Jumat, 14 Agu 2026
light_mode

Ketika Angka Berbicara: Maluku Utara dan Luka Lama Pendidikan yang Belum Sembuh

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
  • visibility 133
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya tidak tahu persis seperti apa rasanya menjadi seorang guru di sebuah pulau kecil di Maluku Utara yang menyeberang laut setiap pagi, mengajar dengan kapur yang hampir habis, lalu pulang dengan gaji yang jauh dari kata cukup. Tapi saya tahu satu hal: ketika data TKA 2026 keluar dan nama Maluku Utara terpampang di baris paling bawah dari 39 provinsi, itu bukan sekadar angka. Itu adalah suara anak-anak yang selama ini belajar dalam sunyi, tanpa banyak yang peduli.

Nilai rata-rata SD/MI Maluku Utara: Bahasa Indonesia 46,41 dan Matematika hanya 35,69. Total 82,10 adalah yang terendah di seluruh Indonesia. Di jenjang SMP, kondisinya tidak banyak berbeda. Angka-angka ini bukan lahir dari kemalasan anak-anak di sana. Angka ini lahir dari puluhan tahun pengabaian sistemik yang berulang, berganti pemerintahan, berganti janji, tapi tidak banyak yang berubah di ruang-ruang kelas yang atapnya bocor.

Bukan Soal Kepintaran, Tapi Soal Keadilan

Ada kebiasaan buruk yang sering kita lakukan ketika melihat data seperti ini yaitu kita langsung menyalahkan daerahnya. “SDM-nya kurang,” kata beberapa orang. Atau, “Masyarakatnya belum sadar pendidikan.” Padahal jika kita jujur, persoalannya jauh lebih mendasar dari itu.

Bayangkan seorang anak kelas 4 SD di Halmahera Selatan. Ia harus berjalan kaki satu jam untuk sampai ke sekolah. Buku teksnya sudah usang, beberapa halamannya robek. Gurunya adalah satu-satunya guru untuk tiga kelas sekaligus yang bila tidak datang tiga hari dalam seminggu karena harus mengurus sesuatu di kecamatan. Listrik di sekolah hanya menyala empat jam sehari. Dan ketika hasil TKA keluar, kita bertanya: kenapa nilainya rendah?

Pertanyaan itu seharusnya tidak ditujukan pada si anak. Pertanyaan itu seharusnya kita arahkan pada cermin.

Kesenjangan yang Bukan Kebetulan

Selisih nilai antara Maluku Utara dan DI Yogyakarta di Matematika SD hampir menyentuh 26 poin. Itu bukan selisih biasa namun itu adalah akumulasi dari puluhan tahun investasi yang tidak merata. Yogyakarta memiliki ekosistem pendidikan yang matang: guru berkualitas, sekolah yang terawat, orang tua yang terlibat, dan budaya belajar yang kuat. Maluku Utara? Kita masih berjuang dengan hal-hal yang harusnya sudah selesai sejak lama.

Yang lebih menyentil: Papua, yang sering kita jadikan “tolok ukur daerah tertinggal,” justru meraih nilai Matematika SD 38,93 di mana lebih tinggi dari Maluku Utara. Ini sinyal bahwa ada sesuatu yang spesifik perlu dievaluasi di Maluku Utara yang bukan hanya soal geografi atau kemiskinan, tapi soal bagaimana kebijakan pendidikan dikelola dan diprioritaskan di level provinsi dan kabupaten.

Apa yang Harus Berubah dan Segera

Solusi untuk Maluku Utara tidak bisa lagi berhenti di atas kertas kebijakan. Berikut beberapa langkah konkret yang mendesak:

Pertama, darurat guru. Kebutuhan guru di daerah 3T Maluku Utara harus diperlakukan seperti darurat bencana. Rekrutmen PPPK harus disertai insentif yang sungguh-sungguh menarik yaitu berupa tunjangan khusus kepulauan, perumahan layak, dan jaminan karier yang jelas. Bukan sekadar tunjangan simbolis yang habis untuk biaya penyeberangan/transportasi.

Kedua, kurikulum yang membumi. Anak-anak di Maluku Utara tidak butuh kurikulum yang sama persis dengan Jakarta. Mereka butuh pendekatan yang kontekstual yaitu menggunakan bahasa ibu sebagai jembatan di kelas-kelas awal, memanfaatkan kearifan lokal sebagai bahan ajar, dan guru yang terlatih untuk kondisi multigrade (satu guru banyak kelas).

Ketiga, teknologi yang realistis. Internet di banyak pulau masih mimpi. Maka solusi teknologi harus disesuaikan: konten pembelajaran berbasis offline, radio edukasi yang diaktifkan kembali, atau siaran televisi pendidikan lokal. Bukan melompat ke metaverse sementara listrik saja belum stabil.

Keempat, pengawasan anggaran yang serius. Dana pendidikan mengalir ke Maluku Utara, tapi muaranya sering tidak sampai ke anak-anak. Audit penggunaan dana BOS, BOSDA dan DAK harus diperketat, dengan pelibatan masyarakat sipil lokal sebagai pengawas independen.

Kelima, libatkan komunitas. Orang tua dan tokoh adat di Maluku Utara punya pengaruh besar. Program parenting pendidikan yang mengajak keluarga terlibat dalam proses belajar anak,hal ini terbukti efektif di banyak daerah. Ini bukan biaya mahal, tapi dampaknya bisa luar biasa.

Sebuah Catatan untuk Kita Semua

Maluku Utara bukan provinsi yang gagal. Namun kita adalah provinsi yang selama ini berlari dengan beban yang tidak adil. Anak-anak di sini tidak kalah cerdas dari anak-anak di mana pun. Yang berbeda hanyalah ekosistem yang menopang mereka dan ekosistem itu adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa.

Hasil TKA ini seharusnya tidak kita baca sebagai aib daerah. Ini adalah tagihan yang sudah lama jatuh tempo yaitu tagihan atas janji konstitusi yang berbunyi: mencerdaskan kehidupan bangsa. Seluruh bangsa. Termasuk anak-anak di pulau-pulau kecil Maluku Utara yang setiap pagi bangun, menyeberang laut, dan tetap pergi ke sekolah meski negara belum sepenuhnya hadir untuk mereka.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKSD UMMU Edukasi Siswa SMPN 13 Tidore Kepulauan tentang Bahaya Narkoba

    KKSD UMMU Edukasi Siswa SMPN 13 Tidore Kepulauan tentang Bahaya Narkoba

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id TIDORE KEPULAUAN – Mahasiswa Kuliah Kerja Sosial dan Dakwah (KKSD) Kelompok 4 Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) sukses melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema “Bahaya Narkoba dan Pentingnya Pendidikan” di SMP Negeri 13 Tidore Kepulauan (TIKEP), Desa Bale, pada Rabu (3/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di ruang laboratorium komputer sekolah dan diikuti secara antusias oleh siswa-siswi kelas […]

  • Wali Kota Tidore Tegas: Tidak Akan Biarkan PPPK dan Pegawai Paruh Waktu Dirumahkan

    Wali Kota Tidore Tegas: Tidak Akan Biarkan PPPK dan Pegawai Paruh Waktu Dirumahkan

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • 0Komentar

    TIDORE, Linidaily.id Di tengah tekanan berat kondisi keuangan daerah akibat pemangkasan dana transfer pusat, Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen secara tegas menyatakan akan membela dan menjamin keberlanjutan kerja seluruh Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) serta pegawai paruh waktu di lingkungan pemerintah daerah. Ia menegaskan menolak keras langkah merumahkan atau memutus hubungan kerja mereka […]

  • Sengkarut MBG: Antara Urgensi Gizi Rakyat dan Tantangan Tata Kelola

    Sengkarut MBG: Antara Urgensi Gizi Rakyat dan Tantangan Tata Kelola

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dimaknai melalui dua kata kunci: make sense atau masuk akal. Urgensi program ini dibangun di atas fondasi regulasi yang kuat dan kebutuhan riil rakyat akan pemenuhan gizi. Namun, sebagai sebuah kebijakan baru yang bersifat kolosal, MBG tentu menghadapi kompleksitas implementasi. Potensi penyimpangan harus disempitkan melalui revitalisasi aspek operasional, penguatan […]

  • KEGAGALAN BIROKRASI DAN PENGKHIANATAN AMANAH PEMBANGUNAN

    KEGAGALAN BIROKRASI DAN PENGKHIANATAN AMANAH PEMBANGUNAN

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • 0Komentar

    Pembangunan Rumah Sakit Pratama di Kabupaten Halmahera Barat yang semula digadang-gadang sebagai solusi utama atas keterbatasan fasilitas kesehatan, kini justru menjadi cermin buram wajah tata kelola pemerintahan daerah. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp 42,9 Miliar bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik, proyek ini sejatinya membawa harapan besar bagi masyarakat yang selama ini hidup terisolasi […]

  • Malut United : Pelajaran Berharga Untuk Persiter Kota Ternate

    Malut United : Pelajaran Berharga Untuk Persiter Kota Ternate

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • 1Komentar

    Berita hengkangnya Malut United dari tanah Maluku Utara khususnya Kota Ternate tentu membawa rasa kecewa bagi penggemar bola di Maluku Utara, beberapa tahun saja Malut United berhasil menghibur warga Maluku Utara di Liga kasta tertinggi sepak bola Indonesia namun akhirnya memutuskan berubah nama dari Malut United menjadi Jateng United yang kemudian memilih Semarang sebagai home […]

  • Diduga Terlibat Pelanggaran Perijinan dan Kewajiban, PT ASP Dilaporkan ke Kejaksaan Agung

    Diduga Terlibat Pelanggaran Perijinan dan Kewajiban, PT ASP Dilaporkan ke Kejaksaan Agung

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • 0Komentar

    Jakarta —Dugaan tindak pidana korupsi dalam sektor pertambangan kembali mencuat. Kali ini, PT Anugerah Surya Pratama (PT ASP) dilaporkan ke Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS) Kejaksaan Agung RI atas indikasi pelanggaran dalam kegiatan usaha, proses perizinan, serta kewajiban lingkungan hidup. Dalam laporan yang diterima oleh media ini, jajaran direksi PT ASP yang […]

expand_less