Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

BUDAYA REMPAH

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 343
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“…Rempah bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kehidupan itu sendiri…”

Rempah, bukan sekadar bumbu dapur semata. Sejarah masyarakat kepulauan di Indonesia mencatat, rempah merupakan identitas kebudayaan, sumber pengetahuan lokal, simbol spiritualitas, hingga penyangga ekonomi keluarga.

Pada wilayah Timur Indonesia, terutama Maluku Utara, pala, cengkih, dan berbagai tanaman aromatik lainnya telah membentuk cara hidup masyarakat selama berabad-abad.

Mulai dari dapur rumah tangga hingga ritual adat/tradisi, rempah hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang sarat makna sosial dan budaya.

Sejarah dunia bahkan, pernah berubah karena rempah. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Maluku/Maluku Utara, tidak dapat dilepaskan dari pencarian cengkih dan pala, yang masa itu, bernilai sangat tinggi di pasar internasional.

Bagi masyarakat Maluku/Maluku Utara, rempah bukan hanya komoditas ekonomi. Rempah merupakan warisan leluhur yang menyatu dengan tanah, laut, dan kehidupan sosial masyarakat Maluku/Maluku Utara. Budaya rempah juga dapat dipahami sebagai keseluruhan nilai, praktik, pengetahuan, dan relasi sosial yang tumbuh di sekitar produksi dan penggunaan rempah.

Pada kehidupan sosial masyarakat Maluku/Maluku Utara sehari-hari, rempah pertama-tama memiliki nilai kesehatan. Sejak lama masyarakat Maluku Utara, telah menggunakan rempah sebagai bagian dari pengobatan tradisional (rorano).

Jahe (goraka), misalnya, digunakan untuk menghangatkan tubuh, kunyit dipercaya membantu penyembuhan luka dan menjaga daya tahan tubuh, sementara cengkih dipakai untuk mengurangi sakit gigi dan batuk. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan dan praktik keluarga.

Di banyak rumah tangga, terutama di desa-desa, ramuan rempah masih menjadi pilihan pertama sebelum masyarakat mengakses layanan medis modern.

Kebudayaan, sebagaimana tafsir yang didefinisikan para ahli, mencakup sistem pengetahuan yang diwariskan dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengetahuan tentang rempah merupakan bagian penting dari kebudayaan lokal yang membentuk cara masyarakat memahami kesehatan, alam, dan tubuh manusia.

Tradisi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kearifan ekologis yang relevan dengan kehidupan berkelanjutan.
Selain nilai kesehatan, rempah juga mengandung nilai sosial.

Pada budaya masyarakat Indonesia, makanan merupakan media membangun hubungan sosial. Rempah menjadi unsur penting yang menciptakan cita rasa khas dalam berbagai hidangan tradisional.

Aroma cengkih dalam masakan, pedasnya pala, atau harum serai dan cengkih bukan sekadar rasa, melainkan simbol kebersamaan.

Setiap acara keluarga, pesta, atau perayaan keagamaan, makanan berbasis rempah menjadi sarana mempererat solidaritas sosial.

Tradisi dengan memasak ikan kuah kuning, gohu ikan, atau berbagai olahan rempah lainnya memperlihatkan hubungan erat antara laut, tanah, dan kebudayaan.

Rempah esensinya menjadi penghubung antara hasil alam dan identitas sosial masyarakat. Clifford Geertz (1973) menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna yang diproduksi manusia dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, rempah tidak hanya berfungsi sebagai benda material, tetapi juga memiliki makna simbolik yang membentuk identitas komunitas.

Nilai lain dari budaya rempah adalah spiritualitas. Banyak tradisi lokal, rempah digunakan dalam ritual adat dan praktik keagamaan. Asap cengkih atau kemenyan acap dipakai dalam upacara tertentu sebagai simbol penyucian dan penghormatan kepada leluhur.

Pada beberapa daerah, rempah juga menjadi bagian dari prosesi pernikahan, kelahiran, dan ritual syukuran panen. Hal ini menunjukkan, hubungan manusia dengan rempah tidak bersifat ekonomis semata, tetapi juga spiritual dan kosmologis.

Pada sisi lain, budaya rempah juga mengandung nilai ekologis.

Masyarakat tradisional memahami bahwa rempah tumbuh dalam hubungan harmonis dengan lingkungan. Pohon pala dan cengkih tidak hanya dipandang sebagai tanaman produksi, tetapi juga bagian dari keseimbangan ekosistem.

Sistem pertanian campuran yang memadukan rempah dengan tanaman lain memperlihatkan praktik pertanian berkelanjutan yang menjaga kesuburan tanah dan keberagaman hayati.
Sayangnya, dalam era kapitalisme modern, rempah acap direduksi hanya sebagai komoditas pasar.

Perkebunan skala besar dan orientasi ekspor kadang mengabaikan dimensi budaya dan ekologis rempah. Padahal, budaya rempah sesungguhnya mengajarkan nilai kesederhanaan, keberlanjutan, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tentang hal ini, Vandana Shiva (2008) menegaskan, dominasi ekonomi global kerap mengancam pengetahuan lokal dan keberagaman hayati.

Untuk konteks rempah, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga tradisi lokal di tengah tekanan industri dan pasar global.

Generasi muda memiliki peran penting dalam merawat budaya rempah. Upaya memperkenalkan kembali makanan tradisional, minuman herbal, hingga festival rempah dapat menjadi strategi kebudayaan yang memperkuat identitas lokal.

