Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

Yang Tertinggal dari Workshop Nasionalisme, Potensi Lokal dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 114
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 14 Februari 2026, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Cabang Maluku Utara menyelenggarakan sebuah workshop bertajuk “Nasionalisme, Potensi Lokal dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan”. Forum intelektual ini menghadirkan dua narasumber yang relevan secara kelembagaan dan akademik: Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku Utara yang memaparkan materi bertajuk Strategi Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Provinsi Maluku Utara, serta Penasehat Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Ternate yang mengurai tema Rekonstruksi Nasionalisme Pangan Berbasis Komoditas Unggulan Lokal Maluku Utara. Suatu forum yang, setidaknya di atas kertas, terlihat sangat menjanjikan.

Namun kini kita telah berada di bulan Mei 2026. Tiga bulan lebih telah berlalu sejak forum itu digelar. Dan pertanyaan paling mendasar harus kita ajukan dengan lantang: di mana jejak nyata dari seluruh gagasan yang dilontarkan di dalam ruangan ber-AC itu? Apakah strategi dan rekonstruksi yang dibicarakan telah menyentuh tanah yang sesungguhnya, atau ia hanya beredar sebagai dokumen presentasi yang perlahan terlupakan?

Mari kita mulai dari paparan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi. Secara substansi, narasi tentang strategi ketahanan pangan berkelanjutan di Maluku Utara tentu sarat urgensi. Maluku Utara adalah provinsi kepulauan yang strukturnya sendiri sudah menjadi tantangan raksasa: distribusi pangan antargugusan pulau yang bergantung pada cuaca, minimnya infrastruktur penyimpanan, serta ketergantungan akut terhadap pasokan dari luar daerah. Hingga Mei 2026, realitas itu belum bergeser secara signifikan. Beras, sayur, dan bahan pokok lainnya masih mengalir dominan dari Jawa dan Sulawesi. Ketika jalur distribusi terganggu akibat cuaca ekstrem atau persoalan logistik, harga pangan di Ternate, Tidore, Bacan, hingga Morotai langsung bergerak liar.

Yang menjadi soal bukan tidak adanya strategi, melainkan strategi itu kerap berhenti pada tataran wacana seremonial. Dinas Ketahanan Pangan, sebagai lembaga teknis, memiliki otoritas untuk mendorong implementasi. Namun tanpa dukungan anggaran yang memadai, tanpa koordinasi lintas sektoral yang serius, dan tanpa komitmen politik kepala daerah yang sungguh-sungguh, strategi sebagus apa pun hanya akan menjadi materi yang menarik di sebuah workshop, lalu menguap begitu saja.

Sementara itu, gagasan rekonstruksi nasionalisme pangan yang diusung oleh Penasehat PATPI Ternate sesungguhnya menyimpan spirit yang sangat progresif. Komoditas unggulan lokal Maluku Utara seperti pala, cengkih, kelapa, sagu, ikan pelagis, hingga berbagai umbi-umbian lokal adalah aset pangan yang sarat nilai historis, ekologis, dan ekonomis. Menempatkan komoditas-komoditas ini sebagai basis dari nasionalisme pangan bukan sekadar romantisme, melainkan sebuah strategi konkret untuk membangun kedaulatan pangan dari bawah.

Namun jika kita melihat kondisi Mei 2026, narasi “rekonstruksi” itu masih jauh dari praksis. Sagu, misalnya, yang secara ekologis dan budaya merupakan pangan strategis masyarakat Maluku Utara, belum mendapat keberpihakan kebijakan yang serius. Pengembangannya masih sporadis dan bergantung pada inisiatif kelompok masyarakat kecil tanpa dukungan ekosistem yang memadai. Ironi terbesar adalah saat lahan-lahan yang seharusnya menjadi hamparan potensi pangan lokal justru terus tergerus oleh ekspansi investasi pertambangan yang massif di daratan Halmahera.

Di level nasional, potretnya pun tidak jauh lebih cerah. Indonesia pada Mei 2026 masih bergulat dengan kerawanan pangan yang dipicu oleh anomali iklim dan lemahnya fondasi pertanian rakyat. Program-program ketahanan pangan berskala besar terus digelontorkan, namun banyak yang berjalan tanpa akar pada kearifan dan kebutuhan komunitas lokal.

Inilah hakikat dari apa yang kerap tertinggal dari sebuah workshop sekelas ini. Bukan kekurangan narasi. Bukan pula kekurangan narasumber kompeten. Yang tertinggal adalah jembatan antara ruang diskursus dan ruang tindakan. ICMI sebagai wadah cendekiawan Muslim memikul tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap gagasan yang dilahirkan dalam forum intelektualnya tidak hanya berhenti pada tepukan tangan peserta, tetapi berlanjut pada advokasi kebijakan yang gigih, pendampingan komunitas yang konsisten, dan tekanan publik yang terorganisir.

