Dari Semangkuk Bubur Manado, Lahir Gagasan Besar untuk Pangan Maluku Utara
- account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto Bersama didepan warung bubur manado. Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ternate 18 Juni 2026!. Kamis pagi itu udara Ternate terasa segar. Di sudut warung Bubur Manado yang berdiri tak jauh dari pagar Stadion Gelora Kieraha, enam orang duduk mengelilingi meja kayu sederhana. Uap panas mengepul dari mangkuk-mangkuk bubur yang baru disajikan, sementara percakapan di antara mereka perlahan mengalir, dari basa-basi pagi hari menuju sesuatu yang jauh lebih serius.
Dr. Muhammad Assagaf, Pembina PUKAT Maluku Utara, yang menginisiasi pertemuan itu, membuka obrolan dengan nada santai namun penuh makna. Di seberangnya duduk Manager Bio Konversi yang Biasa Di sapa dengan BU Melly sengaja datang dari Jakarta dalam perjalanan bisnisnya bersama timnya ke Ternate dan Halmahera Selatan, di sampingnya Koordinator World Vision International Maluku Utara yang di kenal dengan sapaan Pak Pur, dan melengkapi lingkaran diskusi itu hadir juga Bu Betty seorang Kandidat Doktor di UNSRAT Manado yang berasal dari Universitas Khairun Ternate yang selama ini mendalami isu pertanian lokal.
Tidak ada agenda formal, tidak ada paparan PowerPoint, tidak ada ruang rapat ber-AC. Hanya semangkuk bubur manado, teh panas, dan keresahan bersama tentang satu pertanyaan besar mengapa Maluku Utara, dengan tanah yang subur dan alam yang melimpah, masih bergulat dengan ketahanan pangan yang rapuh?
Dr. Assagaf memulai. Ia berbicara tentang kondisi produksi pangan di Maluku Utara yang selama bertahun-tahun terjebak dalam pola lama yaitu ketergantungan pada pupuk kimia subsidi yang distribusinya tidak merata, harganya tidak stabil, dan dampak jangka panjangnya mulai menggerogoti kesuburan tanah pertanian di berbagai penjuru provinsi.
Manager Bio Konversi dari Jakarta menyambut keprihatinan itu dengan data dan pengalaman lapangan. Ia menjelaskan bagaimana teknologi bio konversi yaitu proses mengolah bahan organik menjadi pupuk hayati hidup yang kaya mikroba dan telah membuktikan dirinya di berbagai wilayah Indonesia. Produktivitas meningkat, biaya produksi petani menekan hingga separuhnya, dan yang paling penting, tanah kembali hidup. “Maluku Utara punya semua bahan bakunya. Yang belum ada adalah sistemnya,” ujarnya pelan, sambil menyendok bubur.
Koordinator WVI Maluku Utara mengangguk. Dari pengalamannya mendampingi komunitas petani di pelosok Maluku Utara, ia menyaksikan sendiri bagaimana petani sejatinya terbuka pada perubahan, asal mereka melihat buktinya langsung di ladang mereka sendiri. “Petani kita bukan tidak mau berubah. Mereka hanya butuh kepercayaan dulu. Kalau hasilnya nyata, mereka yang akan jadi penggeraknya,” katanya.
Kandidat Doktor dari Unkhair menambahkan dimensi ilmiah yang memperkuat diskusi. Risetnya menunjukkan bahwa sebagian besar tanah pertanian Maluku Utara tengah mengalami penurunan kualitas biologis akibat paparan kimia sintetis bertahun-tahun. Pupuk hayati organik, menurutnya, bukan sekadar solusi alternatif namun ini adalah kebutuhan mendesak yang sudah memiliki landasan penelitian yang kuat.
Satu jam berlalu. Mangkuk-mangkuk kosong, teh sudah habis, namun percakapan belum ingin berhenti. Mereka sepakat bahwa langkah selanjutnya harus lebih dari sekadar diskusi pagi. Kolaborasi nyata antara akademisi, praktisi, lembaga masyarakat, dan para petani harus segera dirajut menjadi gerakan yang terstruktur.
Dr. Assagaf menutup pertemuan itu dengan kalimat yang sederhana namun berat. “Ketahanan pangan Maluku Utara tidak akan datang dari Jakarta. Ia harus tumbuh dari sini, dari tanah kita sendiri, dengan cara kita sendiri.”
Di luar warung, Stadion Gelora Kieraha berdiri kokoh di bawah cahaya pagi. Dan di dalam warung kecil itu, dari percakapan yang lahir tanpa protokol, sebuah tekad bersama telah diam-diam disemai.
- Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Saat ini belum ada komentar