PERJALANAN MENCARI KEADILAN: KETIKA HIDUP TIDAK BERJALAN SEPERTI YANG DIHARAPKAN
- account_circle Sakti Awan
- calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
- visibility 101
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada masa dalam kehidupan ketika seseorang tidak lagi bertanya mengapa hidup begitu sulit, tetapi mulai bertanya sesuatu yang lebih dalam: mengapa saya harus mengalami semua ini?
Pertanyaan itu mungkin tidak mudah dijawab. Sebab ada pengalaman dalam hidup yang tidak cukup dijelaskan hanya dengan kata-kata. Ada keadaan ketika seseorang sudah berusaha, tetapi hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ada saat ketika kita merasa telah berbuat baik, tetapi justru mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Ada keadaan ketika orang lain terlihat mendapatkan kehidupan yang lebih mudah, sementara kita harus berjalan melalui jalan yang penuh dengan persoalan.
Pada titik tertentu, seseorang bisa merasa bahwa keadilan tidak pernah benar-benar berpihak kepadanya. Bukan hanya ketidakadilan dalam bentuk materi, tetapi juga ketidakadilan yang terasa di dalam batin. Kita merasa tidak dihargai, tidak dipahami, kehilangan sesuatu yang kita harapkan, atau harus menerima keadaan yang sebenarnya tidak pernah kita pilih.
Saya pun pernah berada pada titik ketika kehidupan membuat saya bertanya tentang keadilan. Mengapa sesuatu yang saya harapkan tidak saya dapatkan? Mengapa jalan yang saya tempuh harus begitu berat? Mengapa ada orang yang seolah-olah mendapatkan kemudahan, sedangkan saya harus melewati begitu banyak persoalan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang membuat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, manusia ingin percaya bahwa kehidupan memiliki keadilan. Tetapi di sisi lain, kenyataan yang dialami sering kali justru terlihat sebaliknya.
Namun, mungkin persoalannya bukan bahwa keadilan tidak ada. Bisa jadi manusia sedang mencari keadilan pada tempat dan waktu yang belum menjadi tempat terakhir dari seluruh perjalanan hidupnya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Allah berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ayat ini memberikan pemahaman bahwa ujian bukan sesuatu yang berada di luar kehidupan manusia. Ujian merupakan bagian dari perjalanan manusia. Keimanan, kesabaran, keteguhan, dan cara seseorang menghadapi kehidupan akan berhadapan dengan berbagai keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginannya.
Tetapi memahami bahwa hidup adalah ujian bukan berarti kita harus berpura-pura kuat setiap saat. Manusia tetap mempunyai perasaan. Manusia dapat sedih, kecewa, menangis, mempertanyakan keadaan, bahkan merasa lelah. Semua itu merupakan bagian dari kemanusiaan.
Yang menjadi persoalan adalah apa yang dilakukan manusia setelah mengalami semua itu.
Al-Qur’an juga mengatakan:
“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ujian manusia dapat hadir dalam berbagai bentuk. Tidak hanya berupa kekurangan materi, tetapi juga kehilangan, ketakutan, tekanan batin, dan berbagai keadaan yang menguji kemampuan seseorang untuk bertahan.
Karena itu, ketika seseorang merasa hidupnya tidak adil, mungkin pertanyaan yang lebih dalam bukan hanya “mengapa saya mendapatkan ini?”, tetapi juga “apa yang sedang dibentuk dalam diri saya melalui semua ini?”
Pertanyaan kedua tidak berarti bahwa setiap penderitaan harus dianggap baik. Ketidakadilan tetaplah ketidakadilan. Jika seseorang dizalimi, maka kezaliman tersebut tidak menjadi benar hanya karena orang yang mengalaminya diminta bersabar. Kesabaran bukan berarti membenarkan ketidakadilan.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa keadilan Tuhan dan keadilan manusia tidak selalu dapat dilihat dalam ukuran yang sama.
