Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Menjaga Marwah Kampus: Mengapa Kebijakan “Satu Kampus Satu Dapur” Harus Dikaji Ulang

  • account_circle La Ode Arman Ahmad
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 225
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kehebohan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru ketika ranah akademik ikut terseret ke dalam arus kebijakan logistik nasional. Pemicu utama kegaduhan ini bermula saat pemerintah menetapkan secara resmi sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta di Indonesia untuk mengoperasikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dalam lingkungan kampus.

Langkah birokrasi universitas yang menyambut hangat instruksi Badan Gizi Nasional (BGN) ini awalnya dipandang sebagai bentuk akselerasi pengabdian masyarakat. Namun, kebijakan tersebut justru memicu reaksi berantai dan resistensi kuat dari berbagai elemen mahasiswa yang bernaung di bawah kampus-kampus Maluku Utara serta kampus besar lainnya di tanah air. Banyak pihak menilai langkah universitas ini sebagai preseden berisiko yang mengaburkan batasan antara institusi pendidikan dan operator katering pemerintah.

Benturan Visi: Pusat Intelektual vs Operator Logistik

Reaksi keras muncul karena kekhawatiran bahwa kampus akan dialihfungsikan menjadi ruang riset dapur umum massal. Ketegangan ini mencerminkan adanya perbedaan visi yang mendalam antara pemerintah—yang menginginkan efisiensi logistik melalui infrastruktur kampus—dan para akademisi serta mahasiswa yang ingin menjaga marwah universitas sebagai pusat intelektual murni.

Kalangan mahasiswa di Maluku Utara menjadi salah satu kelompok yang paling vokal menyuarakan keberatan terhadap konsep “satu kampus satu dapur”. Dalam berbagai diskusi informal di kampus hingga warung kopi, mahasiswa menegaskan bahwa memaksakan universitas untuk mengelola dapur umum merupakan langkah yang tidak sinkron dengan karakteristik mahasiswa sebagai pembelajar tingkat tinggi.

Sebagai individu dewasa, mahasiswa telah memiliki kemandirian penuh dalam menentukan pilihan hidup, termasuk urusan konsumsi nutrisi harian. Fungsi utama sebuah universitas adalah mengasah nalar kritis dan kapasitas intelektual, bukan melakukan intervensi terhadap isi piring mahasiswa melalui skema penyiapan dapur terpusat. Otonomi dalam memilih makanan adalah bagian dari kebebasan individu yang harus dihormati.

Jika memang infrastruktur kampus harus digunakan, mahasiswa menyarankan optimalisasi unit usaha komersial yang profesional seperti kantin atau wisma milik kampus. Langkah ini dinilai lebih bijak alih-alih melibatkan struktur birokrasi akademik yang dapat mengganggu fokus utama pada pendidikan dan riset.

Penolakan yang tidak kalah tegas juga datang dari sebagian besar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, khususnya Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UMMU). Mereka menyoroti bahwa mandat utama perguruan tinggi adalah pendidikan dan dakwah, yang secara fundamental berbeda dengan peran sebagai operator penyedia logistik makanan.

Membebankan tanggung jawab dapur umum pada universitas hanya akan menciptakan beban administrasi dan risiko operasional yang berat.

Ancaman Terhadap Ekosistem Ekonomi Lokal

Selain masalah internal, mayoritas mahasiswa Maluku Utara sangat mengkhawatirkan dampak kebijakan ini terhadap ekosistem ekonomi di sekitar kampus. Selama puluhan tahun, ekonomi rakyat di sekitar wilayah kampus tumbuh subur melalui warung-warung kecil milik masyarakat (warteg, kedai makan, dan pelaku UMKM).

Jika kampus mendirikan dapur gratis secara massal di dalam area perkuliahan, maka mata pencaharian ribuan pedagang kecil tersebut terancam lumpuh. Oleh karena itu, mahasiswa memilih untuk menjaga jarak dari program ini guna memastikan keberlanjutan ekonomi lokal dan menjaga agar universitas tetap pada jalur pengembangan ilmu pengetahuan tanpa terdistraksi oleh urusan manajemen catering.

Dinamika pasca-transisi kepemimpinan nasional memperlihatkan adanya polarisasi pendapat yang tajam. Kebijakan pemerintah saat ini dinilai oleh sebagian mahasiswa lebih mempromosikan “isi perut ketimbang isi kepala”. La Ode Arman Ahmad, mahasiswa aktif Program Studi Ilmu Politik FISIP UMMU, memberikan pernyataan keras menolak kampus dijadikan “tumbal”bagi proyek pemerintah yang bersifat teknis-logistik.

Dikhawatirkan peran kampus sebagai institusi akan terdegradasi.

Ketimpangan tajam dalam mendefinisikan peran universitas di era modern ini mencerminkan adanya benturan paradigma yang fundamental antara pemerintah dan kalangan akademisi. Pemerintah cenderung memandang kampus sebagai instrumen teknokratis dan aset strategis yang memiliki sumber daya manusia serta infrastruktur lahan siap pakai untuk percepatan eksekusi kebijakan nasional.

Sebaliknya, universitas menjaga ketat filosofi kampus sebagai benteng otonomi intelektual yang harus steril dari tugas-tugas lapangan bersifat non-akademik maupun beberapa operasi teknis. Di satu sisi, urgensi pengetesan masalah gizi nasional melalui program MBG bersifat darurat dan mendesak, namun disisi lain, prinsip kebebasan akademik merupakan nilai luhur yang tidak dapat dikompromikan. Jika dikotomi ini dijembatani melalui dialog konstruktif, kebijakan tersebut beresiko kehilangan legitimasi ilmiahnya di mata publik.

Tanpa sinkronisasi peran, pemaksaan program hanya akan memicu resistensi dan konflik berkepanjangan dengan sivitas akademika, sehingga potensi kolaborasi berbasis riset pun akan terbuang sia-sia akibat kegagalan pemerintah dalam menghargai integritas institusi pendidikan sebagai pusat pengetahuan.

Sebagai jalan tengah, solusi yang ditawarkan. Setiap  kebijakan nasional yang menyentuh tanah akademik wajib di kaji secara multidimensi. Program Makan Bergizi Gratis adalah cita-cita mulia untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, namun metode implementasinya tidak boleh mengorbankan otonomi kampus atau menganggu ekonomi kerakyatan di sekitar universitas. Universitas harus tetap menjadi mercusuar ilmu pengetahuan penelitian, bukan menjadi departemen logistik tambahan bagi pemerintah. Dengan kolaborasi yang tepat-di mana kampus berperan sebagai pengawas mutu dan inovator pangan sementara pihak profesional menjadi operatornya program gizi nasional dapat berjalan beriringan dengan marwah intelektual perguruan tinggi tampa perlu menciptakan kegaduhan di masa depan.

  • Penulis: La Ode Arman Ahmad

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemprov Maluku Utara Siapkan Opsi Pemotongan TPP ASN 2027 Akibat Tekanan Fiskal

    Pemprov Maluku Utara Siapkan Opsi Pemotongan TPP ASN 2027 Akibat Tekanan Fiskal

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Maluku Utara tengah menyusun langkah antisipatif untuk menghadapi penurunan kapasitas anggaran daerah, salah satunya melalui rencana pengurangan Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2027. Kebijakan ini muncul sebagai respons atas berkurangnya aliran dana transfer dari pemerintah pusat yang berdampak langsung pada kondisi fiskal daerah. Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin […]

  • Luncurkan Buku Ketiga, Bacarita Buku “Sekolah Rumah Pendidikan” Malam Ini

    Luncurkan Buku Ketiga, Bacarita Buku “Sekolah Rumah Pendidikan” Malam Ini

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • 0Komentar

    HALMAHERA UTARA — LinidIly.id Malam ini, Sabtu 5 September 2026, pukul 20.00 WIT hingga selesai, akan digelar kegiatan Bacarita Buku: Sekolah, Rumah Pendidikan di Pendopo Rumah Dinas Wakil Bupati Halmahera Utara. Kegiatan ini merupakan peluncuran sekaligus diskusi mendalam atas karya buku ketiga yang ditulis oleh Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd. Buku […]

  • Diduga Gelapkan Dana BOS, PB HMT Desak Kemenag Usut Bendahara SMAK Harapan Kasih

    Diduga Gelapkan Dana BOS, PB HMT Desak Kemenag Usut Bendahara SMAK Harapan Kasih

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, Linidaily.id Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Taliabu (PB HMT) mendesak Inspektorat Jenderal (Insjen) Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMAK Harapan Kasih, Desa Tolong, Kecamatan Lede, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara. Desakan ini muncul akibat dugaan penyalahgunaan anggaran oleh bendahara sekolah yang dinilai tidak […]

  • Coffee, Care, and Power

    Coffee, Care, and Power

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • 0Komentar

    Catatan Milad KOHATI ke-60 tentang Habitus Patriarki di tubuh HMI Cabang Ternate Milad KOHATI ke-60 seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun organisasi. Enam puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk meninjau kembali bagaimana HMI memperlakukan kader-kader perempuannya, terutama di tingkat cabang. Sudah sejauh mana perempuan diberi ruang untuk tumbuh sebagai pemimpin, dan […]

  • Pimpred Media Lokal di Malut Diduga Perkosa Mahasiswi, KOPRI Mengawal Sampai Tuntas

    Pimpred Media Lokal di Malut Diduga Perkosa Mahasiswi, KOPRI Mengawal Sampai Tuntas

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • 0Komentar

    Seorang mahasiswa yang juga menjabat sebagai pimpinan redaksi media lokal di Maluku Utara diduga telah melakukan tindakan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi. Kasus ini kini mendapat sorotan serius dari Korps Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KOPRI PKC PMII) Maluku Utara. KOPRI menegaskan akan mengawal kasus tersebut hingga tuntas, sekaligus memastikan korban memperoleh keadilan dan […]

  • Merawat Ingatan Kolektif: BEM FIB UNKHAIR Bersama UKM LEKSAS FIB Gelar Refleksi September Hitam di Landmark Ternate

    Merawat Ingatan Kolektif: BEM FIB UNKHAIR Bersama UKM LEKSAS FIB Gelar Refleksi September Hitam di Landmark Ternate

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERNATE, linidaily.id – 12 September 2026 — Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (BEM FIB UNKHAIR) bersama UKM Lembaga Kesenian dan Sastra (LEKSAS) FIB UNKHAIR menggelar BERSASTRA — MENOLAK LUPA di Landmark Ternate, Sabtu (12/9). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi dalam momentum September Hitam untuk merawat ingatan kolektif terhadap berbagai peristiwa kekerasan dan […]

expand_less