Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Dari Galela ke Filipina, Komaruddin Nursi Kasman Bawa Sejarah Maluku Utara ke Panggung Internasional

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
  • visibility 73
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

FILIPINA — Sejarah lokal Maluku Utara kembali mendapat ruang di forum akademik internasional. Kali ini, perhatian tertuju pada Komaruddin Nursi Kasman Abdul Rahim, mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang tampil dalam National Conference on Local History and Heritage di Filipina.

Mahasiswa berusia 19 tahun yang akrab disapa Komar itu merupakan putra bungsu Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd., Wakil Bupati Halmahera Utara. Komar mendapat undangan resmi dari National Historical Commission of the Philippines (NHCP) untuk mempresentasikan hasil kajiannya pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Dalam forum tersebut, Komar mengangkat penelitian berjudul “Balangingi & Tobelo-Galela: Dutch Newspaper Reports on Piracy and Slavery in Indonesian and Philippine Waters in the 19th Century.” Penelitian ini mempertemukan sejarah Tobelo-Galela dengan dinamika dunia maritim Asia Tenggara pada abad ke-19.

Kajian tersebut berangkat dari penelusuran terhadap pemberitaan surat kabar berbahasa Belanda yang merekam berbagai peristiwa di kawasan perairan Indonesia bagian timur dan Filipina selatan. Di dalamnya terdapat laporan mengenai perompakan, penyerangan, penangkapan manusia, serta praktik perdagangan budak yang berlangsung dalam jaringan maritim kawasan tersebut.

Komar melihat bahwa sejarah Indonesia dan Filipina pada masa lalu tidak dapat dibaca hanya berdasarkan batas-batas negara seperti yang dikenal sekarang. Laut justru menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas. Jalur pelayaran menghubungkan Laut Sulawesi, perairan Halmahera, Kepulauan Maluku dan wilayah Filipina selatan dalam sebuah jaringan mobilitas yang kompleks.

Dalam konteks itulah Tobelo dan Galela ditempatkan dalam penelitiannya. Kedua wilayah di pesisir utara Halmahera tersebut tidak berdiri sebagai ruang sejarah yang terisolasi, melainkan memiliki hubungan dengan perkembangan dunia maritim yang lebih luas.

Menariknya, penelitian Komar tidak semata-mata membaca dokumen kolonial sebagai fakta yang bersifat netral. Ia juga mempertanyakan bagaimana masyarakat maritim digambarkan oleh pemerintah dan media kolonial Belanda.

Menurut kajiannya, pemberitaan tentang perompakan dan perdagangan budak tidak terlepas dari kepentingan politik kolonial. Narasi mengenai ancaman keamanan di wilayah perairan dapat menjadi bagian dari pembenaran terhadap upaya pemerintah kolonial memperluas kontrolnya atas kawasan maritim.

Karena itu, sumber-sumber kolonial perlu dibaca secara kritis. Dokumen tersebut memang penting sebagai sumber sejarah, tetapi tidak selalu mewakili pengalaman dan suara masyarakat yang menjadi objek pemberitaan.

Bagi Komar sendiri, penelitian mengenai Tobelo-Galela bukan sekadar aktivitas akademik. Ada hubungan personal yang kuat dengan tema yang ditelitinya. Latar belakang keluarga yang memiliki keterikatan dengan Galela menjadi salah satu dorongan untuk menelusuri kembali jejak sejarah leluhur.

Tradisi lisan dan pengetahuan lokal kemudian dipertemukan dengan pendekatan historiografi dan metode penelitian sejarah yang diperolehnya selama menjalani pendidikan di UGM. Dari proses tersebut, sejarah keluarga dan sejarah lokal tidak hanya ditempatkan sebagai ingatan, tetapi mulai dikembangkan menjadi objek penelitian ilmiah.

Ketertarikan Komar terhadap sejarah Maluku Utara juga telah diwujudkan melalui karya buku. Pada 2026, ia menerbitkan buku berjudul “Perlawanan Rakyat Galela Tahun 1946–1949.” Buku tersebut menjadi bagian dari upayanya mendokumentasikan pengalaman sejarah masyarakat lokal sekaligus memperkenalkan kisah-kisah daerah kepada generasi muda.

Di lingkungan kampus, Komar juga aktif dalam organisasi mahasiswa. Pada 2026, ia dipercaya sebagai Ketua Himpunan Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah (BKMS) FIB UGM.

Keterlibatannya dalam konferensi di Filipina menunjukkan bahwa isu sejarah lokal memiliki peluang untuk dibicarakan dalam konteks yang lebih luas. Sejarah Tobelo-Galela, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan masyarakat kepulauan di kawasan Asia Tenggara sebelum terbentuknya batas-batas negara modern.

Bagi Maluku Utara, kiprah tersebut memiliki arti tersendiri. Selama ini, banyak sejarah daerah hidup dalam ingatan keluarga, cerita para tetua, tradisi lisan, maupun dokumen yang tersebar dan belum banyak diteliti. Ketika pengetahuan tersebut dikaji menggunakan metode ilmiah, sejarah lokal dapat memasuki ruang akademik yang lebih luas.

Komar memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap daerah tidak harus berhenti pada kebanggaan identitas. Ia dapat diwujudkan melalui penelitian, penulisan dan dokumentasi yang memungkinkan sejarah lokal dibaca oleh masyarakat yang lebih luas.

Dari Halmahera hingga Filipina, perjalanan akademik Komar sekaligus menunjukkan bahwa sejarah lokal Maluku Utara memiliki dimensi regional. Tobelo dan Galela bukan hanya bagian dari cerita sebuah daerah, tetapi juga dapat ditempatkan dalam sejarah maritim Asia Tenggara.

Pada usia yang masih sangat muda, Komar telah memilih jalur yang penting: membawa cerita dari kampung halaman ke meja akademik internasional. Dari sana, sejarah Tobelo-Galela tidak hanya menjadi ingatan masyarakat lokal, tetapi berpeluang menjadi bagian dari percakapan sejarah kawasan.

Sejarah lokal, ketika diteliti dengan serius, tidak pernah benar-benar lokal. Ia dapat menjadi jendela untuk memahami dunia yang lebih luas.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Ditahan Terkait Korupsi Istana Daerah Rp17,5 Miliar

    Mantan Bupati Pulau Taliabu Aliong Mus Resmi Ditahan Terkait Korupsi Istana Daerah Rp17,5 Miliar

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Linidaily.id Komitmen Kejaksaan Tinggi Maluku Utara dalam menindak tegas kasus korupsi kembali dibuktikan. Hari ini, Jumat (26/6/2026), Aliong Mus yang menjabat Bupati Pulau Taliabu selama dua periode resmi ditetapkan sebagai tersangka sekaligus ditahan terkait dugaan penyimpangan proyek pembangunan Istana Daerah senilai Rp17,5 miliar. Anggaran proyek tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah […]

  • Belajar dari NTB: Kemandirian Pokmaswas Petrando dan Kekuatan Jejaring Forum Jadi Kunci Pengawasan Laut Berkelanjutan

    Belajar dari NTB: Kemandirian Pokmaswas Petrando dan Kekuatan Jejaring Forum Jadi Kunci Pengawasan Laut Berkelanjutan

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, linidaily.id Satu lagi pembelajaran dibawa pulang tim studi banding pengelolaan perikanan berkelanjutan Maluku Utara dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB): bagaimana kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) bisa mandiri secara ekonomi sekaligus terhubung dalam jejaring yang kuat. Kunjungan kali ini menyasar Forum Pokmaswas NTB dan salah satu kelompok binaannya, Pokmaswas Petrando, yang mengawasi kawasan perairan Gili […]

  • Mantan Wakil Gubernur Maluku Utara M. Al Yasin Ali Meninggal Dunia di Makassar

    Mantan Wakil Gubernur Maluku Utara M. Al Yasin Ali Meninggal Dunia di Makassar

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • 0Komentar

    Kabar duka datang dari Maluku Utara. Mantan Wakil Gubernur Maluku Utara periode 2019–2024, M. Al Yasin Ali, meninggal dunia di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (14/8/2026) malam. Almarhum mengembuskan napas terakhir dalam usia 68 tahun di salah satu rumah sakit di Kota Makassar sekitar pukul 22.10 WIT. Kepergian M. Al Yasin Ali menjadi kabar kehilangan bagi […]

  • Trash Hero Chapter Ternate Hadiri Pentas Seni SD Alkhairaat 05 Falajawa 2, Bawa Pesan Peduli Lingkungan

    Trash Hero Chapter Ternate Hadiri Pentas Seni SD Alkhairaat 05 Falajawa 2, Bawa Pesan Peduli Lingkungan

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • 0Komentar

    Ternate, 20 Juni 2026 — Suasana pagi di Asrama Haji terasa semarak saat SD Alkhairaat 05 Falajawa 2 menggelar acara Pentas Seni pada Sabtu, 20 Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, Trash Hero Chapter Ternate hadir sebagai pihak yang diundang, menambah warna pada pelaksanaan acara yang diikuti sekitar 150 anak dari kelas 1 sampai 5, orang […]

  • Dari Jajaran Reserse Hingga Pucuk Pimpinan Bhayangkara

    Dari Jajaran Reserse Hingga Pucuk Pimpinan Bhayangkara

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • 0Komentar

    Biografi Kapolri Suyudi Ario Seto Suyudi Ario Seto lahir di Pandeglang, Banten, pada 14 Juli 1973. Sejak muda, ia telah menetapkan langkah untuk mengabdi pada negeri melalui jalur kepolisian. Pilihan itu mengantarkannya lulus dari Akademi Kepolisian pada tahun 1994, menandai dimulainya perjalanan panjang pengabdiannya di Korps Bhayangkara yang kini telah menapaki lebih dari tiga dekade. […]

  • Menjaga Marwah Kampus: Mengapa Kebijakan “Satu Kampus Satu Dapur” Harus Dikaji Ulang

    Menjaga Marwah Kampus: Mengapa Kebijakan “Satu Kampus Satu Dapur” Harus Dikaji Ulang

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • 0Komentar

    Kehebohan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru ketika ranah akademik ikut terseret ke dalam arus kebijakan logistik nasional. Pemicu utama kegaduhan ini bermula saat pemerintah menetapkan secara resmi sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta di Indonesia untuk mengoperasikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dalam lingkungan kampus. Langkah birokrasi universitas yang […]

expand_less