37 Penulis Remaja Ternate Asyik Menulis Puisi Bersama Ayah Arie
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
- visibility 65
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kelas menulis puisi yang dihadiri 37 peserta penulis remaja memenuhi ruang Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate. Foto: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TERNATE – Sebanyak 37 peserta yang terdiri atas penulis remaja, siswa SMP dan SMA di Kota Ternate, serta tamu dari Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC), memenuhi ruang Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Sabtu pagi.
Sejak pukul 08.25 WIT hingga menjelang pukul 12.00 WIT, para peserta tampak serius mengikuti kegiatan creative writing sesi pelatihan menulis sajak dan puisi. Pelatihan itu dipandu langsung Zainuddin M. Arie, pegiat teater sekaligus penyair Maluku Utara.
Ayah Arie (sapaan akrab Zainuddin M. Arie dalam kegiatan tersebut melatih dan mengajak peserta pelatihan untuk menata menata diksi, menyusun bait, serta mengembangkan gagasan menjadi karya puisi. Dari proses kreatif itu, lahir 37 puisi pendek dengan berbagai tema, mulai dari religi, sosial, budaya, lingkungan, sejarah hingga heroisme.
Pantauan di lapangan, Ayah Arie membangun komunikasi secara langsung dengan para peserta melalui pendekatan literer. Dalam praktik menulis sajak-puisi, peserta tidak hanya diberikan teori, tetapi juga diarahkan untuk menggali informasi, mengolah pengalaman, kemudian menuangkannya ke dalam bahasa puitis.
“Menulis puisi bukan sekadar menyusun kata-kata. Ada proses mengamati, menggali informasi, memilih diksi, kemudian mengolahnya menjadi sebuah pengalaman yang memiliki makna,” ujar Zainuddin dalam kegiatan tersebut.
Strategi assessing information turut diterapkan dalam proses pembelajaran. Peserta diarahkan untuk mengenali informasi yang mereka temukan, menilai relevansinya, lalu mengembangkannya sebagai bahan penulisan puisi.
Suasana forum sastra itu semakin semarak dengan keterlibatan sejumlah guru pembina. Para guru tidak hanya mendampingi peserta, tetapi juga ikut menulis puisi di bawah bimbingan penyair asal Maluku Utara tersebut.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara generasi muda, guru, dan pegiat sastra untuk membangun tradisi literasi melalui praktik menulis. Puisi-puisi yang lahir dari kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa ruang belajar sastra dapat menjadi wadah bagi peserta untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, serta kepedulian mereka terhadap kehidupan sosial dan lingkungan sekitar.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar