Akademisi Unkhair Desak Pemkab Halsel Ambil Sampel Air di Madapolo
- account_circle Redaksi
- calendar_month Senin, 3 Agt 2026
- visibility 51
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Dr. Muhammad Ridwan Lessy, mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera mengambil sampel air laut di pesisir Desa Madapolo, Kecamatan Obi Utara. Desakan ini muncul menyusul fenomena perubahan warna air menjadi hijau pekat yang disertai kematian ikan dan dugaan iritasi kulit pada sejumlah warga.
Ridwan menilai, pengambilan sampel perlu segera dilakukan agar penyebab perubahan kualitas air dapat dipastikan secara ilmiah. Menurut dia, pengujian tidak hanya menyasar air laut, tetapi juga ikan serta komponen lingkungan lain yang diduga terdampak.
“Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan instansi terkait perlu segera melakukan pengujian yang lebih detail dengan mengumpulkan sampel air, ikan, serta unsur lingkungan lainnya,” kata Ridwan kepada Ahad (2/8/2026).
Ia menjelaskan, perubahan warna air laut menjadi hijau, munculnya bau menyengat, hingga dugaan iritasi kulit merupakan gejala kompleks yang memerlukan analisis berbasis data lapangan. Secara visual, fenomena yang terjadi di pesisir Madapolo hingga kini juga terlihat di sejumlah desa di Pulau Obi, termasuk di wilayah Laiwui, yang memiliki karakteristik mengarah pada algae bloom atau ledakan populasi alga.
Menurutnya, kondisi tersebut umumnya dipicu oleh tingginya kandungan nutrien, terutama nitrogen dan fosfor, di perairan yang relatif tenang sehingga mempercepat pertumbuhan alga.
“Alga bloom biasanya didominasi jenis alga hijau-biru seperti Microcystis, Spirulina, Oscillatoria, dan Phormidium. Keberadaannya menghasilkan warna hijau tua dan mengindikasikan tingginya kandungan bahan organik seperti amonia maupun hidrogen sulfida di perairan,” ujarnya.
Ridwan menilai kombinasi gejala berupa perubahan warna air, bau menyengat, dan dugaan iritasi kulit lebih mengarah pada ledakan fitoplankton atau sianobakteri dibandingkan sedimen laterit. Menurut dia, sedimen laterit umumnya hanya menyebabkan air berwarna cokelat kemerahan tanpa menimbulkan gangguan dermatologis.
Ia menyebut ada sedikitnya tiga faktor yang dapat memicu terjadinya algae bloom. Pertama, masuknya nutrien berlebih seperti nitrogen dan fosfor yang dapat berasal dari limbah pertanian, limbah domestik, maupun aktivitas pertambangan. Ketika nutrien menumpuk di perairan dengan sirkulasi yang minim, pertumbuhan alga dapat meningkat secara drastis.
Kedua, kenaikan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim. Menurut Ridwan, suhu air yang lebih hangat menjadi kondisi ideal bagi pertumbuhan alga.
“Saat ini Indonesia, termasuk Maluku Utara, sedang berada pada fase El Niño yang cukup kuat. Kondisi ini meningkatkan suhu udara dan berpotensi memperparah pertumbuhan alga. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027,” katanya.
Ketiga, proses upwelling atau naiknya massa air dari dasar laut ke permukaan yang membawa mineral dan nutrien dalam jumlah besar. Kondisi tersebut dapat memperkaya unsur hara di permukaan sehingga memicu ledakan populasi alga.
Meski demikian, Ridwan menegaskan penyebab utama fenomena di Madapolo tidak bisa disimpulkan hanya dari pengamatan visual, terlebih karena perubahan warna air telah diikuti kematian ikan di keramba.
“Analisis ilmiah harus mencakup parameter biologis, kimia, dan fisik agar penyebab utamanya benar-benar dapat dipastikan,” ujarnya.
Ia juga tidak menutup kemungkinan aktivitas pertambangan turut memengaruhi kualitas perairan. Menurut dia, limpasan sedimen maupun air limbah tambang yang mengandung nutrien dan logam berat berpotensi mempercepat terjadinya algae bloom sekaligus mengganggu ekosistem laut.
“Untuk kasus Madapolo, kombinasi nutrien dari aktivitas keramba, limpasan tambang, serta kondisi oseanografi lokal sangat mungkin memperkuat fenomena air hijau dan menyebabkan kematian ikan,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Halmahera Selatan, Idris Ali, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat hingga berita ini diterbitkan.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar