Kelangkaan Pertalite di Ternate: Sopir Angkot Terlantar, Diduga Ada Penyimpangan Penyaluran
- account_circle Redaksi
- calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
- visibility 56
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ilustrasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TERNATE, LIniDaily.id Ratusan sopir angkutan kota (angkot) berpelat kuning di Kota Ternate terpaksa mematikan kendaraannya dan menunggu berjam-jam di SPBU Batu Anteru sejak kemarin, Senin (22/6) pukul 11.00 WIT hingga Selasa (23/6). Mereka hanya mendapat jawaban dari pihak pengelola bahwa stok Pertalite telah habis dan baru akan tersedia kembali pada 1 Juli 2026.
Menunggu pasokan selama lebih dari seminggu berarti memaksa para sopir untuk berhenti bekerja sementara waktu. Sebagai pekerja harian, pendapatan mereka sangat bergantung pada keberangkatan kendaraan setiap harinya—jika tidak beroperasi, maka kebutuhan sehari-hari keluarga pun terancam terpenuhi.
Dugaan Penyimpangan Penyaluran BBM Subsidi
Muncul pertanyaan mendasar di tengah masyarakat: jika Pertamina menyatakan kuota pasokan dalam kondisi aman, mengapa Pertalite justru menghilang untuk angkutan umum resmi?
Berdasarkan pantauan di lapangan, dugaan kuat mengarah pada adanya penyalahgunaan kuota BBM bersubsidi. Diduga, pasokan tersebut dialihkan ke pengecer tidak resmi melalui modifikasi tangki kendaraan. Mobil yang dilengkapi tangki rakitan diketahui mampu menyedot hingga 100 liter per pengisian, sedangkan sepeda motor modifikasi bisa menampung sekitar 25 liter.
Oknum tersebut diduga berulang kali mengisi bahan bakar menggunakan sistem barcode yang seharusnya mengatur pembatasan volume. Akibatnya, kuota yang diperuntukkan bagi kendaraan resmi justru habis terlebih dahulu. Sementara itu, di sejumlah lokasi pinggir jalan, Pertalite masih dijual secara eceran dengan harga yang lebih tinggi dari harga resmi.
Situasi ini memunculkan pertanyaan: jika sistem pendigitalan pembelian sudah diterapkan, mengapa masih bisa dimanipulasi? Pihak SPBU juga dinilai belum transparan soal besaran kuota harian yang diterima serta catatan pengisian bahan bakar.
Tuntutan Organisasi Pengusaha Angkutan
Menanggapi kondisi tersebut, DPC Organda Kota Ternate bersama ISSAP Kota Ternate telah menyiapkan langkah pengawasan dan menyampaikan pemberitahuan resmi kepada pihak terkait. Dalam waktu 1 x 24 jam, mereka menuntut tiga hal konkret:
1. Penyaluran pasokan darurat: Segera kirimkan cadangan Pertalite khusus untuk angkutan umum agar operasional kendaraan dapat kembali berjalan hari ini juga.
2. Transparansi data: Buka akses logbook digital SPBU Batu Anteru agar publik dapat melihat ke mana aliran BBM bersubsidi tersebut disalurkan.
3. Penertiban tegas: Lakukan pemeriksaan mendadak dan tindak tegas oknum yang menggunakan kendaraan dengan tangki modifikasi di seluruh wilayah SPBU Kota Ternate.
Janji Satgas Pengawasan yang Belum Berjalan
Sebelumnya, Walikota Ternate, Tauhid Soleman, bersama Kapolda Maluku Utara telah mengumumkan pembentukan Satgas Pengawasan Penyaluran BBM Bersubsidi. Satgas ini dibentuk dengan tujuan mengawasi jalannya distribusi, mencegah penyimpangan, serta menjamin BBM subsidi tepat sasaran.
Namun hingga saat ini, keberadaan dan kinerja satgas tersebut belum terasa di lapangan. Masyarakat dan pelaku usaha angkutan mempertanyakan efektivitas tim tersebut, mengingat kelangkaan dan dugaan penyalahgunaan tetap terjadi.
Pihak Organda dan ISSAP mengingatkan jika pihak berwenang, Pertamina, dan pemerintah daerah tetap mengabaikan keluhan ini, maka tidak menutup kemungkinan akan dilakukan aksi mogok operasional secara massal yang dapat mengganggu mobilitas warga Kota Ternate.
Rakyat tidak hanya membutuhkan penjelasan soal stok habis, melainkan kepastian pasokan dan keadilan dalam penyaluran energi bersubsidi.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar