Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

SOSIOLOGI ORANG HALMAHERA

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
  • visibility 144
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“…O’Hongana Manyawa dan O’Berera Manyawa merupakan dua wajah dari peradaban yang menghormati batas-batas ekologis…”

Sosiologi orang Halmahera tidak bisa dilepaskan dari bentang ekologinya, yakni hutan yang lebat dan laut yang luas. Pada lanskap sosial ini, manusia tidak berdiri sebagai pusat yang dominan, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang lebih besar.

Dua figur sosial yang mencerminkan relasi tersebut, adalah O’Hongana Manyawa, penjaga hutan, dan O’Berera Manyawa, penjaga pesisir. Keduanya merepresentasi- kan dua wajah peradaban Halmahera yang saling melengkapi, sekaligus memperlihatkan bagaimana manusia membangun relasi ekologis yang khas.

O’Hongana Manyawa, yang secara harfiah berarti “orang “penjaga hutan”, merupakan komunitas adat yang hidup secara nomaden di pedalaman Halmahera. Mereka dikenal sebagai pemburu dan peramu yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada hutan.

Berangkat dari perspektif sosiologi, mereka bukan sekadar kelompok masyarakat terasing, melainkan representasi dari masyarakat ekologis. Hutan bagi mereka bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang spiritual dan kosmologis.

Setiap pohon, sungai, dan hewan memiliki makna. Mereka percaya bahwa alam memiliki jiwa, sehingga eksploitasi berlebihan merupakan suatu bentuk pelanggaran moral.

Resistensi

Praktik sosial mereka menabalkan etika ekologis yang kuat. Tatkala berburu, mereka tidak membunuh hewan betina yang sedang hamil, dan tidak merusak hutan secara sembarangan. Mereka berpindah tempat tinggal untuk memberi waktu pada alam memulihkan diri.

Ini merupakan bentuk pengetahuan lokal yang menunjukkan kesadaran keberlanjutan jauh sebelum konsep pembangunan berkelanjutan dikenal secara global.

Struktur sosial O’Hongana Manyawa juga menarik. Mereka tidak mengenal konsep kekuasaan formal seperti kepala suku dalam pengertian modern. Kepemimpinan bersifat kultural melalui figur yang dituakan (dimono), yang dihormati karena pengalaman dan pengetahuan, bukan karena otoritas koersif.

Kini, dunia mereka berada dalam tekanan besar. Ekspansi industri tambang nikel telah menggerus hutan yang menjadi ruang hidup mereka. Akibatnya, mereka kehilangan sumber pangan dan dipaksa beradaptasi dengan sistem ekonomi luar, termasuk ketergantungan pada beras dan barang pasar.

Dengan perspektif sosiologi kritis, konteks ini dapat dibaca sebagai bentuk kolonialisme baru, di mana kapitalisme ekstraktif menggantikan sistem hidup lokal.

Rasionalitas Pesisir dan Laut

Berbeda dengan O’Hongana Manyawa, O’Berera Manyawa, merepresentasikan masyarakat pesisir Halmahera. Mereka hidup di wilayah pantai, bergantung pada laut sebagai sumber kehidupan. Jika hutan menjadi pusat kosmologi O’Hongana, maka laut merupakan ruang sosial bagi O’Berera

Masyarakat pesisir ini memiliki rasionalitas ekologis yang berbeda. Mereka memahami musim, arus laut, dan perilaku ikan. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi dasar dalam praktik ekonomi mereka seperti menangkap ikan, mengelola hasil laut, dan berdagang.

Secara sosiologis, masyarakat pesisir cenderung lebih terbuka terhadap interaksi luar. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis mereka yang menjadi jalur pertemuan berbagai budaya.

Melalui lanskap sejarah Halmahera, wilayah pesisir acap menjadi titik kontak dengan kekuatan luar, baik perdagangan rempah maupun kolonialisme.
Tapi, keterbukaan ini juga membawa konsekuensi.

Modernisasi dan industrialisasi pesisir kerap mengubah pola hidup masyarakat O’Berera. Mereka mulai masuk dalam ekonomi pasar, menghadapi tekanan overfishing, dan berhadapan dengan eksploitasi sumber daya laut oleh perusahaan besar.

Meski demikian, seperti halnya O’Hongana, masyarakat O’Berera juga memiliki etika ekologis. Mereka mengenal batas-batas wilayah tangkap dan memiliki norma adat dalam pemanfaatan laut.

Pada beberapa komunitas, terdapat larangan (sasi) menangkap ikan di wilayah tertentu pada waktu tertentu sebagai bentuk konservasi tradisional.

Relasi antara O’Hongana Manyawa dan O’Berera Manyawa, menunjukkan dialektika antara dua ruang ekologis, yakni hutan dan laut. Keduanya tidak berdiri dalam oposisi binner, tetapi dalam hubungan yang saling melengkapi.

Melalui perspektif sosiologi lingkungan, Halmahera dapat dipahami sebagai ruang di mana manusia hidup dalam keseimbangan dengan alam. Tetapi, keseimbangan ini, kini mulai terganggu dengan masuknya kapitalisme ekstraktif. Industri tambang dan ekspansi ekonomi global telah mengubah relasi manusia dengan alam menjadi relasi eksploitasi.

Apa yang terjadi pada O’Hongana Manyawa merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat adat kehilangan ruang hidupnya akibat industrialisasi.

Sementara itu, masyarakat pesisir seperti O’Berera Manyawa, juga menghadapi tekanan dari ekonomi pasar yang semakin agresif.

Karl Polanyi (1944) dalam The Great Transformation menyebut proses ini sebagai “disembedding”, ketika ekonomi terlepas dari konteks sosial dan ekologisnya.

Dalam konteks Halmahera, kita melihat bagaimana sistem ekonomi modern memutus hubungan manusia dengan alam, menggantinya dengan logika produksi dan akumulasi.

Di sisi lain, perspektif ekologi politik (Robbins, 2012) membantu kita memahami bahwa konflik di Halmahera bukan sekadar konflik lingkungan, tetapi juga konflik kekuasaan. Siapa yang berhak atas hutan? Siapa yang mengontrol laut? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi kunci dalam memahami dinamika sosial di wilayah tersebut.

Sosiologi orang Halmahera mengajarkan bahwa manusia tidak bisa dipisahkan dari alam. O’Hongana Manyawa dan O’Berera Manyawa merupakan dua wajah dari peradaban yang menghormati batas-batas ekologis. Tetapi, di tengah arus globalisasi dan kapitalisme ekstraktif, pengetahuan lokal ini berada di ambang krisis.

Apabila hutan hilang, maka hilang pula O’Hongana. Bila laut rusak, maka hilang pula O’ Berera.

Karena itu, tantangan ke depan bukan hanya soal pembangunan ekonomi, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Sosiologi orang Halmahera memberi pelajaran penting bagi kita, bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep, tetapi praktik hidup yang telah lama dijalankan masyarakat adat.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Putusan PT ASM Berubah, Operasional Tambang di Pulau Gebe Dipertanyakan

    Putusan PT ASM Berubah, Operasional Tambang di Pulau Gebe Dipertanyakan

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • 0Komentar

    Status kepemilikan saham PT Anugrah Sukses Mining (ASM) kembali menjadi sorotan setelah Pengadilan Tinggi Surabaya membatalkan keputusan korporasi yang mengubah susunan pemegang saham perusahaan tersebut. Melalui Putusan Nomor 523/PDT/2025/PT SBY, majelis hakim menyatakan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT ASM yang digelar pada 4 Desember 2023 tidak sah dan tidak memiliki kekuatan […]

  • Menciptakan Lapangan Kerja untuk Masa Depan Maluku Utara

    Menciptakan Lapangan Kerja untuk Masa Depan Maluku Utara

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • 1Komentar

    Maluku Utara merupakan salah satu provinsi yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Kekayaan sumber daya alam, terutama di sektor pertambangan, perikanan, pertanian, dan pariwisata, menjadi modal utama pembangunan daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi di sektor industri pengolahan nikel telah mendorong pertumbuhan ekonomi Maluku Utara hingga menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Namun, […]

  • Hendra Karianga Desak Kejari Halsel Audit Dana Hibah Pilkada Rp52,6 Miliar

    Hendra Karianga Desak Kejari Halsel Audit Dana Hibah Pilkada Rp52,6 Miliar

    • calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
    • 0Komentar

    Penggunaan dana hibah Pilkada 2024 yang disalurkan kepada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Halmahera Selatan senilai Rp52,6 miliar diminta diperiksa secara menyeluruh. Desakan itu disampaikan praktisi hukum Hendra Karianga kepada Kejaksaan Negeri Halmahera Selatan. Hendra menilai nominal anggaran tersebut cukup besar sehingga pengelolaannya harus dapat diuji secara terbuka. Menurut dia, masyarakat berhak mengetahui apakah dana hibah […]

  • Kota Ternate Dominasi Perolehan Medali di Hari Keempat Porprov V Malut 2026, Halmahera Utara Posisi Kedua

    Kota Ternate Dominasi Perolehan Medali di Hari Keempat Porprov V Malut 2026, Halmahera Utara Posisi Kedua

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    TOBELO-Linidaily.id Kota Ternate kembali mengukuhkan dominasinya sebagai juara umum sementara dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Maluku Utara (Malut) 2026. Hingga update terakhir Kamis malam (11/6/2026) pukul 23.00 WIT, kontingen Kota Ternate berhasil mengumpulkan total 62 medali. Berdasarkan rilis resmi dari Media Center Porprov V Malut di Bumi Hibualamo, Kota Ternate unggul tipis namun signifikan […]

  • Pemprov Maluku Utara Siapkan Opsi Pemotongan TPP ASN 2027 Akibat Tekanan Fiskal

    Pemprov Maluku Utara Siapkan Opsi Pemotongan TPP ASN 2027 Akibat Tekanan Fiskal

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Maluku Utara tengah menyusun langkah antisipatif untuk menghadapi penurunan kapasitas anggaran daerah, salah satunya melalui rencana pengurangan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2027. Kebijakan ini muncul sebagai respons atas berkurangnya aliran dana transfer dari pemerintah pusat yang berdampak langsung pada kondisi fiskal daerah. Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin […]

  • HARITA GRUP DAN KOLONIALISME BARU ATAS RUANG HIDUP KAWASI

    HARITA GRUP DAN KOLONIALISME BARU ATAS RUANG HIDUP KAWASI

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • 0Komentar

    Membaca Relokasi Warga Kawasi ke Ecovillage dalam Perspektif Michel Foucault dan Pierre Bourdieu Tulisan ini bisa saja di katakan bagian dari kepingan Puzzle tulisan saya sebelumnya tentang Harita Grup Dan Paradoks Kemakmuran Halmahera Selatan. Namun bukan berarti tulisan ini mengekspresikan kecencian penulis atas Harita Grup. Melainkan sebagai bahan refleksi agar ada perbaikan di masyarakat. Terutama […]

expand_less