Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Yang Tertinggal dari Workshop Nasionalisme, Potensi Lokal dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 147
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pada 14 Februari 2026, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Cabang Maluku Utara menyelenggarakan sebuah workshop bertajuk “Nasionalisme, Potensi Lokal dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan”. Forum intelektual ini menghadirkan dua narasumber yang relevan secara kelembagaan dan akademik: Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku Utara yang memaparkan materi bertajuk Strategi Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan di Provinsi Maluku Utara, serta Penasehat Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Ternate yang mengurai tema Rekonstruksi Nasionalisme Pangan Berbasis Komoditas Unggulan Lokal Maluku Utara. Suatu forum yang, setidaknya di atas kertas, terlihat sangat menjanjikan.

Namun kini kita telah berada di bulan Mei 2026. Tiga bulan lebih telah berlalu sejak forum itu digelar. Dan pertanyaan paling mendasar harus kita ajukan dengan lantang: di mana jejak nyata dari seluruh gagasan yang dilontarkan di dalam ruangan ber-AC itu? Apakah strategi dan rekonstruksi yang dibicarakan telah menyentuh tanah yang sesungguhnya, atau ia hanya beredar sebagai dokumen presentasi yang perlahan terlupakan?

Mari kita mulai dari paparan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi. Secara substansi, narasi tentang strategi ketahanan pangan berkelanjutan di Maluku Utara tentu sarat urgensi. Maluku Utara adalah provinsi kepulauan yang strukturnya sendiri sudah menjadi tantangan raksasa: distribusi pangan antargugusan pulau yang bergantung pada cuaca, minimnya infrastruktur penyimpanan, serta ketergantungan akut terhadap pasokan dari luar daerah. Hingga Mei 2026, realitas itu belum bergeser secara signifikan. Beras, sayur, dan bahan pokok lainnya masih mengalir dominan dari Jawa dan Sulawesi. Ketika jalur distribusi terganggu akibat cuaca ekstrem atau persoalan logistik, harga pangan di Ternate, Tidore, Bacan, hingga Morotai langsung bergerak liar.

Yang menjadi soal bukan tidak adanya strategi, melainkan strategi itu kerap berhenti pada tataran wacana seremonial. Dinas Ketahanan Pangan, sebagai lembaga teknis, memiliki otoritas untuk mendorong implementasi. Namun tanpa dukungan anggaran yang memadai, tanpa koordinasi lintas sektoral yang serius, dan tanpa komitmen politik kepala daerah yang sungguh-sungguh, strategi sebagus apa pun hanya akan menjadi materi yang menarik di sebuah workshop, lalu menguap begitu saja.

Sementara itu, gagasan rekonstruksi nasionalisme pangan yang diusung oleh Penasehat PATPI Ternate sesungguhnya menyimpan spirit yang sangat progresif. Komoditas unggulan lokal Maluku Utara seperti pala, cengkih, kelapa, sagu, ikan pelagis, hingga berbagai umbi-umbian lokal adalah aset pangan yang sarat nilai historis, ekologis, dan ekonomis. Menempatkan komoditas-komoditas ini sebagai basis dari nasionalisme pangan bukan sekadar romantisme, melainkan sebuah strategi konkret untuk membangun kedaulatan pangan dari bawah.

Namun jika kita melihat kondisi Mei 2026, narasi “rekonstruksi” itu masih jauh dari praksis. Sagu, misalnya, yang secara ekologis dan budaya merupakan pangan strategis masyarakat Maluku Utara, belum mendapat keberpihakan kebijakan yang serius. Pengembangannya masih sporadis dan bergantung pada inisiatif kelompok masyarakat kecil tanpa dukungan ekosistem yang memadai. Ironi terbesar adalah saat lahan-lahan yang seharusnya menjadi hamparan potensi pangan lokal justru terus tergerus oleh ekspansi investasi pertambangan yang massif di daratan Halmahera.

Di level nasional, potretnya pun tidak jauh lebih cerah. Indonesia pada Mei 2026 masih bergulat dengan kerawanan pangan yang dipicu oleh anomali iklim dan lemahnya fondasi pertanian rakyat. Program-program ketahanan pangan berskala besar terus digelontorkan, namun banyak yang berjalan tanpa akar pada kearifan dan kebutuhan komunitas lokal.

Inilah hakikat dari apa yang kerap tertinggal dari sebuah workshop sekelas ini. Bukan kekurangan narasi. Bukan pula kekurangan narasumber kompeten. Yang tertinggal adalah jembatan antara ruang diskursus dan ruang tindakan. ICMI sebagai wadah cendekiawan Muslim memikul tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap gagasan yang dilahirkan dalam forum intelektualnya tidak hanya berhenti pada tepukan tangan peserta, tetapi berlanjut pada advokasi kebijakan yang gigih, pendampingan komunitas yang konsisten, dan tekanan publik yang terorganisir.

Sebab pada akhirnya, nasionalisme pangan yang sesungguhnya tidak diukur dari kemegahan sebuah workshop, melainkan dari apakah petani sagu di Halmahera Selatan, nelayan di Morotai, dan ibu rumah tangga di Tidore Kepulauan merasakan perubahan nyata di meja makan mereka. Selama jaraknya masih sebatas antara podium dan dokumen, maka yang terlaksana baru sekadar ritual intelektual. Dan itu tidak pernah cukup.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maluku Utara Darurat Kekerasan Perempuan: Di Mana Komitmen Pemimpin Perempuan?

    Maluku Utara Darurat Kekerasan Perempuan: Di Mana Komitmen Pemimpin Perempuan?

    • calendar_month Senin, 21 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, Linidaily.id – Di tengah sorotan nasional sebagai provinsi paling berbahagia dan paling taat beragama, Maluku Utara menyimpan luka yang tak kunjung kering: krisis kekerasan terhadap perempuan yang makin parah dari tahun ke tahun. Angka-angkanya bukan sekadar statistik — ini adalah nama-nama, wajah-wajah, dan nyawa yang direnggut. Data Berbicara Sendiri Berdasarkan catatan resmi Dinas Pemberdayaan […]

  • Maluku Utara Siapkan Tim Studi Banding Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan ke NTB

    Maluku Utara Siapkan Tim Studi Banding Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan ke NTB

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, linidaily.id Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama sejumlah mitra pembangunan akan memberangkatkan tim untuk mengikuti kegiatan studi banding pengelolaan perikanan berkelanjutan ke Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, sejak 31 Agustus hingga 3 September 2026, ini sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan […]

  • China Tayangkan Film Full AI Pertama

    China Tayangkan Film Full AI Pertama

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
    • 0Komentar

    China resmi mengukir sejarah baru dengan menayangkan serial drama berdurasi penuh pertama yang sepenuhnya diproduksi kecerdasan buatan atau AI. Serial bertajuk Beyond Wukong itu bahkan mendapatkan jam tayang utama. Penggunaan AI dalam drama China sesungguhnya bukan hal baru, tapi biasanya itu dilakukan untuk mengganti wajah aktor yang sedang terlibat kontroversi sehingga drama yang sudah diproduksi […]

  • BUNDA LITERASI MALUKU UTARA DUKUNG PENUH PENYELENGGARAAN BOOKFEST 2026

    BUNDA LITERASI MALUKU UTARA DUKUNG PENUH PENYELENGGARAAN BOOKFEST 2026

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • 0Komentar

    Siap Berkolaborasi, Fasilitasi Stan UMKM, hingga Penuhi Kebutuhan Konsumsi Kegiatan TERNATE,  Linidaily.id  Upaya menggalakkan budaya literasi di Provinsi Maluku Utara mendapatkan dukungan yang sangat berarti. Hari ini,30 Juni 2026 Panitia Penyelenggara Festival Buku Maluku Utara atau yang dikenal dengan sebutan BookFest 2026 melakukan audiensi dengan Bunda Literasi Provinsi Maluku Utara sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK […]

  • Menristekdikti Respons Keluhan 143 Ribu: Hentikan Beban Administratif Dosen 20 JP

    Menristekdikti Respons Keluhan 143 Ribu: Hentikan Beban Administratif Dosen 20 JP

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Kabar melegakan datang bagi para dosen penerima Sertifikat Pendidik (Serdos) di seluruh Indonesia. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto, resmi mengumumkan penghentian sementara kewajiban pemenuhan 20 Jam Pelajaran (JP) kegiatan pengembangan diri. Keputusan ini diambil setelah pemerintah menilai beban tersebut terlalu berat bagi sekitar 143 ribu dosen penerima tunjangan […]

  • Rahmatan lil-‘âlamîn dan Masa Depan Ekologi Halmahera Timur

    Rahmatan lil-‘âlamîn dan Masa Depan Ekologi Halmahera Timur

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • 0Komentar

    Kerusakan ekologis sering kali tidak datang tiba-tiba dan begitu saja. Tapi perlahan, nyaris sunyi. Hingga kita terbiasa melihatnya sebagai bagian dari kehidupan seharihari yang lazim dan biasa saja. Dan tampaknya itulah yang sedang terjadi di sini, di Halmahera Timur ini. Tak perlu mengambil contoh di hutan Papua atau Amazon di Brazil. Tapi lihatlah setiap kali […]

expand_less