Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Ketika Angka Berbicara: Maluku Utara dan Luka Lama Pendidikan yang Belum Sembuh

  • account_circle Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi
  • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
  • visibility 160
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya tidak tahu persis seperti apa rasanya menjadi seorang guru di sebuah pulau kecil di Maluku Utara yang menyeberang laut setiap pagi, mengajar dengan kapur yang hampir habis, lalu pulang dengan gaji yang jauh dari kata cukup. Tapi saya tahu satu hal: ketika data TKA 2026 keluar dan nama Maluku Utara terpampang di baris paling bawah dari 39 provinsi, itu bukan sekadar angka. Itu adalah suara anak-anak yang selama ini belajar dalam sunyi, tanpa banyak yang peduli.

Nilai rata-rata SD/MI Maluku Utara: Bahasa Indonesia 46,41 dan Matematika hanya 35,69. Total 82,10 adalah yang terendah di seluruh Indonesia. Di jenjang SMP, kondisinya tidak banyak berbeda. Angka-angka ini bukan lahir dari kemalasan anak-anak di sana. Angka ini lahir dari puluhan tahun pengabaian sistemik yang berulang, berganti pemerintahan, berganti janji, tapi tidak banyak yang berubah di ruang-ruang kelas yang atapnya bocor.

Bukan Soal Kepintaran, Tapi Soal Keadilan

Ada kebiasaan buruk yang sering kita lakukan ketika melihat data seperti ini yaitu kita langsung menyalahkan daerahnya. “SDM-nya kurang,” kata beberapa orang. Atau, “Masyarakatnya belum sadar pendidikan.” Padahal jika kita jujur, persoalannya jauh lebih mendasar dari itu.

Bayangkan seorang anak kelas 4 SD di Halmahera Selatan. Ia harus berjalan kaki satu jam untuk sampai ke sekolah. Buku teksnya sudah usang, beberapa halamannya robek. Gurunya adalah satu-satunya guru untuk tiga kelas sekaligus yang bila tidak datang tiga hari dalam seminggu karena harus mengurus sesuatu di kecamatan. Listrik di sekolah hanya menyala empat jam sehari. Dan ketika hasil TKA keluar, kita bertanya: kenapa nilainya rendah?

Pertanyaan itu seharusnya tidak ditujukan pada si anak. Pertanyaan itu seharusnya kita arahkan pada cermin.

Kesenjangan yang Bukan Kebetulan

Selisih nilai antara Maluku Utara dan DI Yogyakarta di Matematika SD hampir menyentuh 26 poin. Itu bukan selisih biasa namun itu adalah akumulasi dari puluhan tahun investasi yang tidak merata. Yogyakarta memiliki ekosistem pendidikan yang matang: guru berkualitas, sekolah yang terawat, orang tua yang terlibat, dan budaya belajar yang kuat. Maluku Utara? Kita masih berjuang dengan hal-hal yang harusnya sudah selesai sejak lama.

Yang lebih menyentil: Papua, yang sering kita jadikan “tolok ukur daerah tertinggal,” justru meraih nilai Matematika SD 38,93 di mana lebih tinggi dari Maluku Utara. Ini sinyal bahwa ada sesuatu yang spesifik perlu dievaluasi di Maluku Utara yang bukan hanya soal geografi atau kemiskinan, tapi soal bagaimana kebijakan pendidikan dikelola dan diprioritaskan di level provinsi dan kabupaten.

Apa yang Harus Berubah dan Segera

Solusi untuk Maluku Utara tidak bisa lagi berhenti di atas kertas kebijakan. Berikut beberapa langkah konkret yang mendesak:

Pertama, darurat guru. Kebutuhan guru di daerah 3T Maluku Utara harus diperlakukan seperti darurat bencana. Rekrutmen PPPK harus disertai insentif yang sungguh-sungguh menarik yaitu berupa tunjangan khusus kepulauan, perumahan layak, dan jaminan karier yang jelas. Bukan sekadar tunjangan simbolis yang habis untuk biaya penyeberangan/transportasi.

Kedua, kurikulum yang membumi. Anak-anak di Maluku Utara tidak butuh kurikulum yang sama persis dengan Jakarta. Mereka butuh pendekatan yang kontekstual yaitu menggunakan bahasa ibu sebagai jembatan di kelas-kelas awal, memanfaatkan kearifan lokal sebagai bahan ajar, dan guru yang terlatih untuk kondisi multigrade (satu guru banyak kelas).

Ketiga, teknologi yang realistis. Internet di banyak pulau masih mimpi. Maka solusi teknologi harus disesuaikan: konten pembelajaran berbasis offline, radio edukasi yang diaktifkan kembali, atau siaran televisi pendidikan lokal. Bukan melompat ke metaverse sementara listrik saja belum stabil.

Keempat, pengawasan anggaran yang serius. Dana pendidikan mengalir ke Maluku Utara, tapi muaranya sering tidak sampai ke anak-anak. Audit penggunaan dana BOS, BOSDA dan DAK harus diperketat, dengan pelibatan masyarakat sipil lokal sebagai pengawas independen.

Kelima, libatkan komunitas. Orang tua dan tokoh adat di Maluku Utara punya pengaruh besar. Program parenting pendidikan yang mengajak keluarga terlibat dalam proses belajar anak,hal ini terbukti efektif di banyak daerah. Ini bukan biaya mahal, tapi dampaknya bisa luar biasa.

Sebuah Catatan untuk Kita Semua

Maluku Utara bukan provinsi yang gagal. Namun kita adalah provinsi yang selama ini berlari dengan beban yang tidak adil. Anak-anak di sini tidak kalah cerdas dari anak-anak di mana pun. Yang berbeda hanyalah ekosistem yang menopang mereka dan ekosistem itu adalah tanggung jawab kita bersama sebagai bangsa.

Hasil TKA ini seharusnya tidak kita baca sebagai aib daerah. Ini adalah tagihan yang sudah lama jatuh tempo yaitu tagihan atas janji konstitusi yang berbunyi: mencerdaskan kehidupan bangsa. Seluruh bangsa. Termasuk anak-anak di pulau-pulau kecil Maluku Utara yang setiap pagi bangun, menyeberang laut, dan tetap pergi ke sekolah meski negara belum sepenuhnya hadir untuk mereka.

  • Penulis: Dr.Ir. Muhammad Assagaf,MSi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjelang HUT RI ke-81: Ekonomi Tumbuh di Ujung Desa Damuli Kecamatan Patani Timur

    Menjelang HUT RI ke-81: Ekonomi Tumbuh di Ujung Desa Damuli Kecamatan Patani Timur

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • 0Komentar

    Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke-81, suasana kemerdekaan tidak hanya terasa di pusat-pusat kota, tetapi juga tumbuh dari pelosok desa. Di ujung Desa Damuli, Kecamatan Patani Timur, semangat kemerdekaan dapat dilihat dari aktivitas masyarakat yang terus berusaha menghidupkan roda ekonomi dengan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki. Di tengah keterbatasan akses […]

  • Mahasiswa KKN Mandiri IAIN Ternate Gelar Dialog Publik tentang Ekologi Kampung di Desa Payo

    Mahasiswa KKN Mandiri IAIN Ternate Gelar Dialog Publik tentang Ekologi Kampung di Desa Payo

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • 0Komentar

    HALBAR – linidaily.id, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate menggelar dialog publik bersama pemuda dan masyarakat Desa Payo, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Kamis (17/9/2026) malam. Kegiatan yang mengangkat tema “Ekologi Kampung: Menjaga Keseimbangan Alam dalam Kehidupan Sehari-hari” tersebut merupakan bagian dari rangkaian program pengabdian mahasiswa selama melaksanakan […]

  • Belajar dari NTB: Skema BLUD Jadi Kunci Keberlanjutan Pembiayaan Kawasan Konservasi Perairan

    Belajar dari NTB: Skema BLUD Jadi Kunci Keberlanjutan Pembiayaan Kawasan Konservasi Perairan

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, linidaily.id Tim studi banding pengelolaan perikanan berkelanjutan dari Maluku Utara pulang membawa satu pelajaran penting dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB): keberlanjutan pembiayaan pengelolaan kawasan konservasi perairan tidak bisa terus bergantung pada anggaran pemerintah semata. Dalam kunjungan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB, rombongan mempelajari langsung praktik Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) […]

  • Toilet

    Toilet

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
    • 0Komentar

    Beberapa hari terakhir, warga Kota Ternate dikejutkan dengan fakta memprihatinkan yang diungkap para siswa sendiri. Di sebuah sekolah yang menampung ratusan pelajar, toilet yang tersedia nyaris tak layak pakai. Hanya satu unit toilet yang berfungsi, itupun dalam kondisi kotor, berbau tak sedap, dan tanpa perawatan memadai. Ratusan siswa harus bergantian, menahan kebutuhan fisiologis hanya karena […]

  • Adhyaksa FC Resmi Berganti Nama Menjadi Persiter, Pindah Markas ke Ternate

    Adhyaksa FC Resmi Berganti Nama Menjadi Persiter, Pindah Markas ke Ternate

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, Linidaily.id – Klub sepak bola Adhyaksa FC resmi mengumumkan perubahan nama serta perpindahan markas utama (home base) menyusul rencana keikutsertaannya pada musim kompetisi 2026–2027. Keputusan ini disampaikan secara resmi melalui surat pemberitahuan yang ditujukan kepada Pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Berdasarkan surat bernomor 25/K6P/VI/2026 yang dikeluarkan PT Komposisi Enam Penjaga selaku badan […]

  • Kadis DPMD Halsel Kecewa  Tak Satupun BUMDes yang Sukses

    Kadis DPMD Halsel Kecewa Tak Satupun BUMDes yang Sukses

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • 0Komentar

    LABUHA – Linidaily.id, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) saat ini dijabat oleh M. Zaky Wahab secara resmi membuka kegiatan Pelatihan Penguatan BUM Desa di Kabupaten Halmahera Selatan. Kadis yang dilantik oleh Bupati Halsel Hasan Ali Bassam Kasuba pada 13 Januari 2026 itu pun menyayangkan tak ada satupun BUMDES yang […]

expand_less