Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Menyelamatkan Ternate dari Sesaknya Sampah

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
  • visibility 223
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pagi di Ternate selalu punya cara membuat orang jatuh cinta: laut yang biru, Gamalama yang berdiri gagah, aroma ikan bakar, dan percakapan hangat di pasar. Tetapi di balik keindahan itu, ada persoalan yang pelan-pelan menumpuk, berbau, dan mengancam masa depan kota pulau ini: sampah.

Ternate bukan kota dengan daratan luas yang bisa terus-menerus “menyembunyikan” sampah di tempat pembuangan akhir. Sebagai kota pulau, setiap jengkal tanah adalah ruang hidup. Karena itu, pola lama pengelolaan sampah—kumpul, angkut, buang—sudah tidak layak dipertahankan. Pola ini bukan hanya usang, tetapi berbahaya. Ia membuat kita merasa seolah masalah selesai ketika sampah hilang dari depan rumah, padahal sebenarnya hanya berpindah tempat: ke TPA, ke selokan, ke pesisir, lalu ke laut.

Kritik paling mendasar harus diarahkan pada ketergantungan kita terhadap TPA. Selama TPA dianggap sebagai solusi akhir, masyarakat tidak didorong untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Pemerintah pun cenderung sibuk mengurus hilir, bukan membenahi hulu. Padahal, bagi Ternate, TPA yang terus meluas berarti ancaman langsung terhadap kesehatan, ruang hidup, dan kualitas lingkungan. Sampah organik yang membusuk menghasilkan metana, gas rumah kaca yang memperparah krisis iklim. Sampah plastik yang tercecer bisa berakhir di laut, merusak ekosistem yang selama ini menjadi penyangga pangan, ekonomi, dan pariwisata warga.

Di titik inilah ekonomi sirkular dengan prinsip 5R—Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, Recycle—menjadi mendesak. Bukan sekadar jargon seminar atau poster kampanye, 5R harus menjadi cara baru warga Ternate memperlakukan barang, konsumsi, dan limbah.

Langkah pertama adalah refuse, berani menolak. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya paling politis. Menolak kantong plastik sekali pakai, sedotan plastik, kemasan berlebihan, dan budaya konsumsi instan adalah bentuk perlawanan warga terhadap sistem yang membuat sampah menjadi tanggung jawab konsumen semata. Toko, restoran, pelaku usaha, dan produsen juga harus ikut bertanggung jawab. Tidak adil jika warga diminta memilah sampah, sementara produk sekali pakai terus membanjiri pasar tanpa kendali.

Berikutnya, reduce atau mengurangi. Masyarakat perlu mulai bertanya sebelum membeli: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah ada pilihan yang lebih tahan lama? Di tingkat rumah tangga, pengurangan sampah bisa dimulai dari membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja ulang pakai, membeli seperlunya, serta mengurangi makanan terbuang. Perubahan kecil ini, jika dilakukan bersama, dapat mengurangi tekanan besar pada TPA.

Prinsip reuse dan repurpose membuka ruang yang lebih kreatif. Barang yang dianggap tidak berguna bisa dipakai kembali atau dialihfungsikan. Botol kaca menjadi wadah bumbu, kain bekas menjadi tas, kayu sisa menjadi perabot sederhana. Di tangan komunitas kreatif, sampah bisa naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi. Di sinilah peluang lapangan kerja hijau terbuka, terutama bagi perempuan, anak muda, dan pelaku UMKM lokal. Ekonomi sirkular bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga bisa menghidupkan dapur keluarga.

Namun kita tidak boleh romantis. Recycle atau daur ulang di kota pulau seperti Ternate menghadapi tantangan serius. Biaya logistik mahal, fasilitas terbatas, dan pasar daur ulang belum kuat. Karena itu, pemerintah daerah tidak bisa hanya mengimbau masyarakat. Harus ada kebijakan nyata: memperkuat bank sampah, menyediakan fasilitas pemilahan di tingkat kelurahan, memberi insentif bagi usaha daur ulang, membatasi plastik sekali pakai, serta memberi sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Tanpa keberanian regulasi, 5R hanya akan menjadi slogan manis di spanduk.

Media, sekolah, kampus, komunitas agama, dan tokoh masyarakat juga punya peran penting. Kesadaran tidak lahir dari ceramah sesekali, tetapi dari pendidikan yang konsisten dan contoh yang terlihat. Anak-anak Ternate perlu tumbuh dengan kebiasaan memilah sampah, mencintai laut, dan memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga rumah sendiri.

Jika sampah gagal dikelola, masa depan Ternate bisa muram: TPA penuh, banjir makin sering, penyakit meningkat, laut tercemar, ikan terkontaminasi plastik, dan pariwisata kehilangan daya tarik. Kota yang indah bisa berubah menjadi kota yang sesak oleh limbahnya sendiri.

Ternate masih punya kesempatan. Tetapi kesempatan itu tidak akan menunggu selamanya. Menyelamatkan Ternate harus dimulai dari keberanian mengubah cara hidup, cara berbisnis, dan cara pemerintah membuat kebijakan. 5R bukan sekadar program lingkungan; ia adalah napas baru pembangunan kota pulau.

Sebab mencintai Ternate tidak cukup dengan mengagumi mataharinya. Kita juga harus berani menjaga tanah, laut, dan masa depannya dari sampah yang kita hasilkan sendiri.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polda Malut Selidiki Ketidaksesuaian Data Tagihan Limbah B3 PT IWIP

    Polda Malut Selidiki Ketidaksesuaian Data Tagihan Limbah B3 PT IWIP

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • 0Komentar

    WEDA, Linidaily.id  Dugaan adanya penyimpangan administrasi dalam proses penagihan jasa pengangkutan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) menjadi perhatian serius Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Maluku Utara. Penyelidikan kini difokuskan pada PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), setelah ditemukan perbedaan data antara catatan internal perusahaan dengan dokumen tagihan yang diajukan. Sebagai langkah awal, penyidik […]

  • Dari Semangkuk Bubur Manado, Lahir Gagasan Besar untuk Pangan Maluku Utara

    Dari Semangkuk Bubur Manado, Lahir Gagasan Besar untuk Pangan Maluku Utara

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • 0Komentar

    Ternate 18 Juni 2026!. Kamis pagi itu udara Ternate terasa segar. Di sudut warung Bubur Manado yang berdiri tak jauh dari pagar Stadion Gelora Kieraha, enam orang duduk mengelilingi meja kayu sederhana. Uap panas mengepul dari mangkuk-mangkuk bubur yang baru disajikan, sementara percakapan di antara mereka perlahan mengalir, dari basa-basi pagi hari menuju sesuatu yang […]

  • Dari Galela ke Filipina, Komaruddin Nursi Kasman Bawa Sejarah Maluku Utara ke Panggung Internasional

    Dari Galela ke Filipina, Komaruddin Nursi Kasman Bawa Sejarah Maluku Utara ke Panggung Internasional

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • 0Komentar

    FILIPINA — Sejarah lokal Maluku Utara kembali mendapat ruang di forum akademik internasional. Kali ini, perhatian tertuju pada Komaruddin Nursi Kasman Abdul Rahim, mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tampil dalam National Conference on Local History and Heritage di Filipina. Mahasiswa berusia 19 tahun yang akrab disapa Komar […]

  • Ketua KPMF FIB Unkhair Ungkap Dugaan Tekanan dan Ancaman Terkait Perpanjangan Pendaftaran Calon BEM

    Ketua KPMF FIB Unkhair Ungkap Dugaan Tekanan dan Ancaman Terkait Perpanjangan Pendaftaran Calon BEM

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE – Ketua Komisi Pemilihan Mahasiswa Fakultas (KPMF) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Khairun, Arju Duwila, mengungkap dugaan adanya tekanan hingga ancaman terhadap KPMF dalam proses penyelenggaraan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BEM FIB. Menurut Arju, persoalan yang terjadi bukan sekadar keterlambatan penerbitan Surat Keputusan (SK) KPMF, melainkan telah menyentuh aspek independensi lembaga penyelenggara pemilihan. […]

  • Anwar Hafid: Gubernur Yang Tak Butuh Buzzer

    Anwar Hafid: Gubernur Yang Tak Butuh Buzzer

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • 0Komentar

    Kalau akhir-akhir ini media sosial ramai membicarakan Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, itu bukan karena bayaran atau rekayasa citra. Itu murni suara rakyat yang merasa diperhatikan — reaksi alami ketika seorang pemimpin benar-benar bekerja memenuhi hak dasar masyarakat, bukan sibuk menyusun narasi palsu. Berbeda jauh dengan banyak pemimpin yang lebih dikenal karena kemampuan membangun citra […]

  • Sigaro Festival Buku Maluku Utara 2026

    Sigaro Festival Buku Maluku Utara 2026

    • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
    • 0Komentar

    Sigaro dalam Bahasa lokal Maluku Utara terutama Ternate bermakna ajakan, baku pangge, Sigaro Malaha artinya saling mengajak pada kebaikan. Pertama kali saya melihat Agenda Festival Buku Maluku Utara 2026 yang akan di laksanakan pada bulan Agustus 2026, disampaikan lewat pemberitahuan beberapa kolega di Whatsapp Group dengan mengisi formulir pendataan buku dan penulis di Maluku Utara, […]

expand_less