Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

KURIKULUM REMPAH

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 79
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wilayah-wilayah penghasil rempah di Indonesia, terutama di kawasan timur (seperti Maluku dan Maluku Utara), memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dunia. Cengkih, dan pala, serta berbagai tanaman aromatik lainnya, bukanlah sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Ironisnya, banyak siswa SD, SMP, dan SMA yang hidup di wilayah rempah justru kurang memahami sejarah, filosofi, fungsi sosial, nilai ekonomi, bahkan jenis-jenis rempah yang tumbuh di sekitar mereka.

Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan global yang jauh dari pengalaman hidup siswa dibandingkan pengetahuan lokal yang sebenarnya dekat dengan keseharian mereka.

Fenomena ini menegaskan adanya jarak antara pendidikan formal dan realitas sosial masyarakat. Sementara, kurikulum nasional cenderung bersifat seragam sehingga pengalaman lokal masyarakat rempah tidak memperoleh ruang yang memadai dalam proses pembelajaran.

Anak-anak di daerah penghasil cengkih acap lebih mengenal produk makanan cepat saji global dibandingkan memahami bagaimana cengkih dan pala pernah mengubah sejarah dunia.

Mereka mengetahui nama negara-negara Eropa, tetapi tidak memahami bahwa tanah tempat mereka tinggal pernah menjadi pusat perebutan kolonialisme internasional akibat rempah-rempah.

Kondisi tersebut menabalkan terjadinya marginalisasi pengetahuan lokal. Pendidikan yang menjauh dari realitas sosial masyarakat, merupakan bentuk pendidikan yang kehilangan kesadaran kritis.

Pendidikan seharusnya tidak hanya mentransfer pengetahuan abstrak, tetapi juga membantu peserta didik memahami lingkungan sosial dan kebudayaannya sendiri.

Ketika para siswa di wilayah rempah tidak memahami sejarah rempah, maka sekolah telah gagal membangun hubungan antara pengetahuan dan identitas lokal.

Kurikulum rempah menjadi penting sebagai upaya mengintegrasikan sejarah, budaya, ekonomi, ekologi, dan pengetahuan tradisional ke dalam sistem pendidikan.

Kurikulum ini bukan sekadar mengajarkan nama-nama rempah, melainkan membangun kesadaran bahwa rempah merupakan bagian dari peradaban masyarakat kepulauan.

Pada tingkat SD/MI, pembelajaran rempah dapat dimulai dari pengenalan tanaman lokal, aroma, bentuk, manfaat kesehatan, hingga cerita rakyat tentang rempah. Anak-anak dapat diajak mengunjungi kebun pala atau cengkih agar pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

Pada tingkat SMP/MTs, materi rempah dapat diperluas melalui sejarah perdagangan dunia, kolonialisme, dan hubungan rempah dengan identitas budaya lokal.

Para siswa perlu memahami bahwa kedatangan bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris ke Nusantara berkaitan erat dengan pencarian rempah-rempah. Dengan begitu, sejarah lokal tidak lagi dipahami sebagai cerita pinggiran, tetapi sebagai bagian penting dari sejarah global.

Sementara, pada tingkat SMA/MA, kurikulum rempah dapat diarahkan pada pendekatan yang lebih kritis dan multidisipliner. Siswa dapat mempelajari rantai ekonomi rempah, ketimpangan perdagangan, perubahan ekologi akibat perkebunan, hingga peluang industri kreatif berbasis rempah.

Pendidikan semacam ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam ekonomi rempah, tetapi mampu menjadi pelaku inovasi di masa depan.

Kurikulum rempah dapat memperkuat pendidikan karakter dan ekologis. Bagi masyarakat yang hidup di wilayah kepulauan, rempah tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial dan spiritual.

Tradisi penggunaan rempah dalam makanan, pengobatan tradisional, ritual adat, hingga hubungan kekeluargaan menunjukkan bahwa rempah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tatkala sekolah mengabaikan hal tersebut, para siswa perlahan akan mengalami keterasingan budaya. Mereka tumbuh di tanah rempah, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional dengan warisan leluhurnya.

Selain itu, pendidikan rempah dapat menjadi strategi pembangunan berkelanjutan di daerah. Selama ini, banyak daerah penghasil rempah hanya menjadi pemasok bahan mentah tanpa memiliki penguatan sumber daya manusia yang memadai. Padahal, jika pendidikan sejak dini memperkenalkan hilirisasi rempah, kewirausahaan lokal, dan inovasi produk, maka generasi muda memiliki peluang menciptakan ekonomi berbasis lokalitas.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang ekonomi berbasis kekayaan daerah.

Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya kurikulum rempah. Muatan lokal yang selama ini bersifat formalitas perlu diubah menjadi pembelajaran yang hidup dan kontekstual.Para guru juga perlu memperoleh pelatihan mengenai sejarah dan budaya rempah agar mampu mengajarkan materi secara menarik.

Sekolah dapat bekerja sama dengan petani, komunitas adat, pelaku UMKM, dan peneliti lokal untuk membangun ekosistem pendidikan berbasis rempah.

Pada era globalisasi ini, pendidikan lokal bukan berarti menolak modernitas. Justru melalui pemahaman terhadap identitas lokal, para siswa dapat memiliki fondasi budaya yang kuat untuk menghadapi perubahan dunia. Proses ini menciptakan apa yang disebut Arjun Appadurai sebagai commodity culture, yakni perubahan makna benda ketika memasuki sirkulasi global (Appadurai, 1996).

Negara-negara maju seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura berhasil berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya. Indonesia, khususnya wilayah rempah, juga dapat membangun pendidikan yang modern sekaligus berakar pada sejarah dan kebudayaan lokal.

Kurikulum rempah pada akhirnya bukan hanya soal pendidikan tanaman atau perdagangan masa lalu. Rempah merupakan upaya membangun kesadaran sejarah, identitas budaya, literasi ekologis, dan kemandirian ekonomi generasi muda. Sebagaimana dikatakan Fernand Braudel (1981), “perdagangan rempah merupakan “motor sejarah dunia” yang menggerakkan kapitalisme awal dan kolonialisme global. Ini yang harus dipahami anak-anak kita, para siswa mulai dari SD, SMP, dan SMA.

Anak-anak dan para siswa di wilayah rempah tidak boleh tumbuh sebagai generasi yang asing terhadap tanahnya sendiri. Sekolah harus menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat, sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Silmy Karim & Jaringan Korupsi Imigrasi: “Setiap Klik Ada Harganya”

    Silmy Karim & Jaringan Korupsi Imigrasi: “Setiap Klik Ada Harganya”

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id Nasional – Nama Wakil Menteri Imigrasi, Silmy Karim, kini menjadi sorotan utama publik setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap praktik korupsi, pemerasan, dan pencucian uang yang berlangsung secara sistemik, terstruktur, dan masif di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi. Modus operandi yang digulirkan tidak lagi sekadar pungutan liar biasa, melainkan sebuah “industri” pengerukan uang negara yang […]

  • AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • 0Komentar

    Ratusan Warga Banemo melakukan unjuk rasa dan aksi blokade akses jalan Trans Halmahera ruas Jalur Desa Remdi, Rabu, 20 Mei 2026. Aksi blokade ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas Warga Banemo Melawan, kepada pemerintah dan kepolisian, menyusul ditemukannya ranjau di perkebunan serta kasus pembunuhan Ustadz Ali Abas yang hingga kini belum ada titik terang. Tensi aksi […]

  • Peringati HUT ke-31, Telkomsel Resmi Hadirkan 31 Titik Jaringan 5G di Maluku Utara

    Peringati HUT ke-31, Telkomsel Resmi Hadirkan 31 Titik Jaringan 5G di Maluku Utara

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31, Telkomsel memberikan kejutan istimewa sekaligus bukti nyata komitmen pengembangan layanan bagi masyarakat Maluku Utara. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pengaktifan resmi sebanyak 31 lokasi pemancar jaringan 5G yang tersebar di wilayah provinsi ini, sebagai upaya memperkuat infrastruktur digital di kawasan timur Indonesia. Manager Mobile Consumer Cabang […]

  • Policy Network David Viney dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

    Policy Network David Viney dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto saat masa kampanye telah menyita perhatian publik dan memicu berbagai kontroversi. Di satu sisi, program ini diapresiasi di sejumlah daerah karena dianggap solutif; di sisi lain, muncul keluhan terkait insiden keracunan makanan dan dugaan pemborosan anggaran negara. Latar belakang utama program ini berangkat dari […]

  • Keseriusan BK DPRD Malut Atas pernyataan provokatif  AK  “Tara Jelas”

    Keseriusan BK DPRD Malut Atas pernyataan provokatif  AK  “Tara Jelas”

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id. – Kinerja Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Maluku Utara kini dipertanyakan kredibilitas dan keseriusannya dalam menuntaskan kasus dugaan pelanggaran etik serta sumpah jabatan. Sorotan tajam ini dilontarkan oleh Dewan Eksekutif Rampai Nusantara Maluku Utara, menyusul mandeknya penanganan kasus yang menyeret salah satu anggota dewan berinisial AK dari Fraksi Partai Demokrat. Sekretaris Dewan Eksekutif Rampai […]

  • Catatan Refleksi HUT ke-23 Halmahera Timur: Antara Identitas Budaya, Hiburan, dan Realitas Pembangunan

    Catatan Refleksi HUT ke-23 Halmahera Timur: Antara Identitas Budaya, Hiburan, dan Realitas Pembangunan

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Halmahera Timur memunculkan beragam pandangan kritis terkait arah kebijakan dan identitas daerah. Dari sisi kebudayaan, marwah dan jati diri Halmahera Timur dirasakan semakin memudar. Sepanjang sejarahnya, daerah ini dikenal sebagai wilayah para Kapita (pemimpin/leluhur) yang hidup di atas falsafah: ngaku re rasai, budi re bahasa, sopan re hormat, serta memiliki […]

expand_less