Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

Sigaro Festival Buku Maluku Utara 2026

  • account_circle M. Rusdy Namsa
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 65
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sigaro dalam Bahasa lokal Maluku Utara terutama Ternate bermakna ajakan, baku pangge, Sigaro Malaha artinya saling mengajak pada kebaikan. Pertama kali saya melihat Agenda Festival Buku Maluku Utara 2026 yang akan di laksanakan pada bulan Agustus 2026, disampaikan lewat pemberitahuan beberapa kolega di Whatsapp Group dengan mengisi formulir pendataan buku dan penulis di Maluku Utara, informasi yang di sampaikan adalah dalam rangka menghimpun, mendokumentasikan, dan memperkuat ekosistem literasi di Maluku Utara, maka akan dibuat pendataan dan identifikasi penulis yang berasal dari Maluku Utara. Pendataan ini bertujuan untuk memetakan sebaran dan profil penulis, membangun basis data penulis daerah, memperluas jejaring antar penulis dan komunitas literasi, serta menjadi rujukan dalam penyusunan direktori penulis di Maluku Utara. Intinya mendata para penulis dari Maluku Utara untuk memberikan ruang dan aprsiasi bagi penulis Maluku Utara demi kemajuan literasi.

Sebuah nawaitu yang sangat mulia, namun terus terang pertama kali melihat pendataan dan Agenda Festival Buku Maluku Utara 2026 saya termasuk yang pesimis dan sangat berhati-hati dalam mengisi berbagai data pribadi di platform digital. Alasan pertama karena berdasarkan pengalaman pribadi dan melihat beberapa kegiatan membangun Literasi di Maluku Utara selama ini tidak memiliki sustainability atau keberlanjutan, sekadar hanya seremoni dan menghabiskan anggaran baik dari pemerintah maupun swasta bahkan mohon maaf dari “tokoh-tokoh” di Maluku Utara, sehingga sulit sekali melihat integritas dan konsistensi kegiatan Literasi di Maluku Utara artinya setelah selesai acara maka selesailah sudah semangat membangkitkan minat baca dan minat menulis di Maluku Utara.

Tidak ada sama sekali program yang berkelanjutan yang mempunyai visi jangka panjang melahirkan penulis-penulis dari Maluku Utara yang berkualitas agar bisa tembus di Nasional bahkan Internasional yang dikurasi secara serius oleh pemerintah dan seluruh elemen anak bangsa di Malut. Alasan kedua saat ini adalah terkait data, data adalah oil atau minyak sumber daya alam baru yang sangat di incar oleh berbagai macam kekuatan digital baik ekonomi, bisnis hingga politik, marak terjadi dalam platform digital penyalahgunaan data pribadi sehingga saya berusaha sangat berhati-hati menyebarkan data pribadi ke berbagai pihak. Dari kedua alasan ini rasa pesimis dimana kegiatan membangkitkan budaya baru babaca bahkan menulis di Malut yang hanya seremoni dan kerahasiaan data pribadi membuat saya melihat informasi pendataan Agenda Festival Buku Maluku Utara 2026 hanya seperti angin lalu tidak terlalu tertarik.

Sampai tiba waktunya beberapa hari kemudian, ada seorang sosok yang membuat saya yakin dan percaya pada Festival Buku Maluku Utara 2026, saya pun tidak ragu dengan keamanan data pribadi karena kredibilitas sosok ini bahkan saya tidak ragu bahwa kegiatan BookFest ini akan menjadi cikal bakal lahirnya para penulis berkualitas dan lahirnya budaya baru babaca dan menulis bagi generasi di Maluku Utara beliau adalah Bapak Herman Oesman, saya biasa menyapa beliau Abang, sengaja saya memanggil Abang, agar psikis beliau tetap merasa muda, padahal beliau sudah berkecimpung di dunia intelektual sejak dari Almarhum Ayah saya, artinya saya seperti anak baru kemarin sore oleh sebab itu sosok yang bagi saya sangat konsisten dalam menulis, sangat produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual, sangat menjaga integritas dan idealisme beliau bahkan sejak saya masih di bangku Sekolah Dasar (SD) karya-karya beliau sudah ada di dalam koleksi Buku perpustakaan kecil milik Ayah saya, sepak terjang Herman Oesman sampai saat ini ketika saya sudah menjadi dosen karya-karya beliau sudah sangat banyak di luncurkan baik buku maupun berbagai tulisan di media online dan surat kabar terakhir saya menghadiri karya novel keresahan beliau atas pertambangan di Maluku Utara dan sangat nikmat ketika dibaca dan direnungi seluruh isi tulisan beliau, kalau kata anak Gen Z sekarang isinya daging semua, karya beliau yang mayoritas adalah dari keresahan dan kerisauan seorang Herman Oesman atas fenomena sosial di masyarakat, sehingga rugi jika tidak membacanya.

