Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

KURIKULUM REMPAH

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 129
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wilayah-wilayah penghasil rempah di Indonesia, terutama di kawasan timur (seperti Maluku dan Maluku Utara), memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dunia. Cengkih, dan pala, serta berbagai tanaman aromatik lainnya, bukanlah sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Ironisnya, banyak siswa SD, SMP, dan SMA yang hidup di wilayah rempah justru kurang memahami sejarah, filosofi, fungsi sosial, nilai ekonomi, bahkan jenis-jenis rempah yang tumbuh di sekitar mereka.

Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan global yang jauh dari pengalaman hidup siswa dibandingkan pengetahuan lokal yang sebenarnya dekat dengan keseharian mereka.

Fenomena ini menegaskan adanya jarak antara pendidikan formal dan realitas sosial masyarakat. Sementara, kurikulum nasional cenderung bersifat seragam sehingga pengalaman lokal masyarakat rempah tidak memperoleh ruang yang memadai dalam proses pembelajaran.

Anak-anak di daerah penghasil cengkih acap lebih mengenal produk makanan cepat saji global dibandingkan memahami bagaimana cengkih dan pala pernah mengubah sejarah dunia.

Mereka mengetahui nama negara-negara Eropa, tetapi tidak memahami bahwa tanah tempat mereka tinggal pernah menjadi pusat perebutan kolonialisme internasional akibat rempah-rempah.

Kondisi tersebut menabalkan terjadinya marginalisasi pengetahuan lokal. Pendidikan yang menjauh dari realitas sosial masyarakat, merupakan bentuk pendidikan yang kehilangan kesadaran kritis.

Pendidikan seharusnya tidak hanya mentransfer pengetahuan abstrak, tetapi juga membantu peserta didik memahami lingkungan sosial dan kebudayaannya sendiri.

Ketika para siswa di wilayah rempah tidak memahami sejarah rempah, maka sekolah telah gagal membangun hubungan antara pengetahuan dan identitas lokal.

Kurikulum rempah menjadi penting sebagai upaya mengintegrasikan sejarah, budaya, ekonomi, ekologi, dan pengetahuan tradisional ke dalam sistem pendidikan.

Kurikulum ini bukan sekadar mengajarkan nama-nama rempah, melainkan membangun kesadaran bahwa rempah merupakan bagian dari peradaban masyarakat kepulauan.

Pada tingkat SD/MI, pembelajaran rempah dapat dimulai dari pengenalan tanaman lokal, aroma, bentuk, manfaat kesehatan, hingga cerita rakyat tentang rempah. Anak-anak dapat diajak mengunjungi kebun pala atau cengkih agar pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

Pada tingkat SMP/MTs, materi rempah dapat diperluas melalui sejarah perdagangan dunia, kolonialisme, dan hubungan rempah dengan identitas budaya lokal.

Para siswa perlu memahami bahwa kedatangan bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris ke Nusantara berkaitan erat dengan pencarian rempah-rempah. Dengan begitu, sejarah lokal tidak lagi dipahami sebagai cerita pinggiran, tetapi sebagai bagian penting dari sejarah global.

Sementara, pada tingkat SMA/MA, kurikulum rempah dapat diarahkan pada pendekatan yang lebih kritis dan multidisipliner. Siswa dapat mempelajari rantai ekonomi rempah, ketimpangan perdagangan, perubahan ekologi akibat perkebunan, hingga peluang industri kreatif berbasis rempah.

Pendidikan semacam ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam ekonomi rempah, tetapi mampu menjadi pelaku inovasi di masa depan.

Kurikulum rempah dapat memperkuat pendidikan karakter dan ekologis. Bagi masyarakat yang hidup di wilayah kepulauan, rempah tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial dan spiritual.

Tradisi penggunaan rempah dalam makanan, pengobatan tradisional, ritual adat, hingga hubungan kekeluargaan menunjukkan bahwa rempah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tatkala sekolah mengabaikan hal tersebut, para siswa perlahan akan mengalami keterasingan budaya. Mereka tumbuh di tanah rempah, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional dengan warisan leluhurnya.

Selain itu, pendidikan rempah dapat menjadi strategi pembangunan berkelanjutan di daerah. Selama ini, banyak daerah penghasil rempah hanya menjadi pemasok bahan mentah tanpa memiliki penguatan sumber daya manusia yang memadai. Padahal, jika pendidikan sejak dini memperkenalkan hilirisasi rempah, kewirausahaan lokal, dan inovasi produk, maka generasi muda memiliki peluang menciptakan ekonomi berbasis lokalitas.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang ekonomi berbasis kekayaan daerah.

Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya kurikulum rempah. Muatan lokal yang selama ini bersifat formalitas perlu diubah menjadi pembelajaran yang hidup dan kontekstual.Para guru juga perlu memperoleh pelatihan mengenai sejarah dan budaya rempah agar mampu mengajarkan materi secara menarik.

Sekolah dapat bekerja sama dengan petani, komunitas adat, pelaku UMKM, dan peneliti lokal untuk membangun ekosistem pendidikan berbasis rempah.

Pada era globalisasi ini, pendidikan lokal bukan berarti menolak modernitas. Justru melalui pemahaman terhadap identitas lokal, para siswa dapat memiliki fondasi budaya yang kuat untuk menghadapi perubahan dunia. Proses ini menciptakan apa yang disebut Arjun Appadurai sebagai commodity culture, yakni perubahan makna benda ketika memasuki sirkulasi global (Appadurai, 1996).

Negara-negara maju seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura berhasil berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya. Indonesia, khususnya wilayah rempah, juga dapat membangun pendidikan yang modern sekaligus berakar pada sejarah dan kebudayaan lokal.

Kurikulum rempah pada akhirnya bukan hanya soal pendidikan tanaman atau perdagangan masa lalu. Rempah merupakan upaya membangun kesadaran sejarah, identitas budaya, literasi ekologis, dan kemandirian ekonomi generasi muda. Sebagaimana dikatakan Fernand Braudel (1981), “perdagangan rempah merupakan “motor sejarah dunia” yang menggerakkan kapitalisme awal dan kolonialisme global. Ini yang harus dipahami anak-anak kita, para siswa mulai dari SD, SMP, dan SMA.

Anak-anak dan para siswa di wilayah rempah tidak boleh tumbuh sebagai generasi yang asing terhadap tanahnya sendiri. Sekolah harus menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat, sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Novel Orang-Orang Sederhana; Kesaksian Seorang Petugas Medis

    Novel Orang-Orang Sederhana; Kesaksian Seorang Petugas Medis

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • 0Komentar

    Sebagai seorang tenaga medis, Sadli memulainya dari desa desa terpencil di Halmahera Timur dan Selanjutnya dipindahtugaskan ke Halmahera Barat .Banyak yang dia saksikan terutama soal eksploitasi lahan oleh perusahaan tambang. Bagaimana ruang hidup mereka “di rampas” oleh dan atas nama pemerintah dan ironisnya dipekerjakan di lahan mereka sendiri. Sebagai seorang tenaga medis, Sadli memulainya dari […]

  • HMI Desak PLN Copot Kepala ULP Saketa, Polda Diminta Ambil Alih

    HMI Desak PLN Copot Kepala ULP Saketa, Polda Diminta Ambil Alih

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • 0Komentar

    Ternate, Linidaily.id Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate mendesak PT PLN (Persero) mengevaluasi dan mencopot Kepala PLN ULP Saketa, Muhammad Munir, menyusul dugaan pencurian BBM bersubsidi jenis solar yang disebut mencapai sekitar 30 ton. Desakan disampaikan Kabid Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD) HMI Cabang Ternate, Rizky Ramli. Ia menilai penanganan perkara di tingkat Polsek berjalan sangat […]

  • HMI FISIP UMMU Gelar Aksi Refleksi Hari Lahir Pancasila: Soroti Krisis Keadilan di Maluku Utara

    HMI FISIP UMMU Gelar Aksi Refleksi Hari Lahir Pancasila: Soroti Krisis Keadilan di Maluku Utara

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) menggelar aksi refleksi Hari Lahir Pancasila di depan Kantor Wali Kota Ternate, pada Senin, 1 Juni 2026. Dalam aksi tersebut, HMI Komisariat FISIP UMMU mengangkat isu “Maluku Utara Krisis Keadilan”. Tema ini dipilih sebagai penegasan bahwa […]

  • Aksi Buruh Weda Bay Menguat, Tolak PHK Massal dan Tuntut Transparansi Perusahaan

    Aksi Buruh Weda Bay Menguat, Tolak PHK Massal dan Tuntut Transparansi Perusahaan

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • 0Komentar

    Tekanan terhadap rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) di kawasan industri Weda Bay terus meningkat. Ratusan pekerja yang tergabung dalam PUK SPKEP SPSI Weda Bay Project turun ke jalan dan menggelar aksi di depan Kantor Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Halmahera Tengah, Selasa (21/7/2026), sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan tenaga kerja lokal. Aksi tersebut […]

  • Direktur LKBHMI Ternate Tanggapi Temuan BPK atas PT JAS; Harus Jadi Pintu Masuk Penegakan Hukum Lingkungan

    Direktur LKBHMI Ternate Tanggapi Temuan BPK atas PT JAS; Harus Jadi Pintu Masuk Penegakan Hukum Lingkungan

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE – Linidaily.id Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kepatuhan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia Nomor 30/LHP/DJPKN-VI.TER/PPD.03/12/2025, menjadi salah satu dokumen negara yang paling penting dalam menguji keseriusan penegakan hukum lingkungan di sektor pertambangan, khususnya di Provinsi Maluku Utara. Dokumen tersebut mengungkap bahwa PT Jaya Abadi Semesta (PT JAS) yang beroperasi di Kabupaten Halmahera Timur belum […]

  • 40 JUTA  HARI INI , TAPI MEMATIKAN DINAMIKA KONFERCAP YANG AKAN DATANG

    40 JUTA HARI INI , TAPI MEMATIKAN DINAMIKA KONFERCAP YANG AKAN DATANG

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • 0Komentar

    Jangan salahkan kader yang memukul. Dia bukan pelaku utama. Dia hanya aktor terakhir yang meledak di atas panggung yang sudah lama disiram bensin oleh orang lain. Dia hanya korban dari forum pelantikan yang sudah kehilangan adab, dari senior yang hobi mengadu domba, dari provokator yang memulai duluan dengan lisan dan manuver curang. Yang harus disalahkan […]

expand_less