Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

BUDAYA REMPAH

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • visibility 383
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“…Rempah bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kehidupan itu sendiri…”

Rempah, bukan sekadar bumbu dapur semata. Sejarah masyarakat kepulauan di Indonesia mencatat, rempah merupakan identitas kebudayaan, sumber pengetahuan lokal, simbol spiritualitas, hingga penyangga ekonomi keluarga.

Pada wilayah Timur Indonesia, terutama Maluku Utara, pala, cengkih, dan berbagai tanaman aromatik lainnya telah membentuk cara hidup masyarakat selama berabad-abad.

Mulai dari dapur rumah tangga hingga ritual adat/tradisi, rempah hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang sarat makna sosial dan budaya.

Sejarah dunia bahkan, pernah berubah karena rempah. Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Maluku/Maluku Utara, tidak dapat dilepaskan dari pencarian cengkih dan pala, yang masa itu, bernilai sangat tinggi di pasar internasional.

Bagi masyarakat Maluku/Maluku Utara, rempah bukan hanya komoditas ekonomi. Rempah merupakan warisan leluhur yang menyatu dengan tanah, laut, dan kehidupan sosial masyarakat Maluku/Maluku Utara. Budaya rempah juga dapat dipahami sebagai keseluruhan nilai, praktik, pengetahuan, dan relasi sosial yang tumbuh di sekitar produksi dan penggunaan rempah.

Pada kehidupan sosial masyarakat Maluku/Maluku Utara sehari-hari, rempah pertama-tama memiliki nilai kesehatan. Sejak lama masyarakat Maluku Utara, telah menggunakan rempah sebagai bagian dari pengobatan tradisional (rorano).

Jahe (goraka), misalnya, digunakan untuk menghangatkan tubuh, kunyit dipercaya membantu penyembuhan luka dan menjaga daya tahan tubuh, sementara cengkih dipakai untuk mengurangi sakit gigi dan batuk. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan dan praktik keluarga.

Di banyak rumah tangga, terutama di desa-desa, ramuan rempah masih menjadi pilihan pertama sebelum masyarakat mengakses layanan medis modern.

Kebudayaan, sebagaimana tafsir yang didefinisikan para ahli, mencakup sistem pengetahuan yang diwariskan dalam kehidupan sosial masyarakat. Pengetahuan tentang rempah merupakan bagian penting dari kebudayaan lokal yang membentuk cara masyarakat memahami kesehatan, alam, dan tubuh manusia.

Tradisi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kearifan ekologis yang relevan dengan kehidupan berkelanjutan.
Selain nilai kesehatan, rempah juga mengandung nilai sosial.

Pada budaya masyarakat Indonesia, makanan merupakan media membangun hubungan sosial. Rempah menjadi unsur penting yang menciptakan cita rasa khas dalam berbagai hidangan tradisional.

Aroma cengkih dalam masakan, pedasnya pala, atau harum serai dan cengkih bukan sekadar rasa, melainkan simbol kebersamaan.

Setiap acara keluarga, pesta, atau perayaan keagamaan, makanan berbasis rempah menjadi sarana mempererat solidaritas sosial.

Tradisi dengan memasak ikan kuah kuning, gohu ikan, atau berbagai olahan rempah lainnya memperlihatkan hubungan erat antara laut, tanah, dan kebudayaan.

Rempah esensinya menjadi penghubung antara hasil alam dan identitas sosial masyarakat. Clifford Geertz (1973) menyebut kebudayaan sebagai jaringan makna yang diproduksi manusia dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, rempah tidak hanya berfungsi sebagai benda material, tetapi juga memiliki makna simbolik yang membentuk identitas komunitas.

Nilai lain dari budaya rempah adalah spiritualitas. Banyak tradisi lokal, rempah digunakan dalam ritual adat dan praktik keagamaan. Asap cengkih atau kemenyan acap dipakai dalam upacara tertentu sebagai simbol penyucian dan penghormatan kepada leluhur.

Pada beberapa daerah, rempah juga menjadi bagian dari prosesi pernikahan, kelahiran, dan ritual syukuran panen. Hal ini menunjukkan, hubungan manusia dengan rempah tidak bersifat ekonomis semata, tetapi juga spiritual dan kosmologis.

Pada sisi lain, budaya rempah juga mengandung nilai ekologis.

Masyarakat tradisional memahami bahwa rempah tumbuh dalam hubungan harmonis dengan lingkungan. Pohon pala dan cengkih tidak hanya dipandang sebagai tanaman produksi, tetapi juga bagian dari keseimbangan ekosistem.

Sistem pertanian campuran yang memadukan rempah dengan tanaman lain memperlihatkan praktik pertanian berkelanjutan yang menjaga kesuburan tanah dan keberagaman hayati.
Sayangnya, dalam era kapitalisme modern, rempah acap direduksi hanya sebagai komoditas pasar.

Perkebunan skala besar dan orientasi ekspor kadang mengabaikan dimensi budaya dan ekologis rempah. Padahal, budaya rempah sesungguhnya mengajarkan nilai kesederhanaan, keberlanjutan, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tentang hal ini, Vandana Shiva (2008) menegaskan, dominasi ekonomi global kerap mengancam pengetahuan lokal dan keberagaman hayati.

Untuk konteks rempah, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjaga tradisi lokal di tengah tekanan industri dan pasar global.

Generasi muda memiliki peran penting dalam merawat budaya rempah. Upaya memperkenalkan kembali makanan tradisional, minuman herbal, hingga festival rempah dapat menjadi strategi kebudayaan yang memperkuat identitas lokal.

Sisi lain, pengembangan ekonomi kreatif berbasis rempah juga dapat membuka peluang baru bagi masyarakat. Produk seperti minyak cengkih/pala, minuman herbal, kuliner tradisional, dan wisata budaya rempah dapat menjadi bagian dari pembangunan ekonomi yang tetap menghargai nilai-nilai lokal.

Budaya rempah pada akhirnya mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya soal produksi dan konsumsi, tetapi juga tentang relasi sosial, penghormatan terhadap alam, dan pewarisan pengetahuan antargenerasi.

Aroma rempah yang hadir di dapur rumah tangga sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang peradaban manusia, perjuangan masyarakat di pulau-pulau, dan identitas budaya Nusantara.

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan instan, budaya rempah mengingatkan manusia untuk kembali menghargai akar tradisi dan kearifan lokal.

Rempah bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kehidupan itu sendiri: hangat, menyatu, dan penuh makna sosial.
Sudahkah rempah menjadi bagian dari budaya kita di Kota Rempah ini? Wallahu’alam.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cara Berani Gubernur Sulawesi Tengah, Luncurkan “Berani Cerdas”: Biaya Kuliah Ditanggung Penuh

    Cara Berani Gubernur Sulawesi Tengah, Luncurkan “Berani Cerdas”: Biaya Kuliah Ditanggung Penuh

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • 0Komentar

    PALU — Linidaily.id Tak salah jika wajib memberi apresiasi kepada Gubernur yang satu ini. Dia bukan Gubernur TikTok, dia Gubernur yang sedang bekerja bukan mengharap pujian dan tepuk tangan. Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid membuktikan komitmen nyata membangun sumber daya manusia melalui terobosan besar bernama Program Berani Cerdas. Berbeda dengan program yang sebatas seremonial atau […]

  • BK DPRD Ternate Nyatakan Tuduhan Nurjaya terhadap Anggota Komisi III Tak Terbukti

    BK DPRD Ternate Nyatakan Tuduhan Nurjaya terhadap Anggota Komisi III Tak Terbukti

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
    • 0Komentar

    Badan Kehormatan DPRD Kota Ternate menyatakan anggota DPRD Nurjaya Hi Ibrahim melanggar kode etik setelah dinilai berulang kali menyampaikan tuduhan terhadap anggota Komisi III tanpa dukungan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Putusan tersebut dibacakan Ketua BK DPRD Kota Ternate, Mochtar Bian, di Ruang Sidang BK Lantai II Kantor DPRD Ternate, Jumat (7/8/2026). Pembacaan keputusan dihadiri Wakil […]

  • Dialog Publik: Perempuan dan Krisis Ekologis Kepulauan

    Dialog Publik: Perempuan dan Krisis Ekologis Kepulauan

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • 0Komentar

    Krisis ekologis di wilayah kepulauan kini tidak lagi sekadar dipahami sebagai isu kerusakan lingkungan, melainkan telah menjadi tantangan serius yang berdampak langsung pada aspek sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Di tengah situasi ini, perspektif perempuan dinilai sangat penting untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih inklusif serta berorientasi pada keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu […]

  • Pengamat Hukum UMMU Soroti Polda Maluku Utara dalam Penyelesaian Perkara Melalui Restorative Justice

    Pengamat Hukum UMMU Soroti Polda Maluku Utara dalam Penyelesaian Perkara Melalui Restorative Justice

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    Komitmen Polda Maluku Utara menghadirkan penegakan hukum yang humanis, berkeadilan, dan mengedepankan penyelesaian perkara melalui pendekatan Restorative Justice (RJ) guna menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di tengah masyarakat, Jumat, (29/5) mendapat sorotan dari Dr. Azis Halim, SH, MH, Pengamat Hukum dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Menurut Azis, pemberlakuan RJ, dalam kasus pidana tidal […]

  • Mahasiswa Unkhair Raih Juara 3 KMI Expo XVII 2026 Lewat Inovasi Briket Aromaterapi Limbah Bonggol Pisang

    Mahasiswa Unkhair Raih Juara 3 KMI Expo XVII 2026 Lewat Inovasi Briket Aromaterapi Limbah Bonggol Pisang

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • 0Komentar

    PURWOKERTO, Linidaily.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) Ternate dalam ajang KMI Expo XVII Tahun 2026 yang berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, 29 September–1 Oktober 2026. Tim mahasiswa Unkhair yang mengembangkan Usaha Banabriq (Briket Aromaterapi dari Limbah Pisang) berhasil meraih Juara 3 Usaha Kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan Tahap Awal, […]

  • HMI Cabang Ternate Gelar Rapat Pleno I, Dorong “Konsolidasi HMI Return” untuk Kembalikan Marwah Organisasi

    HMI Cabang Ternate Gelar Rapat Pleno I, Dorong “Konsolidasi HMI Return” untuk Kembalikan Marwah Organisasi

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Linidaily.id Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate menggelar pembukaan Rapat Pleno I pada Senin malam, 10 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi momentum evaluasi internal sekaligus upaya mengembalikan marwah HMI Cabang Ternate secara utuh melalui tema “Konsolidasi HMI Return.” Kegiatan yang berlangsung di Gedung Sekretariat KAHMI Provinsi Maluku Utara, Kota Ternate, itu dimulai sekitar […]

expand_less