SCRIBERE
- account_circle Syarifuddin Usman
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- visibility 135
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Catatan untuk Pelaksanaan Cendekia Basic Writing II ICMI
Ada kata dalam bahasa Latin yang sederhana tetapi memiliki daya gugah yang luar biasa, scribere. Artinya menulis. Kata ini mungkin terdengar tua, bahkan asing bagi sebagian orang. Tetapi gagasan yang dikandungnya justru sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Di tengah masyarakat yang semakin ramai berbicara, semakin cepat berkomunikasi, dan semakin mudah memproduksi informasi, kita justru menghadapi persoalan yang paradoksal: semakin banyak yang dibicarakan, tetapi semakin sedikit yang benar-benar ditulis dan didokumentasikan.
Saat ini kita hidup dalam zaman ketika satu percakapan dapat menjangkau ribuan orang dalam hitungan detik. Media sosial membuat setiap orang memiliki mimbar. Telepon genggam membuat setiap orang bisa menjadi pewarta. Namun, setelah sebuah percakapan berlalu, berapa banyak gagasan yang benar-benar bertahan?Di sinilah scribere menjadi penting.
Menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata ke atas kertas atau mengetik huruf di layar. Menulis adalah tindakan intelektual untuk menyelamatkan pikiran dari kefanaan ingatan. Sebab manusia mudah lupa, tetapi tulisan memiliki kemampuan untuk mengingat.
Ketika Sebuah Bangsa Kehilangan Catatan
Peradaban manusia tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang pandai berbicara. Peradaban dibangun oleh mereka yang mampu mencatat, menyimpan, dan mewariskan pengetahuan.
Kita mengetahui kehidupan masyarakat masa lalu karena mereka meninggalkan prasasti, manuskrip, kitab, surat, arsip, catatan perjalanan, dan berbagai bentuk dokumen lainnya. Bayangkan jika semua pengetahuan manusia hanya diwariskan melalui percakapan lisan. Berapa banyak yang akan hilang?Satu generasi mengingat sesuatu.
Generasi berikutnya mengingat sebagian. Generasi setelahnya hanya mengingat fragmen. Lama-kelamaan, pengetahuan berubah menjadi legenda, legenda menjadi cerita, dan cerita akhirnya hilang bersama orang-orang yang pernah mengingatnya. Karena itu, menulis pada hakikatnya adalah melawan lupa.
Ungkapan Latin verba volant, scripta manent—kata-kata lisan akan terbang berlalu, sedangkan tulisan akan tetap tinggal—mengandung kebijaksanaan yang sangat dalam.
Apa yang diucapkan dapat hilang bersama angin. Apa yang ditulis memiliki peluang untuk melampaui waktu. Seorang manusia mungkin hanya hidup selama beberapa dekade. Tetapi sebuah tulisan dapat hidup selama berabad-abad.
Itulah sebabnya kita masih dapat berdialog dengan pemikir yang telah meninggal ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Kita tidak mengenal mereka karena pernah duduk bersama mereka, tetapi karena mereka meninggalkan tulisan. Tulisan memungkinkan manusia berbicara dengan masa depan.
Tradisi Lisan: Kekayaan yang Terancam Hilang
Bagi masyarakat Maluku Utara dan kawasan kepulauan pada umumnya, persoalan ini menjadi semakin penting. Kita memiliki kekayaan tradisi lisan yang luar biasa. Ada cerita asal-usul negeri, sejarah kampung, kisah kesultanan, petuah orang tua, tradisi adat, syair, pantun, bahasa lokal, pengetahuan tentang laut, pengetahuan tentang tanaman, cerita perjalanan leluhur, hingga berbagai bentuk kearifan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Semua itu merupakan perpustakaan hidup. Masalahnya, perpustakaan tersebut sebagian besar berada di dalam ingatan manusia.
Ketika seorang tua meninggal, bisa jadi bukan hanya seorang manusia yang pergi. Bersamanya mungkin ikut pergi puluhan cerita, ratusan pengalaman, pengetahuan lokal, dan sejarah yang tidak pernah sempat dituliskan. Di sinilah kita perlu bertanya dengan serius, berapa banyak pengetahuan lokal yang telah hilang karena kita terlambat mencatatnya?
Pertanyaan ini bukan sekadar persoalan budaya. Ia adalah persoalan peradaban. Kita sering bangga mengatakan bahwa daerah kita kaya budaya. Tetapi kebudayaan tidak cukup hanya dipertontonkan dalam festival. Kebudayaan harus didokumentasikan, dipelajari, ditulis, diajarkan, dan diwariskan. Kalau tidak, kita hanya akan memiliki kebanggaan terhadap sesuatu yang perlahan-lahan tidak lagi kita kenal.
Dari Cerita ke Dokumen
Karena itu, mentransformasi tradisi lisan ke tulisan bukan berarti membunuh tradisi lisan. Justru sebaliknya. Menulis adalah salah satu cara menyelamatkan tradisi lisan. Cerita seorang tetua kampung dapat ditulis menjadi sejarah lokal. Pengalaman nelayan dapat menjadi dokumentasi pengetahuan maritim. Pengetahuan petani dapat menjadi catatan ekologis. Cerita perempuan tentang kehidupan keluarga dan kampung dapat menjadi bagian dari sejarah sosial.
Dengan cara ini, sesuatu yang awalnya hanya didengar oleh beberapa orang dapat menjadi pengetahuan yang dapat dibaca oleh banyak orang. Bayangkan jika setiap kampung memiliki buku sejarahnya sendiri. Bayangkan jika setiap komunitas adat memiliki dokumentasi tentang nilai-nilai kebudayaannya. Bayangkan jika setiap orang tua memiliki kesempatan menceritakan perjalanan hidupnya dalam bentuk tulisan untuk dibaca anak cucunya. Bukankah itu jauh lebih berharga daripada sekadar menyimpan foto? Foto mengabadikan wajah.
Tulisan mengabadikan pikiran
Kita Terlalu Banyak Berbicara. Ada persoalan lain yang lebih serius. Budaya digital telah membuat masyarakat kita menjadi sangat produktif dalam berbicara, tetapi belum tentu produktif dalam berpikir dan menulis. Kita dapat melihatnya setiap hari. Perdebatan politik berlangsung tanpa henti. Komentar berseliweran. Pendapat muncul dalam hitungan detik. Semua orang ingin bicara. Namun, sering kali kita lupa bahwa berpendapat tidak sama dengan berpikir.
Berpikir membutuhkan proses. Ia membutuhkan membaca, mengamati, membandingkan, mempertanyakan, mencari data, dan menguji argumentasi. Menulis memaksa semua proses itu terjadi. Ketika seseorang hendak menulis sebuah opini, ia tidak cukup mengatakan, “Menurut saya…”Ia harus menjawab: mengapa menurut saya demikian? Apa faktanya? Apa masalahnya? Apa penyebabnya? Apa dampaknya? Apa alternatif solusinya? Di situlah menulis menjadi latihan intelektual. Karena itu, masyarakat yang ingin membangun budaya berpikir harus membangun budaya membaca dan menulis. Membaca memberi kita bahan untuk berpikir. Menulis memaksa kita menguji pikiran.
Menulis Bukan Milik Akademisi
Sayangnya, menulis sering dianggap sebagai pekerjaan orang-orang tertentu: dosen, guru, wartawan, sastrawan, mahasiswa, atau akademisi. Anggapan ini harus ditinggalkan. Setiap manusia memiliki pengalaman yang layak ditulis. Seorang nelayan mengetahui laut dengan cara yang mungkin tidak diketahui seorang profesor. Seorang petani memahami tanah dengan pengalaman yang tidak selalu terdapat dalam buku teks. Seorang ibu memiliki pengetahuan tentang keluarga yang tidak mungkin seluruhnya ditemukan dalam jurnal ilmiah. Seorang pedagang mengetahui perubahan ekonomi masyarakat melalui transaksi sehari-hari. Seorang tokoh masyarakat mengetahui sejarah kampung melalui pengalaman puluhan tahun. Pertanyaannya bukan apakah mereka memiliki sesuatu untuk ditulis.
Pertanyaannya Adalah, apakah kita memberi mereka ruang untuk menuliskannya? Di sinilah gerakan literasi harus naik kelas. Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis secara teknis. Literasi harus berkembang menjadi kemampuan mendokumentasikan pengalaman dan memproduksi pengetahuan.
Menulis sebagai Demokratisasi Pengetahuan
Dalam pengertian yang lebih luas, menulis juga merupakan bentuk demokratisasi pengetahuan. Selama ini pengetahuan sering dianggap sebagai sesuatu yang hanya diproduksi oleh institusi formal: universitas, lembaga penelitian, pemerintah, atau pusat-pusat kekuasaan. Padahal, pengetahuan juga hidup di tengah masyarakat. Masyarakat memiliki pengalaman, memiliki ingatan, memiliki pengetahuan lokal. Masyarakat memiliki perspektif terhadap pembangunan. Masalahnya, suara masyarakat sering berhenti sebagai percakapan. Ketika tidak ditulis, suara itu mudah hilang. Karena itu, menulis adalah cara memberikan keabadian kepada suara yang selama ini tidak terdokumentasikan.
Di sinilah pentingnya penulis lokal. Mereka tidak harus menjadi akademisi. Mereka hanya perlu memiliki kepekaan untuk melihat, keberanian untuk mencatat, dan kedisiplinan untuk menulis.
Scribere dan Masa Depan Maluku Utara
Maluku Utara sedang bergerak dalam perubahan yang sangat cepat. Pertumbuhan ekonomi, pertambangan, pembangunan infrastruktur, urbanisasi, teknologi digital, perubahan sosial, dan mobilitas penduduk sedang mengubah wajah masyarakat.
Pertanyaannya: siapa yang akan mencatat perubahan itu? Kalau kita tidak menulisnya, orang lain yang mungkin akan menuliskannya. Dan ketika orang lain menulis tentang kita, belum tentu perspektif mereka sepenuhnya mewakili pengalaman kita. Karena itu, masyarakat Maluku Utara perlu memiliki tradisi dokumentasi yang kuat. Kita membutuhkan lebih banyak buku tentang desa, tulisan tentang masyarakat pesisir, dokumentasi tentang bahasa dan kebudayaan local, tentang sejarah kesultanan dan masyarakat kepulauan, tulisan tentang pengalaman perempuan dan generasi muda, penelitian tentang perubahan sosial akibat Pembangunan, Lebih banyak opini yang membahas masa depan daerah dengan argumentasi, bukan sekadar emosi. Kita membutuhkan ekosistem pengetahuan lokal. Dan ekosistem itu tidak akan lahir tanpa budaya menulis.
Jangan Tunggu Menjadi Hebat untuk Menulis
Kesalahan terbesar calon penulis adalah menunggu dirinya menjadi hebat. Menunggu punya ide besar. Menunggu bahasa sempurna. Menunggu memiliki gelar. Menunggu memiliki banyak pembaca. Menunggu memiliki penerbit. Padahal semua penulis besar pernah menjadi penulis pemula. Tulisan pertama tidak harus sempurna. Yang penting adalah memulai. Tulislah satu halaman. Kemudian satu halaman lagi. Baca kembali. Perbaiki. Tuliskan lagi.
Dengan latihan, tulisan akan berkembang. Karena menulis bukan bakat semata. Menulis adalah kebiasaan yang dipelihara dengan disiplin. Dan setiap tulisan yang selesai adalah kemenangan kecil melawan lupa.
Dari Scribere Menuju Kebudayaan Menulis
Pada akhirnya, scribere harus kita pahami bukan sekadar sebagai kata Latin yang berarti menulis. Ia adalah sebuah sikap kebudayaan. Sikap untuk mencatat. Sikap untuk berpikir. Sikap untuk mendokumentasikan. Sikap untuk mewariskan. Sikap untuk tidak membiarkan pengalaman manusia hilang tanpa jejak. Kita mungkin tidak dapat membuat semua orang menjadi penulis. Tetapi kita dapat membangun masyarakat yang menghargai tulisan. Masyarakat yang membaca sebelum berbicara. Masyarakat yang berpikir sebelum menyimpulkan. Masyarakat yang mencatat sebelum lupa. Masyarakat yang mendokumentasikan sebelum kehilangan. Dan masyarakat yang mampu mengubah pengalaman menjadi pengetahuan.
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak ia membangun jalan, gedung, pelabuhan, dan kawasan industri. Sebuah bangsa juga ditentukan oleh seberapa kuat ia menyimpan ingatan dan memproduksi pengetahuan tentang dirinya sendiri. Bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah kehilangan arah. Dan masyarakat yang tidak menulis akan membiarkan orang lain menuliskan sejarahnya. Maka, sebelum sebuah cerita hilang bersama orang yang mengingatnya, tulislah. Sebelum pengalaman berubah menjadi lupa, catatlah. Sebelum tradisi hilang bersama generasi, dokumentasikanlah. Sebelum gagasan mati di ruang percakapan, abadikanlah dalam tulisan.
Menulis bukan sekadar meninggalkan kata. Menulis Adalah meninggalkan jejak. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita sudah tidak ada, seseorang akan membuka tulisan kita dan berkata: “Mereka pernah hidup. Mereka pernah berpikir. Mereka pernah mengalami semua ini. Dan mereka meninggalkan catatan agar kami tidak lupa.”
Akhirnya, Selamat kepada peserta Cendekia Basic Writing (CBW) II yang digelar selama dua hari, 12-13 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan program Ikatan Cendekiawan Muslim Se Indonesia (ICMI) wilayah Maluku Utara dan bagian dari BookFest yang akan dihelat pada September mendatang.
Pada 2024, ICMI memulai dengan Cendekia Basic Writing pertama dan hasil dari kegiatan ini diterbitkan buku Kumpulan tulisan dari peserta dengan judul Atas Nama Kata. Berharap pada CBW II juga menghasilkan buku Kumpulan tulisan dari peserta.
- Penulis: Syarifuddin Usman

Saat ini belum ada komentar