Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Coffee, Care, and Power

  • account_circle Rizky Ramli
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • visibility 58
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Milad KOHATI ke-60 tentang Habitus Patriarki di tubuh HMI Cabang Ternate

Milad KOHATI ke-60 seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun organisasi. Enam puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk meninjau kembali bagaimana HMI memperlakukan kader-kader perempuannya, terutama di tingkat cabang. Sudah sejauh mana perempuan diberi ruang untuk tumbuh sebagai pemimpin, dan sejauh mana kaderisasi HMI benar-benar berjalan tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.

Saya menulis ini bukan untuk mempertentangkan perempuan dengan laki-laki di HMI. Justru sebaliknya, tulisan ini lahir dari kegelisahan sebagai kader yang melihat ada kebiasaan-kebiasaan di organisasi yang terus diulang, tetapi jarang dikritik. Kita sering mengatakan HMI adalah organisasi kader, tetapi dalam praktik menjalankan Himpunan ini masih ada pembagian peran yang terasa sangat patriarkis. Perempuan lebih sering hadir sebagai “Juru masak” yang mengurusi dapur, sementara ruang-ruang pengambilan keputusan didominasi laki-laki.

Pierre Bourdieu menyebut kebiasaan seperti ini sebagai habitus. Ia adalah cara berpikir dan bertindak yang terus direproduksi sampai akhirnya dianggap normal. Karena dianggap normal, kita tidak lagi bertanya mengapa perempuan hampir selalu mengurus konsumsi ketika ada kegiatan, mengapa jumlah instruktur perempuan sangat sedikit, atau mengapa HMI Cabang Ternate belum pernah benar-benar membayangkan perempuan sebagai Ketua Umum Cabang.

Milad KOHATI ke-60 menurut saya adalah waktu yang tepat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Sebab organisasi yang sehat tidak takut dikritik, dan berani bernenah. Mungkin, perubahan itu bisa dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni memberi perempuan ruang yang sama untuk memimpin HMI Cabang Ternate.

Coffee & Care

Ada satu pemandangan yang begitu akrab di HMI Cabang Ternate sampai-sampai tidak pernah dipersoalkan. Sebelum sebuah kegiatan dimulai, HMI-Wati sibuk mondar mandir mengurus konsumsi. Mereka memastikan konsumsi kegiatan datang tepat waktu, menyiapkan meja registrasi, mendekorasi ruangan, menjadi MC atau dirigen ketika Indonesia Raya dan Hymne HMI dinyanyikan. Setelah acara selesai, mereka menjadi orang-orang terakhir yang membereskan Ruangan.Sementara laki-laki Menjadi pemateri, menjadi instruktur.

Memimpin sidang, dan hampir semua keputusan organisatornya adalah laki-laki.Tidak ada yang salah dengan membuat kopi atau mengurus konsumsi. Tidak ada pekerjaan organisasi yang lebih mulia dari pekerjaan lain. Persoalannya adalah pembagian kerja itu berlangsung hampir selalu dengan pola yang sama. Perempuan diasosiasikan dengan pekerjaan care kerja merawat organisasi sementara laki-laki diasosiasikan dengan pekerjaan memimpin organisasi. Inilah habitus patriarki.

Bourdieu mengatakan habitus bekerja tanpa kita sadari. Ia menjadi refleks sosial. Orang tidak lagi bertanya mengapa perempuan selalu menjadi MC, mengapa perempuan selalu menjadi dirigen, atau mengapa perempuan yang diminta membuat kopi di sekretariat. Semua dianggap “memang begitu dari dulu.” Padahal “dari dulu” tidak selalu berarti benar.

Yang lebih serius lagi, habitus itu memengaruhi praktik perkaderan. HMI Cabang Ternate hari ini mengalami krisis instruktur perempuan. Dalam forum-forum perkaderan, jumlah instruktur perempuan sangat minim. Padahal Pedoman Perkaderan HMI menjadikan instruktur sebagai aktor utama reproduksi nilai organisasi.

Situasi Krisis ini sering dijawab dengan kalimat “belum ada perempuan yang siap menjadi instruktur”. Menurut saya, jawaban itu justru memperlihatkan kegagalan organisasi membaca dirinya sendiri.

Instruktur tidak lahir secara tiba-tiba. Mereka dibentuk melalui kesempatan mengikuti Training Instruktur, diberi ruang mengajar, dipercaya memimpin sidang, lalu mendapatkan legitimasi dari organisasi. Kesempatan itu selama ini jauh lebih banyak diberikan kepada kader laki-laki. Mereka mengumpulkan pengalaman, pengetahuan, dan pengakuan. Dalam bahasa Bourdieu, mereka mengumpulkan modal budaya dan modal simbolik.

Akibatnya, organisasi menciptakan lingkaran yang terus berulang. Perempuan jarang menjadi instruktur karena tidak diberi ruang. Karena jarang menjadi instruktur, mereka dianggap belum memiliki kapasitas. Lalu ruang itu kembali diberikan kepada laki-laki.

Inilah bentuk kekerasan simbolik di tubuh HMI. Perempuan dipuji karena telaten mengurus organisasi, tetapi tidak dipercaya mengarahkan organisasi.

Kalau enam puluh tahun KOHATI masih menghasilkan situasi seperti ini, maka yang perlu dievaluasi bukan KOHATI. Yang perlu dievaluasi adalah praktik perkaderan HMI Cabang Ternate.

Power

Konferensi Cabang yang akan datang seharusnya menjadi lebih dari sekadar pergantian kepengurusan. Ia harus menjadi momentum mengubah distribusi kekuasaan di dalam organisasi.

Selama ini HMI Cabang Ternate selalu dipimpin laki-laki. Sejarah organisasi memang dipenuhi nama-nama Ketua Umum laki-laki. Tidak berarti semua kepemimpinan itu gagal. Tetapi ketika sejarah hanya menghadirkan satu wajah kepemimpinan, organisasi kehilangan keberanian untuk membayangkan alternatif.

HMI Cabang Ternate hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan dua puluh tahun lalu. Organisasi semakin sering masuk ke ruang politik praktis. Energi kader habis membaca konfigurasi kekuasaan lokal, membangun kedekatan dengan elite, dan bertarung dalam kepentingan jangka pendek. Sementara diskusi intelektual semakin jarang melahirkan gagasan besar. Demonstrasi kehilangan basis riset. Kritik sosial semakin redup dan itu berefek pada Daya ledak gerakan kita.

Bourdieu menyebut organisasi sebagai sebuah field, arena tempat modal diperebutkan. Persoalannya, arena HMI terlalu lama didominasi modal politik yang sama. Kepemimpinan diukur dari jaringan, kedekatan dengan senior, atau kemampuan membangun koalisi, bukan dari keberanian menghadirkan gagasan baru.

Di sinilah urgensi kepemimpinan perempuan. Bukan karena perempuan pasti lebih baik daripada laki-laki. Bukan pula karena KOHATI membutuhkan jatah kekuasaan. Kepemimpinan perempuan penting karena organisasi membutuhkan perspektif yang selama ini tidak cukup mendapatkan ruang.

Banyak kader perempuan HMI tumbuh melalui pengalaman advokasi pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, isu perempuan dan anak, hingga kerja-kerja komunitas. Mereka terbiasa bekerja dengan mendengar, mengorganisasi, dan membangun solidaritas. Pengalaman itu adalah modal kepemimpinan yang selama ini kurang dihargai sebagai modal politik organisasi.

Konfercab nanti harus berani membuka ruang bagi kandidat Ketua Umum perempuan.

Kalau ada kader perempuan yang memiliki rekam jejak perkaderan, pengalaman organisasi, kapasitas intelektual, dan keberanian memimpin, mengapa HMI harus ragu?

Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi, “Apakah perempuan siap memimpin HMI Cabang Ternate Pertanyaannya adalah, “Apakah HMI Cabang Ternate siap dipimpin perempuan?”

Sebab ukuran keberhasilan kaderisasi bukan banyaknya perempuan hadir di struktur kepengurusan, tetapi banyaknya perempuan memiliki kuasa yang sama untuk menentukan arah organisasi.

From Care to Power

Milad KOHATI ke-60 seharusnya menjadi titik balik, Sudah terlalu lama HMI-Wati diposisikan sebagai mereka yang memastikan acara berjalan baik, mewah, estetik, tetapi tidak selalu dipercaya memastikan organisasi berjalan ke mana. Terlalu lama perempuan diberikan ruang untuk care, tetapi tidak cukup ruang untuk power.

Membongkar habitus patriarki bukan berarti menciptakan pertentangan antara laki-laki dan perempuan. Justru sebaliknya, ini adalah upaya mengembalikan HMI pada prinsip kaderisasinya sendiri, yakni setiap kader memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan memimpin.

Mungkin sejarah baru itu dimulai dari Konferensi Cabang berikutnya. Ketika HMI Cabang Ternate tidak lagi melihat kepemimpinan perempuan sebagai sesuatu yang luar biasa, melainkan sebagai konsekuensi paling logis dari kaderisasi yang adil.

Karena setelah enam puluh tahun, sudah saatnya perempuan HMI tidak hanya dipercaya membuat kopi dan dan menjadi MC organisasi. Sudah saatnya perempuan dipercaya memegang kemudi organisasi.

Nikahi kohati mu, maka sempurna HMI Mu

YAKUSA!!

  • Penulis: Rizky Ramli

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolam Air Mancur di Landmark Ternate Ditimbun Sementara: Alasan Keamanan dan Persiapan JKPI

    Kolam Air Mancur di Landmark Ternate Ditimbun Sementara: Alasan Keamanan dan Persiapan JKPI

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE -LiniDaily.id. Pemerintah Kota Ternate mulai menimbun kolam air mancur yang berada di kawasan Landmark. Langkah ini diambil mengingat fasilitas tersebut sudah lama tidak berfungsi. Sekretaris Daerah Kota Ternate menyampaikan bahwa penimbunan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum atas arahan Wali Kota. Keputusan ini diambil saat meninjau lokasi yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai salah satu tempat […]

  • Owner Zahra Berkah Jadi Tersangka Dugaan Investasi Bodong di Ternate

    Owner Zahra Berkah Jadi Tersangka Dugaan Investasi Bodong di Ternate

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • 0Komentar

    Ternate, Linidaily.id – Perkara dugaan investasi bodong yang menyeret owner Zahra Berkah, SAHM alias Sahriyani, memasuki babak baru. Polres Ternate, Maluku Utara, resmi menetapkan Sahriyani sebagai tersangka setelah menerima dan memproses laporan dari para korban yang mengaku mengalami kerugian dalam aktivitas investasi yang dijalankannya. Penetapan tersangka tersebut dilakukan pada Jumat (18/9/2026) malam. Kasat Reskrim Polres […]

  • Silmy Karim & Jaringan Korupsi Imigrasi: “Setiap Klik Ada Harganya”

    Silmy Karim & Jaringan Korupsi Imigrasi: “Setiap Klik Ada Harganya”

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id Nasional – Nama Wakil Menteri Imigrasi, Silmy Karim, kini menjadi sorotan utama publik setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap praktik korupsi, pemerasan, dan pencucian uang yang berlangsung secara sistemik, terstruktur, dan masif di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi. Modus operandi yang digulirkan tidak lagi sekadar pungutan liar biasa, melainkan sebuah “industri” pengerukan uang negara yang […]

  • KPK Soroti Tata Kelola BPBJ Malut di Bawah Kepemimpinan Hairil Hukum

    KPK Soroti Tata Kelola BPBJ Malut di Bawah Kepemimpinan Hairil Hukum

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI menyoroti ketat kinerja Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Provinsi Maluku Utara yang saat ini dipimpin oleh Hairil Hukum. Lembaga antirasuah tersebut mengidentifikasi sejumlah celah kerawanan dalam mekanisme pengadaan yang berpotensi merugikan keuangan daerah. Peringatan keras ini disampaikan langsung oleh Direktur Koordinasi dan Supervisi Wilayah V KPK, Maruli […]

  • Ketika Merdeka Hanya dalam Pidato

    Ketika Merdeka Hanya dalam Pidato

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • 0Komentar

    Setiap 17 Agustus, kita selalu mendengar kata-kata dan mantra yang sama: kemerdekaan, perjuangan, persatuan, pembangunan, kesejahteraan, dan Indonesia maju. Bendera Merah Putih dikibarkan. Lagu kebangsaan dinyanyikan. Para pejabat mengenakan pakaian terbaik. Upacara berlangsung khidmat. Pidato dibacakan dengan suara lantang dan penuh semangat. Tetapi setelah upacara selesai, pertanyaan yang lebih penting justru sering terlupakan: apa arti […]

  • Melawan dengan Buku: Tulisan sebagai Bentuk Perlawanan yang Paling Bertahan

    Melawan dengan Buku: Tulisan sebagai Bentuk Perlawanan yang Paling Bertahan

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • 0Komentar

    11 sampai 12 September 2026 Festival Buku mulai dihelat dengan diawali dengan acara pembukaan. Diiniasiasi oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia ICMI ORWIL Maluku Utara, Komunitas Pencinta Buku, Jakofi Pustaka dan LP3ES menghadirkan sejumlah agenda; Diskusi Buku, Greet and Meet bersama, Trik and Tips menulis esai, kelas menulis puisi dan laporan investigasi, dan beragam lainnya menunjukkan […]

expand_less