60 Tahun IAIN Ternate: Satu Hari dengan Empat Kegiatan
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- visibility 86
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ternate, linidaily.id Senin, 31 Agustus 2026. Pembukaan rangkaian kegiatan Perayaan Dies Natalis IAIN Ternate yang ke-60 telah dilakukan pada hari Senin 27 Juli 2026 lalu, dan telah dilakukan berbagai kegiatan. Senin kemarin, 31 Agustus 2026, Institut ini menggelar empat kegiatan dalam satu hari yaitu “Edukasi Kebanksentralan” dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, “Kuliah Tamu” dari Sekretaris Daerah (Setda) Provinsi Maluku Utara, Diskusi Buku hasil Karya Menteri Agama R.I, dan Tasyakuran 60 Tahun IAIN Ternate.
Bertempat di Auditorium IAIN Ternate, Jalan Dufa-Dufa, Kota Ternate, kegiatan Edukasi Kebanksentralan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara mengusung tema “Gaya Hidup Halal dan Dana Sosial” dimulai pada pukul 08.00-09.20 WIT. Di tempat yang sama, kegiatan dilanjutkan pada pukul 09.30 WIT dengan Kuliah Tamu yang disampaikan oleh Drs.Samsuddin Abdul Kadir, M.Si. Setda Provinsi ini merefleksikan proses pendidikan manusia dengan merujuk pada Visi dan Tujuan dari Nabi Muhammad yang berusaha membangun akhlak melalui sarana atau wadah pendidikan. Kuliah Tamu yang dihadiri oleh dosen, pegawai, dan mahasiswa IAIN Ternate ini berakhir pada pukul 10.30 WIT.
Meskipun dua kegiatan telah dilalui, sivitas akademika IAIN Ternate tetap setia, tidak beranjak dari tempat duduk. Mereka berlanjut mengikuti kegiatan Diskusi Buku yang menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof.Dr. Gufran Ali Ibrahim, M.S (Guru Besar Antropolinguistik Fakultas Ilmu Budaya, Unkhair Ternate), Prof.Dr. Jubair Situmorang, M.Ag (Guru Besar dalam bidang Fiqih Siyasah IAIN Ternate), dan Dr. Herman Oesman, M.Si (Doktor dalam bidang Sosiologi, dosen Universitas Muhammadiyah Maluku Utara). Tiga buku hasil pemikiran Menteri Agama R.I yaitu, “Pikiran yang Memurnikan” dibedah oleh Prof. Jubair Situmorang, “Artikel dan Opini Pilihan” dibahas oleh Herman Oesman, dan “Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar” yang dibahas oleh Prof. Gufran.
Menurut Herman, buku setebal 378 halaman itu bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan rekaman perjalanan intelektual Nasaruddin Umar sebagai ulama, akademisi, dan negarawan. Pemikiran Nasaruddin Umar, menurutnya, relevan dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari Islam moderat, toleransi, kemajemukan, keadilan, gender, hingga lingkungan. Herman menekankan bahwa, “IAIN Ternate dapat menjadi pusat ekoteologi Islam, yang mengintegrasikan nilai khalifah, amanah, mizan, dan keadilan ekologis ke dalam kurikulum, riset tambang dan lingkungan, serta pendampingan masyarakat Tantangan utamanya, lanjut Herman, adalah mengubah ekologi Islam dari Wacana ke gerakan akademik dan sosial yang nyata”.
Sementara Prof. Jubair Situmorang, sebagaimana diakuinya, dengan metode Verstehen ia berupaya memahami makna di balik teks tertulis dari buku Prof Nasaruddin Umar. Gagasan Prof Nas, menurut Prof Jubair, tampak tidak berhenti pada tataran akademik atau teori, tetapi berkaitan dengan kebijakannya sebagai pejabat Menteri Agama R.I. “Prof Nasaruddin adalah seorang Menteri dengan latar belakang keahlian akademik.
Setelah pemaparan dari Prof. Gufran, melalui fasilitas zoom meeting, para peserta diskusi buku menyaksikan dan mendengarkan pemaparan mengenai “latar pemikiran Prof Nasaruddin Umar” yang disampaikan oleh KH. Farid F. Saenong, Staf Khusus Menteri Agama R.I, Bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan dan Moderasi Beragama. Pemaparan yang berjalan kurang lebih duapuluh menit ini kemudian berlanjut pada sesi pemaparan oleh Prof Gufran Ali Ibrahim, M.Si.
Prof. Gufran membedah buku Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar melalui pendekatan linguistik dan intertekstualitas. Ia menemukan tiga tema utama yang menjadi simpul gagasan, yakni gender, kurikulum cinta, dan ekoteologi. Menurutnya, “Gender, kurikulum cinta, dan ekoteologi dalam SPNU adalah ngokomalako, sebagai titik jumpa: kesamaan dan kesetaraan dalam pusparagam relasi antarmanusia. Ketiga tema tersebut, menurutnya, berkelindan membentuk jejaring pemikiran Nasaruddin Umar yang dapat terus dikaji dalam konteks perubahan sosial. Bedah buku ini, lanjutnya, menjadi ruang akademik bagi sivitas akademika IAIN Ternate untuk membaca ulang dan menguji pemikiran Nasaruddin Umar, khususnya terkait Islam, kemanusiaan, kebangsaan, gender, dan lingkungan.
Kegiatan bedah buku yang dengan antusias diikuti sivitas akademika IAIN ini diusaikan tepat pukul 13.20 WIT. Kegiatan selanjutnya, Tasyakuran yang dilakukan pada pukul 16.00 WIT di masjid Kampus, merupakan kegiatan internal IAIN yang diikuti sivitas akademika. Tasyakuran yang dilakukan di penghujung hari pada 31 Agustus ini, menurut Rektor IAIN Ternate, Dr.Adnan Mahmud, M.A, untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad S.A.W, Kemerdekaan R.I, dan pada tanggal dan bulan ini bertepatan peresmian Fakultas Tarbiyah pada tahun 1966 sebagai salah satu Fakultas dari IAIN Alauddin Ujungpandang atau Makassar saat ini. Dari Fakultas pertama ini berkembang menjadi STAIN Ternate (1993) dan IAIN Ternate sejak tahun 2013. “Inshaa Allah, Institut ini dapat beralih bentuk menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Baabullah”, tukas Adnan.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar