secara kasar dan memegang perisai, yang terdapat di setiap rumah. Berhala ini biasanya setinggi kira-kira 18 inci dan sangat tidak proporsional, kepalanya sangat besar, hidungnya panjang dan runcing, serta mulutnya lebar penuh gigi. (103)

Di kepulauan Maluku, antara lain Goram, Seram, Laut, Bo, Pulau Poppo dan Gebe, Patani, orang-orang Papua sudah berkawin campur dengan ras lain. Di beberapa pulau di Filipina juga demikian. Jean Mallat dalam bukunya Les Philippines, 1493,1803, mencatat pada tahun 1842 jumlah orang Papua disana mencapai 25.000 jiwa. (135)

Ada hal menarik yang dikisahkan di buku ini yang penting dikonfrontir dengan kisah yang lain. Earl menulis :

“Sekitar pukul sepuluh pagi kami telah siap berlayar (dari Misool). Pagi itu Tuan Haji (pembesar Tidore yang menyergai Kapten Forrest sebagai pemandu dan juru bahasa) dikunjungi permaisur Raja Salawati, yang suaminya belum lama ini telah diperdaya (di Tidore dan Ternate — pen) oleh orang-orang Belanda dan dikirim ke Tanjung Harapan.”⁵

Buku ini juga memuat bab khusus tentang penduduk asli Pulau Melville dan Port Essington (Semenanjung Cobourg) di Australia Utara, yang menampilkan perbandingan antropometri antara penduduk asli Australia Utara dan penduduk Papua New Guinea.

Ciputat, 23 Juli 2026.

¹Doreh, Dori, Doreri adalah kawasan yang meliputi teluk di perairan dan pesisir dari Pusat Kota Manokwari, Pulau Mansinam, Kwawi, Teluk Sawaibu, dan Pulau Lemon. “Dore” (bahasa Biak) berarti celah atau ke dalam atau lubang. Kata Dore diberi nama oleh suku Doreri untuk wilayah ini karena ada teluk atau celah ke dalam yang lautnya tenang sepanjang tahun. Oleh pedagang Eropa, misionaris dan ilmuwan ekspedisi zaman dulu menyebutnya Dorey Bay/Port Dory. Penduduknya mayoritas suku Biak yang berasal dari pulau Numfor.

²Myfory kemungkinan adalah Numfori (pulau Numfor).

³Bahasa lokal Papua, garai/grai. Jenis penyakit kulit lainnya adalah sejenis infeksi jamur kulit yang disebut kaskado (Timea imbrikata).

⁴Saya curiga dan agak penasaran dengan cerita Earl ini jika mengacu pada tahun ekspedisi Forrest 1774-1776 yang berdekatan dengan tahun penangkapan dan pembuangan Tuan Guru Tidore. Sebab sepanjang yang kita tahu dari banyak penulis sejarah, yang dibuang ke Tanjung Harapan adalah Syekh Yusuf Makassar (1684) dan Tuan Guru Kadi Abdussalam (1780). Walau demikian, beliau telah ditangkap Belanda di Tidore sejak 1760-an lalu dibawa ke Ternate-Ambon-Batavia dan Tanjung Harapan pada 1780, sehingga proses perjalanannya sampai ke Tanjung Harapan memakan waktu hampir 20 tahun. Jadi Raja Salawati yang dibuang ke Tanjung tv yang dimaksud Earl adalah Tuan Guru Tidore.

  • Penulis: Mokhsen Sirfefa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua FPPPMU Minta Karo BPBJ Malut Tidak Monopoli Proyek, Tekankan Prinsip Transparansi dan Keadilan

    Ketua FPPPMU Minta Karo BPBJ Malut Tidak Monopoli Proyek, Tekankan Prinsip Transparansi dan Keadilan

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • 0Komentar

    TERNATE – Ketua Forum Pejuang Pemekaran Provinsi Maluku Utara (FPPPMU), Arsad S. Sangaji, meminta Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Provinsi Maluku Utara, Hairil Hi. Hukum, ST, agar memastikan seluruh proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara berjalan secara transparan, adil, dan tidak memberikan ruang bagi praktik monopoli proyek. Menurut […]

  • Tanpa AMDAL, PT Feni Haltim Diduga Cemari Sungai Kukuba: LATAMLA Minta Penegakan Hukum Tegas

    Tanpa AMDAL, PT Feni Haltim Diduga Cemari Sungai Kukuba: LATAMLA Minta Penegakan Hukum Tegas

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • 0Komentar

    Halmahera Timur – Lembaga Advokasi Tambang dan Laut (LATAMLA) mendesak Kementerian Lingkungan Hidup beserta seluruh jajaran aparat penegak hukum untuk segera menindaklanjuti dugaan pelanggaran berat yang dilakukan PT Feni Haltim, unit pengolahan nikel di Halmahera Timur yang merupakan anak usaha PT Antam Tbk. Perusahaan ini disinyalir beroperasi tanpa persyaratan lingkungan utama berupa dokumen Analisis Dampak […]

  • KDEKS Maluku Utara Lakukan  Kajian Pembangunan Ekonomi Syariah ke Lima Kabupaten/Kota

    KDEKS Maluku Utara Lakukan Kajian Pembangunan Ekonomi Syariah ke Lima Kabupaten/Kota

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Maluku melakukan Kajian Pembangunan Ekonomi Syariah sekaligus penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Ekonomi Syariah Provinsi Maluku Utara. Setelah sebelumnya dimulai di tiga daerah, kegiatan pengumpulan data dan pemetaan potensi kini telah mencakup lima wilayah, yaitu Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Tengah, Kota Ternate, Kabupaten Halmahera […]

  • Akademisi Unkhair Desak Pemkab Halsel Ambil Sampel Air di Madapolo

    Akademisi Unkhair Desak Pemkab Halsel Ambil Sampel Air di Madapolo

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • 0Komentar

    Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Dr. Muhammad Ridwan Lessy, mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera mengambil sampel air laut di pesisir Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara. Desakan ini muncul menyusul fenomena perubahan warna air menjadi hijau pekat yang disertai kematian ikan dan dugaan iritasi kulit pada sejumlah warga. Ridwan menilai, pengambilan sampel […]

  • BERJUMPA IBU DI PENANG YANG RAMAI

    BERJUMPA IBU DI PENANG YANG RAMAI

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • 0Komentar

    Pagi ini aku memilih meja nomor 4 di _Tanjong Ria Coffee_, Lokasinya selemparan batu dari _Hotel Loop_; di Lebuh Leith, George Town. Mejaku letaknya di sisi kanan pintu masuk jika dilihat dari arah kasir. Tidak ada alasan khusus memilih meja ini. Dari sana aku bisa melihat orang keluar-masuk, meja pemesanan di depan, deretan kursi rotan, […]

  • Gelombang Panas Melanda Eropa, Fenomena Serupa Bisa Terjadi di Indonesia?

    Gelombang Panas Melanda Eropa, Fenomena Serupa Bisa Terjadi di Indonesia?

    • calendar_month Rabu, 1 Jul 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA – Linidaily.id Belakangan ini benua Eropa sedang diguncang gelombang panas ekstrem yang dianggap sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah. Suhu udara melonjak tajam hingga memecahkan rekor di berbagai negara, dan dilaporkan telah menelan korban jiwa sebanyak 1.300 orang. Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pun menegaskan, gelombang panas kini kian kerap terjadi setiap […]

expand_less