Sosok inilah yang membuat saya percaya dan yakin bawah Festival Buku Maluku Utara bukan sekadar seremoni belaka tetapi Insha Allah akan menjadi cikal bakal lahirnya Agenda dan Program-program yang berkelanjutan dalam Liertasi di Maluku Utara karena dalam salah satu Agenda BookFest 2026 ini adalah Peluncuran Yayasan Filantropi yang concern dalam dunia literasi berkelanjutan. Terus terang setelah beliau mengajak dan langsung memasukan saya ke dalam group Festival Buku Maluku Utara saya tidak bisa menolak karena integritas dan konsistensi beliau sulit dipungkiri, kalaupun saya menolak tentu saya yang akan rugi karena pengalaman bisa bekerja sama dengan penulis sekaliber beliau mungkin tidak akan datang dua kali, sehingga ketika beliau memasukan dalam sebuah divisi panitia dalam Festival Buku Maluku Utara ini saya merasa bersyukur dan menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus akan berusaha menjaga amanah ini dengan sebaik mungkin. Setelah masuk ke dalam kepanitiaan saya baru sadar ternyata tidak hanya beliau, saya dipertemukan dengan banyak orang-orang hebat yang memiliki idealisme dan integritas yang tinggi disamping juga memiliki skill dan pakar di bidangnya masing-masing.

Mengapa penting torang semua harus basigaro baku ajak semua untuk hadir, partisipasi, dan menyukseskan BookFest Maluku Utara 2026 ? Yang pertama ; Keresahan warga Maluku Utara selama ini salah satunya adalah sulitnya mengakses buku-buku yang berkualitas, jangankan di daratan Halmahera, di Kota Ternate sendiri yang menjadi episentrum dari 9 kabupaten kota di Provinsi Maluku Utara mengakses buku-buku yang berkualitas dan terjangkau juga masih sangat susah, hingga saat ini toko-toko Buku di Kota Ternate masih sangat minim, ada yang sangat representatif di Mall namun tidak dibuat untuk membaca berlama-lama karena tidak disediakan tempat duduk, memang orientasinya komersil ditambah harganya yang sangat sulit bagi kalangan menengah kebawah terutama mahasiswa, bandingkan dengan Kota Jogja buku-buku berkualitas dan terjangkau bisa dengan mudah kita dapatkan, ini adalah PR Pemerintah Daerah untuk mendesign kebijakan yang bisa memecahkan ketimpangan akses buku, Agenda BookFest Maluku Utara ini bisa menjadi salah satu instrument untuk memberdayakan penulis-penulis lokal agar bisa menghadirkan buku-buku yang tidak kalah berkualitasnya dengan penulis-penulis di luar Maluku Utara, karena jika melalui marketplace atau belanja online, biaya ongkirnya juga masih mahal apalagi di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara.

Yang kedua ; Berdasarkan rilis resmi dari instrument pengukuran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Maluku Utara tahun 2024 yang digunakan sepanjang tahun 2025 diintegrasikan melalui portal Satu Data Maluku Utara, terdapat dua indikator utama yang dipakai untuk mengukur tingkat literasi masyarakat Maluku Utara : 1. Tingkat Kegemaran Membaca dan 2.Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) artinya melihat kondisi infrastruktur yang mendukung aktifitas literasi. Berdasarkan evaluasi metode survey terbaru, nilai rata-rata Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) untuk provinsi Maluku Utara berada di angka 60,52 poin, skor dan posisi ini menempatkan Provinsi Maluku Utara berada di urutan ke-32 dari 38 provinsi di Indonesia (masuk dalam 10 besar dari bawah secara nasional). Fakta mengkhawatirkan ini harus menjadi perhatian serius tidak hanya pemerintah daerah tapi juga pihak sekolah, universitas dan seluruh elemen anak bangsa di Maluku Utara.

Penulis masih ingat betul pengalaman ketika menimba ilmu di Jawaharlal Nehru University (JNU) India perpusatakaan-nya 24 jam non-stop bergantian petugas perpusatakaan untuk melayani mahasiswa mencari buku dan membaca, yang buat takjub adalah perpusatakaannya tidak pernah sepi di samping perpusatakaannya disediakan ruang khusus untuk membaca dan mengerjakan tugas-tugas kuliah dan menulis sehingga kita sebagai mahasiswa harus berebutan untuk bisa mendapatkan tempat duduk agar bisa mengakses perpustakaan, ini yang patut di contoh walaupun dari segi aspek lain India juga masih tertinggal, tapi dari budaya literasinya India harus di apresiasi, beberapa taman di Kota New Delhi India juga disediakan koran atau surat kabar gratis di bagikan untuk warga dari pemerintah India, saya pikir ini bisa jadi pemantik budaya literasi.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai dan berbenah untuk kemajuan Literasi di Maluku Utara, ada sebuah buku yang berjudul Beyond Self Boundaries ditulis oleh Giajosie, beliau menjelaskan dalam salah satu sub-babnya ada 10 fase perjuangan yang terinspirasi oleh pola dakwah para nabi. Fase yang pertama adalah Chaos atau kekacauan seperti kemiskinan, keterbelakangan, dalam konteks literasi misalnya, chaosnya adalah kebodohan dan rendahnya literasi, dari fase pertama ini kemudian menuju fase kedua yakni fase Anxiety atau keresahan dan kegelisahan atas kondisi fase pertama dalam hal ini rendahnya literasi.

