Sepekan di Tiga Desa Morotai Selatan Barat, PUKAT Malut dan Blue Ventures Buka Jalan Pendampingan Perikanan Berbasis Masyarakat
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- visibility 118
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MOROTAI – Pendampingan masyarakat pesisir di Kabupaten Pulau Morotai resmi dimulai. Tim PUKAT Maluku Utara bersama Blue Ventures berada di tiga desa Kecamatan Morotai Selatan Barat, yaitu Waringin, Usbar Pantai, dan Tiley Pantai, pada 25 September hingga 2 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi langkah pertama dari pendampingan pengelolaan perikanan berbasis masyarakat yang direncanakan berlangsung hingga Juni 2028.Selama sepekan itu, Desa Waringin menjadi basecamp tim PUKAT Maluku Utara. Dari sana, tim bergerak menjalankan lima kegiatan yang bersumber dari pilar community-based fisheries management (CBFM), pengamanan hak, relasi pemangku kepentingan dan tata kelola (SR), inklusi keuangan (FI), serta ketahanan pangan (FS). Tim tidak langsung membawa rencana jadi. Mereka memulainya dengan mengenalkan program, memahami siapa saja yang terlibat, dan mengumpulkan gambaran awal tentang kehidupan warga.Mengenalkan program lewat sosialisasi
Kegiatan pertama adalah peningkatan kesadaran dan sosialisasi. Tim menjelaskan maksud program kepada warga: pengelolaan perikanan tidak hanya soal menjaga stok ikan, tetapi juga tentang masa depan nelayan dan keluarganya. Warga perlu memahami lebih dulu apa yang akan dikerjakan bersama dan apa manfaatnya bagi desa.
Memetakan pihak yang berkepentingan
Kegiatan kedua adalah pemetaan pemangku kepentingan. Tim mencatat siapa saja yang berperan dalam urusan pesisir dan perikanan di tiga desa itu, mulai dari kelompok warga, tokoh masyarakat, hingga lembaga yang berwenang. Pemetaan ini membantu tim memahami hubungan antarpihak serta menentukan siapa yang perlu dilibatkan pada setiap tahap pendampingan.
Menggandeng pemerintah
Hasil pemetaan ditindaklanjuti lewat kegiatan ketiga, yakni penjangkauan pemangku kepentingan dari unsur pemerintah yang relevan. Pengelolaan perikanan di tingkat desa tidak bisa berdiri sendiri. Dukungan pemerintah, baik di tingkat desa maupun di atasnya, dibutuhkan agar kesepakatan warga memiliki pijakan yang kuat dan berkelanjutan.
Berkenalan langsung dengan komunitas
Kegiatan keempat berlangsung di tengah warga. Tim melakukan perkenalan awal ke komunitas, membangun keterlibatan, dan mensosialisasikan topik ketahanan pangan. Kebutuhan keluarga pesisir tidak berhenti pada hasil tangkapan. Pangan yang cukup dan beragam di tingkat rumah tangga turut menentukan seberapa besar tekanan warga terhadap sumber daya laut.
Mengenal desa lewat data
Kegiatan kelima adalah survei profil komunitas di tiga desa. Survei ini menjadi bahan dasar bagi tim untuk memahami kondisi sosial dan ekonomi warga sebelum menyusun langkah berikutnya. Tanpa gambaran awal yang jelas, program berisiko meleset dari kebutuhan nyata di lapangan. Data tersebut juga dapat menjadi titik pembanding untuk melihat perubahan selama pendampingan berjalan.
Awal dari rangkaian panjang
Direktur Program PUKAT Maluku Utara, Dr. Muhammad Assagaf, menegaskan bahwa pekan ini barulah permulaan.”Kegiatan sepekan ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan dengan fokus pada empat pilar yang diimplementasikan dalam 48 kegiatan, dengan tujuan akhir menjadi fondasi yang kokoh dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tiga desa melalui pengelolaan perikanan berbasis masyarakat sesuai dengan potensi desa masing-masing,” ujarnya.
Sambutan dari tuan rumah
Dukungan warga terasa sejak hari-hari awal. Kepala Desa Waringin, menyampaikan rasa syukurnya karena desanya dipilih sebagai basecamp kegiatan.
“Saya sangat mendukung dan merasa beruntung bahwa Desa Waringin menjadi pilihan di antara banyak desa pesisir di Kecamatan Morselbar. Semoga ikhtiar ini bermanfaat dan dapat meningkatkan kesejahteraan, khususnya masyarakat Desa Waringin dan umumnya dua desa lain yang menjadi lokus dari kegiatan ini,” ujarnya.
Pelajaran dari pekan pertama
Sepekan di lapangan memberi banyak pelajaran. Tiap desa memiliki karakter, kebutuhan, dan kesiapan yang berbeda, sehingga pendekatan yang seragam tidak akan efektif. Kelima kegiatan itu juga menunjukkan bahwa kerja bersama masyarakat dimulai dari hal mendasar: memperkenalkan diri, mendengar, dan mencatat dengan cermat.
Jalan masih panjang
Rentang pendampingan hingga Juni 2028 memberi ruang bagi proses yang bertahap. Perubahan dalam pengelolaan perikanan jarang terjadi dalam hitungan bulan. Ia tumbuh dari pertemuan yang berulang, kesepakatan yang dijaga, dan hasil nyata yang dirasakan warga. Karena itu, pekan pertama ini lebih tepat dipandang sebagai fondasi daripada pencapaian akhir.Jika fondasi itu dirawat, Waringin, Usbar Pantai, dan Tiley Pantai berpeluang menjadi contoh bagi desa pesisir lain di Maluku Utara tentang bagaimana warga, pemerintah, dan mitra pendamping dapat menjaga laut sekaligus kesejahteraan keluarga.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar