Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Buku: Media Abadi di Tengah Digitalisasi

  • account_circle Syarifuddin Usman
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
  • visibility 206
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Hari Buku 17 Mei

17 Mei (kemarin) bangsa Indonesia memperingati hari buku Nasional. Dicetuskan pertama kali pada 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, A. Malik Fajar.

Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional RI (PERPUSNAS) berdasarkan Keputusan Mendikbud nomor 0164/0/1980.

Peringatan hari buku ini sebenarnya berangkat dari keprihatinan Mendikbud pada data UNESCO 2002 menunjukkan Tingkat literasi Indonesia hanya 87,9%, di bawah Malaysia, Vietnam dan Thailand. Produksi bukupun baru sekitar 18.000 judul/tahun, jauh tertinggal dari Jepang (40.000) dan China (140.000)

Bagaimana saat ini? Menurut data.goodstats.id tingkat Literasi di Asia Tenggara, Indonesia mencapai 96,53%, menempati peringkat ke-5 di ASEAN. Angka ini berada sedikit di atas Malaysia 95,71%, tetapi di bawah Vietnam 98,63%. Untuk tingkat kegemaran membaca Indonesia no urut ke tiga 5,91 buku per tahun atau 129 jam per tahun dibawah Singapura 6,72 buku per tahun atau 155 jam per tahun dan Thailand 6,37 buku per tahun atau 149 jam per tahun. Setelah Indonesia ada Filipina urutan ke empat, Vietnam urutan ke lima dan Malaysia urutan ke enam. Ini untuk Kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, Indonesia menempati peringkat ke-63 dari 81 negara untuk kemampuan literasi membaca.
Dalam hal kuantitas penerbitan buku secara nasional, Indonesia merupakan salah satu yang paling produktif di Asia Tenggara. Indonesia menerbitkan sekitar 30.000 judul buku per tahun, Malaysia menerbitkan sekitar 19.000 judul buku per tahun, Thailand menerbitkan sekitar 17.000 judul buku per tahun dan Vietnam berdasarkan data historis yang dihimpun UNESCO/Wikipedia, berada di kisaran 24.000 judul buku.

Digitalisasi dan Tantangan bagi Buku Cetak

Namun, di tengah gempuran digitalisasi saat ini, buku tetap bertahan sebagai media abadi yang memiliki nilai istimewa. Buku bukan sekadar media penyampai informasi, melainkan juga wadah gagasan, budaya, dan peradaban yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehadiran teknologi digital memang membawa tantangan bagi eksistensi buku cetak. Data menunjukkan bahwa banyak orang kini lebih memilih membaca melalui layar ponsel atau tablet karena dianggap lebih praktis dan efisien. E-book, artikel daring, dan audiobook menjadi alternatif yang diminati, terutama oleh generasi muda.

Meskipun informasi digital menawarkan kecepatan akses, tidak semua konten di internet memiliki keakuratan dan kedalaman yang sama seperti buku. Buku melalui proses kurasi, penyuntingan, dan penerbitan yang ketat, sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, membaca buku juga memberikan pengalaman berbeda. Kita bisa fokus, tenggelam dalam alur cerita, dan memahami isi buku secara utuh tanpa gangguan notifikasi atau iklan seperti saat membaca di layar gadget.

Sejak dulu, buku telah menjadi sarana utama untuk menyimpan dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Dari kitab-kitab kuno hingga buku-buku modern, manusia selalu mencatat berbagai hal penting dalam bentuk tulisan yang dibukukan. Buku memungkinkan kita untuk mempelajari berbagai topik secara sistematis, terstruktur, dan mendalam.

Menurut laporan Nielsen BookScan (2022) menunjukkan bahwa 70% penjualan buku global masih berasal dari buku fisik artinya, buku cetak masih tetap dominan. E-Book di posisi kedua dengan pertumbuhan e-book melambat. Meskipun meningkat pesat pada 2010-an, penjualan e-book cenderung stagnan sejak 2019.
Data dari Pew Research Center (2023) menyebutkan bahwa Gen Z menunjukkan ketertarikan baru terhadap buku fisik, terutama karena estetika dan pengalaman sensorik yang diberikan.

Buku dan Digitalisasi: Bukan Saingan, tapi Pelengkap

Meski terlihat saling bersaing, buku dan teknologi digital sejatinya bisa berjalan berdampingan. Kehadiran e-book dan audiobook justru membuka peluang baru dalam dunia literasi. Buku kini dapat diakses dalam berbagai format, memudahkan siapa saja untuk membaca di mana saja dan kapan saja.

Banyak perpustakaan, toko buku, dan penerbit yang sudah menyediakan versi digital dari buku-buku cetak. Bahkan beberapa penulis muda kini memulai karier mereka lewat platform digital sebelum menerbitkan buku fisik.

Kolaborasi antara buku cetak dan digital inilah yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan literasi di era modern.

Mengapa Buku Tetap Istimewa di Era Digital?

