Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

KURIKULUM REMPAH

  • account_circle Herman Oesman
  • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
  • visibility 130
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wilayah-wilayah penghasil rempah di Indonesia, terutama di kawasan timur (seperti Maluku dan Maluku Utara), memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dunia. Cengkih, dan pala, serta berbagai tanaman aromatik lainnya, bukanlah sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Ironisnya, banyak siswa SD, SMP, dan SMA yang hidup di wilayah rempah justru kurang memahami sejarah, filosofi, fungsi sosial, nilai ekonomi, bahkan jenis-jenis rempah yang tumbuh di sekitar mereka.

Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan global yang jauh dari pengalaman hidup siswa dibandingkan pengetahuan lokal yang sebenarnya dekat dengan keseharian mereka.

Fenomena ini menegaskan adanya jarak antara pendidikan formal dan realitas sosial masyarakat. Sementara, kurikulum nasional cenderung bersifat seragam sehingga pengalaman lokal masyarakat rempah tidak memperoleh ruang yang memadai dalam proses pembelajaran.

Anak-anak di daerah penghasil cengkih acap lebih mengenal produk makanan cepat saji global dibandingkan memahami bagaimana cengkih dan pala pernah mengubah sejarah dunia.

Mereka mengetahui nama negara-negara Eropa, tetapi tidak memahami bahwa tanah tempat mereka tinggal pernah menjadi pusat perebutan kolonialisme internasional akibat rempah-rempah.

Kondisi tersebut menabalkan terjadinya marginalisasi pengetahuan lokal. Pendidikan yang menjauh dari realitas sosial masyarakat, merupakan bentuk pendidikan yang kehilangan kesadaran kritis.

Pendidikan seharusnya tidak hanya mentransfer pengetahuan abstrak, tetapi juga membantu peserta didik memahami lingkungan sosial dan kebudayaannya sendiri.

Ketika para siswa di wilayah rempah tidak memahami sejarah rempah, maka sekolah telah gagal membangun hubungan antara pengetahuan dan identitas lokal.

Kurikulum rempah menjadi penting sebagai upaya mengintegrasikan sejarah, budaya, ekonomi, ekologi, dan pengetahuan tradisional ke dalam sistem pendidikan.

Kurikulum ini bukan sekadar mengajarkan nama-nama rempah, melainkan membangun kesadaran bahwa rempah merupakan bagian dari peradaban masyarakat kepulauan.

Pada tingkat SD/MI, pembelajaran rempah dapat dimulai dari pengenalan tanaman lokal, aroma, bentuk, manfaat kesehatan, hingga cerita rakyat tentang rempah. Anak-anak dapat diajak mengunjungi kebun pala atau cengkih agar pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas.

Pada tingkat SMP/MTs, materi rempah dapat diperluas melalui sejarah perdagangan dunia, kolonialisme, dan hubungan rempah dengan identitas budaya lokal.

Para siswa perlu memahami bahwa kedatangan bangsa Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris ke Nusantara berkaitan erat dengan pencarian rempah-rempah. Dengan begitu, sejarah lokal tidak lagi dipahami sebagai cerita pinggiran, tetapi sebagai bagian penting dari sejarah global.

Sementara, pada tingkat SMA/MA, kurikulum rempah dapat diarahkan pada pendekatan yang lebih kritis dan multidisipliner. Siswa dapat mempelajari rantai ekonomi rempah, ketimpangan perdagangan, perubahan ekologi akibat perkebunan, hingga peluang industri kreatif berbasis rempah.

Pendidikan semacam ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam ekonomi rempah, tetapi mampu menjadi pelaku inovasi di masa depan.

Kurikulum rempah dapat memperkuat pendidikan karakter dan ekologis. Bagi masyarakat yang hidup di wilayah kepulauan, rempah tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial dan spiritual.

Tradisi penggunaan rempah dalam makanan, pengobatan tradisional, ritual adat, hingga hubungan kekeluargaan menunjukkan bahwa rempah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tatkala sekolah mengabaikan hal tersebut, para siswa perlahan akan mengalami keterasingan budaya. Mereka tumbuh di tanah rempah, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional dengan warisan leluhurnya.

Selain itu, pendidikan rempah dapat menjadi strategi pembangunan berkelanjutan di daerah. Selama ini, banyak daerah penghasil rempah hanya menjadi pemasok bahan mentah tanpa memiliki penguatan sumber daya manusia yang memadai. Padahal, jika pendidikan sejak dini memperkenalkan hilirisasi rempah, kewirausahaan lokal, dan inovasi produk, maka generasi muda memiliki peluang menciptakan ekonomi berbasis lokalitas.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang ekonomi berbasis kekayaan daerah.

Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya kurikulum rempah. Muatan lokal yang selama ini bersifat formalitas perlu diubah menjadi pembelajaran yang hidup dan kontekstual.Para guru juga perlu memperoleh pelatihan mengenai sejarah dan budaya rempah agar mampu mengajarkan materi secara menarik.

Sekolah dapat bekerja sama dengan petani, komunitas adat, pelaku UMKM, dan peneliti lokal untuk membangun ekosistem pendidikan berbasis rempah.

Pada era globalisasi ini, pendidikan lokal bukan berarti menolak modernitas. Justru melalui pemahaman terhadap identitas lokal, para siswa dapat memiliki fondasi budaya yang kuat untuk menghadapi perubahan dunia. Proses ini menciptakan apa yang disebut Arjun Appadurai sebagai commodity culture, yakni perubahan makna benda ketika memasuki sirkulasi global (Appadurai, 1996).

Negara-negara maju seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan Singapura berhasil berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya. Indonesia, khususnya wilayah rempah, juga dapat membangun pendidikan yang modern sekaligus berakar pada sejarah dan kebudayaan lokal.

Kurikulum rempah pada akhirnya bukan hanya soal pendidikan tanaman atau perdagangan masa lalu. Rempah merupakan upaya membangun kesadaran sejarah, identitas budaya, literasi ekologis, dan kemandirian ekonomi generasi muda. Sebagaimana dikatakan Fernand Braudel (1981), “perdagangan rempah merupakan “motor sejarah dunia” yang menggerakkan kapitalisme awal dan kolonialisme global. Ini yang harus dipahami anak-anak kita, para siswa mulai dari SD, SMP, dan SMA.

Anak-anak dan para siswa di wilayah rempah tidak boleh tumbuh sebagai generasi yang asing terhadap tanahnya sendiri. Sekolah harus menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif masyarakat, sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan.

  • Penulis: Herman Oesman

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pesta Ditengah Kepungan Karhutla

    Pesta Ditengah Kepungan Karhutla

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • 0Komentar

    Maluku Utara memperingati hari jadinya yang ke-27 pada esok, Senin 12 Oktober. Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyiapkan rangkaian perayaan dengan berbagai kegiatan, termasuk pesta rakyat yang menghadirkan penyanyi ibu kota. Namun, di balik panggung hiburan dan gegap gempita perayaan di Sofifi, ada kenyataan yang semestinya membuat seluruh jajaran pemerintahan menundukkan kepala sejenak: kebakaran hutan dan […]

  • HMI FISIP UMMU Gelar Aksi Refleksi Hari Lahir Pancasila: Soroti Krisis Keadilan di Maluku Utara

    HMI FISIP UMMU Gelar Aksi Refleksi Hari Lahir Pancasila: Soroti Krisis Keadilan di Maluku Utara

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    Linidaily.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) menggelar aksi refleksi Hari Lahir Pancasila di depan Kantor Wali Kota Ternate, pada Senin, 1 Juni 2026. Dalam aksi tersebut, HMI Komisariat FISIP UMMU mengangkat isu “Maluku Utara Krisis Keadilan”. Tema ini dipilih sebagai penegasan bahwa […]

  • Mahasiswa Unkhair Raih Juara 3 KMI Expo XVII 2026 Lewat Inovasi Briket Aromaterapi Limbah Bonggol Pisang

    Mahasiswa Unkhair Raih Juara 3 KMI Expo XVII 2026 Lewat Inovasi Briket Aromaterapi Limbah Bonggol Pisang

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • 0Komentar

    PURWOKERTO, Linidaily.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair) Ternate dalam ajang KMI Expo XVII Tahun 2026 yang berlangsung di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, 29 September–1 Oktober 2026. Tim mahasiswa Unkhair yang mengembangkan Usaha Banabriq (Briket Aromaterapi dari Limbah Pisang) berhasil meraih Juara 3 Usaha Kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan Tahap Awal, […]

  • Shalat Istisqa Halut: Mohon Hujan & Jaga Alam

    Shalat Istisqa Halut: Mohon Hujan & Jaga Alam

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • 0Komentar

    HALMAHERA UTARA — Linidaily.id Menghadapi kemarau panjang yang melanda wilayah, Kodim 1508/Tobelo bersama Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, TNI-Polri, tokoh agama dan masyarakat menyelenggarakan Shalat Istisqa berjamaah serta doa bersama di Lapangan Makodim 1508/Tobelo, Desa MKCM, Kecamatan Tobelo, Kamis (3/9/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 450 jamaah ini merupakan ikhtiar bersama memohon pertolongan Allah SWT agar segera […]

  • Dua Perempuan Hilang Beruntun dalam Kurun Waktu Satu Minggu

    Dua Perempuan Hilang Beruntun dalam Kurun Waktu Satu Minggu

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • 0Komentar

    LINIDAILY.ID – Suasana waspada dan keprihatinan kini menyelimuti masyarakat Kabupaten Halmahera Utara, khususnya wilayah Kota Tobelo. Pasalnya, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, dua laporan kehilangan warga perempuan masuk ke meja kepolisian, menimbulkan kekhawatiran akan keamanan dan ketertiban umum di daerah tersebut. Polres Halmahera Utara mencatat dua laporan resmi orang hilang dengan identitas dan […]

  • LKBHMI Cabang Ternate Datangi Penyidik Sat Reskrim Polres Ternate, Tindak Lanjut Dugaan Delik Pemalsuan Surat

    LKBHMI Cabang Ternate Datangi Penyidik Sat Reskrim Polres Ternate, Tindak Lanjut Dugaan Delik Pemalsuan Surat

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • 0Komentar

    TERNATE — Pengurus Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Cabang Ternate kembali mengambil langkah hukum dengan mendatangi penyidik Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Ternate pada Minggu, 21 Juni 2026, dalam rangka menindaklanjuti laporan polisi terkait dugaan tindak pidana pemalsuan surat yang diduga melibatkan Saudara Ismail A. Maniputy dan Saudara Baslan Aliasin. Laporan polisi […]

expand_less