AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
- visibility 71
- comment 0 komentar
- print Cetak

Warga Banemo melakukan unjuk rasa dan aksi blokade akses jalan Trans Halmahera ruas Jalur Desa Remdi, Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ratusan Warga Banemo melakukan unjuk rasa dan aksi blokade akses jalan Trans Halmahera ruas Jalur Desa Remdi, Rabu, 20 Mei 2026.
Aksi blokade ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas Warga Banemo Melawan, kepada pemerintah dan kepolisian, menyusul ditemukannya ranjau di perkebunan serta kasus pembunuhan Ustadz Ali Abas yang hingga kini belum ada titik terang.
Tensi aksi warga memuncak dua hari lalu, atau pada 18 Mei 2026, ketika warga menemukan sejumlah ranjau darat di kawasan perkebunan Woyobalo, wilayah hutan Desa Bobane Indah.
Temuan ranjau ini menjadi bukti nyata dugaan kelompok bersenjata atau pelaku teror yang bergerak bebas di dalam hutan Patani Barat yang mengancam nyawa dan mata pencaharian warga.
Kemarahan warga makin memuncak karena kasus pembunuhan terhadap mantan Kepala Desa Bobane Jaya, Ustadz Ali Abas, yang ditemukan tewas mengenaskan pada 2 April 2026, sampai hari ini belum ada kejelasan dan berhasil mengungkap pelaku.
Masyarakat menilai penegak hukum lambat bertindak.
Koordinator aksi mengatakan, penemuan ranjau di kebun membuat rasa aman warga hilang. Kelompok pengancam berkeliaran bebas. Aksi blokade jalan sebagai upaya warga sampai ada jawaban nyata.
Ada tiga tuntutan utama massa aksi, pertama, segera mengungkap dan menangkap pelaku yang membunuh Ustadz Ali Abas, proses hukum sampai tuntas. Kedua, mengusut tuntas jejak dan jaringan kelompok yang memasang ranjau di kawasan hutan/perkebunan warga, serta memberikan jaminan keamanan secara permanen. Ketiga, batalkan rencana pendirian Markas TNI di wilayah Patani , karena ada kekhawatiran terampasnya hak Ulayat dan rusaknya lingkungan.
Sementara aparat kepolisian sudah berada di lokasi untuk mengamankan situasi dan membangun komunikasi, namun massa tetap bersikeras meminta kepastian dan penanganan serius.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar