Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

FPPPMU Tolak Keras Pinjaman Daerah Rp1 Triliun Gubernur Maluku Utara: Berpotensi Ulangi Tragedi Fiskal Morotai

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
  • visibility 56
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ternate, Linidaily.id. Rencana pengajuan pinjaman daerah senilai Rp1 triliun oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara yang disampaikan Gubernur Sherly Tjoanda ke DPRD Provinsi memicu gelombang penolakan tajam dari masyarakat sipil. Forum Pejuang Pemekaran Provinsi Maluku Utara (FPPPMU) menegaskan akan melayangkan gugatan hukum jika usulan tersebut tetap disetujui, dengan alasan kebijakan ini berisiko membebani keuangan daerah dan mengulangi kegagalan parah yang pernah terjadi di Pulau Morotai.

Ketua Umum FPPPMU, Arsad Sadik Sangaji, menyatakan bahwa penolakan ini bukan sikap sembarangan, melainkan cerminan kekhawatiran luas berbagai elemen masyarakat di Maluku Utara. Menurutnya, pinjaman berskala besar tersebut tidak dirancang dengan jaminan keberlanjutan fiskal yang jelas, sehingga hanya akan menjadi beban utang yang diwariskan ke generasi mendatang.

“Usulan pinjaman yang diajukan Gubernur ke DPRD telah memicu penolakan luas dari seluruh lapisan masyarakat dan kelompok strategis daerah. Kami melihat pola yang sangat berbahaya yang pernah merugikan Kabupaten Pulau Morotai kini hendak diulang di tingkat provinsi,” ujar Arsad.

Pelajaran Kelam Kondisi Fiskal Morotai

Arsad mengingatkan dampak jangka panjang dari kebijakan pinjaman daerah yang pernah dilaksanakan mantan Bupati Morotai, Benny Laos. Meskipun secara fisik terlihat pembangunan gedung, jalan, dan fasilitas umum, dampak ekonomi bagi masyarakat justru tidak terasa. Tekanan cicilan utang membuat kemampuan fiskal daerah lumpuh hingga bertahun-tahun setelahnya.

“Pulau Morotai hingga hari ini masih menanggung akibat berat dari kebijakan pinjaman masa lalu. Pembangunan fisik memang terlihat, namun pertumbuhan ekonomi daerah justru melambat dan terhenti. Masalah keuangan berat itu tidak selesai saat itu saja, melainkan terus diwariskan ke pemerintahan berikutnya dan dirasakan warga sampai sekarang,” jelasnya.

FPPPMU menilai alasan percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan ekonomi yang dikemukakan pemerintah provinsi hanyalah alasan belaka. Jika pola pengelolaannya sama seperti kasus Morotai, dampak buruknya akan langsung menimpa pegawai negeri dan masyarakat luas.

“Kondisi yang terjadi di Morotai berulang kembali: bukan kemajuan ekonomi yang diraih, melainkan pemotongan gaji serta penundaan pembayaran Tunjangan Tambahan Pegawai (TTP) dengan dalih hukuman administratif, hanya agar pemerintah bisa menutupi pembayaran kepada kontraktor yang bekerja dalam sistem monopoli proyek,” kritik Arsad.

Dugaan Pembagian Proyek untuk Lingkaran Dekat

Lebih jauh, FPPPMU menuduh rencana pinjaman ini disusun dengan tujuan tersembunyi. Menurut pihaknya, fokus penggunaan dana yang hanya dialokasikan untuk pembangunan jalan dan jembatan bukan semata-mata demi kepentingan umum, melainkan sarana pembagian proyek infrastruktur kepada kelompok usaha yang memiliki hubungan khusus dengan pimpinan daerah.

“Bagi kami, pinjaman Rp1 triliun ini tidak lebih dari upaya mengalokasikan proyek-proyek jalan dan jembatan kepada kontraktor yang berafiliasi, bahkan merupakan keluarga dekat Gubernur. Ini bukan pembangunan merata, melainkan penguasaan sumber daya daerah oleh segelintir pihak,” tegas Arsad.

Ancaman Gugatan Hukum dan Seruan Bersatu

Menghadapi situasi tersebut, FPPPMU mengambil sikap tegas: menolak sepenuhnya rencana pinjaman daerah tersebut dan bersiap menempuh jalur hukum jika DPRD tetap menyetujuinya.

“Kami menyatakan penolakan mutlak dan akan segera mengajukan gugatan ke pengadilan jika usulan ini disahkan. Ini bukan penentangan terhadap pembangunan, melainkan upaya menyelamatkan masa depan keuangan dan kesejahteraan warga Maluku Utara,” tambahnya.

Arsad juga mengajak seluruh elemen masyarakat, organisasi kemasyarakatan, lembaga profesi, dan tokoh adat serta agama untuk bersatu menjaga kepentingan daerah.

“Mari kita bersatu menyelamatkan tanah Kie Raha yang kita cintai ini dari kebijakan yang akan merusak fondasi pembangunan jangka panjang dan merugikan rakyat banyak,” pungkasnya.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aksi AMPP–Togammoloka di Ternate Tolak Pinjaman Daerah Rp1 Triliun

    Aksi AMPP–Togammoloka di Ternate Tolak Pinjaman Daerah Rp1 Triliun

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • 0Komentar

    Gelombang penolakan terhadap rencana pinjaman daerah sebesar Rp1 triliun oleh Pemerintah Provinsi Maluku Utara mencuat melalui aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Masyarakat Pengawas Pemerintahan (AMPP)–Togammoloka di Kota Ternate, Rabu (22/7/2026). Sejumlah titik menjadi lokasi aksi, dengan konsentrasi massa terpusat di depan Hotel Bela, kawasan Jati. Ketua Umum AMPP–Togammoloka, M. Iram Galela, menjelaskan bahwa aksi tersebut […]

  • Anggaran Rp5 Miliar untuk MTQ XXXI Malut, Kegiatan Malah Digelar di Lantai Bawah Masjid – Biro Kesra Diminta Diusut

    Anggaran Rp5 Miliar untuk MTQ XXXI Malut, Kegiatan Malah Digelar di Lantai Bawah Masjid – Biro Kesra Diminta Diusut

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE – Linidaily.id. Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI tingkat Provinsi Maluku Utara tahun 2026 yang berlangsung di Sofifi pada 21–26 Juni 2026 menuai sorotan tajam. Pasalnya, kegiatan yang dibekali anggaran hibah sebesar Rp5 miliar justru dilaksanakan di ruang terbatas lantai bawah (basement) Masjid Raya Shaful Khairaat. Pemilihan lokasi itu dinilai sangat tidak layak dan […]

  • Halmahera Utara: Jadilah Tuan Rumah Porprov Berkelas

    Halmahera Utara: Jadilah Tuan Rumah Porprov Berkelas

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • 0Komentar

    Ketika bendera Porprov Maluku Utara ke-V dikibarkan dan obor semangat dinyalakan di tanah Halmahera Utara, bukan hanya ajang olahraga yang berlangsung. Di balik setiap pertandingan, setiap senyum penyambut, dan setiap fasilitas yang siap pakai, tersimpan sebuah pesan kuat: Halmahera Utara hadir bukan sekadar menjadi tuan rumah, melainkan menjadi sahabat terbaik bagi seluruh putra-putri Maluku Utara […]

  • Adhyaksa FC Resmi Berganti Nama Menjadi Persiter, Pindah Markas ke Ternate

    Adhyaksa FC Resmi Berganti Nama Menjadi Persiter, Pindah Markas ke Ternate

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, Linidaily.id – Klub sepak bola Adhyaksa FC resmi mengumumkan perubahan nama serta perpindahan markas utama (home base) menyusul rencana keikutsertaannya pada musim kompetisi 2026–2027. Keputusan ini disampaikan secara resmi melalui surat pemberitahuan yang ditujukan kepada Pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Berdasarkan surat bernomor 25/K6P/VI/2026 yang dikeluarkan PT Komposisi Enam Penjaga selaku badan […]

  • Pemprov Maluku Utara Siapkan Opsi Pemotongan TPP ASN 2027 Akibat Tekanan Fiskal

    Pemprov Maluku Utara Siapkan Opsi Pemotongan TPP ASN 2027 Akibat Tekanan Fiskal

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Maluku Utara tengah menyusun langkah antisipatif untuk menghadapi penurunan kapasitas anggaran daerah, salah satunya melalui rencana pengurangan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2027. Kebijakan ini muncul sebagai respons atas berkurangnya aliran dana transfer dari pemerintah pusat yang berdampak langsung pada kondisi fiskal daerah. Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin […]

  • Di Balik Mega Proyek Nikel PT Feni Haltim: Krisis Lingkungan dan Jeritan Warga Teluk Buli

    Di Balik Mega Proyek Nikel PT Feni Haltim: Krisis Lingkungan dan Jeritan Warga Teluk Buli

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Kehadiran industri nikel di Kabupaten Halmahera Timur yang digadang-gadang menjadi motor hilirisasi nasional kini menuai kritik keras dari masyarakat sipil. PT Feni Halmahera Timur (FHT), perusahaan patungan antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan investor asing asal Hong Kong, menjadi sorotan akibat berbagai dugaan kerusakan lingkungan yang dinilai semakin mengancam kehidupan warga di […]

expand_less