Dari Galela ke Filipina, Komaruddin Nursi Kasman Bawa Sejarah Maluku Utara ke Panggung Internasional
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 72
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
FILIPINA — Sejarah lokal Maluku Utara kembali mendapat ruang di forum akademik internasional. Kali ini, perhatian tertuju pada Komaruddin Nursi Kasman Abdul Rahim, mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tampil dalam National Conference on Local History and Heritage di Filipina.
Mahasiswa berusia 19 tahun yang akrab disapa Komar itu merupakan putra bungsu Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd., Wakil Bupati Halmahera Utara. Komar mendapat undangan resmi dari National Historical Commission of the Philippines (NHCP) untuk mempresentasikan hasil kajiannya pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Dalam forum tersebut, Komar mengangkat penelitian berjudul “Balangingi & Tobelo-Galela: Dutch Newspaper Reports on Piracy and Slavery in Indonesian and Philippine Waters in the 19th Century.” Penelitian ini mempertemukan sejarah Tobelo-Galela dengan dinamika dunia maritim Asia Tenggara pada abad ke-19.
Kajian tersebut berangkat dari penelusuran terhadap pemberitaan surat kabar berbahasa Belanda yang merekam berbagai peristiwa di kawasan perairan Indonesia bagian timur dan Filipina selatan. Di dalamnya terdapat laporan mengenai perompakan, penyerangan, penangkapan manusia, serta praktik perdagangan budak yang berlangsung dalam jaringan maritim kawasan tersebut.
Komar melihat bahwa sejarah Indonesia dan Filipina pada masa lalu tidak dapat dibaca hanya berdasarkan batas-batas negara seperti yang dikenal sekarang. Laut justru menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas. Jalur pelayaran menghubungkan Laut Sulawesi, perairan Halmahera, Kepulauan Maluku dan wilayah Filipina selatan dalam sebuah jaringan mobilitas yang kompleks.
Dalam konteks itulah Tobelo dan Galela ditempatkan dalam penelitiannya. Kedua wilayah di pesisir utara Halmahera tersebut tidak berdiri sebagai ruang sejarah yang terisolasi, melainkan memiliki hubungan dengan perkembangan dunia maritim yang lebih luas.
Menariknya, penelitian Komar tidak semata-mata membaca dokumen kolonial sebagai fakta yang bersifat netral. Ia juga mempertanyakan bagaimana masyarakat maritim digambarkan oleh pemerintah dan media kolonial Belanda.
Menurut kajiannya, pemberitaan tentang perompakan dan perdagangan budak tidak terlepas dari kepentingan politik kolonial. Narasi mengenai ancaman keamanan di wilayah perairan dapat menjadi bagian dari pembenaran terhadap upaya pemerintah kolonial memperluas kontrolnya atas kawasan maritim.
Karena itu, sumber-sumber kolonial perlu dibaca secara kritis. Dokumen tersebut memang penting sebagai sumber sejarah, tetapi tidak selalu mewakili pengalaman dan suara masyarakat yang menjadi objek pemberitaan.
Bagi Komar sendiri, penelitian mengenai Tobelo-Galela bukan sekadar aktivitas akademik. Ada hubungan personal yang kuat dengan tema yang ditelitinya. Latar belakang keluarga yang memiliki keterikatan dengan Galela menjadi salah satu dorongan untuk menelusuri kembali jejak sejarah leluhur.
Tradisi lisan dan pengetahuan lokal kemudian dipertemukan dengan pendekatan historiografi dan metode penelitian sejarah yang diperolehnya selama menjalani pendidikan di UGM. Dari proses tersebut, sejarah keluarga dan sejarah lokal tidak hanya ditempatkan sebagai ingatan, tetapi mulai dikembangkan menjadi objek penelitian ilmiah.
Ketertarikan Komar terhadap sejarah Maluku Utara juga telah diwujudkan melalui karya buku. Pada 2026, ia menerbitkan buku berjudul “Perlawanan Rakyat Galela Tahun 1946–1949.” Buku tersebut menjadi bagian dari upayanya mendokumentasikan pengalaman sejarah masyarakat lokal sekaligus memperkenalkan kisah-kisah daerah kepada generasi muda.
Di lingkungan kampus, Komar juga aktif dalam organisasi mahasiswa. Pada 2026, ia dipercaya sebagai Ketua Himpunan Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah (BKMS) FIB UGM.
Keterlibatannya dalam konferensi di Filipina menunjukkan bahwa isu sejarah lokal memiliki peluang untuk dibicarakan dalam konteks yang lebih luas. Sejarah Tobelo-Galela, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan masyarakat kepulauan di kawasan Asia Tenggara sebelum terbentuknya batas-batas negara modern.
Bagi Maluku Utara, kiprah tersebut memiliki arti tersendiri. Selama ini, banyak sejarah daerah hidup dalam ingatan keluarga, cerita para tetua, tradisi lisan, maupun dokumen yang tersebar dan belum banyak diteliti. Ketika pengetahuan tersebut dikaji menggunakan metode ilmiah, sejarah lokal dapat memasuki ruang akademik yang lebih luas.
Komar memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap daerah tidak harus berhenti pada kebanggaan identitas. Ia dapat diwujudkan melalui penelitian, penulisan dan dokumentasi yang memungkinkan sejarah lokal dibaca oleh masyarakat yang lebih luas.
Dari Halmahera hingga Filipina, perjalanan akademik Komar sekaligus menunjukkan bahwa sejarah lokal Maluku Utara memiliki dimensi regional. Tobelo dan Galela bukan hanya bagian dari cerita sebuah daerah, tetapi juga dapat ditempatkan dalam sejarah maritim Asia Tenggara.
Pada usia yang masih sangat muda, Komar telah memilih jalur yang penting: membawa cerita dari kampung halaman ke meja akademik internasional. Dari sana, sejarah Tobelo-Galela tidak hanya menjadi ingatan masyarakat lokal, tetapi berpeluang menjadi bagian dari percakapan sejarah kawasan.
Sejarah lokal, ketika diteliti dengan serius, tidak pernah benar-benar lokal. Ia dapat menjadi jendela untuk memahami dunia yang lebih luas.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar