Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

SOSIOLOGI ORANG HALMAHERA

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
  • visibility 156
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“…O’Hongana Manyawa dan O’Berera Manyawa merupakan dua wajah dari peradaban yang menghormati batas-batas ekologis…”

Sosiologi orang Halmahera tidak bisa dilepaskan dari bentang ekologinya, yakni hutan yang lebat dan laut yang luas. Pada lanskap sosial ini, manusia tidak berdiri sebagai pusat yang dominan, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar.

Dua figur sosial yang mencerminkan relasi tersebut, adalah O’Hongana Manyawa, penjaga hutan, dan O’Berera Manyawa, penjaga pesisir. Keduanya merepresentasi- kan dua wajah peradaban Halmahera yang saling melengkapi, sekaligus memperlihatkan bagaimana manusia membangun relasi ekologis yang khas.

O’Hongana Manyawa, yang secara harfiah berarti “orang “penjaga hutan”, merupakan komunitas adat yang hidup secara nomaden di pedalaman Halmahera. Mereka dikenal sebagai pemburu dan peramu yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada hutan.

Berangkat dari perspektif sosiologi, mereka bukan sekadar kelompok masyarakat terasing, melainkan representasi dari masyarakat ekologis. Hutan bagi mereka bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang spiritual dan kosmologis.

Setiap pohon, sungai, dan hewan memiliki makna. Mereka percaya bahwa alam memiliki jiwa, sehingga eksploitasi berlebihan merupakan suatu bentuk pelanggaran moral.

Resistensi

Praktik sosial mereka menabalkan etika ekologis yang kuat. Tatkala berburu, mereka tidak membunuh hewan betina yang sedang hamil, dan tidak merusak hutan secara sembarangan. Mereka berpindah tempat tinggal untuk memberi waktu pada alam memulihkan diri.

Ini merupakan bentuk pengetahuan lokal yang menunjukkan kesadaran keberlanjutan jauh sebelum konsep pembangunan berkelanjutan dikenal secara global.

Struktur sosial O’Hongana Manyawa juga menarik. Mereka tidak mengenal konsep kekuasaan formal seperti kepala suku dalam pengertian modern. Kepemimpinan bersifat kultural melalui figur yang dituakan (dimono), yang dihormati karena pengalaman dan pengetahuan, bukan karena otoritas koersif.

Kini, dunia mereka berada dalam tekanan besar. Ekspansi industri tambang nikel telah menggerus hutan yang menjadi ruang hidup mereka. Akibatnya, mereka kehilangan sumber pangan dan dipaksa beradaptasi dengan sistem ekonomi luar, termasuk ketergantungan pada beras dan barang pasar.

Dengan perspektif sosiologi kritis, konteks ini dapat dibaca sebagai bentuk kolonialisme baru, di mana kapitalisme ekstraktif menggantikan sistem hidup lokal.

Rasionalitas Pesisir dan Laut

Berbeda dengan O’Hongana Manyawa, O’Berera Manyawa, merepresentasikan masyarakat pesisir Halmahera. Mereka hidup di wilayah pantai, bergantung pada laut sebagai sumber kehidupan. Jika hutan menjadi pusat kosmologi O’Hongana, maka laut merupakan ruang sosial bagi O’Berera

Masyarakat pesisir ini memiliki rasionalitas ekologis yang berbeda. Mereka memahami musim, arus laut, dan perilaku ikan. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi dasar dalam praktik ekonomi mereka seperti menangkap ikan, mengelola hasil laut, dan berdagang.

Secara sosiologis, masyarakat pesisir cenderung lebih terbuka terhadap interaksi luar. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis mereka yang menjadi jalur pertemuan berbagai budaya.

Melalui lanskap sejarah Halmahera, wilayah pesisir acap menjadi titik kontak dengan kekuatan luar, baik perdagangan rempah maupun kolonialisme.
Tapi, keterbukaan ini juga membawa konsekuensi.

Modernisasi dan industrialisasi pesisir kerap mengubah pola hidup masyarakat O’Berera. Mereka mulai masuk dalam ekonomi pasar, menghadapi tekanan overfishing, dan berhadapan dengan eksploitasi sumber daya laut oleh perusahaan besar.

Meski demikian, seperti halnya O’Hongana, masyarakat O’Berera juga memiliki etika ekologis. Mereka mengenal batas-batas wilayah tangkap dan memiliki norma adat dalam pemanfaatan laut.

Pada beberapa komunitas, terdapat larangan (sasi) menangkap ikan di wilayah tertentu pada waktu tertentu sebagai bentuk konservasi tradisional.

Relasi antara O’Hongana Manyawa dan O’Berera Manyawa, menunjukkan dialektika antara dua ruang ekologis, yakni hutan dan laut. Keduanya tidak berdiri dalam oposisi binner, tetapi dalam hubungan yang saling melengkapi.

Melalui perspektif sosiologi lingkungan, Halmahera dapat dipahami sebagai ruang di mana manusia hidup dalam keseimbangan dengan alam. Tetapi, keseimbangan ini, kini mulai terganggu dengan masuknya kapitalisme ekstraktif. Industri tambang dan ekspansi ekonomi global telah mengubah relasi manusia dengan alam menjadi relasi eksploitasi.

Apa yang terjadi pada O’Hongana Manyawa merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat adat kehilangan ruang hidupnya akibat industrialisasi.

Sementara itu, masyarakat pesisir seperti O’Berera Manyawa, juga menghadapi tekanan dari ekonomi pasar yang semakin agresif.

Karl Polanyi (1944) dalam The Great Transformation menyebut proses ini sebagai “disembedding”, ketika ekonomi terlepas dari konteks sosial dan ekologisnya.

Dalam konteks Halmahera, kita melihat bagaimana sistem ekonomi modern memutus hubungan manusia dengan alam, menggantinya dengan logika produksi dan akumulasi.

Di sisi lain, perspektif ekologi politik (Robbins, 2012) membantu kita memahami bahwa konflik di Halmahera bukan sekadar konflik lingkungan, tetapi juga konflik kekuasaan. Siapa yang berhak atas hutan? Siapa yang mengontrol laut? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kunci dalam memahami dinamika sosial di wilayah tersebut.

Sosiologi orang Halmahera mengajarkan bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari alam. O’Hongana Manyawa dan O’Berera Manyawa merupakan dua wajah dari peradaban yang menghormati batas-batas ekologis. Tetapi, di tengah arus globalisasi dan kapitalisme ekstraktif, pengetahuan lokal ini berada di ambang krisis.

Apabila hutan hilang, maka hilang pula O’Hongana. Bila laut rusak, maka hilang pula O’ Berera.

Karena itu, tantangan ke depan bukan hanya soal pembangunan ekonomi, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Sosiologi orang Halmahera memberi pelajaran penting bagi kita, bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep, tetapi praktik hidup yang telah lama dijalankan masyarakat adat.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Halmahera Utara Perkuat Komitmen Turunkan Angka Stunting

    Pemkab Halmahera Utara Perkuat Komitmen Turunkan Angka Stunting

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • 0Komentar

    TOBELO – Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara terus menunjukkan keseriusan dan memperkuat komitmennya dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting di wilayahnya. Hal ini ditegaskan dalam Rapat Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Halmahera Utara yang berlangsung di Ruang Meeting Fredy Tjandua, pada Senin (25/5/2026). Rapat koordinasi strategis ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. […]

  • Kantor DPRD Provinsi Maluku Utara, Foto: Istimewa

    Pengamat Hukum; Penetapan Tersangka Dugaan Korupsi Tunjangan DPRD Jangan Cuma Janji

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • 0Komentar

    Pengamat Hukum yang juga Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Abdul Aziz Hakim mengingatkan Janji Kejati dalam mengumumkan para tersangka dugaan korupsi tnjangan DPRD jangan Cuma janji. Karena menurutnya, sampai sekarang janji tersebut tidak berwujud. “Menurut saya, sebagaimana pernyataan pihak Kejati Malut bahwa dalam kasus ini bukti-buktinya sudah cukup, walaupun masih menunggu hasil BPK. Jika […]

  • Pengamat Hukum UMMU Soroti Polda Maluku Utara dalam Penyelesaian Perkara Melalui Restorative Justice

    Pengamat Hukum UMMU Soroti Polda Maluku Utara dalam Penyelesaian Perkara Melalui Restorative Justice

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    Komitmen Polda Maluku Utara menghadirkan penegakan hukum yang humanis, berkeadilan, dan mengedepankan penyelesaian perkara melalui pendekatan Restorative Justice (RJ) guna menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di tengah masyarakat, Jumat, (29/5) mendapat sorotan dari Dr. Azis Halim, SH, MH, Pengamat Hukum dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Menurut Azis, pemberlakuan RJ, dalam kasus pidana tidal […]

  • Trash Hero Chapter Ternate Hadiri Pentas Seni SD Alkhairaat 05 Falajawa 2, Bawa Pesan Peduli Lingkungan

    Trash Hero Chapter Ternate Hadiri Pentas Seni SD Alkhairaat 05 Falajawa 2, Bawa Pesan Peduli Lingkungan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • 0Komentar

    Ternate, 20 Juni 2026 — Suasana pagi di Asrama Haji terasa semarak saat SD Alkhairaat 05 Falajawa 2 menggelar acara Pentas Seni pada Sabtu, 20 Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, Trash Hero Chapter Ternate hadir sebagai pihak yang diundang, menambah warna pada pelaksanaan acara yang diikuti sekitar 150 anak dari kelas 1 sampai 5, orang […]

  • Suyudi Ario Seto Resmi Menjabat Kapolri Baru

    Suyudi Ario Seto Resmi Menjabat Kapolri Baru

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA — Linidaily.id, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melantik Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Istana Negara, Jakarta . Ia menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diberhentikan dengan hormat dari jabatan tersebut. Pelantikan ini didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 96/POLRI […]

  • Kontroversi Komunikasi Publik Presiden Prabowo: Salah Data, Salah Ucap, atau Strategi?

    Kontroversi Komunikasi Publik Presiden Prabowo: Salah Data, Salah Ucap, atau Strategi?

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • 0Komentar

    Komunikasi seorang presiden tidak pernah sekadar percakapan biasa. Setiap angka, istilah, dan pernyataan yang keluar dari kepala negara dapat dibaca sebagai representasi informasi resmi pemerintah. Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto beberapa kali mengeluarkan pernyataan kontroversial, persoalannya tidak cukup dilihat sebagai gaya bicara yang spontan. Publik berhak bertanya: apakah itu strategi komunikasi publik yang disengaja, […]

expand_less