Di Balik Achmad Bakrie Award: Haedar Nashir Ungkap Filosofi “Jalan Sunyi” Muhammadiyah
- account_circle Redaksi
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 69
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. Foto: muhamadiyah.or.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Linidaily.id – Di tengah hingar-bingar dunia publik yang kerap mengagungkan visibilitas, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir memilih untuk tetap setia pada apa yang ia sebut sebagai “jalan sunyi”. Penerimaan Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 Bidang Pemikiran Sosial bukan sekadar validasi personal bagi Haedar, melainkan sebuah pengakuan terhadap ribuan kerja sosial yang berlangsung tanpa sorotan kamera.
Hal ini disampaikan Haedar dalam acara Ramah Tamah rangkaian Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 di Bakrie Tower, Jakarta Selatan, pada Selasa (25/8). Bagi Haedar, penghargaan ini merupakan jembatan yang menghubungkan dua dunia: kerja intelektual dan sosial yang senyap, dengan apresiasi publik yang diperlukan untuk menjaga semangat keberlanjutan.
Antara Akademisi dan Aktivis Sosial
Haedar mengakui adanya kejutan saat namanya ditetapkan sebagai pemenang. Baginya, identitas utama bukanlah sebagai tokoh publik, melainkan sebagai bagian dari mesin besar Muhammadiyah yang bergerak di akar rumput.
“Saya sempat merasa ini seperti salah alamat. Karena jujur, saya lebih banyak mengurus Muhammadiyah. Itu adalah jalan sunyi,” ujar Haedar.
Namun, ia menekankan bahwa “sunyi” di sini tidak berarti kosong makna. Sebaliknya, itu adalah ruang di mana proses pembebasan, pemberdayaan, dan pendampingan masyarakat dilakukan secara konsisten. Spirit “Islam Berkemajuan” yang diusung Muhammadiyah, menurutnya, justru tumbuh subur dalam kesunyian kerja nyata, jauh dari gemerlap pencitraan.
Cermin Akuntabilitas dan Tradisi Ilmu
Dalam refleksinya, Haedar juga menyoroti kesamaan visi antara keluarga almarhum Achmad Bakrie dengan ethos Muhammadiyah. Ia melihat kepedulian panjang keluarga Bakrie terhadap para ilmuwan dan pemikir sebagai bentuk lain dari “jalan sunyi”—sebuah upaya mendukung mereka yang bekerja di balik layar demi kemajuan bangsa.
Haedar turut mengenang interaksi historis antara keluarga Bakrie dan ‘Aisyiyah, sayap perempuan Muhammadiyah. Ia menceritakan bagaimana Aburizal Bakrie pernah memberikan perhatian khusus terhadap tradisi pertanggungjawaban ‘Aisyiyah yang dikenal sangat rinci dan transparan.
Bagi Haedar, momen itu bukan sekadar urusan administratif, melainkan cerminan integritas. “Itu bentuk dari tradisi kami untuk bertanggung jawab bukan hanya kepada Allah, tapi juga kepada masyarakat,” tegasnya.
Penghargaan untuk Yang Tak Terlihat
Melalui penerimaan penghargaan ini, Haedar berharap narasi tentang pentingnya kerja-kerja tak terlihat dapat semakin menguat. Ia ingin pesan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang tampil di permukaan, tetapi juga oleh mereka yang tekun membangun fondasi sosial, intelektual, dan spiritual di lapisan bawah.
“Mudah-mudahan ini juga menjadi penghargaan bagi Muhammadiyah, untuk masyarakat, bangsa, dan untuk Indonesia,” pungkas Haedar, menutup refleksi mendalam tentang makna pengabdian di era modern.
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar