Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Di Balik Mega Proyek Nikel PT Feni Haltim: Krisis Lingkungan dan Jeritan Warga Teluk Buli

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
  • visibility 189
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Linidaily.id – Kehadiran industri nikel di Kabupaten Halmahera Timur yang digadang-gadang menjadi motor hilirisasi nasional kini menuai kritik keras dari masyarakat sipil. PT Feni Halmahera Timur (FHT), perusahaan patungan antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan investor asing asal Hong Kong, menjadi sorotan akibat berbagai dugaan kerusakan lingkungan yang dinilai semakin mengancam kehidupan warga di Kecamatan Maba, khususnya kawasan Teluk Buli dan Desa Buli Asal.

Perusahaan yang berdiri sejak 24 Mei 2011 tersebut mengantongi izin operasi pengolahan dan pemurnian mineral dengan target produksi feronikel serta pengembangan bahan baku baterai kendaraan listrik. Dengan investasi bernilai triliunan rupiah dan status sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), PT Feni Haltim disebut-sebut sebagai salah satu proyek masa depan industri energi Indonesia.

Namun di balik ambisi besar itu, masyarakat justru menghadapi dampak lingkungan yang terus meluas.

Salah satu persoalan paling serius terjadi di Sungai Kukuba. Dalam beberapa kali kejadian sejak tahun 2025 hingga pertengahan 2026, air sungai berubah menjadi keruh kecokelatan akibat limpasan material tambang dari kawasan hulu. Warga menilai sedimentasi berasal dari aktivitas pertambangan dan buruknya sistem pengendalian limbah di area operasional perusahaan.

Tanggul penahan sedimen atau check dam yang dibangun disebut tidak mampu menahan aliran lumpur ketika hujan deras turun. Material tanah dari kawasan tambang akhirnya terbawa ke sungai hingga bermuara ke pesisir Teluk Buli.

Akibatnya, ekosistem laut ikut terdampak. Air laut yang sebelumnya jernih berubah keruh dan berlumpur. Nelayan mengaku hasil tangkapan terus menurun karena ikan menjauh dari kawasan pesisir. Selain itu, padang lamun dan terumbu karang diduga mengalami kerusakan akibat timbunan sedimentasi.

Tidak hanya sektor perikanan, warga petani juga mengeluhkan kerusakan lahan pertanian. Sejumlah sawah dikabarkan tertutup lumpur dan aliran tanah dari kawasan tambang sehingga tidak lagi produktif. Kondisi ini membuat masyarakat kehilangan sumber penghasilan tanpa adanya pemulihan yang dianggap memadai.

Berbagai organisasi lingkungan di Maluku Utara turut menyoroti persoalan tersebut. Mereka menilai pengawasan lingkungan terhadap aktivitas pertambangan masih lemah, sementara perusahaan dianggap belum menunjukkan langkah serius dalam pemulihan dampak ekologis.

Kritik juga diarahkan pada status proyek strategis nasional yang dinilai tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan aturan lingkungan hidup maupun hak masyarakat sekitar tambang.

Warga bersama sejumlah organisasi sipil kini mendesak pemerintah melakukan audit lingkungan secara independen serta mengevaluasi izin operasional perusahaan apabila terbukti terus melakukan pelanggaran. Selain itu, masyarakat meminta adanya tanggung jawab nyata terhadap kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan yang telah terjadi.

Bagi masyarakat Halmahera Timur, kekayaan nikel seharusnya menjadi berkah pembangunan daerah, bukan menghadirkan ancaman terhadap ruang hidup dan masa depan generasi mereka.

Investasi Rp 24,8 Triliun, Pelaku Usaha Lokal Merasa Tersisih

Masyarakat Halmahera Timur berharap, nilai investasi yang mencapai Rp 24,8 triliun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dengan melibatkan pelaku usaha lokal yang  belum merasakan dampak signifikan dari kehadiran proyek tersebut.

Meski proyek tersebut disebut sebagai salah satu investasi terbesar di Maluku Utara, masyarakat menilai keterlibatan pengusaha lokal dalam proses pembangunan masih sangat minim. Sejumlah kontrak pekerjaan dan pengadaan barang maupun jasa disebut lebih banyak diberikan kepada perusahaan dari luar daerah.

Kondisi itu memicu kekecewaan di kalangan pelaku usaha lokal yang merasa hanya menjadi penonton di tengah aktivitas industri besar yang berlangsung di wilayah mereka sendiri.

“Investasinya besar, tetapi akses usaha bagi masyarakat lokal masih terbatas. Seharusnya ada ruang yang lebih terbuka agar pengusaha daerah juga ikut berkembang,” ungkap salah satu pelaku usaha di Halmahera Timur.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat mengambil langkah pengawasan agar investasi yang masuk benar-benar memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar. Mereka menilai keberadaan industri tambang semestinya tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga menciptakan pemerataan ekonomi di daerah penghasil.

Sejumlah tokoh masyarakat bahkan meminta pemerintah belajar dari pengalaman kawasan industri lain di Maluku Utara, di mana investasi besar dinilai belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal.

