Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

BUDAYA REMPAH

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 281
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“…Rempah bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kehidupan itu sendiri…”

Rempah, bukan sekadar bumbu dapur semata. Sejarah masyarakat kepulauan di Indonesia mencatat, rempah merupakan identitas kebudayaan, sumber pengetahuan lokal, simbol spiritualitas, hingga penyangga ekonomi keluarga.

Pada wilayah Timur Indonesia, terutama Maluku Utara, pala, cengkih, dan berbagai tanaman aromatik lainnya telah membentuk cara hidup masyarakat selama berabad-abad.

Mulai dari dapur rumah tangga hingga ritual adat/tradisi, rempah hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang sarat makna sosial dan budaya.

Sejarah dunia bahkan, pernah berubah karena rempah. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Maluku/Maluku Utara, tidak dapat dilepaskan dari pencarian cengkih dan pala, yang masa itu, bernilai sangat tinggi di pasar internasional.

Bagi masyarakat Maluku/Maluku Utara, rempah bukan hanya komoditas ekonomi. Rempah merupakan warisan leluhur yang menyatu dengan tanah, laut, dan kehidupan sosial masyarakat Maluku/Maluku Utara. Budaya rempah juga dapat dipahami sebagai keseluruhan nilai, praktik, pengetahuan, dan relasi sosial yang tumbuh di sekitar produksi dan penggunaan rempah.

Pada kehidupan sosial masyarakat Maluku/Maluku Utara sehari-hari, rempah pertama-tama memiliki nilai kesehatan. Sejak lama masyarakat Maluku Utara, telah menggunakan rempah sebagai bagian dari pengobatan tradisional (rorano).

Jahe (goraka), misalnya, digunakan untuk menghangatkan tubuh, kunyit dipercaya membantu penyembuhan luka dan menjaga daya tahan tubuh, sementara cengkih dipakai untuk mengurangi sakit gigi dan batuk. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan dan praktik keluarga.

Di banyak rumah tangga, terutama di desa-desa, ramuan rempah masih menjadi pilihan pertama sebelum masyarakat mengakses layanan medis modern.

Kebudayaan, sebagaimana tafsir yang didefinisikan para ahli, mencakup sistem pengetahuan yang diwariskan dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengetahuan tentang rempah merupakan bagian penting dari kebudayaan lokal yang membentuk cara masyarakat memahami kesehatan, alam, dan tubuh manusia.

Tradisi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kearifan ekologis yang relevan dengan kehidupan berkelanjutan.
Selain nilai kesehatan, rempah juga mengandung nilai sosial.

Pada budaya masyarakat Indonesia, makanan merupakan media membangun hubungan sosial. Rempah menjadi unsur penting yang menciptakan cita rasa khas dalam berbagai hidangan tradisional.

Aroma cengkih dalam masakan, pedasnya pala, atau harum serai dan cengkih bukan sekadar rasa, melainkan simbol kebersamaan.

Setiap acara keluarga, pesta, atau perayaan keagamaan, makanan berbasis rempah menjadi sarana mempererat solidaritas sosial.

Tradisi dengan memasak ikan kuah kuning, gohu ikan, atau berbagai olahan rempah lainnya memperlihatkan hubungan erat antara laut, tanah, dan kebudayaan.

Rempah esensinya menjadi penghubung antara hasil alam dan identitas sosial masyarakat. Clifford Geertz (1973) menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna yang diproduksi manusia dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, rempah tidak hanya berfungsi sebagai benda material, tetapi juga memiliki makna simbolik yang membentuk identitas komunitas.

Nilai lain dari budaya rempah adalah spiritualitas. Banyak tradisi lokal, rempah digunakan dalam ritual adat dan praktik keagamaan. Asap cengkih atau kemenyan acap dipakai dalam upacara tertentu sebagai simbol penyucian dan penghormatan kepada leluhur.

Pada beberapa daerah, rempah juga menjadi bagian dari prosesi pernikahan, kelahiran, dan ritual syukuran panen. Hal ini menunjukkan, hubungan manusia dengan rempah tidak bersifat ekonomis semata, tetapi juga spiritual dan kosmologis.

Pada sisi lain, budaya rempah juga mengandung nilai ekologis.

Masyarakat tradisional memahami bahwa rempah tumbuh dalam hubungan harmonis dengan lingkungan. Pohon pala dan cengkih tidak hanya dipandang sebagai tanaman produksi, tetapi juga bagian dari keseimbangan ekosistem.

Sistem pertanian campuran yang memadukan rempah dengan tanaman lain memperlihatkan praktik pertanian berkelanjutan yang menjaga kesuburan tanah dan keberagaman hayati.
Sayangnya, dalam era kapitalisme modern, rempah acap direduksi hanya sebagai komoditas pasar.

Perkebunan skala besar dan orientasi ekspor kadang mengabaikan dimensi budaya dan ekologis rempah. Padahal, budaya rempah sesungguhnya mengajarkan nilai kesederhanaan, keberlanjutan, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tentang hal ini, Vandana Shiva (2008) menegaskan, dominasi ekonomi global kerap mengancam pengetahuan lokal dan keberagaman hayati.

Untuk konteks rempah, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga tradisi lokal di tengah tekanan industri dan pasar global.

Generasi muda memiliki peran penting dalam merawat budaya rempah. Upaya memperkenalkan kembali makanan tradisional, minuman herbal, hingga festival rempah dapat menjadi strategi kebudayaan yang memperkuat identitas lokal.

Sisi lain, pengembangan ekonomi kreatif berbasis rempah juga dapat membuka peluang baru bagi masyarakat. Produk seperti minyak cengkih/pala, minuman herbal, kuliner tradisional, dan wisata budaya rempah dapat menjadi bagian dari pembangunan ekonomi yang tetap menghargai nilai-nilai lokal.

Budaya rempah pada akhirnya mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya soal produksi dan konsumsi, tetapi juga tentang relasi sosial, penghormatan terhadap alam, dan pewarisan pengetahuan antargenerasi.

Aroma rempah yang hadir di dapur rumah tangga sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang peradaban manusia, perjuangan masyarakat di pulau-pulau, dan identitas budaya Nusantara.

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan instan, budaya rempah mengingatkan manusia untuk kembali menghargai akar tradisi dan kearifan lokal.

Rempah bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kehidupan itu sendiri: hangat, menyatu, dan penuh makna sosial.
Sudahkah rempah menjadi bagian dari budaya kita di Kota Rempah ini? Wallahu’alam.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP-UMMU, Rasid Pora, S.IP,M.IP

    Akreditasi Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP UMMU Naik Level

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • 0Komentar

    Kabar gembira bagi calon mahasiswa baru yang akan memilih untuk kuliah. Karena saat ini program studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara memperoleh akreditasi “Baik Sekali” setelah divisitasi dua asesor pada 13-14 Mei 2026. Dua asesor yang melakukan visitasi adalah Dr. Suranto yang juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogjakarta, […]

  • Perkuat Kapasitas Kader, Ketum Cabang HMI Ternate Lantik Pengurus Lembaga Profesi

    Perkuat Kapasitas Kader, Ketum Cabang HMI Ternate Lantik Pengurus Lembaga Profesi

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, Linidaily.id – Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate dan jajaran pengurus lembaga profesi resmi dilantik Ketua Umum HMI Cabang Ternate. Acara pelantikan akbar ini berlangsung di Gedung Sekretariat KAHMI Kota Ternate pada Jumat (12/6/2026) malam. Mengusung tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Perjuangan HMI Melalui Penguatan Lembaga Profesi”, kegiatan ini bertujuan untuk mengonsolidasi […]

  • Viral Lagu ‘My Little Bolu Ketan’ untuk Bahlil Lahadalia, Golkar: Lucu, Menghibur, dan Bentuk Apresiasi

    Viral Lagu ‘My Little Bolu Ketan’ untuk Bahlil Lahadalia, Golkar: Lucu, Menghibur, dan Bentuk Apresiasi

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id– Jagat media sosial belakangan ini dihebohkan dengan viralnya sebuah lagu unik yang berisi rangkaian pujian khusus untuk Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Lagu yang menyita perhatian warganet di Instagram hingga TikTok itu diberi judul ‘My Little Bolu Ketan’. Lagu tersebut memiliki lirik yang cukup menggelitik […]

  • 60 Hari Menanti Keadilan: Pembunuhan Ali Daud Belum Terpecahkan

    60 Hari Menanti Keadilan: Pembunuhan Ali Daud Belum Terpecahkan

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Genap sudah 60 hari atau dua bulan berlalu sejak ditemukannya jasad Ali Daud (63 tahun), mantan Kepala Desa Bobane Jaya sekaligus tokoh agama yang sangat disegani masyarakat. Namun hingga hari ini, aparat keamanan belum juga mampu mengungkap siapa pelaku serta apa motif di balik pembunuhan keji tersebut. Lambatnya penanganan dan ketiadaan kejelasan informasi […]

  • PHK Massal Weda Bay Nickel Ancam Ribuan Pekerja, DPRD Malut Minta Pemprov Segera Cari Solusi

    PHK Massal Weda Bay Nickel Ancam Ribuan Pekerja, DPRD Malut Minta Pemprov Segera Cari Solusi

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang akan dilakukan PT Weda Bay Nickel (WBN) akibat pemangkasan kuota produksi nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 menuai sorotan serius dari DPRD Provinsi Maluku Utara (Malut). Kebijakan pengurangan kuota produksi nasional yang ditetapkan pemerintah pusat diperkirakan berdampak terhadap sekitar 10 ribu tenaga kerja […]

  • KURIKULUM REMPAH

    KURIKULUM REMPAH

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • 0Komentar

    Wilayah-wilayah penghasil rempah di Indonesia, terutama di kawasan timur (seperti Maluku dan Maluku Utara), memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dunia. Cengkih, dan pala, serta berbagai tanaman aromatik lainnya, bukanlah sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Ironisnya, banyak siswa SD, SMP, dan SMA yang hidup di wilayah rempah justru kurang memahami sejarah, […]

expand_less