Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

Dapur Kami di Ujung Ketidakpastian Dunia

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • visibility 103
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Seorang ibu dari Kelurahan Kalumpang, Ternate, kemarin pagi berdiri lama di depan lapak beras pasar Bahari Berkesan. Bukan karena memilih-milih kualitas. Tapi karena menghitung ulang uang di tangannya yang tidak cukup. Harga beras naik lagi. Bukan untuk pertama kali. Dan hampir pasti bukan untuk terakhir kali.

Kejadian sederhana itu sebenarnya menyimpan kisah yang jauh lebih besar dari sekadar soal harga beras. Ia adalah cerminan dari bagaimana guncangan dunia yang terjadi ribuan kilometer jauhnya, akhirnya mendarat tepat di dapur masyarakat Maluku Utara yang paling bawah.

Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Di belahan bumi yang lain, rudal masih berjatuhan. Konflik Israel dengan Iran terus membara dan sewaktu-waktu bisa meledak menjadi perang terbuka yang mengguncang kawasan Timur Tengah yang merupakan  salah satu wilayah yang menguasai alur energi dan perdagangan global. Sementara di Eropa Timur, perang Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda reda. Dua negara yang sebelum perang ini menyuplai hampir sepertiga kebutuhan gandum dunia, kini ladang-ladangnya menjadi medan tempur.

Gangguan itu tidak berhenti di perbatasan negara mereka. Ia merambat masuk ke sistem perdagangan global, mendorong harga komoditas pangan naik, menekan rantai pasok internasional, dan memaksa negara-negara importir pangan seperti Indonesia untuk membayar lebih mahal. Ketika harga impor naik, tekanan inflasi menguat. Ketika inflasi menguat dan rupiah melemah secara bersamaan, daya beli masyarakat terkikis dari dua arah sekaligus.

Rupiah yang tertekan terhadap dolar bukan hanya angka di layar monitor trader saham. Ia adalah biaya tambahan yang harus ditanggung oleh pedagang pengumpul, agen distribusi, dan akhirnya konsumen akhir. Di wilayah yang 100 persen kebutuhan pangan pokoknya bergantung dari luar daerah seperti Maluku Utara, efek berlapis ini terasa jauh lebih keras dibanding daerah yang memiliki basis produksi sendiri.

Maluku Utara: Provinsi yang Makan dari Tangan Orang Lain

Inilah yang selama ini jarang diucapkan secara jujur dalam forum-forum resmi pemerintahan: Maluku Utara tidak memproduksi makanannya sendiri secara berarti. Beras dari Sulawesi. Gula dari Jawa. Terigu dari impor. Minyak goreng dari rantai distribusi panjang yang harganya naik turun mengikuti pasar global. Bahkan telur dan daging ayam pun harus didatangkan dari luar.

Kondisi ini bukan takdir. Ia adalah hasil dari puluhan tahun kebijakan yang tidak pernah sungguh-sungguh menempatkan produksi pangan lokal sebagai prioritas utama. Sagu tumbuh di mana-mana namun tidak diolah serius. Laut penuh ikan namun infrastruktur pengolahan tidak dibangun. Lahan tersedia namun petani dibiarkan bertani tanpa dukungan yang memadai, belum lagi lahan pertanian dan hutan yang rusak akibat industry pertambangan.

Ketika seluruh pangan datang dari luar, maka setiap guncangan di luar  entah itu perang, inflasi global, pelemahan rupiah, atau sekadar cuaca buruk yang mengganggu jadwal kapal akan langsung menjadi krisis di meja makan masyarakat.

Pemerintah Daerah yang Tenang di Saat yang Salah

Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya kondisi ketergantungan itu sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana pemerintah daerah Maluku Utara meresponsnya  atau lebih tepatnya, tidak meresponsnya dengan cara yang sepadan.

Tidak ada langkah struktural yang terlihat nyata untuk membangun cadangan pangan daerah secara serius. Tidak ada program diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal yang benar-benar berjalan di lapangan. Tidak ada peta risiko ketahanan pangan yang mengantisipasi skenario terburuk dari tekanan global yang sedang berlangsung sekarang.

Yang ada adalah pola lama yang sudah sangat kita kenal: harga naik, ada rapat koordinasi. Masyarakat mengeluh, ada operasi pasar yang berlangsung dua atau tiga hari lalu sepi lagi. Ada sorotan media, ada pernyataan pejabat yang menenangkan. Lalu semuanya kembali seperti semula  sampai harga naik lagi.

Ini bukan sekadar soal lambat bereaksi. Ini mencerminkan tidak adanya sense of crisis yang sesungguhnya. Seolah-olah ketahanan pangan adalah agenda rutin administratif, bukan persoalan yang menyangkut keselamatan hidup ratusan ribu orang setiap harinya.

Krisis Tidak Pernah Memberi Peringatan

Sejarah mencatat bahwa krisis pangan tidak datang dengan surat pemberitahuan. Ia datang tiba-tiba ketika kapal terlambat, ketika harga melonjak dalam sehari, ketika rak-rak toko tiba-tiba kosong. Dan ketika itu terjadi, tidak ada waktu lagi untuk merancang strategi dari nol.

Maluku Utara adalah provinsi yang kaya secara sumber daya namun rapuh secara ketahanan pangan. Dua hal itu seharusnya tidak boleh berdampingan sebagai kondisi permanen. Laut yang melimpah, tanah yang subur, dan kearifan pangan lokal yang sudah teruji berabad-abad yang mana semua itu adalah modal yang belum disentuh secara serius.

Ibu yang berdiri di depan lapak beras itu tidak butuh pidato. Ia butuh sistem pangan yang tidak membuat hidupnya tersandera oleh keputusan yang dibuat orang-orang jauh di tempat lain. Dan membangun sistem itu adalah tugas yang sudah seharusnya dimulai kemarin.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Catatan Refleksi HUT ke-23 Halmahera Timur: Antara Identitas Budaya, Hiburan, dan Realitas Pembangunan

    Catatan Refleksi HUT ke-23 Halmahera Timur: Antara Identitas Budaya, Hiburan, dan Realitas Pembangunan

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    Peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 Halmahera Timur memunculkan beragam pandangan kritis terkait arah kebijakan dan identitas daerah. Dari sisi kebudayaan, marwah dan jati diri Halmahera Timur dirasakan semakin memudar. Sepanjang sejarahnya, daerah ini dikenal sebagai wilayah para Kapita (pemimpin/leluhur) yang hidup di atas falsafah: ngaku re rasai, budi re bahasa, sopan re hormat, serta memiliki […]

  • Tambang dan Ancaman HIV/AIDS di Maluku Utara

    Tambang dan Ancaman HIV/AIDS di Maluku Utara

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • 0Komentar

    Di Balik Gemerlap Industri Nikel, Ada Ancaman Sosial yang Mengintai Provinsi Maluku Utara dalam satu dekade terakhir menjelma menjadi salah satu pusat industri tambang nikel terbesar di Indonesia. Kehadiran kawasan industri seperti IWIP di Kabupaten Halmahera Tengah hingga aktivitas pertambangan di Halmahera Timur membawa dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, di balik geliat investasi […]

  • Kota Ternate Dominasi Perolehan Medali di Hari Keempat Porprov V Malut 2026, Halmahera Utara Posisi Kedua

    Kota Ternate Dominasi Perolehan Medali di Hari Keempat Porprov V Malut 2026, Halmahera Utara Posisi Kedua

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    TOBELO-Linidaily.id Kota Ternate kembali mengukuhkan dominasinya sebagai juara umum sementara dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Maluku Utara (Malut) 2026. Hingga update terakhir Kamis malam (11/6/2026) pukul 23.00 WIT, kontingen Kota Ternate berhasil mengumpulkan total 62 medali. Berdasarkan rilis resmi dari Media Center Porprov V Malut di Bumi Hibualamo, Kota Ternate unggul tipis namun signifikan […]

  • Peringati HUT ke-31, Telkomsel Resmi Hadirkan 31 Titik Jaringan 5G di Maluku Utara

    Peringati HUT ke-31, Telkomsel Resmi Hadirkan 31 Titik Jaringan 5G di Maluku Utara

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31, Telkomsel memberikan kejutan istimewa sekaligus bukti nyata komitmen pengembangan layanan bagi masyarakat Maluku Utara. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pengaktifan resmi sebanyak 31 lokasi pemancar jaringan 5G yang tersebar di wilayah provinsi ini, sebagai upaya memperkuat infrastruktur digital di kawasan timur Indonesia. Manager Mobile Consumer Cabang […]

  • Banyak Proyek Mangkrak; Masyarakat Tagih Janji Bupati Taliabu

    Banyak Proyek Mangkrak; Masyarakat Tagih Janji Bupati Taliabu

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Harapan besar masyarakat Pulau Taliabu terhadap sosok pemimpin muda, cerdas, dan berpendidikan tinggi yang diwakili Bupati Salsabila Mus atau akrab disapa Sasha, kini perlahan runtuh berubah menjadi kekecewaan mendalam. Sosok yang sebelumnya dielu-elukan, bahkan disebut-sebut sebagai lulusan pendidikan luar negeri, kini kian dipertanyakan kualitas kepemimpinannya setelah resmi memimpin daerah ini berpasangan dengan Wakil […]

  • Di Bawah Bayang-Bayang “Zona Merah”: KPK Beri Ultimatum 3 Bulan, Pemkot Ternate Dipaksa Benahi Lubang Hitam Anggaran dan PBJ

    Di Bawah Bayang-Bayang “Zona Merah”: KPK Beri Ultimatum 3 Bulan, Pemkot Ternate Dipaksa Benahi Lubang Hitam Anggaran dan PBJ

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE Linidaily.id – Status Kota Ternate sebagai daerah yang berada dalam kategori “rentan korupsi” bukan lagi sekadar peringatan dini, melainkan alarm darurat yang menuntut aksi nyata. Setelah hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2025 menempatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate di zona merah. Lembaga antirasuah tersebut turun langsung memberikan ultimatum tegas: lakukan […]

expand_less