Ternate dan Paradoks Rempah: Ketika Pemilik Cerita Kehilangan Suaranya
- account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
- visibility 372
- comment 1 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada sesuatu yang janggal ketika sebuah negara kecil tanpa satu pohon cengkeh pun mampu mengemas sejarah rempah menjadi daya tarik wisata berkelas dunia, sementara kota yang melahirkan rempah itu justru terdiam dalam kesunyian naratif. Singapura membangun Spice Garden di Fort Canning Park, menyajikan gastro-tourism beraroma rempah dalam setiap sudut kotanya, dan dengan lihai menenun sejarah perdagangan rempah ke dalam jati diri urban mereka. Sementara itu, Ternate di mana tanah tempat cengkeh dan pala pertama kali dikenal dunia hingga saat ini masih berkutat pada spanduk dan seremonial.
Kenyataan ini bukan sekadar ironi. Ini adalah potret buram dari kegagalan kolektif mengelola warisan peradaban.
Mari kita jujur membaca sejarah. Ternate bukan kota biasa. Pulau mungil di kaki Gunung Gamalama ini pernah menjadi pusat gravitasi ekonomi global. Cengkeh yang tumbuh di lereng-lerengnya bernilai lebih mahal dari emas di pasar Eropa abad pertengahan. Sultan Baabullah, penguasa Ternate pada paruh kedua abad ke-16, bukan sekadar raja lokal yang duduk di singgasana. Ia membangun jaringan diplomasi yang menjangkau Sulawesi, Filipina Selatan, hingga jalur-jalur perdagangan di Nusantara bagian barat. Rempah di tangannya bukan komoditas semata melainkan sebagai senjata politik dan alat negosiasi kekuasaan.
Kita tahu bahwa Portugis datang ke Ternate karena cengkeh. Spanyol menyusul dengan ambisi serupa. Belanda kemudian membangun imperium dagangnya di atas fondasi yang sama. Jika ditelusuri dengan saksama, urat nadi globalisasi modern bermula dari pulau seluas 106 kilometer persegi ini. Ternate, dengan segala kesederhanaannya hari ini, sesungguhnya adalah salah satu titik nol peradaban dunia modern.
Tetapi cobalah mendarat di Bandara Sultan Babullah pada siang hari yang terik. Apa yang menyambut? Terminal biasa. Tanpa aroma cengkeh atau pala yang menyergap indera. Tanpa satu pun instalasi yang berbisik kepada pendatang bahwa mereka baru saja menginjakkan kaki di tanah yang mengubah jalannya sejarah manusia. Tidak ada pengalaman sensorik yang membuat jantung berdebar karena kesadaran bahwa tempat ini pernah dan seharusnya masih begitu penting bagi dunia.
Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Branding Kota Rempah yang disandang Ternate masih berhenti pada tataran retorika. Label itu hidup dalam dokumen perencanaan pembangunan, bergema dalam pidato-pidato pejabat, dan terpampang pada spanduk festival tahunan. Namun rempah tidak mewujud dalam pengalaman nyata siapa pun yang mengunjungi kota ini. Branding tanpa perwujudan adalah slogan kosong dan slogan kosong tidak pernah menggerakkan apa pun.
Persoalan berikutnya menyangkut cara kita bercerita. Selama puluhan tahun, narasi rempah Ternate dibangun di atas fondasi yang rapuh: perspektif kekalahan. Kita terbiasa menuturkan bahwa Ternate dijajah karena rempahnya dirampas. Bahwa bangsa-bangsa Eropa datang, mengeksploitasi, lalu pergi meninggalkan puing. Narasi semacam ini, meskipun mengandung kebenaran historis, justru menempatkan Ternate sebagai objek penderitaan dan bukan sebagai pelaku sejarah yang berdaulat.
Padahal fakta berkata lain. Sultan Baabullah mengusir Portugis dari benteng mereka sendiri. Ia memperluas wilayah kekuasaan hingga mencakup 72 pulau yang menyebar mulai dari Maluku Utara sampai dengan Philipina Selatan. Ia memainkan diplomasi tingkat tinggi yang memanfaatkan persaingan antar-bangsa Eropa untuk kepentingan Ternate. Kisah ini bukan kisah korban. Ini adalah kisah kejayaan, kecerdasan, dan keberanian seorang pemimpin dari timur yang menantang hegemoni barat. Mengapa justru narasi inilah yang tenggelam?
Jika Ternate sungguh-sungguh hendak menghidupkan kembali identitasnya sebagai kota rempah dunia, maka dibutuhkan perubahan paradigma yang menyeluruh. Bukan tambal sulam. Bukan proyek seremonial. Melainkan transformasi yang menyentuh lima dimensi sekaligus berikut ini.
Dimensi pertama adalah pengalaman fisik kota. Bayangkan jajaran pohon cengkeh dan pala ditanam di sepanjang koridor utama Ternate, menggantikan tanaman hias generik yang tidak punya kaitan apa pun dengan identitas tempat. Bayangkan sebuah boulevard di pusat kota yang dihiasi mural sejarah rempah, dilengkapi instalasi seni berbahan rempah, dan menguar aroma yang khas. Bayangkan bandara dan pelabuhan yang menyambut setiap pendatang dengan desain interior bertema rempah dan narasi penyambutan yang menggugah kesadaran akan keistimewaan tempat yang baru mereka pijak. Pengalaman semacam ini bukan kemewahan. Ini adalah keharusan bagi kota mana pun yang serius membangun identitas.
Dimensi kedua menyangkut produk wisata yang imersif. Ternate memiliki benteng-benteng peninggalan Portugis dan Belanda yang masih berdiri kokoh. Ada Kedaton Sultan yang menyimpan artefak kerajaan. Ada kebun cengkeh yang usianya ratusan tahun. Semua aset ini hari ini berdiri sendiri-sendiri, tanpa benang merah yang menghubungkannya dalam satu pengalaman utuh. Yang dibutuhkan adalah sebuah rute warisan terpadu — sebut saja Sultan Baabullah Heritage Trail — yang memandu wisatawan menelusuri jejak sejarah rempah dari kedaton ke benteng, dari benteng ke kebun, dari kebun ke pelabuhan kuno, dengan narasi audio yang hidup dan pemandu yang terlatih sebagai pencerita, bukan sekadar penghafal fakta.
Dimensi ketiga berkaitan dengan ekonomi. Ternate tidak boleh selamanya menjadi pemasok bahan mentah. Cengkeh yang dikirim keluar dalam karung goni hanya menghasilkan keuntungan minimal bagi petani dan kota. Bayangkan jika cengkeh itu diolah menjadi minyak atsiri premium, parfum artisan dengan label “Ternate Origin”, atau produk kesehatan berbasis eugenol yang dipasarkan ke pasar global. Bayangkan jika pala dijadikan sirup/minuman mewah untuk industri mixology internasional atau mentega pala untuk restoran bintang Michelin. Lebih dari itu, Ternate perlu mengembangkan produk rempahnya berupa Pala dan Cengkeh yang telah memperoleh label sebagai tanaman dengan indikasi geografis berupa perlindungan hukum yang memberikan nilai premium, sebagaimana Champagne hanya boleh berasal dari Champagne.
Dimensi keempat adalah gastronomi. Ternate menyimpan kekayaan kuliner yang nyaris tak tersentuh oleh dunia luar. Popeda bukan makanan kampong, ia adalah hidangan pokok kerajaan rempah terbesar di zamannya. Gohu ikan adalah ceviche Nusantara yang sudah ada jauh sebelum kuliner mentah menjadi tren global. Minuman Sari pala adalah minuman warisan istana yang layak disandingkan dengan sake atau anggur terbaik dunia. Semua ini perlu dikemas, dinarasikan, dan disajikan dengan kebanggaan. Sebuah festival gastronomi rempah tahunan berskala internasional bukan kemustahilan diwujudkan jika ada kemauan politik dan kreativitas pengelolaan.
Dimensi kelima, dan barangkali yang paling menentukan, adalah kelembagaan. Branding kota tidak bisa diserahkan pada satu dinas yang bekerja dengan anggaran terbatas dan rotasi pejabat setiap beberapa tahun. Dibutuhkan sebuah badan pengelola khusus yang bersifat lintas sektor, melibatkan pemerintah kota, pihak kesultanan, akademisi dari universitas lokal, Lembaga Swadaya Masyarakat, komunitas kreatif anak muda, dan pelaku usaha. Badan ini harus bekerja dengan visi panjang, bukan proyek tahunan yang lahir dan mati bersama pergantian kepala daerah.
Singapura mengajarkan sesuatu yang menyakitkan sekaligus penting: kemenangan dalam branding bukan milik siapa yang memiliki aset, melainkan milik siapa yang paling cerdas mengelola ceritanya. Mereka tidak punya cengkeh, tetapi mereka punya narasi. Mereka tidak punya sultan, tetapi mereka punya strategi. Mereka tidak punya Gamalama, tetapi mereka punya konsistensi.
Ternate memiliki segalanya yang tidak dimiliki Singapura yaitu keaslian, kedalaman sejarah, kekayaan alam, dan warisan budaya yang masih bernapas. Yang belum dimiliki Ternate adalah keberanian untuk berhenti menjadi catatan kaki dalam buku sejarah yang ditulis orang lain.
Sudah terlalu lama kota ini membiarkan dunia menceritakan kisah rempahnya dari sudut pandang para penakluk. Sudah terlalu lama narasi tentang cengkeh dan pala diawali dengan kedatangan kapal-kapal Eropa, seolah-olah rempah baru bermakna setelah orang asing menginjakkan kaki di sini. Sudah terlalu lama Ternate menjadi latar belakang, bukan tokoh utama, dalam dramanya sendiri.
Saatnya mengubah itu.
Bukan dengan klaim yang lantang tanpa isi. Bukan dengan festival yang ramai sesaat lalu sunyi bertahun-tahun. Melainkan dengan kerja panjang yang tekun, desain narasi yang cerdas, dan pembangunan ekosistem branding yang menyentuh setiap lapisan kehidupan kota mulai dari aroma di bandara hingga kurikulum di sekolah dasar, dari kemasan cengkeh dan pala hingga meja perundingan diplomatik internasional.
Sebab jika Ternate terus membisu, dunia tidak akan berhenti bercerita tentang rempah. Hanya saja, cerita itu akan terus dituturkan oleh suara-suara lain, dari tempat-tempat lain, dengan sudut pandang yang bukan milik Ternate.
Dan kehilangan hak atas cerita sendiri, barangkali, adalah bentuk kehilangan yang paling sunyi namun paling dalam melukai.
- Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Luaarr biasa sebuah ide yg cemerlang, narasi yg cukup cerdas membaca keadaan Ternate saat ini. Perlu political will mereka² yg punya kesempatan dlm memegang kekuasaan dan otak yg cemerlang utk dpt merealisasikan dlm karya nyata bukan hanya wacana dan di dukung oleh Tim Kerja yg brilliyan dan inovatif serta serius dlm mengimplementasikan. Bravo Ternate semoga dapat terwujud di masa depan 🙏🏼🙂👍🏼
15 Mei 2026 09:17