Sisi lain, pengembangan ekonomi kreatif berbasis rempah juga dapat membuka peluang baru bagi masyarakat. Produk seperti minyak cengkih/pala, minuman herbal, kuliner tradisional, dan wisata budaya rempah dapat menjadi bagian dari pembangunan ekonomi yang tetap menghargai nilai-nilai lokal.

Budaya rempah pada akhirnya mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya soal produksi dan konsumsi, tetapi juga tentang relasi sosial, penghormatan terhadap alam, dan pewarisan pengetahuan antargenerasi.

Aroma rempah yang hadir di dapur rumah tangga sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang peradaban manusia, perjuangan masyarakat di pulau-pulau, dan identitas budaya Nusantara.

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan instan, budaya rempah mengingatkan manusia untuk kembali menghargai akar tradisi dan kearifan lokal.

Rempah bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kehidupan itu sendiri: hangat, menyatu, dan penuh makna sosial.
Sudahkah rempah menjadi bagian dari budaya kita di Kota Rempah ini? Wallahu’alam.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wali Kota Tidore Tegas: Tidak Akan Biarkan PPPK dan Pegawai Paruh Waktu Dirumahkan

    Wali Kota Tidore Tegas: Tidak Akan Biarkan PPPK dan Pegawai Paruh Waktu Dirumahkan

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • 0Komentar

    TIDORE, Linidaily.id Di tengah tekanan berat kondisi keuangan daerah akibat pemangkasan dana transfer pusat, Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen secara tegas menyatakan akan membela dan menjamin keberlanjutan kerja seluruh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) serta pegawai paruh waktu di lingkungan pemerintah daerah. Ia menegaskan menolak keras langkah merumahkan atau memutus hubungan kerja mereka […]

  • Hendra Karianga Desak Kejari Halsel Audit Dana Hibah Pilkada Rp52,6 Miliar

    Hendra Karianga Desak Kejari Halsel Audit Dana Hibah Pilkada Rp52,6 Miliar

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • 0Komentar

    Penggunaan dana hibah Pilkada 2024 yang disalurkan kepada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Halmahera Selatan senilai Rp52,6 miliar diminta diperiksa secara menyeluruh. Desakan itu disampaikan praktisi hukum Hendra Karianga kepada Kejaksaan Negeri Halmahera Selatan. Hendra menilai nominal anggaran tersebut cukup besar sehingga pengelolaannya harus dapat diuji secara terbuka. Menurut dia, masyarakat berhak mengetahui apakah dana hibah […]

  • MENGENAL ORANG PAPUA

    MENGENAL ORANG PAPUA

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • 0Komentar

    Satu lagi buku tentang Papua yang kali ini diterbitkan oleh penerbit bonafit IRCiSod, Yogyakarta, Juli 2026.Buku ini pertama kali terbit tahun 1853. George Windsor Earl yang meniliti Papua sejak tahun 1845 berfokus pada etnografi. Karya tulisnya tentang jenis-jenis ras itu ditulis pada tahun 1845, didorong dan diedit oleh James Richardson Logan dan diterbitkan dalam Journal […]

  • Kolam Air Mancur di Landmark Ternate Ditimbun Sementara: Alasan Keamanan dan Persiapan JKPI

    Kolam Air Mancur di Landmark Ternate Ditimbun Sementara: Alasan Keamanan dan Persiapan JKPI

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE -LiniDaily.id. Pemerintah Kota Ternate mulai menimbun kolam air mancur yang berada di kawasan Landmark. Langkah ini diambil mengingat fasilitas tersebut sudah lama tidak berfungsi. Sekretaris Daerah Kota Ternate menyampaikan bahwa penimbunan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum atas arahan Wali Kota. Keputusan ini diambil saat meninjau lokasi yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai salah satu tempat […]

  • Pimpred Media Lokal di Malut Diduga Perkosa Mahasiswi, KOPRI Mengawal Sampai Tuntas

    Pimpred Media Lokal di Malut Diduga Perkosa Mahasiswi, KOPRI Mengawal Sampai Tuntas

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • 0Komentar

    Seorang mahasiswa yang juga menjabat sebagai pimpinan redaksi media lokal di Maluku Utara diduga telah melakukan tindakan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi. Kasus ini kini mendapat sorotan serius dari Korps Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KOPRI PKC PMII) Maluku Utara. KOPRI menegaskan akan mengawal kasus tersebut hingga tuntas, sekaligus memastikan korban memperoleh keadilan dan […]

  • Gerakan Pemuda Marhaenis Malut Aksi di KPK: Sekda Haltim Diduga Terlibat Tambang Nikel Ilegal, Ada Bukti Rekaman dan Foto Transaksi

    Gerakan Pemuda Marhaenis Malut Aksi di KPK: Sekda Haltim Diduga Terlibat Tambang Nikel Ilegal, Ada Bukti Rekaman dan Foto Transaksi

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA, Linidaily id, Gerakan Pemuda Marhaenis Provinsi Maluku Utara (GPM Malut) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Jalan Persada Kuningan, Kelurahan Guntur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Senin, 3 Agustus 2026. Berlangsung pukul 12.35 hingga 12.55 WIB, aksi yang dipimpin Sartono Halek dengan membawa spanduk, poster, serta alat pengeras suara […]

expand_less