Rabu, 17 Jun 2026
light_mode

Di Balik Mega Proyek Nikel PT Feni Haltim: Krisis Lingkungan dan Jeritan Warga Teluk Buli

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
  • visibility 67
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Linidaily.id – Kehadiran industri nikel di Kabupaten Halmahera Timur yang digadang-gadang menjadi motor hilirisasi nasional kini menuai kritik keras dari masyarakat sipil. PT Feni Halmahera Timur (FHT), perusahaan patungan antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan investor asing asal Hong Kong, menjadi sorotan akibat berbagai dugaan kerusakan lingkungan yang dinilai semakin mengancam kehidupan warga di Kecamatan Maba, khususnya kawasan Teluk Buli dan Desa Buli Asal.

Perusahaan yang berdiri sejak 24 Mei 2011 tersebut mengantongi izin operasi pengolahan dan pemurnian mineral dengan target produksi feronikel serta pengembangan bahan baku baterai kendaraan listrik. Dengan investasi bernilai triliunan rupiah dan status sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), PT Feni Haltim disebut-sebut sebagai salah satu proyek masa depan industri energi Indonesia.

Namun di balik ambisi besar itu, masyarakat justru menghadapi dampak lingkungan yang terus meluas.

Salah satu persoalan paling serius terjadi di Sungai Kukuba. Dalam beberapa kali kejadian sejak tahun 2025 hingga pertengahan 2026, air sungai berubah menjadi keruh kecokelatan akibat limpasan material tambang dari kawasan hulu. Warga menilai sedimentasi berasal dari aktivitas pertambangan dan buruknya sistem pengendalian limbah di area operasional perusahaan.

Tanggul penahan sedimen atau check dam yang dibangun disebut tidak mampu menahan aliran lumpur ketika hujan deras turun. Material tanah dari kawasan tambang akhirnya terbawa ke sungai hingga bermuara ke pesisir Teluk Buli.

Akibatnya, ekosistem laut ikut terdampak. Air laut yang sebelumnya jernih berubah keruh dan berlumpur. Nelayan mengaku hasil tangkapan terus menurun karena ikan menjauh dari kawasan pesisir. Selain itu, padang lamun dan terumbu karang diduga mengalami kerusakan akibat timbunan sedimentasi.

Tidak hanya sektor perikanan, warga petani juga mengeluhkan kerusakan lahan pertanian. Sejumlah sawah dikabarkan tertutup lumpur dan aliran tanah dari kawasan tambang sehingga tidak lagi produktif. Kondisi ini membuat masyarakat kehilangan sumber penghasilan tanpa adanya pemulihan yang dianggap memadai.

Berbagai organisasi lingkungan di Maluku Utara turut menyoroti persoalan tersebut. Mereka menilai pengawasan lingkungan terhadap aktivitas pertambangan masih lemah, sementara perusahaan dianggap belum menunjukkan langkah serius dalam pemulihan dampak ekologis.

Kritik juga diarahkan pada status proyek strategis nasional yang dinilai tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan aturan lingkungan hidup maupun hak masyarakat sekitar tambang.

Warga bersama sejumlah organisasi sipil kini mendesak pemerintah melakukan audit lingkungan secara independen serta mengevaluasi izin operasional perusahaan apabila terbukti terus melakukan pelanggaran. Selain itu, masyarakat meminta adanya tanggung jawab nyata terhadap kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan yang telah terjadi.

Bagi masyarakat Halmahera Timur, kekayaan nikel seharusnya menjadi berkah pembangunan daerah, bukan menghadirkan ancaman terhadap ruang hidup dan masa depan generasi mereka.

Investasi Rp 24,8 Triliun, Pelaku Usaha Lokal Merasa Tersisih

Masyarakat Halmahera Timur berharap, nilai investasi yang mencapai Rp 24,8 triliun mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dengan melibatkan pelaku usaha lokal yang  belum merasakan dampak signifikan dari kehadiran proyek tersebut.

Meski proyek tersebut disebut sebagai salah satu investasi terbesar di Maluku Utara, masyarakat menilai keterlibatan pengusaha lokal dalam proses pembangunan masih sangat minim. Sejumlah kontrak pekerjaan dan pengadaan barang maupun jasa disebut lebih banyak diberikan kepada perusahaan dari luar daerah.

Kondisi itu memicu kekecewaan di kalangan pelaku usaha lokal yang merasa hanya menjadi penonton di tengah aktivitas industri besar yang berlangsung di wilayah mereka sendiri.

“Investasinya besar, tetapi akses usaha bagi masyarakat lokal masih terbatas. Seharusnya ada ruang yang lebih terbuka agar pengusaha daerah juga ikut berkembang,” ungkap salah satu pelaku usaha di Halmahera Timur.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat mengambil langkah pengawasan agar investasi yang masuk benar-benar memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar. Mereka menilai keberadaan industri tambang semestinya tidak hanya menguntungkan investor, tetapi juga menciptakan pemerataan ekonomi di daerah penghasil.

Sejumlah tokoh masyarakat bahkan meminta pemerintah belajar dari pengalaman kawasan industri lain di Maluku Utara, di mana investasi besar dinilai belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat lokal.

Selain meminta keterlibatan pengusaha daerah diperbesar, warga juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan proyek, rekrutmen tenaga kerja, hingga peluang kemitraan usaha bagi masyarakat sekitar tambang.

Masyarakat mengingatkan agar seluruh pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Halmahera Timur tidak menjalankan praktik monopoli ekonomi maupun menutup ruang partisipasi warga lokal.

Menurut mereka, kekayaan sumber daya alam di Halmahera Timur harus menjadi kekuatan bersama yang mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Menjelang target operasi komersial pada tahun 2027, warga berharap PT Feni Haltim segera membuka ruang dialog bersama pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pelaku usaha lokal, dan organisasi sipil guna merumuskan pola kerja sama yang lebih adil dan berpihak pada kepentingan masyarakat Halmahera Timur.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Jadi Tersangka Korupsi

    Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Jadi Tersangka Korupsi

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id-Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara akhirnya resmi menetapkan mantan Bupati Pulau Taliabu dua periode, Aliong Mus, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan proyek strategis daerah, yaitu Istana Daerah (Isda). Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2023 tersebut memiliki nilai mencapai Rp17,5 miliar. Penetapan status tersangka ini dilakukan setelah […]

  • Kota Ternate Dominasi Perolehan Medali di Hari Keempat Porprov V Malut 2026, Halmahera Utara Posisi Kedua

    Kota Ternate Dominasi Perolehan Medali di Hari Keempat Porprov V Malut 2026, Halmahera Utara Posisi Kedua

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    TOBELO-Linidaily.id Kota Ternate kembali mengukuhkan dominasinya sebagai juara umum sementara dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Maluku Utara (Malut) 2026. Hingga update terakhir Kamis malam (11/6/2026) pukul 23.00 WIT, kontingen Kota Ternate berhasil mengumpulkan total 62 medali. Berdasarkan rilis resmi dari Media Center Porprov V Malut di Bumi Hibualamo, Kota Ternate unggul tipis namun signifikan […]

  • Tambang Nikel Ancam Pegunungan Wato-Wato, Ribuan Warga Teluk Buli Hadapi Krisis Air

    Tambang Nikel Ancam Pegunungan Wato-Wato, Ribuan Warga Teluk Buli Hadapi Krisis Air

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id— Rencana operasi tambang nikel milik PT Priven Lestari di kawasan Pegunungan Wato-wato, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, memicu kekhawatiran serius masyarakat. Kawasan yang selama ini menjadi sumber utama air bersih bagi warga Teluk Buli itu dinilai terancam rusak apabila aktivitas pertambangan tetap dijalankan. Warga bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah pusat maupun daerah […]

  • Ternate dan Paradoks Rempah: Ketika Pemilik Cerita Kehilangan Suaranya

    Ternate dan Paradoks Rempah: Ketika Pemilik Cerita Kehilangan Suaranya

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • 1Komentar

    Ada sesuatu yang janggal ketika sebuah negara kecil tanpa satu pohon cengkeh pun mampu mengemas sejarah rempah menjadi daya tarik wisata berkelas dunia, sementara kota yang melahirkan rempah itu justru terdiam dalam kesunyian naratif. Singapura membangun Spice Garden di Fort Canning Park, menyajikan gastro-tourism beraroma rempah dalam setiap sudut kotanya, dan dengan lihai menenun sejarah […]

  • Katanya Wakil Rakyat, Kok (Begitu) Cemen

    Katanya Wakil Rakyat, Kok (Begitu) Cemen

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • 0Komentar

    Untukmu yang duduk sambil berdiskusi. Untukmu yang biasa bersafari ke sana, ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Wakil rakyat adalah kumpulan orang-orang hebat, bukan sekadar kumpulan teman dekat, apalagi sanak keluarga. Di hati dan lidahmu, kami berharap: dengarkanlah suara kami, lalu sampaikanlah. Demikian penggalan lirik lagu legendaris karya Iwan Fals berjudul Surat Buat Wakil Rakyat. Lagu […]

  • Waspadai Pemimpin Bertopeng

    Waspadai Pemimpin Bertopeng

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • 0Komentar

    KEPEMIMPINAN publik kerap kali tampil dengan wajah ganda. Di depan panggung publik terlihat santun, moralis, humanis, dan seolah pro rakyat (populis). Tapi, di balik layar ia angkuh, arogan, diskriminatif, dan sadisnya membunuh harapan-harapan rakyatnya sendiri. Bengis, nir kepekaan sosial. Sukar dipungkiri bahwa pemimpin memiliki ‘’wajah’’ ganda. Artinya, rakyat sebagai pemberi mandat kekuasaan harus mengerti hal […]

expand_less