Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

Menyelamatkan Ternate dari Sesaknya Sampah

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
  • visibility 196
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pagi di Ternate selalu punya cara membuat orang jatuh cinta: laut yang biru, Gamalama yang berdiri gagah, aroma ikan bakar, dan percakapan hangat di pasar. Tetapi di balik keindahan itu, ada persoalan yang pelan-pelan menumpuk, berbau, dan mengancam masa depan kota pulau ini: sampah.

Ternate bukan kota dengan daratan luas yang bisa terus-menerus “menyembunyikan” sampah di tempat pembuangan akhir. Sebagai kota pulau, setiap jengkal tanah adalah ruang hidup. Karena itu, pola lama pengelolaan sampah—kumpul, angkut, buang—sudah tidak layak dipertahankan. Pola ini bukan hanya usang, tetapi berbahaya. Ia membuat kita merasa seolah masalah selesai ketika sampah hilang dari depan rumah, padahal sebenarnya hanya berpindah tempat: ke TPA, ke selokan, ke pesisir, lalu ke laut.

Kritik paling mendasar harus diarahkan pada ketergantungan kita terhadap TPA. Selama TPA dianggap sebagai solusi akhir, masyarakat tidak didorong untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Pemerintah pun cenderung sibuk mengurus hilir, bukan membenahi hulu. Padahal, bagi Ternate, TPA yang terus meluas berarti ancaman langsung terhadap kesehatan, ruang hidup, dan kualitas lingkungan. Sampah organik yang membusuk menghasilkan metana, gas rumah kaca yang memperparah krisis iklim. Sampah plastik yang tercecer bisa berakhir di laut, merusak ekosistem yang selama ini menjadi penyangga pangan, ekonomi, dan pariwisata warga.

Di titik inilah ekonomi sirkular dengan prinsip 5R—Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, Recycle—menjadi mendesak. Bukan sekadar jargon seminar atau poster kampanye, 5R harus menjadi cara baru warga Ternate memperlakukan barang, konsumsi, dan limbah.

Langkah pertama adalah refuse, berani menolak. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya paling politis. Menolak kantong plastik sekali pakai, sedotan plastik, kemasan berlebihan, dan budaya konsumsi instan adalah bentuk perlawanan warga terhadap sistem yang membuat sampah menjadi tanggung jawab konsumen semata. Toko, restoran, pelaku usaha, dan produsen juga harus ikut bertanggung jawab. Tidak adil jika warga diminta memilah sampah, sementara produk sekali pakai terus membanjiri pasar tanpa kendali.

Berikutnya, reduce atau mengurangi. Masyarakat perlu mulai bertanya sebelum membeli: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah ada pilihan yang lebih tahan lama? Di tingkat rumah tangga, pengurangan sampah bisa dimulai dari membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja ulang pakai, membeli seperlunya, serta mengurangi makanan terbuang. Perubahan kecil ini, jika dilakukan bersama, dapat mengurangi tekanan besar pada TPA.

Prinsip reuse dan repurpose membuka ruang yang lebih kreatif. Barang yang dianggap tidak berguna bisa dipakai kembali atau dialihfungsikan. Botol kaca menjadi wadah bumbu, kain bekas menjadi tas, kayu sisa menjadi perabot sederhana. Di tangan komunitas kreatif, sampah bisa naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi. Di sinilah peluang lapangan kerja hijau terbuka, terutama bagi perempuan, anak muda, dan pelaku UMKM lokal. Ekonomi sirkular bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga bisa menghidupkan dapur keluarga.

Namun kita tidak boleh romantis. Recycle atau daur ulang di kota pulau seperti Ternate menghadapi tantangan serius. Biaya logistik mahal, fasilitas terbatas, dan pasar daur ulang belum kuat. Karena itu, pemerintah daerah tidak bisa hanya mengimbau masyarakat. Harus ada kebijakan nyata: memperkuat bank sampah, menyediakan fasilitas pemilahan di tingkat kelurahan, memberi insentif bagi usaha daur ulang, membatasi plastik sekali pakai, serta memberi sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Tanpa keberanian regulasi, 5R hanya akan menjadi slogan manis di spanduk.

Media, sekolah, kampus, komunitas agama, dan tokoh masyarakat juga punya peran penting. Kesadaran tidak lahir dari ceramah sesekali, tetapi dari pendidikan yang konsisten dan contoh yang terlihat. Anak-anak Ternate perlu tumbuh dengan kebiasaan memilah sampah, mencintai laut, dan memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga rumah sendiri.

Jika sampah gagal dikelola, masa depan Ternate bisa muram: TPA penuh, banjir makin sering, penyakit meningkat, laut tercemar, ikan terkontaminasi plastik, dan pariwisata kehilangan daya tarik. Kota yang indah bisa berubah menjadi kota yang sesak oleh limbahnya sendiri.

Ternate masih punya kesempatan. Tetapi kesempatan itu tidak akan menunggu selamanya. Menyelamatkan Ternate harus dimulai dari keberanian mengubah cara hidup, cara berbisnis, dan cara pemerintah membuat kebijakan. 5R bukan sekadar program lingkungan; ia adalah napas baru pembangunan kota pulau.

Sebab mencintai Ternate tidak cukup dengan mengagumi mataharinya. Kita juga harus berani menjaga tanah, laut, dan masa depannya dari sampah yang kita hasilkan sendiri.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dialog Publik: Perempuan dan Krisis Ekologis Kepulauan

    Dialog Publik: Perempuan dan Krisis Ekologis Kepulauan

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • 0Komentar

    Krisis ekologis di wilayah kepulauan kini tidak lagi sekadar dipahami sebagai isu kerusakan lingkungan, melainkan telah menjadi tantangan serius yang berdampak langsung pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Di tengah situasi ini, perspektif perempuan dinilai sangat penting untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu […]

  • Policy Network David Viney dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

    Policy Network David Viney dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto saat masa kampanye telah menyita perhatian publik dan memicu berbagai kontroversi. Di satu sisi, program ini diapresiasi di sejumlah daerah karena dianggap solutif; di sisi lain, muncul keluhan terkait insiden keracunan makanan dan dugaan pemborosan anggaran negara. Latar belakang utama program ini berangkat dari […]

  • Jual Beli IUP ; LKBHMI Cabang Ternate Desak Aparat Usut Dugaan Korupsi hingga Tuntas

    Jual Beli IUP ; LKBHMI Cabang Ternate Desak Aparat Usut Dugaan Korupsi hingga Tuntas

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id– Dugaan praktik jual beli Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kabupaten Halmahera Timur kembali menjadi sorotan publik. Kasus yang disebut melibatkan sejumlah pejabat daerah tersebut dinilai tidak sekadar persoalan administrasi perizinan, melainkan berpotensi mengarah pada tindak pidana korupsi yang merugikan negara dan masyarakat. Direktur Bidang Kajian dan Riset Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum HMI (LKBHMI) […]

  • Pengamat Hukum UMMU Soroti Polda Maluku Utara dalam Penyelesaian Perkara Melalui Restorative Justice

    Pengamat Hukum UMMU Soroti Polda Maluku Utara dalam Penyelesaian Perkara Melalui Restorative Justice

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    Komitmen Polda Maluku Utara menghadirkan penegakan hukum yang humanis, berkeadilan, dan mengedepankan penyelesaian perkara melalui pendekatan Restorative Justice (RJ) guna menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di tengah masyarakat, Jumat, (29/5) mendapat sorotan dari Dr. Azis Halim, SH, MH, Pengamat Hukum dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Menurut Azis, pemberlakuan RJ, dalam kasus pidana tidal […]

  • AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • 0Komentar

    Ratusan Warga Banemo melakukan unjuk rasa dan aksi blokade akses jalan Trans Halmahera ruas Jalur Desa Remdi, Rabu, 20 Mei 2026. Aksi blokade ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas Warga Banemo Melawan, kepada pemerintah dan kepolisian, menyusul ditemukannya ranjau di perkebunan serta kasus pembunuhan Ustadz Ali Abas yang hingga kini belum ada titik terang. Tensi aksi […]

  • Nobar Pesta Babi : Yang Membubarkan dan Yang Membolehkan

    Nobar Pesta Babi : Yang Membubarkan dan Yang Membolehkan

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • 0Komentar

    Film dokumenter Pesta Babi karya Dandy Laksono menjadi polemik dan menjadi perhatian Masyarakat luas. Acara nonton bareng (Nobar)nya banyak dibubarkan. Apakah karena Isi Film memuat kehidupan adat Papua yang terampas? Ataukah ada alasan lain sehingga dibubarkan? Film documenter hasil keroyokan Watchdoc, Media Jubi, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat, LBH Papua Merauke dan Ekspedisi Indonesia Baru […]

expand_less