Sabtu, 15 Agu 2026
light_mode

Menyelamatkan Ternate dari Sesaknya Sampah

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
  • visibility 202
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pagi di Ternate selalu punya cara membuat orang jatuh cinta: laut yang biru, Gamalama yang berdiri gagah, aroma ikan bakar, dan percakapan hangat di pasar. Tetapi di balik keindahan itu, ada persoalan yang pelan-pelan menumpuk, berbau, dan mengancam masa depan kota pulau ini: sampah.

Ternate bukan kota dengan daratan luas yang bisa terus-menerus “menyembunyikan” sampah di tempat pembuangan akhir. Sebagai kota pulau, setiap jengkal tanah adalah ruang hidup. Karena itu, pola lama pengelolaan sampah—kumpul, angkut, buang—sudah tidak layak dipertahankan. Pola ini bukan hanya usang, tetapi berbahaya. Ia membuat kita merasa seolah masalah selesai ketika sampah hilang dari depan rumah, padahal sebenarnya hanya berpindah tempat: ke TPA, ke selokan, ke pesisir, lalu ke laut.

Kritik paling mendasar harus diarahkan pada ketergantungan kita terhadap TPA. Selama TPA dianggap sebagai solusi akhir, masyarakat tidak didorong untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Pemerintah pun cenderung sibuk mengurus hilir, bukan membenahi hulu. Padahal, bagi Ternate, TPA yang terus meluas berarti ancaman langsung terhadap kesehatan, ruang hidup, dan kualitas lingkungan. Sampah organik yang membusuk menghasilkan metana, gas rumah kaca yang memperparah krisis iklim. Sampah plastik yang tercecer bisa berakhir di laut, merusak ekosistem yang selama ini menjadi penyangga pangan, ekonomi, dan pariwisata warga.

Di titik inilah ekonomi sirkular dengan prinsip 5R—Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, Recycle—menjadi mendesak. Bukan sekadar jargon seminar atau poster kampanye, 5R harus menjadi cara baru warga Ternate memperlakukan barang, konsumsi, dan limbah.

Langkah pertama adalah refuse, berani menolak. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya paling politis. Menolak kantong plastik sekali pakai, sedotan plastik, kemasan berlebihan, dan budaya konsumsi instan adalah bentuk perlawanan warga terhadap sistem yang membuat sampah menjadi tanggung jawab konsumen semata. Toko, restoran, pelaku usaha, dan produsen juga harus ikut bertanggung jawab. Tidak adil jika warga diminta memilah sampah, sementara produk sekali pakai terus membanjiri pasar tanpa kendali.

Berikutnya, reduce atau mengurangi. Masyarakat perlu mulai bertanya sebelum membeli: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah ada pilihan yang lebih tahan lama? Di tingkat rumah tangga, pengurangan sampah bisa dimulai dari membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja ulang pakai, membeli seperlunya, serta mengurangi makanan terbuang. Perubahan kecil ini, jika dilakukan bersama, dapat mengurangi tekanan besar pada TPA.

Prinsip reuse dan repurpose membuka ruang yang lebih kreatif. Barang yang dianggap tidak berguna bisa dipakai kembali atau dialihfungsikan. Botol kaca menjadi wadah bumbu, kain bekas menjadi tas, kayu sisa menjadi perabot sederhana. Di tangan komunitas kreatif, sampah bisa naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi. Di sinilah peluang lapangan kerja hijau terbuka, terutama bagi perempuan, anak muda, dan pelaku UMKM lokal. Ekonomi sirkular bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga bisa menghidupkan dapur keluarga.

Namun kita tidak boleh romantis. Recycle atau daur ulang di kota pulau seperti Ternate menghadapi tantangan serius. Biaya logistik mahal, fasilitas terbatas, dan pasar daur ulang belum kuat. Karena itu, pemerintah daerah tidak bisa hanya mengimbau masyarakat. Harus ada kebijakan nyata: memperkuat bank sampah, menyediakan fasilitas pemilahan di tingkat kelurahan, memberi insentif bagi usaha daur ulang, membatasi plastik sekali pakai, serta memberi sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Tanpa keberanian regulasi, 5R hanya akan menjadi slogan manis di spanduk.

Media, sekolah, kampus, komunitas agama, dan tokoh masyarakat juga punya peran penting. Kesadaran tidak lahir dari ceramah sesekali, tetapi dari pendidikan yang konsisten dan contoh yang terlihat. Anak-anak Ternate perlu tumbuh dengan kebiasaan memilah sampah, mencintai laut, dan memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga rumah sendiri.

Jika sampah gagal dikelola, masa depan Ternate bisa muram: TPA penuh, banjir makin sering, penyakit meningkat, laut tercemar, ikan terkontaminasi plastik, dan pariwisata kehilangan daya tarik. Kota yang indah bisa berubah menjadi kota yang sesak oleh limbahnya sendiri.

Ternate masih punya kesempatan. Tetapi kesempatan itu tidak akan menunggu selamanya. Menyelamatkan Ternate harus dimulai dari keberanian mengubah cara hidup, cara berbisnis, dan cara pemerintah membuat kebijakan. 5R bukan sekadar program lingkungan; ia adalah napas baru pembangunan kota pulau.

Sebab mencintai Ternate tidak cukup dengan mengagumi mataharinya. Kita juga harus berani menjaga tanah, laut, dan masa depannya dari sampah yang kita hasilkan sendiri.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KAGAMA Maluku Utara Bersinergi dengan FK-KMK UGM Gelar Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis di Kota Tidore Kepulauan

    KAGAMA Maluku Utara Bersinergi dengan FK-KMK UGM Gelar Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis di Kota Tidore Kepulauan

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • 0Komentar

    TIDORE KEPULAUAN — Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Maluku Utara bersinergi dengan Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menggelar bakti sosial operasi katarak gratis bagi masyarakat di Kota Tidore Kepulauan. Bakti sosial ini mulai dilaksanakan pada Rabu, 5 Agustus 2026, bertempat di Rumah Sakit Daerah Kota […]

  • 60 Hari Menanti Keadilan: Pembunuhan Ali Daud Belum Terpecahkan

    60 Hari Menanti Keadilan: Pembunuhan Ali Daud Belum Terpecahkan

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Genap sudah 60 hari atau dua bulan berlalu sejak ditemukannya jasad Ali Daud (63 tahun), mantan Kepala Desa Bobane Jaya sekaligus tokoh agama yang sangat disegani masyarakat. Namun hingga hari ini, aparat keamanan belum juga mampu mengungkap siapa pelaku serta apa motif di balik pembunuhan keji tersebut. Lambatnya penanganan dan ketiadaan kejelasan informasi […]

  • AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    AKSI BLOKADE JALAN WARGA BANEMO MELAWAN

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • 0Komentar

    Ratusan Warga Banemo melakukan unjuk rasa dan aksi blokade akses jalan Trans Halmahera ruas Jalur Desa Remdi, Rabu, 20 Mei 2026. Aksi blokade ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas Warga Banemo Melawan, kepada pemerintah dan kepolisian, menyusul ditemukannya ranjau di perkebunan serta kasus pembunuhan Ustadz Ali Abas yang hingga kini belum ada titik terang. Tensi aksi […]

  • Diduga Terlibat Korupsi, Jampidsus Febrie Adriansyah Diminta Mundur

    Diduga Terlibat Korupsi, Jampidsus Febrie Adriansyah Diminta Mundur

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA – Linidaily.id Nama Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI, Febrie Adriansyah, kini resmi menjadi sorotan publik setelah terseret dalam penyidikan dugaan korupsi, suap, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Berdasarkan informasi yang dihimpun mengutip Suara.com, Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah meminta Febrie untuk mengundurkan diri secara kekeluargaan demi menjaga […]

  • DIALOG TERBUKA FPPPMU TENTANG DUGAAN MONOPOLI PROYEK APBD OLEH KERABAT GUBERNUR MALUKU UTARA MELAHIRKAN SOMASI

    DIALOG TERBUKA FPPPMU TENTANG DUGAAN MONOPOLI PROYEK APBD OLEH KERABAT GUBERNUR MALUKU UTARA MELAHIRKAN SOMASI

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • 0Komentar

    Forum Perjuangan Pemekaran Provinsi Maluku Utara (FPPPMU) kembali menegaskan perannya sebagai bagian dari masyarakat sipil yang memiliki tanggung jawab moral dalam mengawal penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik. Melalui dialog terbuka bertajuk “Dugaan Monopoli Proyek APBD Provinsi oleh Kerabat Gubernur Maluku Utara”, FPPPMU menilai bahwa ruang dialog merupakan instrumen demokrasi yang […]

  • Trash Hero Ternate Gandeng WIA Al-Khairaat Edukasi Pengurangan Sampah Rumah Tangga dalam Kegiatan  Chapter Family Meeting Trash Hero Ternate

    Trash Hero Ternate Gandeng WIA Al-Khairaat Edukasi Pengurangan Sampah Rumah Tangga dalam Kegiatan  Chapter Family Meeting Trash Hero Ternate

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • 1Komentar

    TERNATE – Trash Hero Ternate menggelar kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah bersama Wanita Islam Al-Khairaat (WIA) di Aula Pondok Pesantren Alkhairaat Kalumpang, Kota Ternate, Ahad (17/5). Kegiatan ini dihadiri sekitar 40 peserta dari WIA dan delapan relawan Trash Hero Ternate. Kegiatan bertajuk “Chapter Family Meeting Trash Hero Ternate Melibatkan WIA” tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya […]

expand_less