Sebab pada akhirnya, nasionalisme pangan yang sesungguhnya tidak diukur dari kemegahan sebuah workshop, melainkan dari apakah petani sagu di Halmahera Selatan, nelayan di Morotai, dan ibu rumah tangga di Tidore Kepulauan merasakan perubahan nyata di meja makan mereka. Selama jaraknya masih sebatas antara podium dan dokumen, maka yang terlaksana baru sekadar ritual intelektual. Dan itu tidak pernah cukup.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringati HUT ke-31, Telkomsel Resmi Hadirkan 31 Titik Jaringan 5G di Maluku Utara

    Peringati HUT ke-31, Telkomsel Resmi Hadirkan 31 Titik Jaringan 5G di Maluku Utara

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31, Telkomsel memberikan kejutan istimewa sekaligus bukti nyata komitmen pengembangan layanan bagi masyarakat Maluku Utara. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pengaktifan resmi sebanyak 31 lokasi pemancar jaringan 5G yang tersebar di wilayah provinsi ini, sebagai upaya memperkuat infrastruktur digital di kawasan timur Indonesia. Manager Mobile Consumer Cabang […]

  • Gubernur Sherly Lakukan Perombakan Kabinet: Dua PLT Kepala Dinas Dicopot, 15 OPD Lainnya Dievaluasi

    Gubernur Sherly Lakukan Perombakan Kabinet: Dua PLT Kepala Dinas Dicopot, 15 OPD Lainnya Dievaluasi

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, resmi mengambil langkah tegas dalam penataan birokrasi daerah. Sebagai bukti nyata janjinya, pejabat nomor satu di provinsi ini resmi memberhentikan dua pejabat yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas, Jumat (29/5/2026). Keputusan ini diambil menyusul hasil evaluasi kinerja mendalam yang dilakukan terhadap seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) […]

  • Perkuat Kapasitas Kader, Ketum Cabang HMI Ternate Lantik Pengurus Lembaga Profesi

    Perkuat Kapasitas Kader, Ketum Cabang HMI Ternate Lantik Pengurus Lembaga Profesi

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, Linidaily.id – Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate dan jajaran pengurus lembaga profesi resmi dilantik Ketua Umum HMI Cabang Ternate. Acara pelantikan akbar ini berlangsung di Gedung Sekretariat KAHMI Kota Ternate pada Jumat (12/6/2026) malam. Mengusung tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Perjuangan HMI Melalui Penguatan Lembaga Profesi”, kegiatan ini bertujuan untuk mengonsolidasi […]

  • IAIN Ternate dan ICMI Maluku Utara Perkuat Kolaborasi untuk Revitalisasi Budaya Literasi

    IAIN Ternate dan ICMI Maluku Utara Perkuat Kolaborasi untuk Revitalisasi Budaya Literasi

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Korwil Maluku Utara memperkuat kolaborasi dalam menghidupkan kembali budaya literasi di lingkungan perguruan tinggi. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rektor IAIN Ternate dan Ketua ICMI Korwil Maluku Utara di Auditorium FEBI IAIN Ternate, Rabu (12/8/2026). Penandatanganan […]

  • Kekerasan Seksual; Luka Dalam Diam

    Kekerasan Seksual; Luka Dalam Diam

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • 0Komentar

    Kekerasan seksual merupakan salah satu persoalan sosial yang paling mengkhawatirkan di Indonesia saat ini. Kejahatan ini tidak hanya merampas hak, martabat, dan rasa aman korban, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam serta berdampak pada kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Di Provinsi Maluku Utara, fenomena kekerasan seksual menunjukkan tren yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah, […]

  • Warga Maba Boikot PT FHT, Praktisi Hukum Soroti Partisipasi Publik dalam AMDAL

    Warga Maba Boikot PT FHT, Praktisi Hukum Soroti Partisipasi Publik dalam AMDAL

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • 0Komentar

    Praktisi hukum Maluku Utara, Muhammad Tabrani Mutalib, meminta Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, dan pihak terkait melakukan pengawasan lebih serius terhadap aktivitas PT Feni Halmahera Timur (FHT) di Kabupaten Halmahera Timur. Desakan itu muncul setelah warga di kawasan lingkar tambang Buli melakukan aksi boikot terhadap sejumlah titik kegiatan perusahaan. Menurut Tabrani, jika masyarakat di sekitar […]

expand_less