Manusia sering mengukur keadilan berdasarkan apa yang dapat dilihat sekarang. Jika saya bekerja keras tetapi belum mendapatkan hasil, saya merasa tidak adil. Jika saya berbuat baik tetapi diperlakukan buruk, saya merasa tidak adil. Jika orang lain mendapatkan sesuatu yang saya perjuangkan tetapi tidak saya dapatkan, saya merasa kehidupan tidak adil.
Padahal, manusia hanya melihat sebagian kecil dari keseluruhan perjalanan hidupnya.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini bukan berarti setiap sesuatu yang menyakitkan pasti akan berakhir sesuai dengan apa yang kita inginkan. Maknanya lebih dalam: pengetahuan manusia tentang kehidupannya terbatas. Kita hanya mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang, sementara Allah mengetahui keseluruhan perjalanan yang tidak mampu kita lihat.
Karena itu, mungkin ada hal-hal yang hari ini kita anggap sebagai kehilangan, tetapi beberapa tahun kemudian kita memahami bahwa kehilangan tersebut telah mengubah arah hidup kita. Ada pertemuan yang tidak berlangsung lama tetapi memberikan pelajaran. Ada kegagalan yang pada awalnya terasa menghancurkan tetapi justru membuat seseorang menemukan dirinya kembali.
Namun, tidak semua jawaban harus ditemukan hari ini.
Ada pertanyaan dalam kehidupan yang mungkin baru menemukan jawabannya setelah manusia melewati perjalanan yang panjang.
Pandangan seperti ini juga dapat dipertemukan dengan pemikiran Ali Syariati tentang manusia. Dalam pembahasan mengenai pemikirannya, manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang hanya menerima keadaan. Manusia memiliki kesadaran, kebebasan, dan kemampuan untuk menentukan sikap terhadap keadaan yang dihadapinya.
Artinya, ujian kehidupan tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi kepada manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia merespons apa yang terjadi kepadanya.
Dua orang dapat mengalami persoalan yang hampir sama, tetapi keluar dengan keadaan batin yang berbeda. Seseorang mungkin menjadi pahit karena penderitaan, sementara orang lain menjadi lebih memahami penderitaan orang lain. Seseorang mungkin menggunakan pengalaman buruknya untuk menyakiti orang lain, sementara orang lain menjadikannya alasan untuk tidak melakukan hal yang sama kepada manusia lain.
Di sinilah ujian kehidupan mempunyai dimensi yang lebih dalam.
Bukan hanya tentang seberapa berat masalah yang diberikan, tetapi juga tentang manusia seperti apa yang terbentuk setelah melewati masalah tersebut.
Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini sering dipahami sebagai penghiburan bagi manusia yang sedang menghadapi kesulitan. Tetapi menurut saya, ayat tersebut juga mengandung tanggung jawab. Ketika seseorang diberi ujian, bukan berarti ia harus mengetahui seluruh jawabannya saat itu juga. Yang diminta adalah menjalani prosesnya dengan kemampuan yang dimiliki, tetap berusaha, dan tidak kehilangan arah.
Namun, manusia tetap mempunyai batas.
Ada saat ketika kita merasa tidak sanggup. Ada saat ketika doa terasa seperti tidak menemukan jawaban. Ada saat ketika kita melihat orang lain hidup dengan mudah sementara diri sendiri masih berjuang. Pada saat seperti itu, mungkin yang paling dibutuhkan bukan jawaban yang cepat, melainkan keberanian untuk tetap berjalan meskipun belum memahami seluruh alasan di balik perjalanan tersebut.
Sebab mungkin Tuhan tidak selalu menjelaskan mengapa sesuatu terjadi kepada kita. Tetapi kehidupan sering kali perlahan memperlihatkan untuk apa kita melewati sesuatu.
Perbedaan antara “mengapa” dan “untuk apa” sangat besar.
Pertanyaan “mengapa saya?” terkadang membuat kita terus melihat luka. Sedangkan pertanyaan “untuk apa saya melewati ini?” mulai membuka kemungkinan untuk menemukan makna.
Bukan berarti kita harus memaksa diri untuk menganggap semua penderitaan sebagai sesuatu yang indah. Tidak. Ada luka yang memang menyakitkan. Ada kehilangan yang membutuhkan waktu panjang untuk diterima. Ada ketidakadilan yang memang harus dilawan.
Tetapi di tengah semua itu, manusia masih mempunyai satu kebebasan: menentukan siapa dirinya setelah semua yang terjadi.
Mungkin inilah yang dimaksud dengan revolusi diri. Bukan menghapus seluruh masalah dalam kehidupan, melainkan mengubah cara kita berdiri di hadapan masalah tersebut.
Dulu mungkin kita bertanya, “Mengapa hidup tidak memberikan saya keadilan?”
Kemudian pertanyaan itu perlahan berubah menjadi, “Apa yang dapat saya lakukan dengan kehidupan yang telah diberikan kepada saya?”
Dulu kita mungkin hanya melihat apa yang tidak kita miliki. Tetapi setelah melewati perjalanan, kita mulai melihat apa yang masih kita punya.
Dulu kita mungkin menganggap ujian sebagai hukuman. Tetapi kemudian kita mulai memahami bahwa tidak semua ujian adalah hukuman. Sebagian mungkin merupakan proses yang membentuk manusia menjadi lebih sadar, lebih kuat, lebih rendah hati, dan lebih mampu memahami penderitaan orang lain.
Pada akhirnya, saya tidak tahu apakah seluruh persoalan dalam hidup ini akan menemukan jawabannya. Mungkin tidak semuanya akan terjawab ketika saya masih hidup. Tetapi saya mulai memahami satu hal: keadilan Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk yang saya inginkan dan tidak selalu datang pada waktu yang saya tentukan.
Manusia memiliki waktu yang terbatas, sedangkan Tuhan melihat kehidupan dalam keseluruhan.
Karena itu, perjalanan hidup mungkin bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan. Bisa jadi perjalanan hidup adalah tentang menjadi manusia yang tetap memiliki nilai ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Tetap jujur ketika dunia mengajarkan kita untuk berbohong.
Tetap berbuat baik ketika kebaikan kita tidak langsung dibalas.
Tetap berusaha ketika hasil belum terlihat.
Tetap percaya ketika jawaban belum datang.
Dan tetap menjadi manusia ketika kehidupan pernah membuat kita merasa diperlakukan tidak manusiawi.
Mungkin pada akhirnya, keadilan yang selama ini kita cari bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan di dunia. Keadilan juga berkaitan dengan bagaimana kita mempertanggungjawabkan kehidupan yang telah diberikan kepada kita.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari seluruh perjalanan manusia. Karena itu, apa yang tampak sebagai kemenangan atau kekalahan pada hari ini belum tentu merupakan akhir dari cerita.
Saya mungkin belum memahami mengapa harus melewati semua ini.
Saya mungkin belum menemukan jawaban mengapa sebagian hal tidak diberikan kepada saya.
Saya mungkin masih bertanya mengapa hidup harus seberat ini.
Tetapi mungkin saya tidak harus mengetahui seluruh jawabannya sekarang.
Mungkin tugas saya saat ini adalah terus berjalan, terus belajar, terus memperbaiki diri, dan tidak membiarkan ketidakadilan yang pernah saya rasakan mengubah saya menjadi manusia yang tidak adil kepada orang lain.
Sebab jika hidup pernah mengajarkan saya tentang rasa sakit, maka saya tidak ingin menggunakan rasa sakit itu untuk menyakiti manusia lain.
Jika hidup pernah membuat saya merasa tidak dipahami, maka saya ingin belajar memahami orang lain.
Jika hidup pernah membuat saya merasa tidak mendapatkan keadilan, maka saya ingin menjadi manusia yang berusaha memberikan keadilan kepada orang-orang yang saya temui.
Dan mungkin di situlah perjalanan hidup mulai menemukan maknanya:
bukan ketika semua persoalan selesai, tetapi ketika kita mampu mengubah luka menjadi kesadaran, kesadaran menjadi kekuatan, dan kekuatan menjadi kebaikan bagi orang lain.
- Penulis: Sakti Awan

Saat ini belum ada komentar