Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Katanya Wakil Rakyat, Kok (Begitu) Cemen

  • account_circle Bung Amas, S.IP
  • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
  • visibility 118
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Untukmu yang duduk sambil berdiskusi. Untukmu yang biasa bersafari ke sana, ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Wakil rakyat adalah kumpulan orang-orang hebat, bukan sekadar kumpulan teman dekat, apalagi sanak keluarga. Di hati dan lidahmu, kami berharap: dengarkanlah suara kami, lalu sampaikanlah. Demikian penggalan lirik lagu legendaris karya Iwan Fals berjudul Surat Buat Wakil Rakyat. Lagu yang dirilis pada tahun 1987 silam itu ternyata masih sangat relevan, nyata, dan terasa masa kini hingga saat ini.

Kami mengangkat kembali penggalan lirik itu sebagai sebuah pengingat, sekaligus koreksi diri, tamparan keras, dan gambaran nyata atas kelakuan para wakil rakyat kita. Mereka adalah para representasi rakyat, namun sayangnya, perilakunya sering kali justru jauh dari jiwa kerakyatan. Posisi dan statusnya jelas tertulis: Wakil Rakyat. Namun kenyataan dan perilakunya sering kali berbanding terbalik. Mereka yang duduk di kursi DPR RI, DPD RI, maupun DPRD di seluruh penjuru negeri, memegang predikat yang mulia, meski sayangnya catatan kasus korupsi yang menyeret nama mereka pun tak kalah banyak.

Bukan hanya Iwan Fals yang kecewa dengan para anggota dewan. Rakyat pun mayoritas merasakan kekecewaan yang sama. Seiring berjalannya waktu, kekecewaan kecil itu kian membesar, melebar, dan menjalar hingga ke rumah-rumah rakyat. Lewat liriknya, Bang Iwan mengingatkan agar para wakil rakyat jangan menjadi juara diam, juara berbisik “eh-eh”, atau juara tertawa cekikikan saja. Jangan menjadi wakil rakyat yang bungkam saat sidang membahas nasib rakyat. Potret ini adalah gambaran kecil yang mewakili rusaknya perilaku wakil rakyat kita. Padahal, sesungguhnya wakil rakyat haruslah menjadi pengawas yang tajam, pengkritik yang berani, dan penyeimbang di hadapan kekuasaan.

Sebab secara hakiki dan prinsipil, wakil rakyat sejatinya adalah pelayan rakyat, bukan majikan bagi rakyat. Jika dideskripsikan dengan sederhana, wakil rakyat adalah perpanjangan tangan dan perantara aspirasi rakyat. Oleh sebab itu, sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan melenceng jauh dari tugas pokok jika mereka bertindak sebaliknya. Jangan mentang-mentang memiliki hak imunitas atau kekebalan hukum, lalu bersikap semena-mena dan angkuh terhadap rakyat. Memang, belakangan ini tidak sedikit wakil rakyat yang terlihat seolah durhaka terhadap pemilihnya. Mereka lupa diri, mengabaikan suara rakyat, dan asyik dengan kepentingan sendiri.

Politik keterwakilan seolah-olah disimpangkan jauh dari jalurnya. Para wakil justru bertindak layaknya seorang bos besar atau penguasa tunggal. Penyimpangan tugas dan peran ini dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu. Dalam konteks sosial, posisi wakil rakyat sesungguhnya bukanlah entitas yang superior, bukan pula golongan istimewa yang memiliki hak lebih. Posisi mereka sejatinya berada satu tingkat di bawah rakyat. Bisa dikatakan, mereka menempati lapisan kedua. Memang jika dilihat dari perspektif struktur sosial, mereka berada di kelas menengah, namun posisi itu tetaplah berada di bawah kedaulatan rakyat.

Wakil rakyat ada di lapisan kedua, setelah rakyat itu sendiri. Fakta ini menandakan bahwa kepedulian sosial dari para anggota dewan ini semakin menipis dan hilang. Apapun alasannya, wakil rakyat tidak boleh melompati hak dan posisi rakyat. Apalagi hingga berani menindas rakyat kecil. Realitas yang terjadi di lapangan justru sering kali berkebalikan, posisi itu sudah terbalik 180 derajat. Bisa diibaratkan, wakil rakyat merasa dirinya seperti nahkoda kapal yang memegang kendali penuh dan memiliki wewenang mutlak untuk mengemudikan arah perjalanan bangsa ini.

Tidak sedikit pula panggung kepalsuan yang dipentaskan oleh para wakil rakyat ini. Mulai dari cara berargumentasi hingga perilaku sehari-hari, sering kali tidak mencerminkan kehati-hatian, kejujuran, dan tanggung jawab. Sungguh miris dan menyayat hati jika kita menyaksikan cara-cara amoral yang kerap mereka lakukan. Namanya saja wakil, berarti ia wajib bersedia mengabdi kepada siapa yang ia wakili. Oleh karena itu, kapan saja rakyat berhak menggugat predikat sebagai wakil rakyat, hal itu boleh dan sah-sah saja dilakukan. Jangan sampai daya tawar rakyat dinihilkan atau dianggap tidak ada harganya sama sekali.

Jangan sampai kedaulatan rakyat dibajak atau dicuri oleh segelintir orang yang memakai kedok wakil rakyat. Sudah saatnya rakyat sadar dan bangkit dari tidur panjangnya. Saya mencurigai bahwa rakyat belum sepenuhnya jernih, tegas, dan mantap dalam menentukan sikap politiknya. Hal ini masuk akal jika kita melihat fakta bahwa sebagian besar wakil rakyat kita saat ini sedang “sakit”. Sakit karena lupa tugas, sakit karena haus kekuasaan. Pemilu yang kita laksanakan sejatinya adalah ajang mencari pemimpin terbaik, yang kelak siap setia dan siap mengabdikan diri melayani rakyat tanpa pamrih.

Gejala melemahnya kekuatan dan kepercayaan terhadap wakil rakyat ini bisa jadi juga merupakan kesalahan rakyat itu sendiri saat memilih pemimpin politiknya. Akibat kesalahan memilih, wakil rakyat justru terlempar jatuh ke dalam jurang kehancuran moral. Keteladanan yang seharusnya mereka berikan runtuh seketika. Demikian pula dengan keberanian, kemandirian, dan integritas yang ternyata diperjualbelikan demi keuntungan sesaat. Ini menjadi bahaya besar bagi masa depan bangsa. Mereka tak berani bicara jujur dan membela rakyat jika harus berhadapan dengan kekuasaan yang kuat atau modal besar.

Memperjuangkan hak-hak rakyat dari akar rumput akhirnya hanya menjadi mimpi belaka. Kita semua berharap kekuatan persatuan dan solidaritas rakyat akan menjadi modal sosial yang besar, yang kelak mampu mengubah negara ini menuju keadilan dan kesejahteraan. Jangan lagi terulang kesalahan yang sama saat memilih wakil rakyat. Wakil rakyat yang munafik, pengecut, pandai bicara namun tak pernah bersuara di gedung dewan, serta mereka yang mudah marah kepada rakyatnya sendiri, tidak boleh lagi kita pilih dan dudukkan di kursi empuk itu.

Sangat berbahaya jika rakyat kembali memilih wakil rakyat yang cenderung takut mengambil risiko, takut berani membela rakyat karena harus berhadapan dengan kepentingan pemodal atau penguasa yang lebih kuat. Yang kita butuhkan dan harapkan ke depannya adalah wakil rakyat yang siap “berperang” melawan penguasa yang dzalim serta pengusaha yang korup. Sudah pasti rakyat akan merasa cemas, kecewa, dan penuh penyesalan jika kembali memilih wakil rakyat abal-abal seperti potret yang kita bahas di atas.

Rakyat jangan mau lagi dibuai oleh janji-janji manis yang semu. Diiming-imingi akan diberi gula dan madu saat kampanye, namun setelah terpilih yang disodorkan justru racun yang mematikan bagi kehidupan bernegara. Jangan biarkan harapan rakyat akan masa depan yang lebih baik dibunuh oleh sikap masa bodoh para wakil rakyat yang enggan protes saat harga pendidikan semakin mahal, lapangan pekerjaan semakin sulit didapat, serta biaya hidup dan ekonomi yang semakin mencekik leher. Kehidupan rakyat kecil kini diselimuti rasa cemas dan ketidakpastian. Lalu, di manakah peran dan suara wakil rakyat saat rakyat sedang susah?

Wakil Rakyat Kok Cemen?

Kata “cemen” dalam bahasa gaul berarti lemah, penakut, atau payah. Mengapa bisa disebut demikian? Ya, benar adanya, karena kebanyakan dari mereka saat ini justru berorientasi pada kekayaan dan kemakmuran diri sendiri. Tidak hanya itu, harta, keuntungan finansial, dan kekuasaan menjadi tujuan utama, bahkan hal-hal yang tidak pantas pun terus dikejar. Padahal, wakil rakyat memiliki nilai lebih, yaitu kekuasaan, fasilitas negara, serta sarana dan prasarana yang seharusnya digunakan untuk berbuat banyak demi kesejahteraan rakyat. Anehnya, mereka justru bersikap cemen, lemah, dan gagal mewujudkan serta menunaikan amanah yang telah diberikan rakyat.

Di sisi lain, pola pikir dan gaya hidup para wakil rakyat pun kerap kali didominasi oleh pencarian kesenangan semata. Semangat berkorban untuk rakyat masih sangat minim. Jika pun mereka berkorban atau melakukan sesuatu, perhitungan mereka hanya berpatokan pada untung dan rugi. Segalanya dijalankan layaknya sebuah transaksi bisnis, sehingga motivasi utama mereka bukanlah untuk mengabdi kepada negara dan rakyat. Penerapannya sederhana: jika mereka memberi sedikit bantuan, mereka mengharapkan balasan berkali-kali lipat berupa keuntungan atau kepentingan pribadi. Ya, asas manfaat semata yang selalu mereka utamakan.

Bersikap rakus dan tamak pada akhirnya akan membuat posisi terbalik: tuan menjadi budak. Begitulah akibatnya jika rakyat memilih pemimpin yang lemah, penakut, dan tidak sederhana. Jangan mudah terbuai oleh rayuan ketua umum partai politik. Jangan mau menjadi pemilih yang mudah dibujuk dan dibeli oleh praktik politik uang. Sesungguhnya politisi yang angkuh karena mendapat sogokan, yang pandai menipu rakyat, serta yang penuh dengan skandal politik, kelak akan cepat runtuh dan jatuh terhempas.

Wakil rakyat yang mendapatkan hak istimewa dan fasilitas lengkap dari negara wajib menunjukkan kinerja nyata, jangan lemah dan cemen. Haram hukumnya memilih wakil rakyat yang bermental mendua dan tidak tegas. Sebenarnya, perilaku yang tidak wajar dan aneh dari para wakil rakyat ini telah merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa. Kita harus melakukan evaluasi menyeluruh, memilah dan memilih siapa wakil rakyat yang setia dan siapa yang berkhianat. Agar pada pemilihan berikutnya, rakyat bisa dengan tegas membuang mereka yang berkhianat ke tempat sampah sejarah.

Berhentilah memilih wakil rakyat yang lemah dan gagal menyalurkan aspirasi rakyat. Tutup rapat-rapat ruang bagi para politisi yang terbiasa melakukan praktik mencari keuntungan pribadi dari jabatan. Kita sangat berharap suatu saat nanti para wakil rakyat mampu memberikan kejutan yang baik bagi rakyat, mampu memutar arah menjadi lebih baik, dan bukan justru merusak serta menghancurkan jembatan emas menuju kemajuan Indonesia.

  • Penulis: Bung Amas, S.IP

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aturan atau Kehendak?

    Aturan atau Kehendak?

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • 0Komentar

    Kekosongan kepengurusan BEM Universitas Khairun tidak seharusnya membuat aturan organisasi ikut kehilangan tempatnya. Kekosongan memang membutuhkan tindakan administratif agar roda kelembagaan tidak berhenti, tetapi tindakan tersebut tetap harus diletakkan dalam kerangka aturan yang mengatur hubungan antarorganisasi mahasiswa. Sebab, ketika sebuah keputusan lahir atas nama penyelamatan organisasi, pertanyaan yang paling mendasar justru harus diajukan: apakah keputusan […]

  • Sigaro Festival Buku Maluku Utara 2026

    Sigaro Festival Buku Maluku Utara 2026

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • 0Komentar

    Sigaro dalam Bahasa lokal Maluku Utara terutama Ternate bermakna ajakan, baku pangge, Sigaro Malaha artinya saling mengajak pada kebaikan. Pertama kali saya melihat Agenda Festival Buku Maluku Utara 2026 yang akan di laksanakan pada bulan Agustus 2026, disampaikan lewat pemberitahuan beberapa kolega di Whatsapp Group dengan mengisi formulir pendataan buku dan penulis di Maluku Utara, […]

  • AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • 0Komentar

    Ratusan Warga Banemo melakukan unjuk rasa dan aksi blokade akses jalan Trans Halmahera ruas Jalur Desa Remdi, Rabu, 20 Mei 2026. Aksi blokade ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas Warga Banemo Melawan, kepada pemerintah dan kepolisian, menyusul ditemukannya ranjau di perkebunan serta kasus pembunuhan Ustadz Ali Abas yang hingga kini belum ada titik terang. Tensi aksi […]

  • KURIKULUM REMPAH

    KURIKULUM REMPAH

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • 0Komentar

    Wilayah-wilayah penghasil rempah di Indonesia, terutama di kawasan timur (seperti Maluku dan Maluku Utara), memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dunia. Cengkih, dan pala, serta berbagai tanaman aromatik lainnya, bukanlah sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Ironisnya, banyak siswa SD, SMP, dan SMA yang hidup di wilayah rempah justru kurang memahami sejarah, […]

  • HARITA GRUP DAN KOLONIALISME BARU ATAS RUANG HIDUP KAWASI

    HARITA GRUP DAN KOLONIALISME BARU ATAS RUANG HIDUP KAWASI

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • 0Komentar

    Membaca Relokasi Warga Kawasi ke Ecovillage dalam Perspektif Michel Foucault dan Pierre Bourdieu Tulisan ini bisa saja di katakan bagian dari kepingan Puzzle tulisan saya sebelumnya tentang Harita Grup Dan Paradoks Kemakmuran Halmahera Selatan. Namun bukan berarti tulisan ini mengekspresikan kecencian penulis atas Harita Grup. Melainkan sebagai bahan refleksi agar ada perbaikan di masyarakat. Terutama […]

  • Cara Berani Gubernur Sulawesi Tengah, Luncurkan “Berani Cerdas”: Biaya Kuliah Ditanggung Penuh

    Cara Berani Gubernur Sulawesi Tengah, Luncurkan “Berani Cerdas”: Biaya Kuliah Ditanggung Penuh

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • 0Komentar

    PALU — Linidaily.id Tak salah jika wajib memberi apresiasi kepada Gubernur yang satu ini. Dia bukan Gubernur TikTok, dia Gubernur yang sedang bekerja bukan mengharap pujian dan tepuk tangan. Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid membuktikan komitmen nyata membangun sumber daya manusia melalui terobosan besar bernama Program Berani Cerdas. Berbeda dengan program yang sebatas seremonial atau […]

expand_less