Selain meminta keterlibatan pengusaha daerah diperbesar, warga juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan proyek, rekrutmen tenaga kerja, hingga peluang kemitraan usaha bagi masyarakat sekitar tambang.

Masyarakat mengingatkan agar seluruh pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Halmahera Timur tidak menjalankan praktik monopoli ekonomi maupun menutup ruang partisipasi warga lokal.

Menurut mereka, kekayaan sumber daya alam di Halmahera Timur harus menjadi kekuatan bersama yang mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Menjelang target operasi komersial pada tahun 2027, warga berharap PT Feni Haltim segera membuka ruang dialog bersama pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pelaku usaha lokal, dan organisasi sipil guna merumuskan pola kerja sama yang lebih adil dan berpihak pada kepentingan masyarakat Halmahera Timur.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebakaran Hutan di desa Tokaka Jadi Alarm Keras, Pemkab Halsel Jangan Tutup Mata

    Kebakaran Hutan di desa Tokaka Jadi Alarm Keras, Pemkab Halsel Jangan Tutup Mata

    • calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
    • 0Komentar

    HALMAHERA SELATAN – Kebakaran Yang terjadi di kawasan desa tokaka, Kecamatan Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, bukan lagi sekedar persoalan sepele. Di balik asap yang tebal, ada kebutuhan masyarakat desa tokaka yang ikut menjadi korban dan terancam hilang dilalap api. Kondisi ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah kabupaten Halmahera Selatan. Sebab, ketika masyarakat […]

  • IAIN Ternate dan ICMI Maluku Utara Perkuat Kolaborasi untuk Revitalisasi Budaya Literasi

    IAIN Ternate dan ICMI Maluku Utara Perkuat Kolaborasi untuk Revitalisasi Budaya Literasi

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Korwil Maluku Utara memperkuat kolaborasi dalam menghidupkan kembali budaya literasi di lingkungan perguruan tinggi. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Rektor IAIN Ternate dan Ketua ICMI Korwil Maluku Utara di Auditorium FEBI IAIN Ternate, Rabu (12/8/2026). Penandatanganan […]

  • Ternate Dikepung Asap Pekat, Sekolah Diliburkan, Penerbangan Terganggu

    Ternate Dikepung Asap Pekat, Sekolah Diliburkan, Penerbangan Terganggu

    • calendar_month Senin, 12 Okt 2026
    • 0Komentar

    Ternate — Linidaily.id, Kabut asap pekat akibat kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru di Kelurahan Takome, Kota Ternate, yang telah memasuki hari kesepuluh, berdampak luas pada kehidupan warga Kota Ternate. Dua sektor utama yang terdampak langsung adalah pendidikan dan pelayanan penerbangan. Merespons memburuknya kualitas udara, Dinas Pendidikan Kota Ternate memutuskan meliburkan kegiatan belajar mengajar […]

  • Perkuat Kapasitas Kader, Ketum Cabang HMI Ternate Lantik Pengurus Lembaga Profesi

    Perkuat Kapasitas Kader, Ketum Cabang HMI Ternate Lantik Pengurus Lembaga Profesi

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, Linidaily.id – Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate dan jajaran pengurus lembaga profesi resmi dilantik Ketua Umum HMI Cabang Ternate. Acara pelantikan akbar ini berlangsung di Gedung Sekretariat KAHMI Kota Ternate pada Jumat (12/6/2026) malam. Mengusung tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Perjuangan HMI Melalui Penguatan Lembaga Profesi”, kegiatan ini bertujuan untuk mengonsolidasi […]

  • GPM Maluku Utara Desak KPK dan Kejagung Usut Dugaan Pelanggaran di Haltim

    GPM Maluku Utara Desak KPK dan Kejagung Usut Dugaan Pelanggaran di Haltim

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • 0Komentar

    Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Maluku Utara mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung memperluas penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran hukum di lingkungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur. Organisasi itu juga meminta aparat penegak hukum memanggil dan memeriksa Sekretaris Daerah Haltim, Ricky Chairul Richfat, yang dikaitkan dengan sejumlah persoalan tata kelola daerah. Desakan tersebut […]

  • Belajar dari NTB: Kemandirian Pokmaswas Petrando dan Kekuatan Jejaring Forum Jadi Kunci Pengawasan Laut Berkelanjutan

    Belajar dari NTB: Kemandirian Pokmaswas Petrando dan Kekuatan Jejaring Forum Jadi Kunci Pengawasan Laut Berkelanjutan

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, linidaily.id Satu lagi pembelajaran dibawa pulang tim studi banding pengelolaan perikanan berkelanjutan Maluku Utara dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB): bagaimana kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) bisa mandiri secara ekonomi sekaligus terhubung dalam jejaring yang kuat. Kunjungan kali ini menyasar Forum Pokmaswas NTB dan salah satu kelompok binaannya, Pokmaswas Petrando, yang mengawasi kawasan perairan Gili […]

expand_less