Ada beberapa alasan mengapa buku tetap memiliki nilai istimewa, meskipun digitalisasi berkembang pesat, pertama, pengalaman membaca yang lebih mendalam. Membaca buku fisik memberikan pengalaman membaca tanpa gangguan digital. Aroma kertas, lembaran yang disentuh, serta kenikmatan menyusuri halaman demi halaman memberikan sensasi yang tidak ditemukan di layer. Kedua, kredibilitas Isi. Buku melalui proses penulisan, penyuntingan, dan penerbitan yang terkontrol sehingga isi dan referensinya bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan konten digital yang kadang kurang valid. Ketiga, Sebagai Warisan Budaya dan Sejarah. Buku menjadi saksi perjalanan peradaban manusia. Banyak karya sastra, catatan sejarah, dan teori ilmiah yang tercatat dalam buku dan masih relevan hingga saat ini. Keempat, Tidak Bergantung Teknologi. Buku fisik dapat dibaca kapan saja tanpa perlu baterai atau jaringan internet. Di saat tertentu, buku justru menjadi penyelamat di saat akses teknologi terbatas. Bahkan menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.

So,…selebihnya, tetap menjaga kewarasan dengan terus membaca. Baik membaca dalam format buku (fisik) maupun dalam bentuk digital. Keduanya sama-sama menambah pengetahuan dan pengalaman. Selamat Hari Buku dan selalu terus membaca.

  • Penulis: Syarifuddin Usman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolaborasi Warga, Pemerintah Desa dan PT. BMI Atasi Karhutla Desa Todoli

    Kolaborasi Warga, Pemerintah Desa dan PT. BMI Atasi Karhutla Desa Todoli

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • 0Komentar

    Taliabu – Linidaily.id, Kebakaran Hutan dan Lahan yang melanda Desa Todoli kurang lebih hampir sebulan, terus meluas hingga saat ini. Berdasarkan pantauan dan Wawancara sejumlah pihak, upaya pemadaman kebakaran terus dilakukan disejumlah titik. Antara lain, Air pala, Air Hudo, Dusun Sagu, Tambona serta dekat pemukiman warga Desa Todoli. Upaya pemadaman kebakaran yang dilakukan warga dilakukan […]

  • Dugaan Jual Beli IUP Haltim LKBHMI Cabang Ternate Desak Kejati Bongkar hingga Tuntas

    Dugaan Jual Beli IUP Haltim LKBHMI Cabang Ternate Desak Kejati Bongkar hingga Tuntas

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • 0Komentar

    HALMAHERA TIMUR – Dugaan praktik jual beli Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kabupaten Halmahera Timur kembali menyita perhatian publik. Persoalan yang sebelumnya dianggap sebatas polemik perizinan kini mulai dipandang sebagai persoalan serius yang menyentuh aspek tata kelola pemerintahan, pengelolaan sumber daya alam, hingga dugaan tindak pidana korupsi. Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Cabang […]

  • Paradoks Pendidikan Nusantara: Ketika Yogyakarta Kehilangan Siswa dan Maluku Utara Menghitung Kebutuhan

    Paradoks Pendidikan Nusantara: Ketika Yogyakarta Kehilangan Siswa dan Maluku Utara Menghitung Kebutuhan

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • 0Komentar

    Fenomena yang terjadi di D.I. Yogyakarta beberapa waktu terakhir menciptakan ironi tajam dalam peta pendidikan nasional. Puluhan sekolah negeri di wilayah ini mengalami kekurangan siswa yang signifikan, bahkan mencapai ribuan siswa dibandingkan kapasitas ideal. Sementara itu, di ujung timur Indonesia, Maluku Utara justru tengah berjuang memenuhi laju pertumbuhan kebutuhan pendidikan akibat eksplosivitas pembangunan dan populasi. […]

  • Kontroversi Komunikasi Publik Presiden Prabowo: Salah Data, Salah Ucap, atau Strategi?

    Kontroversi Komunikasi Publik Presiden Prabowo: Salah Data, Salah Ucap, atau Strategi?

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • 0Komentar

    Komunikasi seorang presiden tidak pernah sekadar percakapan biasa. Setiap angka, istilah, dan pernyataan yang keluar dari kepala negara dapat dibaca sebagai representasi informasi resmi pemerintah. Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto beberapa kali mengeluarkan pernyataan kontroversial, persoalannya tidak cukup dilihat sebagai gaya bicara yang spontan. Publik berhak bertanya: apakah itu strategi komunikasi publik yang disengaja, […]

  • Di Balik Achmad Bakrie Award: Haedar Nashir Ungkap Filosofi “Jalan Sunyi” Muhammadiyah

    Di Balik Achmad Bakrie Award: Haedar Nashir Ungkap Filosofi “Jalan Sunyi” Muhammadiyah

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • 0Komentar

    JAKARTA, Linidaily.id – Di tengah hingar-bingar dunia publik yang kerap mengagungkan visibilitas, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir memilih untuk tetap setia pada apa yang ia sebut sebagai “jalan sunyi”. Penerimaan Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 Bidang Pemikiran Sosial bukan sekadar validasi personal bagi Haedar, melainkan sebuah pengakuan terhadap ribuan kerja sosial yang […]

  • Menjelang HUT RI ke-81: Ekonomi Tumbuh di Ujung Desa Damuli Kecamatan Patani Timur

    Menjelang HUT RI ke-81: Ekonomi Tumbuh di Ujung Desa Damuli Kecamatan Patani Timur

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • 0Komentar

    Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke-81, suasana kemerdekaan tidak hanya terasa di pusat-pusat kota, tetapi juga tumbuh dari pelosok desa. Di ujung Desa Damuli, Kecamatan Patani Timur, semangat kemerdekaan dapat dilihat dari aktivitas masyarakat yang terus berusaha menghidupkan roda ekonomi dengan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki. Di tengah keterbatasan akses […]

expand_less