Kemudian setelah itu kita memasuki fase Potency pada tahap ini adalah terpilihnya atau munculnya orang-orang yang mempunyai potensi dan keresahan untuk menyelesaikan masalah yang terdapat atas fase chaos yang pertama dalam hal ini rendahnya literasi, kemudian masuk ke fase berikutnya apa yang disebut oleh Giajosie sebagai fase Strong Why di fase ke empat ini adalah pembuktian adanya alasan yang kuat mengapa harus mengubah kondisi rendahnya literasi di Maluku Utara, jika sudah ada alasan yang jelas dan kuat atas kekacauan pada fase chaos yang pertama maka kita masuk pada fase Solution Maker atau melakukan dan menawarkan solusi atas rendahnya literasi dengan berbagai program dan kebijakan seperti membuat Festival Buku Maluku Utara 2026 ini adalah salah satu solusi yang bisa dibuat.

Setelah fase ini kita masuk ke tahap ke-6 yakni fase Obstacle sudah menjadi hukum alam ketika kita melakukan kegiatan dan perubahan pasti ada rintangan dan hambatan yang dihadapi baik itu sumber daya materi maupun non-materi, kemudian setelah masuk ke fase A Test of Why di fase ini kita akan di uji seberapa kuat dan seberapa besar dapat mempertahankan Strong Why kita pada fase ke-4, apakah kita mampu bertahan dengan ujian dari berbagai macam rintangan kekurangan anggaran dan yang lainnya, jika kita berhasil dari fase ujian ini maka kita akan masuk ke fase Legitimacy di fase ini kita sudah mendapatkan pengakuan dan penerimaan masyarakat atas kegiatan dan solusi dari penyelenggaraan Festival Buku Maluku Utara sebagai salah satu solusi mengatasi rendahnya literasi di Maluku Utara, setalah itu kita masuk ke fase New Culture, di fase ini kita telah berhasil menghasilkan budaya baru dimana masyarakat Maluku Utara mulai meningkat literasi membaca dan menulis buku bahkan kecintaan dan penghormatan kepada para penulis buku semakin dihormati, kemudian setelah fase ini maka kita memasuki fase yang terakhir yaitu fase Legacy, di fase budaya Literasi yang tinggi telah kita tularkan pada generasi sekarang dan akan datang untuk menjadi warisan peradaban di Maluku Utara dan menjadi amal jariah bagi orang-orang yang memperjuangkan hal ini.

Jika kita telah memahami alur beberapa fase perjuangan di atas maka kegiatan Festival Buku Maluku Utara 2026 menjadi terang-benderang untuk mempunyai arah dan keyakinan sebuah visi jangka panjang untuk melahirkan budaya baru dan mewariskan peradaban literasi yang tinggi dari beberapa kegiatan yang akan di laksanakan pada BookFest 2026 di antaranya adalah : ada Pameran Buku Penulis Lokal, ada Bacarita buku oleh Prof. Gufran A. Ibrahim/Dr. Kasman Hi. Ahmad/ Dr. Abubakar Abdullah), kemudian ada Talkshow Literasi. Peluncuran 99 Buku, ada Meet & Greet/Temu penulis. Oleh Shafitri/Ghalim/Marjorie, Workshop Esai (Trick & Tips Menulis Esai oleh Ashgar Saleh), Workshop Menulis Karya Ilmiah (Dr Yanuardi Syukur), Workshop Penerbitan/Coaching dari LP3ES). Ada Lomba Membaca Puisi, Lomba Resensi Buku, Lomba Menulis Esai, Story Telling Anak Tentang Literasi, ada Diskusi Budaya dan Sejarah Literasi Maluku Utara. Dan terakhir di tutup dengan Malam Apresiasi Literasi (Malam Puncak), Pemberian Lifetime Achievement Awards. Semua kegiatan ini sangat saying jika di lewatkan oleh warga Maluku Utara oleh sebab itu siapkan diri kita masing-masing khusus bagi yang berada di luar Ternate agar menyiapkan diri di tanggal 7 sampai 9 Agustus untuk baronda ke Ternate sekaligus mengunjungi Festival Buku Maluku Utara 2026.

Melihat urgensi fakta dan kondisi di Maluku Utara yang cukup mengkhawatirkan di dunia literasi ini tidak berlebihan jika torang semua wajib sigaro semua elemen anak bangsa di Maluku Utara baik orang tua, pemuda dan anak-anak untuk mengunjungi dan sama-sama menyukseskan Festival Buku Maluku Utara 2026 yang insha Allah akan dilaksanakan di Benteng Oranye. Semoga semakin banyak penulis muda Maluku Utara yang akan lahir dan semoga membuahkan budaya babaca yang tinggi di Maluku Utara. Aamiin

  • Penulis: M. Rusdy Namsa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Halmahera Utara Perkuat Komitmen Turunkan Angka Stunting

    Pemkab Halmahera Utara Perkuat Komitmen Turunkan Angka Stunting

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • 0Komentar

    TOBELO – Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara terus menunjukkan keseriusan dan memperkuat komitmennya dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting di wilayahnya. Hal ini ditegaskan dalam Rapat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Halmahera Utara yang berlangsung di Ruang Meeting Fredy Tjandua, pada Senin (25/5/2026). Rapat koordinasi strategis ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. […]

  • KPK Soroti Tata Kelola BPBJ Malut di Bawah Kepemimpinan Hairil Hukum

    KPK Soroti Tata Kelola BPBJ Malut di Bawah Kepemimpinan Hairil Hukum

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI menyoroti ketat kinerja Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Provinsi Maluku Utara yang saat ini dipimpin oleh Hairil Hukum. Lembaga antirasuah tersebut mengidentifikasi sejumlah celah kerawanan dalam mekanisme pengadaan yang berpotensi merugikan keuangan daerah. Peringatan keras ini disampaikan langsung oleh Direktur Koordinasi dan Supervisi Wilayah V KPK, Maruli […]

  • RAPOR HITAM BUAT BUPATI HALMAHERA SELATAN

    RAPOR HITAM BUAT BUPATI HALMAHERA SELATAN

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • 0Komentar

    (Logika Sesat Penghapus Beasiswa kuliah untuk Mahasiswa Halsel di luar daerah) Kebijakan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan yang meniadakan program beasiswa bagi mahasiswa luar daerah pada tahun anggaran 2026 adalah sebuah ironi besar dan langkah mundur dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM). Dalih tekanan fiskal dan keterlambatan penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) pusat tidak boleh menjadi […]

  • Menyelamatkan Ternate dari Sesaknya Sampah

    Menyelamatkan Ternate dari Sesaknya Sampah

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • 0Komentar

    Pagi di Ternate selalu punya cara membuat orang jatuh cinta: laut yang biru, Gamalama yang berdiri gagah, aroma ikan bakar, dan percakapan hangat di pasar. Tetapi di balik keindahan itu, ada persoalan yang pelan-pelan menumpuk, berbau, dan mengancam masa depan kota pulau ini: sampah. Ternate bukan kota dengan daratan luas yang bisa terus-menerus “menyembunyikan” sampah […]

  • Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Ditahan Terkait Korupsi Istana Daerah Rp17,5 Miliar

    Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Ditahan Terkait Korupsi Istana Daerah Rp17,5 Miliar

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Linidaily.id Komitmen Kejaksaan Tinggi Maluku Utara dalam menindak tegas kasus korupsi kembali dibuktikan. Hari ini, Jumat (26/6/2026), Aliong Mus yang menjabat Bupati Pulau Taliabu selama dua periode resmi ditetapkan sebagai tersangka sekaligus ditahan terkait dugaan penyimpangan proyek pembangunan Istana Daerah senilai Rp17,5 miliar. Anggaran proyek tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah […]

  • Dugaan Korupsi Perjadin Rp26,3 Miliar, Polda Mulai “Koro”  Satu Persatu

    Dugaan Korupsi Perjadin Rp26,3 Miliar, Polda Mulai “Koro” Satu Persatu

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • 0Komentar

    Ternate, Linidaily.id Subdit III Tipidkor Ditreskrimsus Polda Maluku Utara resmi memulai tahap pemanggilan dan klarifikasi terkait dugaan korupsi anggaran perjalanan dinas Sekretariat DPRD Kota Ternate senilai Rp26.396.446.700 dari APBD 2024–2025. Langkah ini menandai penyelidikan memasuki fase pengumpulan keterangan langsung dari pihak-pihak terkait. Pada Senin (10/8/2026), sekitar pukul 14.55 WIT, dua penyidik mendatangi Kantor DPRD Kota […]

expand_less